Namanya Berandai-andai …


Teman-teman yang baik …

Ini adalah tulisan pertama saya setelah beberapa bulan tidak memposting apa pun di blog ini. Awalnya saya sengaja ngempet menulis. Tapi ternyata keterusan.

Source: pixabay.com

Kebetulan pekerjaan saya tiga bulan ini sangat menyita perhatian. Sampai-sampai saya tak punya waktu bahkan untuk ingat blog sendiri.

Tapi, mulai minggu ini saya ingin kembali menulis. Hanya mungkin ada sedikit perubahan. Dalam tema dan cara saya bertutur.

Saat pertama membuat blog ini saya memang ingin menjadikannya ruang belajar. Selain untuk menumpahkan kegelisahan –maksud saya, untuk mengisi waktu luang.

Tapi setelah postingan banyak, saya baru sadar. Selama ini ternyata saya tidak sedang menulis. Tapi nyampah.

Anggap itu olok-olok untuk blog ini. Tapi, itu tak seberapa dibanding kata-kata Mochtar Lubis kepada Pram. Entah berapa puluh tahun yang lalu.

“Kau tak sedang menulis, Pram” bentak Mochtar, “Kau berak!”

Pram marah. Lalu menumpahkan segala daya kreatifnya ke lembar-lembar kertas. Hingga terbitlah Tetralogi Pulau Buru. Yang membuat mata dunia terbelalak.

Baca juga: Buku: The Art of Thinking Clearly

Seperti Pram sebelum menulis karya besarnya, saya pun punya impian. Mungkin semua orang juga. Bahwa suatu saat akan ada karya bermutu yang saya hasilkan.

Entah kapan …

Charles Dickens sukses sejak usia 24 tahun. Melalui karyanya yang berjudul The Pickwick Papers. Belakangan saat berusia 31 tahun lahir karya-karyanya yang hingga kini masih dibaca, di antaranya A Christmas Carrol, Oliver Twist, dan Great Expectations.

Guy de Mauppasant menulis karya terbesarnya berjudul Boule de Suif saat berumur 30 tahun. Lalu La Parure pada usia 34 tahun. Meski usianya pendek, Mauppasant adalah penulis prolifik. Total 300 cerpen ia tulis sebelum kematiannya di usia 43 tahun.

Leo Tolstoy menjadi terkenal karena karyanya yang berjudul War and Peace. Sebuah novel dengan 580 karakter. Ia menyelesaikan novel tersebut saat berusia 41 tahun. Delapan tahun kemudian novelnya yang tak kalah tenar, Anna Karenina, lahir.

Terakhir Paulo Coelho. Karya perdananya berjudul The Pilgrimage. Ia menulisnya pada usia 39 tahun. Novel selanjutnya berjudul The Alchemist. Pertama terbit pada dekade 80-an, tapi baru menjadi bestseller internasional pada tahun 1994. Saat usianya 47 tahun.

Saya sudah 33 tahun. Dan belum ada tanda-tanda sedang menulis karya yang kelak bisa saya banggakan. Tapi paling tidak saya bisa berandai-andai menjadi “Mochtar Lubis” di satu sisi dan “Pram” di sisi lain. Dengan begitu saya bisa membayangkan menjadi penulis serius.

Sesekali saya menulis, sesekali saya mengkritisi. Sesekali juga saya mencaci-maki karya sendiri. Namanya berandai-andai, apa pun boleh, kan?

Benci Karena Benar


Ada banyak alasan seseorang membenci sesamanya. Hanya karena Atmo memilih soto dan Hamid lebih suka rawon, mereka berhenti saling menyapa. Di koran yang saya baca kemarin, sepasang suami-istri bercerai gara-gara si suami mendukung Messi, sementara istrinya lebih menyukai Ronaldo. Kiamat makin dekat, memang.

Baca juga:
Pokoknya Jangan Mau!
Merangkul, Bukan Memukul

Alasan membenci orang lain kadang bisa sangat rasional tapi kadang gak, dan pelakunya gak akan mempermasalahkannya. Ada semacam rasa lega ketika ia menuruti kata hatinya untuk membenci, apalagi jika ia menyimpan prasangka dan kecurigaan. Mungkin juga ia merasa sedang memperjuangkan agama.

Membenci seolah mengonfirmasi isi hatinya, dan itu melegakan.

Source: pexel.com

Memasuki tahun-tahun pulitik ini ujaran, kebencian mudah kita temukan di media, terutama media sosial. Pemerintah memang sudah tanggap dengan hal tersebut, tapi saya rasa itu soal lain. Yang membuat kita gak habis pikir adalah ternyata para pembenci itu, dengan atau tanpa alasan, gak sedikit jumlahnya.

“Ironis, sebab selama ini orang Indonesia dikenal ramah dan santun,” kata seorang host di salah satu stasiun tivi.

