Merdeka untuk Bahagia


Hanya dengan bermain, anak-anak bisa menemukan kebahagiaan.

Source: pexel.com

Cuma ketika masuk usia dewasa, ada dua jalan yang membuat mereka harus memilih salah satunya: pertama, jalan yang mudah, atau kedua, jalan yang sulit. Siapa pun diri mereka sekarang, mereka adalah bagian dari salah satu dari kedua jalan itu.

Baca juga:
Terancam Bahagia
Menyederhanakan Kebahagiaan

Sejak itu, mereka yang saat anak-anak bisa bahagia dengan cara yang sama, menjadi berbeda. Ada yang bisa bahagia hanya dengan sesuatu yang kecil, seperti menikmati pisang rebus, ada juga yang terobsesi dengan sesuatu yang besar, seperti menjadi presiden.

Hihi, gak, saya gak akan bahas pulitik …

Orang bijak berkata bahwa kebahagiaan gak memberi kualifikasi terhadap apa pun yang datang dari luar diri kita. Mau dagangan sepi, mau hidup kebanjiran hoax, bahkan mau Indonesia bubar bulan depan, kebahagiaan tetap bisa kita dapatkan.

Caranya gak rumit, tapi gak gampang dikerjakan: qana’ah sama apa pun yang Allah berikan. Merasa cukup, dan gak mempermasalahkan apa dan berapa rezeki yang kita terima. Qana’ah adalah hulu dari sikap sabar, syukur, dan beragam sikap mulia lainnya.

Orang yang qana’ah punya hidup yang tenang, karena gak pengin ini dan itu: ada iklan Tupperware pengin beli, ada promo IPhone terbaru pengin order. Dia mungkin gak punya uang banyak, tapi dia memang gak merasa ingin membeli barang banyak.

Orang-orang dengan sikap qana’ah juga gak gampang ‘kerasukan’ syaithon. Syaithon di sini bukan makhluk turunannya iblis yang durjana itu, tapi bisikan-bisikan lembut yang biasanya mengajak kita melakukan perbuatan-perbuatan rendah.

Seperti iri, hasud (girang kalau temannya ada masalah, bete kalau temannya lagi hepi), namimah (manas-manasin orang lain biar melakukan sesuatu yang menguntungkan dirinya). Contohnya seperti di bawah ini, bayangin sendiri situasinya ya 🙂

“Alah, motor kredit aja dibangga-banggain!”
“Mentang-mentang cantik Ig-nya muka dia mulu!”
“Tas baru, ya? Gue tahu itu harganya …”

***

Sikap qana’ah membuat kita elegan, baik di hadapan Allah, lebih-lebih di hadapan manusia. Kita boleh pakai baju seadanya, tapi kalau pembawaan kita memang elegan, orang lain akan segan, hormat, memuliakan, di samping juga senang bergaul sama kita.

Untuk terlihat elegan kita bisa mengenakan baju yang mahal, tapi sebagaimana baju pada umumnya yang bisa koyak dan pudar warnanya, pada saatnya baju itu, semahal apa pun, akan kita tanggalkan. Kesan elegan yang dibuat-buat (fabricated) suatu saat akan pudar.*

Ini beda sama elegan yang lahir dari sikap qana’ah, atau merasa cukup dengan jatah Yang Mahakuasa. Kalau jerih payah kita mendatangkan rezeki yang melimpah, kita gak takabur, dan kalau sebaliknya, kita gak tamak apalagi meminta-minta.

Nah, qana’ah juga membantu kita untuk memusatkan harapan pada Allah Ta’ala, sehingga kita gak ngarep-ngarep sama makhluk. Orang yang sudah ‘putus asa’ mengharapkan uluran tangan makhluk sejatinya adalah orang yang merdeka.

“Barangsiapa yang menghamba pada Allah Ta’ala,” kata Syaikh Ibnu ‘Ajibah, “maka dia merdeka dari sesamanya.” ‘Sesamanya’ di sini bukan hanya sesama manusia tapi juga makhluk lainnya, ya termasuk apa yang dia harap-harapkan itu.

Mengharap-harapkan sesuatu meniscayakan cinta dan ketundukan, yang karena keduanya kita akan bersedia melakukan apa saja, demi mendapatkannya. Dan bukan barang baru kalau yang namanya cinta itu membuat kita buta dan tuli.

“Al-‘abdu hurrun maa qana’, wal hurru ‘abdun maa thama’ (Seorang hamba itu merdeka selama ia qana’ah, dan seorang yang merdeka itu hamba selama ia tamak).” (Iyqazhul Himam, h. 140)

***

Kita semua mungkin masih belajar untuk qana’ah, dan sampai sekarang masih belum bisa melakukannya dengan baik. Paham artinya mungkin sudah, tapi siap dengan segala konsekuensinya nanti dulu. Jangankan siap, insentif berkurang saja kepikiran terus.

Hihihi …

Semua memang mending disyukuri. Saya sendiri alhamdulillah bisa beraktivitas seperti biasanya, meski belakangan mondar-mandir Jakarta-Jogja. Istri makin sehat setelah melahirkan dan anak saya sudah pup buaaanyak setelah empat hari gak pup sama sekali 😀

Ya Allah, maafkan saya masih sering kurang ajar. Merengek-rengek minta ini dan itu, giliran dikasih lupa berterima kasih. Ingat hanya ketika ada perlu, mencari cuma kalau sedang butuh. Maaf sekali lagi, sebab memperlakukan Sampeyan seperti gunting kuku.

Ya wis lah, moga-moga kita dibantu oleh Allah agar bisa qana’ah. Apalah kita ini, sok mau mengandalkan ikhtiar sendiri, kayak bisa jamin saja semua bakal sesuai harapan.


*Ada sebuah syair di buku Iyqazhul Himam (h. 141) karya Syaikh Ibnu ‘Ajibah, tapi saya kesulitan menerjemahkannya dengan baik. Jadi, saya terjemahkan apa adanya saja ya.

Aku mengartikan qana’ah pangkal kekayaan
Jadi, aku tak merasa butuh dengan selebihnya
Kemuliaannya memberiku pakaian yang indah
Yang tak akan koyak seiring berlalunya masa
Aku kaya meski tak punya sepeser pun harta
Bangga di depan manusia laksana seorang raja

Terancam Bahagia


Kita terlahir untuk bahagia. Hal-hal kecil yang ada di sekeliling kita, yang untuk mendapatkannya gak perlu keluar banyak duit atau tenaga, bisa membuat kita bahagia. Ya, ya, mungkin itu ada benarnya.

Source: pexel.com

Saya katakan mungkin, sebab seperti segambreng urusan lain dalam hidup, apa yang sederhana menurut orang lain terkadang gak sesederhana yang mereka bilang. Orang berkata apa biasanya memang punya maksud tertentu. Ya entah apa …

Baca juga:
Harapan Itu Sebuah Kata Kerja
Khawatir Ini, Khawatir Itu

Bukan saya tidak setuju dengan pendapat tersebut. Hanya menurut saya, membincangkan dari mana kebahagiaan berasal rasa-rasanya lebih mudah dipahami ketimbang menerangkan sudut pandang yang tepat untuk melihatnya.

Kita tahu, kebahagiaan bersumber dari hati, bukan dari pekerjaan, popularitas, istri yang cantik, pengakuan orang lain, atau properti yang kita miliki. Itu semua memang bisa memantik kebahagiaan. Tapi memantik ya, bukan menciptakan.

Artinya, potensi kebahagiaan sebenarnya sudah ada di dalam hati sejak kita lahir ke dunia ini. Pada beberapa orang ia muncul setelah terpantik oleh sesuatu yang datang dari luar, pada beberapa orang yang lain ia bisa muncul kapan saja.