Mungkin benar itu ironis, tapi sebenarnya gak terlalu membingungkan. Apa susahnya ramah dan sopan di satu waktu, lalu membenci pada waktu yang lain? Masalah datang dan pergi. Kalau sedang ada masalah sama orang lain mudah bagi siapa pun untuk membenci, tapi kalau sedang baik-baik saja bisalah dia ramah dan santun.

Orang lain ramah, santun, dan kadang-kadang membenci menurut saya bukan hal yang aneh. Semua orang menyimpan potensi keburukan di dalam dirinya. Siapa pun. Yang aneh itu ketika ada tangan-tangan syaithon yang memantik potensi itu untuk menciptakan kebencian yang normalnya gak tersulut, dengan berbagai muslihat.

Yang membuat beberapa teman gondok beberapa hari terakhir ini adalah keberadaan what so called Muslim Cyber Army, yang menyamakan dirinya dengan mujahid perang lalu menghalalkan berbagai cara untuk menghasut, memfitnah, dan membenturkan masyarakat, hanya karena mereka gak puas sama kinerja Pemerintah.

Sulit rasanya otak kita memahami, bagaimana bisa mereka berani mengatasnamakan “muslim” untuk melakukan pekerjaan kotor seperti itu, yang entah atas dasar kepentingan pribadi atau pesanan pihak tertentu. Celakanya, banyak orang, baik terdidik atau gak, baik ngerti agama atau gak, yang termakan hasutan mereka.

Membebek saja setiap ada fitnah yang dibuat.

Nomor Urut?


Allah itu mahakreatif. Dia punya banyak cara untuk menyayangi kita.

Kadang sikap-Nya seperti seorang ibu yang lembut pada anak perempuannya, kadang seperti seorang ayah yang tegas pada anak laki-lakinya.

Yang mana pun cara-Nya memperlakukan kita, tujuannya sama, yaitu untuk melimpahkan kasih sayang dan cinta-Nya.

Baca juga:
Kamu Kapan?
Doain Aja!

Kemudahan yang kita peroleh gak selalu membawa kebaikan dalam hidup. Kadang popularitas dan nama besar, yang membuat seseorang dipuja-puja, malah membuatnya kepeleset, seperti Mbak Roro dan deretan nama seleb lainnya yang baru-baru ini tersandung kasus narkoba *iya, klise.

Source: pexel.com

Begitu pula uang yang seakan gak ada habisnya, kadang justru mendatangkan masalah yang kemudian membuat seseorang menyesal. Seperti Cak Tarman tetangga saya dulu, yang setelah bisnis jual-beli mobil bekasnya sukses, membuatnya ingin poligami.

Untung gagal diraih. Poligami gak kesampaian, istrinya malah menggugat cerai.

Menurut saya, being single juga sama. Itu bukan sebab Allah pilih kasih pada hamba-hamba-Nya tapi justru bukti cinta-Nya pada para lajang. Sama dengan semua yang ada di dunia, melajang itu ‘kan sementara. Suatu saat kita pasti bertemu dengan jodoh kita.

Bagaimanapun ini hanya soal waktu dan “nomor urut” saja.

Masa-masa penantian adalah saat tepat bagi kita untuk mempersiapkan diri menyambut kenyataan. Kenyataan di sini ya meliputi siapa dan bagaimana jodoh kita, juga kapan dan di mana kita akan bertemu dengannya. Bisa juga kita artikan sebagai masa-masa Allah mendidik kita agar menjadi hamba-Nya yang sabar, ikhlas, dan yakin.

Orang yang bisa sabar belum tentu bisa ikhlas, dan orang yang bisa sabar dan ikhlas belum tentu bisa yakin. Yakin bahwa Allah menyayangi (dan sudah menyiapkan jodoh untuk) kita itu gak gampang, apalagi di tengah beban hidup yang bertambah-tambah akibat para “pengangguran” yang usil bertanya-tanya:

“Kamu kapan?”
“Nunggu apa, sih?”
“Makanya, jangan terlalu pilih-pilih!”
“Sama si anu aja, udah PNS.”

***

Yakin itu sikap hati yang paling sulit, sekaligus yang paling luhur, di atas sabar dan ikhlas. Orang yang gak segera ketemu sama jodohnya boleh jadi bisa bersabar (atau “nyabar-nyabarin”), dan mungkin setelah usaha maksimalnya gak membuahkan hasil yang diharapkan ia menjadi ikhlas (atau pasrah, kita samain ajalah).

Sabar dan ikhlas kadang lahir dari kenyataan yang gak sesuai harapan, berbeda dengan yakin. Yakin pasti muncul dari dalam diri kita, bukan buah keterpaksaan akibat kenyataan yang mengecewakan. Kenyataan yang gak sesuai harapan justru dapat melemahkan keyakinan kita, bukan menguatkannya.