Orang yang bahagia hanya setelah berhasil mendapatkan sesuatu, karier yang bagus misalnya, menggantungkan kebahagiaannya pada sesuatu yang ada di luar dirinya. Sesuatu yang gak selalu ada dalam jangkauannya.

Sementara orang jenis kedua, yang kebahagiaannya bisa muncul kapan saja, menerima sepenuh hati apa yang ia dapatkan. Kebahagiaannya gak muncul dari tuntutan-tuntutan melainkan kerelaan pada apa pun yang ia dapatkan.

Karena mengandalkan sesuatu yang ada di luar jangkauannya maka kebahagiaan orang tipe pertama lebih sulit didapatkan. Ia harus berurusan dengan rencana, target, deadline, dan segala tetek-bengek yang bisa-bisa membuatnya stres.

Sementara orang tipe kedua, meski bukan berarti gak perlu ngapa-ngapain karena toh kebahagiaan mudah ia miliki, minimal ia gak butuh apa pun untuk bahagia selain kesediaan hatinya untuk ikhlas.

Itu sebabnya, orang-orang yang telah mengenal Tuhannya (‘aarifiin) adalah manusia-manusia yang paling bahagia di dunia. Sebab, dalam berdoa saja gak ada yang mereka minta kecuali apa yang Tuhan kehendaki untuk mereka.

Entah kemasyhuran, keluasan ilmu, harta yang berlimpah, penyakit yang menahun, kemiskinan yang sangat, atau kesepian yang mendera. Mereka yang kebahagiaan sejati telah bersemayam di hatinya, mau dikasih ‘kemudahan’ atau ‘kesulitan’, sama saja.

Orang yang telah mengenal Tuhannya “tak menginginkan apa pun kecuali apa yang dikehendaki oleh Tuhannya, dan tak mengharapkan apa pun kecuali apa yang diputuskan oleh Tuhannya untuknya”. (Iyqadzul Himam, Ahmad bin Muhammad bin ‘Ajibah, h. 179)

Bagi mereka, warna-warna gak ada bedanya. Hijau atau merah, terang atau gelap, sama saja. Bukan karena mata mereka katarak, tapi justru karena mereka mampu melihat keindahan yang ada di balik warna-warna itu.

“Dan apabila aku menulis sajak,” kata Rendra dalam Hai, Ma!, “aku juga merasa bahwa kemarin dan esok adalah hari ini. Bencana dan keberuntungan sama saja. Langit di luar, langit di badan bersatu dalam jiwa.”

Udah waktunya laper, nih. Makan siang dulu, yuks! 🙂

Menyederhanakan Kebahagiaan


Saya gak pernah mengira kalau kebahagiaan itu bisa datang tiba-tiba karena sesuatu yang sepele. Sampai saya menikah.

Source: pexel.com

Bagi sebagian orang, untuk bahagia kita harus mengeluarkan banyak uang. Semua orang boleh sih menentukan standar kebahagiaannya sendiri, dan berhubung saya orang kampung yang dididik ala kampung, maka standar kebahagiaan saya ya sama dengan standar kebahagiaannya orang kampung.

Bisa makan nasi sama penyetan tempe itu sudah alhamdulillah.

Teman-teman saya banyak yang suka traveling, dan bagi mereka, kebahagiaan bisa didapat dengannya. Saya sebenarnya juga suka, tapi karena traveling itu butuh persiapan (duit, maksudnya), jadi saya travelingnya gak bisa sering-sering. Dan sekalinya traveling, paling-paling ke Jogja, ke kediaman mertua tercinta buat nengokin istri yang lagi numpang tidur di sana.

Hehe, maklum sebentar lagi lahiran, jadi harus cari teman.

Dulu waktu masih sendiri, saya tahunya kebahagiaan itu ada di tempat-tempat yang asyik. Seenggaknya kafe, bioskop, atau pusat-pusat keramaian yang lain. Kumpul bareng keluarga yang katanya sumber kebahagiaan paling murah, bagi saya yang entah gara-gara apa kerasan di Depok, jelas mahal, sebab saya butuh waktu, tenaga, dan biaya untuk menemui mereka di Malang.