Orang yang terkabul doa-doa dan harapannya setelah sekian lama bersabar dan ikhlas akan menemukan kebahagiaan yang baru. Sebuah kebahagiaan yang membuatnya merasa luar biasa. Hatinya menjadi lapang sebab beban hidup yang ditanggungnya berkurang, dan kalimat syukur akan mengalir tanpa henti dari lidahnya.

Sementara itu, mereka yang istiqamah menjaga keyakinannya, di tengah kegelapan yang mengepung hidup dan berbagai tanda tanya yang mereka sendiri gak mampu menjawabnya, bukan hanya menemukan kebahagiaan tapi juga hidup yang baru. Sebuah dunia yang membuat mereka “terlahir kembali”.

Mimpi Pun Perlu Realistis


Saya yakin teman-teman yang sampai sekarang masih suka melajang (atau jomblo atau single atau sendiri) suatu saat akan resmi melepasnya.

Menikah adalah sesuatu yang baik, dan sesuatu yang baik akan semakin baik kalau disegerakan. Asal niat mereka untuk menikah juga baik, pasti akan ada jalan untuk menemukan jodohnya.

Baca juga:
Kamu Kapan?
Doain Aja!

Entah dengan cara yang standar seperti dikenalin teman (bukan gue banget yang ini *boong ding), atau dramatis seperti serempetan di jalanan sempit, atau klasik seperti dijodohin orangtua padahal sama-sama nggak kenal, atau almost desperate and the only thing they can do is surfing seperti iseng-iseng ikut biro jodoh, atau yang lainnya.

Yang mana pun jalan mereka untuk menemukan jodohnya, itu bukan sesuatu yang memalukan atau membuat mereka ternista. Malah harus disyukuri. Justru kita-kita yang yang masih sendiri, stop membayangkan bertemu jodoh di kereta, perpustakaan, café, masjid, pengajian, atau di tempat yang indah-indah tapi kuecccil kemungkinan terjadi.

Yang masuk akal aja, biarpun nggak romantis babar blas

Source: pexel.com

Boleh kita mengira kehidupan rumah tangga itu penuh hal-hal romantis ala film Korea, dan itu memang nggak mustahil terwujud. Bisalah diusahakan. Hanya, apa yang kita sebut romantis, yang sering kita impi-impikan itu, kadang nyerempet-nyerempet non-sense, sehingga kenyataan yang kemudian kita temui berbeda jauh dari harapan.

Betah-betahin melajang (sengaja saya perhalus, sebab “jomblo” terdengar seperti ledekan) itu nggak enteng. Tuntutan dari diri sendiri ada, tuntutan dari orang lain (emak, bapak, adik, tetangga yang cerewet dan suka nanya-nanya, sampai tukang bikin meme) juga ada. Nggak kalah besar, malah. Apalagi buat para cewek.

Jadi, nggak usah membayangkan yang aneh-aneh. Menyandang status lajang itu udah berat. Masak setelah berhasil melepasnya kita harus menanggung beban lain yang muncul karena rasa kecewa akibat kenyataan yang nggak cocok sama imajinasi kita? Itu seperti lolos dari terkaman singa tapi kemudian ketemu sekawanan serigala.

Teman saya pernah cerita bahwa ia kecewa dengan pasangannya. Banyak hal yang ia persoalkan. Tapi akar masalahnya, menurut saya, bukan terletak pada kekurangan sang pasangan, yang boleh jadi memang prinsipil dan mengganggu kenyamanan teman tersebut, melainkan ekspektasi teman saya itu yang terlalu tinggi.

Kenapa ia punya ekspektasi yang menjulang seperti itu?

Sebab, ia mengira pernikahan adalah klimaks dari harapannya, yang bertabur keindahan tapi sayangnya nggak realistis, alias hanya ada di negeri dongeng. Harapan seperti itu sebenarnya wajar, dan sewajar itu pula kalau ada orang yang kecewa ketika mendapati kehidupan rumah tangganya nggak sesuai harapannya saat masih lajang.

Sebelum menikah kita mudah mencita-citakan sebuah dunia yang sempurna tapi celakanya nggak pernah ada, dengan seorang pasangan sebagai salah satu “makhluk” ciptaan kita. Sebuah dunia di mana kita bebas mengatur apa yang perlu terjadi dan apa yang nggak. Dunia ciptaan kita itu lantas mempengaruhi cara kita melihat dunia nyata.

Kita boleh prihatin, sebab nggak sedikit orang yang punya imajinasi seperti itu. Mereka membangun dunia dengan dinding-dinding yang tebal dan tinggi, yang lama-lama membuat mereka enggan melompatinya dan malah menghapus ingatan tentang kenyataan yang sejak baheula memang nggak sempurna.

Jadi, daripada setelah menikah jantung kita nggak sehat karena terlalu sering mendapat kejutan dari pasangan, mulai porsi makannya yang jumbo sampai posisi tidurnya yang aneh, mending kita cuci muka dan melek sekarang juga. Nggak ada yang selalu bisa membahagiakan kita, apalagi membuat kita merasa paling beruntung di dunia.

Gombalan laki-laki bahwa dia akan selalu membuat kita senang itu ngayal belaka. Waspadalah!

Tentang Warna-warna


Saya pernah menyaksikan video seorang bayi yang terbelalak dan gak lama kemudian tertawa girang. Bayi itu konon menderita buta warna, dan alasan dari sikapnya yang menggemaskan itu adalah sebuah kacamata yang disematkan oleh sang ibunda padanya.

Kacamata itu, sebuah inovasi teknologi untuk mata yang mengalami kelainan tertentu, membuat mata sang buah hati bisa melihat seperti orang pada umumnya.

Baca juga:
Tak Sama
Onde-onde dan Buih Air

Video itu tentu mengharukan. Komentar netizen beragam, tapi yang paling banyak adalah ungkapan trenyuh sekaligus bahagia.

Saya suka mengulang-ulang video itu, gak cuma karena gerak-gerik bayi itu lucu tapi juga mimiknya saat menyadari kalau benda-benda di sekelilingnya memiliki warna yang beragam sangat menyentuh.

Jangan merasa punya hati malaikat kalau Sampeyan gak pengin nangis menontonnya.

Source: pexel.com

Eh, ngomong-ngomong soal warna, saya punya pengalaman menarik tentangnya. Saya katakan menarik, karena ternyata persepsi orang-orang tentang warna itu gak selalu sama. Saya baru tahu itu.

Di tempat kerja saya dulu, Ayu adalah anak yang paling tahu dan khatam macam-macam warna sekaligus istilahnya. Tosca, peach, bright yellow, broken white, dark blue, dan lain-lain. Entah kenapa bahasa bule semua.

Merah menurut saya bisa dibilang maroon olehnya, begitu pula biru tua, ungu pudar, dan hijau muda berturut-turut ia koreksi dengan blue cobalt, ungu pastel, dan hijau army. Meski kadang, mungkin keceplosan, ia menyebut putih tulang, merah cabe, sampai hijau karpet musola*.

Maklum, anak Rawalumbu. Tapi, jelas Ayu bukan satu-satunya anak yang punya perbendaharaan istilah warna-warni sekompleks itu.

Teman saya yang lain pernah menceritakan pengalamannya ditegur oleh seorang atasan di kantor lamanya. Ceritanya, cover yang sudah susah-susah dibuatnya dikomentari negatif oleh sang bos.

Menurutnya, font dalam cover itu terlalu jadul dan, entah kenapa ini lengket di kuping teman saya itu, warnanya jelek. “Hijau busuk,” kata si bos. Ya Allah, seumur-umur baru kali itu saya tahu ada warna dengan nama sejelek itu.

Saya juga pernah cekikikan sewaktu mendengar masukan dari seorang teman mengenai warna cover buku yang kami terbitkan. Sesudah memberi saran yang melangit tentang isi bukunya, ia beranjak ke cover-nya. Apa yang saya dengar kemudian adalah sebuah antiklimaks.

Ia tampak gak suka dengan cover buatan kami, celakanya komentar yang ia berikan terlalu abstrak. Menurutnya, warna cover buku tersebut “kurang greng”.

Saya bingung. Bagaimana menafsirkan kata-kata “kurang greng” itu secara tepat lalu menjelaskannya pada teman-teman desainer?

Ini pasti berbeda kalau saran yang disampaikan, misalnya, kurang cerah, terlalu gelap, kurang ramai, agak sepi, dan lain-lain. Ada ukuran yang bisa lebih mudah dipahami, karena kata-katanya mengandaikan kontras dan komposisi. Istilah-istilah teknis dalam desain grafis**.

Saat SD dulu, Bapak pernah mengajak saya ke Pasar Besar. Saat itu ramai sekali, karena masuk hari-hari terakhir bulan puasa. Orang berdesakan di gang-gang pasar dan saling berebut dilayani oleh penjual.

Ketika tiba di toko kain, setelah Bapak deal dengan harga kain yang mau dibelinya, saya gak sengaja nguping perbincangan seorang mbak-mbak (cantik, putih, gelang emasnya buanyak) dengan salah satu pelayan.

“Yang mana?” tanya pelayan, sambil menepuk gulungan kain yang ditumpuk.
“Itu, yang dekatnya kain abu-abu itu!” jawab calon pembeli.
“Yang merah itu?” si pelayan memastikan.
“Kanannyaaa, yang ijo tletong itu lhooo!”