Setelah menikah, saya harus berpikir berkali-kali kalau ingin merasakan kebahagiaan-kebahagiaan di atas. Kadang karena urusan dapur malah lupa sama semua itu. Yang penting gak ngrepotin orangtua dan istri gak kesusahan sudah cukup. Kalau ingat tentang kebahagiaan, paling-paling itu adalah sebungkus Soto Surabaya yang saya beli di dekat kantor.

Buat dimakan sama istri.

Sebelum saya menyimaknya mendaras kitab suci.

Sebelum dia cerita tentang obrolannya hari itu dengan sang ibu.

Sebelum dia rebah di pangkuan saya sambil mengomentari alur cerita sebuah film.

Saya bukan orang yang pandai bersyukur kalau merasa bisa menghitung anugerah yang sudah Allah berikan pada saya. Anugerah-Nya gak terhingga, dan di antara anugerah-anugerah yang Dia turunkan pada saya belakangan ini, justru anugerah yang saya kira sepele, karena saking istiqamahnya Allah memberikannya pada saya, yang paling membahagiakan.

Saya gak pernah mengira kalau kebahagiaan itu bisa datang tiba-tiba karena sesuatu yang sepele. Sampai saya menikah, dengan istri saya sekarang.

Untuk Felda


Semalam, aku bermimpi tentang kita, tentang Mama, Papa, Uti, dan Mas Ariq.

Source: pexel.com

Kau tahu, apa yang kulihat dalam tidurku? Aku tak bisa menceritakan semuanya padamu, bibirku bisa tumbuh daun untuk itu. Tapi yang paling kuingat, aku melihatmu sudah tumbuh dewasa.

Kau tak lagi bermain lilin, menonton SpongeBob, atau membaca novel anak-anak yang kubelikan. Kau juga sudah berhenti merengek-rengek pada Mama saat kemauanmu tak dituruti, atau mengejar-ngejar kakakmu yang mengganti chanel TV sesukanya.

Kau sudah berubah.

Aku tak tahu persis berapa usiamu saat itu. Tapi, melihat tumpukan buku-buku tebal di kamarmu, aku rasa kau sedang berusaha menyelesaikan kuliah. Yang ada di benakmu adalah belajar dan belajar.

Aku melihat masa depan yang cerah di matamu, secerah hari-harimu saat ini. Kau tak perlu khawatir kesulitan mencari pekerjaan. Semua mahasiswa, apalagi mereka yang duduk di tingkat akhir, akan mengangkat bahu saat ditanya tentang itu.

Kau hanya perlu yakin bahwa kau akan berhasil meraih cita-citamu, setinggi apa pun itu.

Saat kanak-kanak, kita berani menentukan cita-cita. Kau pun begitu, kan? Namun saat dewasa, keberanian itu luntur. Aku tak tahu pasti sebabnya. Itu misteri buatku. Mungkin, kepolosan anak-anak adalah sumber keberanian mereka.

Saat dewasa, saat kepolosan diri itu tak lagi tersisa, sedikit demi sedikit keberanian itu hilang.

Masalah dalam hidup adalah sesuatu yang niscaya. Orang yang tak berani menentukan cita-cita mungkin karena tak memiliki kepolosan dalam dirinya. Dan, tahukah kau apa yang membuat kepolosan itu hilang? Menyerah kepada masalah.

***

Sekarang, aku akan mengatakan sesuatu yang penting. Aku ingin kau bisa mengingat kata-kataku ini: jangan pernah takut dengan masa depan! Seburuk apa pun masalah membelitmu, sedalam apa pun kesedihan menguasai hatimu, jangan pernah menyerah!

Kejar terus cita-citamu!

Lihatlah dirimu sekarang, apa pernah kau meributkan masa depan? Tidak. Kau tak cemas dengannya. Jaga baik-baik keberanian itu. Jangan biarkan masalah demi masalah yang kelak menghampirimu memporakporandakannya.