Saya ngempet ketawa. Bapak saya yang juga mendengar langsung menoleh pada si mbak. Dari mana dia dapat istilah warna seperti itu jika bukan kesehariannya yang gak jauh-jauh dari benda tersebut?

Lucunya, warna itu bisa langsung dipahami oleh si pelayan. Yang artinya, keseharian pelayan itu mungkin gak jauh beda dengan keseharian si mbak. Saya jadi curiga mereka bertetangga.

***

Ada yang bilang kalau perempuan itu punya perbendaharaan warna yang kompleks, gak seperti laki-laki. Biru menurut laki-laki bisa dibedakan menjadi seam foam, spindrift, teal, sky, dan turquoise menurut perempuan.

Deuh, ini saya menuliskannya saja susah, apalagi melafalkannya. Tapi, saya rasa gak semua perempuan bisa membedakan warna-warni itu, apalagi lancar membacanya.

Istri saya misalnya.

Sampai sekarang, kalau mencari busana apa pun, ia hampir selalu mencari warna cokelat. Cokelat tua, cokelat muda, krem, atau apa pun yang menurutnya cokelat.

Saya gak tahu pasti alasannya, misteriyes. Mungkin karena warna itu terkesan mature, mungkin juga menurutnya itu warna yang gak mencolok.

Atau, boleh jadi alasannya sangat sederhana tapi jeniyes dan gak terduga: “Suka aja.”

Buih Air


Saya senang dengan semangat teman-teman untuk mengaji. Minimal itu menyalurkan gairah keberislaman mereka yang belakangan ini meluap-luap.

Baca juga:
Kita Bukan Mesin
Pokoknya Jangan Mau!

Seorang teman pernah berkata bahwa dirinya bingung bagaimana menjadi muslim yang baik. Saya gak tahu, apakah dia memang bingung atau itu hanya caranya mengajak saya berbincang tentang agama. Yang pasti, dalam beberapa kali perbincangan dengannya, kebingungan tersebut tampak sering menjadi latar belakang pertanyaan-pertanyaannya.

Photo by Sebastian Voortman on Pexels.com

Kita tentu tahu, di tengah berbagai kemudahan yang kita rasakan akibat berkembangnya teknologi informasi belakangan ini, banyak tokoh agama tampil di layar kaca dan men-share ceramahnya di social media. Tapi, ceramah-ceramah mereka gak jarang membingungkan, gak cuma berbeda tapi satu sama lain juga bertentangan.

Bukan rahasia malah kalau ada seorang ustadz yang mengolok-olok ustadz yang lain, hanya karena berbeda pendapat keagamaannya atau gak sama pilihan politiknya. Sayangnya, sering pendapat-pendapat mereka, tanpa melalui proses editing yang semestinya, disebarluaskan begitu saja oleh para pengagumnya.

Di benak orang awam seperti saya, Islam itu isinya ya shalat, puasa, naik haji, hukum Islam, syariat, dan jihad. Ternyata, itu hanyalah bagian kecil saja darinya. Ada aspek lain, seperti bisnis dan ekonomi. Belum lagi akidah dan akhlak, yang keduanya gak kalah penting untuk dipelajari dibandingkan fikih.

Celakanya, aktivitas keberislaman yang menggebu-gebu itu ternyata punya ironi. Gairahnya memang semakin tampak di masyarakat, tapi jiwanya gak ada. Kopong, persis onde-onde tanpa isi. Apa yang kita lihat sebagai demontrasi simbol dan identitas keislaman gak lebih dari refleksi kedangkalan pemahaman terhadapnya.

Meski prosesnya gak instan, kesediaan teman-teman untuk datang ke majelis taklim, gak cuma mencari wifi gratisan lalu streaming ceramah agama yang dipotong-potong, saya yakin akan memberi dampak positif bagi pemahaman keislaman mereka. Harapannya, Islam gak hanya mereka hayati sebagai simbol atau identitas belaka.

Ada kesadaran yang hakiki untuk mengamalkannya, meski berada di ruangan yang paling sepi, tanpa ada yang melihat dan tahu. Ini yang menurut saya masih jarang. Kalau tampil saleh dan kaffah di panggung seminar atau menjadi ustadz tiban di social media sih gampang. Modal kata-kata bijak dan ikut pelatihan online marketing sudah cukup.

Banyak tipuan licik yang bisa kita temukan dalam hidup sehari-hari, tapi menurut saya hasrat untuk mempertontonkan simbol dan identitas keislaman yang lahir dari dorongan nafsu adalah yang paling buruk. Ia mengendap tanpa kita sadari, seperti semut hitam yang merayap di atas batu kelam, di tengah malam yang sangat gulita.