Masa depan? Anggap saja sebagai teka-teki yang menantang.

Ciganjur, 14 November 2012

Sok Tahu


Cinta kadang mewujud sederhana.

Source: pixabay.com

Dalam pertemuan yang tak disangka. Dalam cerita yang biasa-biasa saja. Dalam harapan yang tak muluk apalagi mengangkasa.

Tapi, sampai kapan pun cinta itu istimewa.

Benih yang hanya tumbuh di dalam hati itu tak bisa diingkari. Mustahil dihindari. Siapa pun yang merawatnya suatu saat akan melihatnya mekar berbunga.

Belum Berakhir


Aku masih ingat kata-katamu dulu. Bahwa jalan yang berkelok dan tak rata bukanlah akhir dari segalanya.

Source: pexel.com

Itu adalah tanda akan terwujudnya impian kita, isyarat segera terkabulnya doa-doa.

Aku percaya, saatnya nanti langkahku akan berhenti di tempat yang membuatku enggan kembali. Mungkin pantai berpasir putih atau puncak gunung yang tinggi.

Baca juga:
Masih Ada Waktu
Masih Tentang Cinta

Allah membuatkan jalan untuk kita, dan memerintahkan kita untuk melewatinya. Kalau kebetulan jalan itu rata dan lurus, mari bergegas. Kalau ternyata jalan itu naik-turun dan berkelok, tak perlu terburu-buru.

“Apa pun yang terjadi, jangan pernah berhenti,” ujarmu. Aku setuju, Kawan.

Harapan itu tak pernah padam. Tetap menyala. Kadang terang, tak jarang remang-remang.

Kita, Kenangan, dan Impian


Malam itu, kita berbincang tentang masa depan. Tentang hari-hari yang akan kita lewati bersama, tentang mimpi-mimpi yang ingin kita raih. Tentang rumah kita membesarkan anak-anak.

Source: pexel.com

Matamu berbinar saat kusebut rumah bergaya 70-an. Diam-diam, kita punya selera yang sama. Asal, katamu, rumah itu tak terlalu besar dan bukan peninggalan Belanda. Aku setuju.

Baca juga:
Saat Hanya Bisa Berharap
Sama-sama Punya Kesempatan

Aku membayangkan kelak kita tinggal di sebuah rumah mungil yang kita bangun sendiri. Dengan lelehan keringat kita sendiri, dengan rupiah demi rupiah yang kita kumpulkan bersama. Dengan doa-doa dan shalawat yang mengiringi pembangunannya.

Aku yakin suatu saat kita akan memilikinya. Kau tak perlu cemas soal uang. Pasti ada jalan.

Lantai rumah kita cukup ubin sederhana, persis seperti lantai sekolah di desa-desa. Ubin abu-abu aku rasa cocok untuk semua ruangan. Hanya ubin teras dan ruang tamu yang mungkin perlu variasi warna.

Untuk dapur, kalau boleh menyarankan, ubin warna kuning sepertinya menarik. Aku tak memaksa. Bagaimanapun, kau lebih tahu segala hal tentang dapur.

Aku tak sedang bicara Feng Shui –aku buta tentang itu. Aku hanya berpikir lantai tak perlu terbuat dari material yang mahal. Sebagai tempat berpijak, lantai hanya perlu kuat.

Apa gunanya keramik mahal dan indah kalau mudah retak Lagipula, karena tampilannya yang unik, ubin tak kalah indah dibandingkan keramik-keramik yang harganya mahal.

Seperti umumnya rumah zaman dulu, pintu dan jendela akan kita buat dengan model kupu-kupu. Kau bisa memilih warna untuk keduanya, tapi dinding dan langit-langit akan kita cat dengan warna putih.

Kau ingat kursi beranyam rotan dan mejanya yang kita lihat di pasar loak waktu itu? Dari dulu, aku ingin sekali punya kursi model begitu.