Ibarat buih air, gairah keberislaman yang meluap-luap tapi lahir dari dorongan nafsu memang tampak banyak, tapi hanya soal waktu untuk melihatnya hilang digulung ombak yang baru. Dan sebagaimana buih, mereka yang berisik menonjolkan simbol dan identitas keislamannya gak sadar dirinya sedang diombang-ambing oleh gelombang.

Semoga kita bukan salah satunya.

Tentang Kita


Kita sama-sama tahu, bahwa keindahan yang kini saling kita kagumi itu pelan-pelan akan memudar. Mata yang bening akan mengeruh, dan kerlingnya yang menggoda akan tampak biasa saja.

Pipi yang merona akan berganti kerut-kerut yang menandakan betapa kita, suatu hari nanti, akan tunduk pada usia. Pada senja yang temaram dan bunyi panggilan yang sayup-sayup terdengar.

Baca juga: Sebuah Ajakan

Akan ada hari kita menghabiskan waktu dengan duduk di teras rumah dan menatap kosong ke jalan raya. Kita mengenang saat pertama bertemu dan menertawakan kebodohan yang pernah kita lakukan.

Seperti siksaan, angin sore mengusap lembut rambutmu yang sudah memutih dan memaksa tanganmu bersedekap untuk menahan dinginnya. Secangkir teh hangat yang kaubuat tak sanggup lagi menghangatkan tubuhmu.

Pernah aku menebak siapa, mengira apakah dia ataukah dia, untuk kemudian kecewa dan putus asa. Tak pernah kusangka, kaulah orangnya. Yang seakan bersembunyi saat aku mencari tapi tiba-tiba berdiri di hadapan saat aku ingin melanjutkan perjalanan.

Allah punya banyak cara untuk membuatku terkesima dengan skenario-Nya yang penuh lubang tapi seakan disengaja.

Image by Pexels from Pixabay

***

Sore itu, kau kembali bercerita tentang janji-janji yang telah kita tepati dan impian yang masih terus menanti. Sementara aku masih mondar-mandir ke masa lalu, demi menyampaikan pesan dari orang-orang yang turut menciptakan duniaku.

Surat-surat cinta masih kauterima dan tumpukan buku masih kueja maknanya. Kita saling menunjukkan sebaris kata, terkesima, bertanya-tanya, dan menertawakannya.

Baca juga: Hari Itu

Kita tak banyak berubah, meski sesekali aku mengeluhkan nyeri punggung yang semakin sering terasa dan kau tak berhenti memijit-mijit kakimu yang ngilu setelah berdiri terlalu lama. Orang lain memang melihat banyak perubahan dalam diri kita, tapi kita sama sekali tak mendapatinya.

Kau tetap cinta yang dulu kutemukan dan aku masih rindu yang mengepungmu di tengah malam.

Kita telah sepakat memulai semua ini, keputusan besar yang belum pernah kita buat sebelumnya. Satu waktu kau bercerita tentang keraguan yang terdengar dari lamunan hatimu, yang entah ke mana perginya saat kausebut namaku.

Aku lega mendengarnya, dan sangat bisa memahaminya. Bagaimanapun aku bukan siapa-siapa di kehidupanmu yang dulu. Kita bertemu semata-mata karena turut campurnya waktu.

***

Aku tak mau berjalan terlalu cepat dan meninggalkanmu, atau terlalu lambat sehingga merepotkanmu. Di jalan yang panjang dan berliku, aku ingin kita terus bersama, beriringan. Agar jika salah satu dari kita lelah, kita bisa saling menghibur dan menopang.

Kau tak perlu khawatir saat hari mulai gelap, atau cemas saat tiba-tiba langit tak kuasa menahan hujan. Aku ingin setia, seperti udara yang mengarak awan menjelajah benua.

Akan ada saat aku mengajakmu terbang ke masa-masa yang telah berlalu. Memperlihatkan padamu malam-malam ketika aku harus berjalan sendiri dan menunjukkan impian-impian masa silam yang, entah kenapa, menjadi nyata setelah aku bertemu denganmu.

Aku ingin selalu membuatmu kagum padaku, dan karena mahkota tak ada harta pun tak punya, semoga sedikit yang kulakukan bisa menyenangkanmu.

Mencintaimu tak perlu berkata-kata, menua bersamamu adalah kesibukanku selanjutnya.

Cinta yang Tak Muluk


Saya yakin yang menyatukan dua orang yang berjodoh itu gak semata hal-hal fisik tapi sesuatu yang lebih prinsipil. Bisa pola pikir, bisa juga nilai-nilai tertentu.

Baca juga:
Saat Hanya Bisa Berharap
Sok Tahu Bicara Cinta

Ketertarikan fisik rasa-rasanya terlalu receh untuk menyatukan dua orang yang saling mencintai, meski wajar sebagai sebuah permulaan.

Mungkin, lebih banyak orang saling tertarik karena faktor itu dibandingkan faktor yang lain, lalu berlanjut pada ketertarikan aspek lain yang lebih kuat tapi abstrak, seperti latar belakang keluarga, cara berpikir, karakter personal, pola perilaku, atau cita-cita.

Source: pexel.com

Saya gak punya pengalaman banyak tentang ini, tapi saya yakin aspek-aspek prinsipil itu lebih kuat dalam merekatkan hubungan antara dua orang yang saling mencintai. Entah sudah berapa banyak novel dan film yang dibuat untuk menceritakan kalau keindahan fisik itu akan pudar.

Saatnya nanti wajah kita akan keriput, rambut memutih, badan membungkuk, dan dorongan seksual entah ke mana perginya.

Meski begitu, ada orang-orang yang menjalani hidup bersama cinta sejati mereka tanpa memulainya dengan ketertarikan-ketertarikan tersebut.

Ketika berangkat ke tanah suci, Kyai Wahab (KH. Abdul Wahab Hasbullah) mengajak serta adik perempuannya yang sudah tumbuh menjadi seorang gadis cantik. Di pelabuhan, tempat beliau janjian dengan sahabat lamanya, Kyai Bisri (KH. Bisri Syansuri), ketiganya bertemu.

Setelah berbincang lama, entah karena sebab apa, Kyai Wahab tiba-tiba mengutarakan maksudnya untuk membatalkan pergi haji.

“Saya titip adik saya saja,” ujarnya pada sang teman, seolah bercanda.
Kyai Bisri bingung. “Eh, lho?! Maksudnya apa kok mendadak urung pergi?!
“Ya pokoknya saya gak jadi ke tanah suci, jadi saya titip adik perempuan saya ini.”
“Lhah, ’kan ajnabiyah*?!”
“Ya sudah, biar halal, kalian saya kawinkan dulu,” jawab Kyai Wahab, singkat.

Kyai Bisri gak menolak, sementara sang adik pasrah saja. Akhirnya, dengan disaksikan beberapa calon jamaah haji, keduanya menikah dan berangkat bersama ke tanah suci.

Untung bagi Kyai Bisri, maksud hati ingin menunaikan kewajiban, pulang-pulang dapat istri. Meski gak diawali jatuh cinta dan kangen-kangenan, rumah tangga mereka awet puluhan tahun, sampai kakek-nenek dan akhirnya meninggal dunia.**

Sekitar tahun 60-an, setelah disuruh Kakek untuk menyelesaikan sengketa tanah dengan PKI (ingat ‘kan soal landreform kala itu?), bapak saya yang waktu itu usianya sudah 25 tahun urung kembali ke pondok.

Sebabnya, kakek saya menjodohkan beliau dengan putri seorang janda, yang sejak kecil sudah yatim. Apa mau dikata, meski dikenal berani, keberanian bapak saya gak ada apa-apanya di hadapan kakek.

Di hari yang ditentukan, Bapak digelandang ke KUA, masuk ruang administrasi, dan mengucapkan akad nikah. Di sebelahnya, duduk seorang gadis 16 tahun yang gak dikenalnya, mungkin baru hari itu dilihatnya.

Gadis itulah yang kemudian menemaninya berbincang-bincang di sore hari, menyiapkan kopi manis dan sarapannya, dan berbagi suka-duka hingga Bapak tutup usia, empat puluh tahun kemudian.

Cerita ketiga dialami oleh kakak saya. Beberapa kali Bapak mengutarakan kekhawatirannya, sebab kakak saya itu sempat berpacaran dengan gadis nonmuslim. Bapak gak ada masalah dengan nonmuslim, tapi kalau itu berhubungan dengan rumah tangga anaknya, beliau pasti pikir-pikir.

“Kok mesti, se?” tanya Ibu, yang menurutnya kakak saya itu gak sekali saja “jalan” dengan perempuan nonmuslim.

Setelah beberapa kali usaha dan gagal (saya gak tahu sebabnya, hanya yang bersangkutan dan Allah yang tahu), kakak saya dekat lagi dengan seorang gadis. Orang yang gak pernah terpikir di benak kami sekeluarga, sebab rumahnya hanya selemparan upil dari teras rumah, dan hanya dipisahkan oleh sebuah jalan kampung yang gak lebar-lebar amat.

Ibu sepertinya menaruh harap, dan Bapak pun tanggap.

Tanpa banyak tanya, beliau maju untuk menanyakan “peluang” itu pada orangtua sang gadis. Begitu ada lampu hijau (saya gak tahu apa selancar ini ceritanya, tapi anggap saja demikian, karena akan sangat ribet kalau saya mesti tanya-tanya dulu ke yang bersangkutan, di samping belum tentu mereka mau jawab), kesepakatan pun dibuat.

“Kalau anak-anak mau, kenapa gak?” mungkin begitu kata mereka.