Kau tak keberatan aku membelinya dan meletakkannya di ruang tamu? Almari baju dan meja riasmu ada di ruang tidur utama. Almari buku kita taruh di ruang sebelahnya.

Meja tempat kita membaca juga akan kuletakkan di ruangan itu. Foto berbingkai yang kini ada di meja kerjaku kelak ada di atasnya.

Kau juga bisa meletakkan bufet untuk memajang foto, cinderamata, dan benda-benda kesayanganmu di sana. Di atasnya, akan kutaruh mesin ketik dan telepon lawas yang sudah tak terpakai.

Bufet tempat kau memajang piring dan gelas kuno ada di ruang keluarga. Televisi juga. Kita mungkin butuh meja yang agak tinggi untuk meletakkan radio lawas dan gramofon kesayanganku.

Gitar dan biola bisa kau taruh di samping meja, sedang mainan anak-anak akan kubuatkan tempat di bawah jendela.

***

Orang lain mungkin tertawa seandainya tahu isi perbincangan kita. Jangankan impian, kenyataan saja bisa ditertawakan. Karena itulah impian disebut impian: sesuatu yang tak nyata, sesuatu yang tampak mustahil dan banyak orang menganggapnya absurd untuk dibicarakan.

Padahal, sesuatu kita katakan tak nyata seringkali karena ia belum berhasil dibuktikan –bukan karena memang tak ada. Jadi, apa yang nyata sebenarnya hanyalah realitas yang tunduk pada rasionalitas kita, akal kita.

Padahal, realitas ada di luar kesadaran kita dan sama sekali tak bergantung padanya.

Jika kita bicara tentang realitas di masa depan –aku suka menyebutnya impian, harapan, atau cita-cita, kita memang butuh waktu untuk membuktikannya. Dan satu-satunya cara untuk membuktikannya adalah tak berhenti berusaha sambil menunggu saatnya tiba.

Meski begitu, orang yang memiliki impian tak perlu menunggu impiannya terbukti untuk meyakininya. Ia bisa melihat dengan nyata kesuksesannya di masa depan dengan mata batinnya.

Selama kita bisa memimpikan sesuatu, selama itu juga kita bisa meraihnya.

Di Halaman Belakang


Pasti menyenangkan duduk-duduk bersamamu di tempat ini.

Udara pagi yang bersih, langit biru yang jernih, dan kilau keperakan dari daun-daun yang tertimpa sinar mentari. Dari semua nikmat alam yang pernah kutemui, ini salah satu yang paling kusyukuri.

Aku ingin kita menikmati pagi ini. Tidak dengan petikan gitarmu yang membuatku ingin bersenandung. Tidak pula dengan kuas, kanvas, cat minyak, dan palette kayu kesayanganku.

Source: pexel.com

Aku hanya ingin kita mengambil kursi dapur dan meletakkannya di sini, di halaman belakang rumah kita, lalu berbincang tentang hari-hari yang sudah kita lalui.

Baca juga:
Malam Itu

Kau Pun Tahu

Memang, dibanding sudut-sudut rumah yang lainnya, halaman belakang kita nyaris tak tersentuh sama sekali. Padahal, saat memutuskan pindah ke rumah ini, aku bertekad untuk menyulapnya menjadi taman yang indah.

Sayangnya, tugas kantor dan berbagai kegiatan yang kita lakukan melalaikan dari rencana itu.

Kita terlalu sibuk mengurusi deadline pekerjaan, memikirkan letak barang-barang, dan menimbang-nimbang mimpi serta harapan. Kita selalu diburu waktu, bergegas dalam berbagai urusan, dan tergesa-gesa untuk sampai ke tujuan.

Saat satu persatu tugas berhasil kita selesaikan, kita cepat merasa senang. Beban di pundak terasa ringan dan badan kita kembali tegak saat berjalan.

Namun, semenjak menghuni rumah ini, kita tak pernah bertanya pada diri sendiri: benarkah ketenangan yang kita dapat selama ini? Benarkah kebahagiaan yang kita raih setelah selesai dengan rutinitas sehari-hari?

Aku khawatir yang kita rasakan sebenarnya bukan ketenangan, apalagi kebahagiaan, tapi kepuasan.

Kau tahu bedanya? Ketenangan adalah keadaan hati saat kita merasa tak ada sesuatu pun yang perlu dikhawatirkan. Sementara kebahagiaan adalah perasaan saat semua seakan-akan berjalan sesuai harapan.

Tidak seperti kepuasan, ketenangan dan kebahagiaan adalah dua hal yang nyata. Sama nyatanya dengan pertanyaan orang-orang tentang kapan kita punya momongan.

Kita tak hanya bisa merasakannya tapi juga mendefinisikannya, mengonsepnya, merencanakannya, dan tentu saja mengupayakannya. Kepuasan tidak demikian.

Berbicara tentang kepuasan sama dengan membahas sesuatu yang sangat abstrak –kalau kau tak keberatan, aku lebih suka menyebutnya ‘sesuatu yang tak nyata’.

Ketika sedang lapar, kita mungkin membayangkan makanan favorit kita terhidang di meja makan. Kita berkhayal seandainya makanan itu benar-benar ada dan masuk ke dalam kerongkongan kita, kita akan puas.

Kenyataannya, kita memang kenyang, tapi tak puas. Kepuasan tak benar-benar paralel dengan terpenuhinya sebuah keinginan; ia berhubungan dengan sesuatu yang lain, sesuatu yang lebih samar. Orang-orang menyebutnya hawa nafsu.

Hawa nafsu ibarat garis finish yang terbuat dari warna-warni pelangi. Jika kita berlari untuk sampai di garis itu, kita akan mati kelelahan. Dan tentu saja, kita tak akan pernah mencapainya.

Meski tampak indah, garis itu tak benar-benar ada. Sekali kita berupaya memuaskan hawa nafsu, kita akan terlihat seperti orang gila yang mengejar-ngejar fatamorgana.

Nah sekarang, mari duduk-duduk di sini bersamaku. Mari sejenak melupakan keharusan dan ketergesaan.

Mari kita mulai menikmati apa yang ada, seperti halaman belakang rumah kita ini. Tak perlu mahal. Kita hanya butuh udara segar, langit yang cerah, dan titik-titik embun di pagi hari.

“Bahagia itu sederhana,” begitu kata orang-orang.

Bukan Hanya Sebuah Nama


Pernah tidak terjaga di tengah malam lalu teringat sesuatu yang sangat jarang kita pertanyakan?

Source: pexel.com

Siapa diri kita, mengapa kita hidup, bagaimana kita bisa seperti sekarang, dan pertanyaan-pertanyaan lain yang sebagian orang menganggapnya tak penting padahal perlu dijawab.

Baca juga:
Berhala Itu Ada di Dalam Diri Kita
Yang Tahu & Yang Tidak Tahu

Setiap hari kita dihadapkan pada banyak persoalan: deadline pekerjaan, angsuran rumah, berita hoax di internet, macet saat akhir pekan, atau masalah lain yang membenamkan kita dalam kekinian. Di lain waktu, kita sibuk menebak-nebak masa depan. Kalau ada sisa waktu, kita membuka jendela masa lalu, kemudian buru-buru menutupnya sebelum penyesalan merayapi hati kita.

Kita terlalu sibuk bahkan untuk teringat dengan siapa diri kita. Kita larut lalu menghilang di balik tumpukan kesibukan itu.

Saat kita memberi perhatian pada apa yang sedang kita kerjakan, kita karam dalam kekinian. Saat kita menghabiskan waktu untuk menyesali apa yang telah terjadi, kita terpuruk dalam kenangan. Saat kita tak berhenti mencemaskan berbagai kemungkinan, kita tersesat dalam labirin angan-angan.

Mari perhatikan, kita seakan tak punya cara untuk melepaskan diri dari sekarang, masa lalu, dan masa depan. Seakan menepi dari arus waktu, meski hanya untuk mengingat kembali siapa kita sesungguhnya, adalah kemustahilan.

Seakan mengistirahatkan diri dari lini masa yang terus berputar, meski sebentar, melawan hukum alam. Padahal, hanya dengan mengingat kembali diri kita, usia tak lagi bermakna dan keabadian ada dalam genggaman.

Sejauh mana kita berpikir tentang siapa kita sesungguhnya?

Seorang karyawan yang bekerja sepuluh jam setiap hari hanya untuk uang yang habis dalam sepekan?

Seorang ayah yang membesarkan anak-anak hanya untuk melihat mereka menikah dan pergi meninggalkan kita?

Seorang warga negara yang sudah menanggung beban utang bahkan sebelum dilahirkan?

Sepuluh atau dua puluh tahun lalu, kita hanya anak ingusan yang berlarian mengejar layang-layang. Sekarang, kita pria dewasa yang tak pernah istirahat mengejar ambisi dan harapan.

Dulu, kembang api dan petasan adalah mainan kita. Kini, bahkan uang dan kedudukan tak cukup menghibur kita. Kita berubah. Kita yang sekarang bukan kita yang dulu dikenal orang-orang.

Jawaban bagi teka-teki ini ada pada apa yang kita lakukan. Kita mungkin tak menyadari bahwa keputusan-keputusan penting dalam hidup, kata-kata yang kita ucapkan, dan tindakan yang kita lakukan adalah bagian terbesar yang membentuk diri kita sekarang. Selebihnya adalah impian, angan-angan, ide, dan rencana.

Singkat kata, kita adalah apa yang kita lakukan –meski sebenarnya tak sesederhana itu.

Semua yang kita rasa, pikir, kenang, sangka, ucap, dan lakukan menciptakan dunia di alam batin kita. Sebuah dunia yang tak selalu berkaitan dengan logika maupun tendensi subyektif kita. Sebuah tempat di mana sketsa hidup kita tentang alam nyata berada.

Dunia konseptual inilah yang kemudian menggerakkan kita menjalani hari demi hari di alam nyata. Seperti mata air sekaligus muara, ia menciptakan dan diciptakan oleh kita.

Mengingat kembali diri kita adalah cara untuk melihat benang merah yang menghubungkan dunia konseptual dan alam nyata. Seperti kita sadari, kita kadang tak percaya, mempertanyakan, menolak, dan menggugat kenyataan yang harus kita terima.

Kita merasa tahu bahwa itu adalah kesalahan dan tak seharusnya menimpa kita. “Ada yang salah dengan dunia tempat kita tinggal!” kita mengumpat. Padahal, kenyataan tak lain hanyalah muara dari apa yang bersumber dari diri kita.

Man ‘arafa nafsah faqad ‘arafa Rabbah, barangsiapa mengenali dirinya maka ia benar-benar telah mengenali Tuhannya. Begitu kata Rasulullah.

Ungkapan ini mungkin terlalu abstrak. Tapi, dengan mengenali diri sendiri, setidaknya kita bisa mulai memahami dunia. Dan ketika kita telah berhasil memahami dunia, kita akan sampai pada pemahaman, meski tak sepenuhnya, tentang Tuhan kita.

Kukusan, 23 Februari 2014

*Tiga hari setelah menulis artikel ini, tanpa sengaja saya menemukan sebuah tulisan di Slate.com berjudul Why We Love Jason Bourne. Salah satu kalimat di dalamnya berbunyi, “His mission is the essential human mission—to find out who the hell he is”. Di dunia yang selalu sibuk, tak sedikit ternyata orang yang berusaha menemukan kembali identitas dan jati diri mereka. Bukan hanya kita. Lebih lanjut tentang tulisan tersebut silakan klik http://ow.ly/u0uuH