Akhirnya, setelah berpacaran dengan gadis entah dari mana saja, kakak saya mantap menikah, dengan gadis tetangga yang cuma “lima langkah dari rumah”. Meski usia mereka terpaut lumayan jauh, sampai sekarang rumah tangga mereka baik-baik saja.

Ya kalau ada yang tiba-tiba diam atau tidur di sofa atau apalah yang menunjukkan bahwa mereka sedang sewot-sewotan, itu biasa.

Namanya juga rumah tangga. Hihi…

*Bukan mahram.
**Saya ceritakan ulang dari link Teronggosong.com ini http://teronggosong.com/2010/12/k-a-w-i-n-kepada-para-perjaka-perawan-dan-segala-jomblo/

Tentang Keluarga Saya


Saya senang saat berada di tengah-tengah keluarga besar, meski banyak di antara mereka yang mungkin kurang mengenal saya.

Maklum, saya anak terakhir di keluarga, yang jarak antara usia saya dan usia kakak saya yang paling muda mencapai belasan tahun. Ada yang bilang, jarak usia yang jauh dengan kakaknya akan membuat seseorang seperti anak sulung.

Saya nggak tahu itu benar apa nggak. Rasanya, nggak penting juga.

Source: pexel.com

Saat masih remaja, saya jarang punya kesempatan bertemu keluarga Bapak dan Ibu. Bukan karena rumah saya jauh dari kediaman mereka, tapi karena Bapak lebih sering mengajak kakak-kakak saya kalau ingin silaturahmi ketimbang diri saya. Mungkin karena waktu itu saya belum bisa membantu, mungkin juga karena saya masih suka merepotkan beliau.

Baca juga:
Obrolan Siang Hari
Kasur di Rumah Saya

Ketika masuk SMP dan tinggal jauh dari rumah, harapan saya untuk sering bertemu keluarga besar dan mengenal mereka semakin pupus. Maka, dalam setiap perbincangan tentang saudara (termasuk saudara kandung) Bapak atau Ibu, saya lebih banyak mendengar dan pura-pura paham. Ini disebabkan terlalu banyak nama yang nggak saya tahu orangnya.

Nah, ketika sudah dewasa dan hadir dalam pertemuan keluarga (haul kakek saya, biasanya setelah hari raya), saya sering mati gaya. Disapa seseorang, bingung mau manggil apa, karena saya nggak tahu namanya. Giliran saya tahu namanya, bingung lagi apakah saya harus menggunakan Bahasa Jawa halus atau bisa nyantai menggunakan Bahasa Jawa kasar.

Maklum, bapak saya adalah anak laki-laki pertama. Jadi, terhadap putra-putrinya Paklik atau Bulik, saya bisa memanggil namanya tanpa embel-embel mas atau mbak, alias njangkar, di samping juga bisa menggunakan Bahasa Jawa kasar. Yang membuat saya bingung, banyak di antara mereka yang usianya dua kali lipat usia saya, rambut kepalanya pun sudah ubanan.

Kebingungan ini diperparah dengan banyaknya saudara kandung bapak saya, yang mencapai belasan orang. Saya tulis ‘belasan’ karena saya nggak tahu berapa belas tepatnya. Itu belum termasuk saudara tirinya. Saking top markotop-nya, kakek saya memang sampai tiga kali menikah. Entah berapa banyak cucu, cicit, mungkin juga canggah dan wareng-nya sekarang.

Seandainya masih hidup, kakek saya pasti juga nggak hafal nama-nama mereka. Yakin, deh!

***

Saya bahkan pernah nggak mengenali kerabat sendiri, karena nggak pernah bertemu atau dikenalkan dengan mereka, atau Bahasa Belanda-nya ‘kepaten obor’. Saat kelas 1 SMA, ketika sedang enak-enakan pindah tidur di pesantren, saya mengenal seorang ustadz yang baik hati dan sangat perhatian pada santri-santri, namanya Ustadz Nurkholis.

Selain Ustadz Nurkholis, ada juga Ustadz Amir dan Ustadz Asyiq. Tiga nama itu memiliki hubungan saudara. Ustadz Amir dan Ustadz Asyiq malah saudara kandung. Nama lain yang juga punya hubungan saudara dengan mereka adalah Farhan atau Ilul (nama lengkapnya Nazilul Farhan, nggak tahu itu tarkib apa *alahdibahas), teman sekamar dan seangkatan saya.

Keempat orang itu berasal dari Blitar, kota yang ternyata nggak asing bagi bapak saya. Saat masih muda, Bapak sering mondar-mandir ke Blitar, ke tempat yang ternyata adalah kediaman Ustadz Amir dan Ustadz Asyiq. Ndilalah, beliau ternyata masih punya hubungan saudara dengan orangtua ustadz-ustadz saya itu, dari jalur ibu beliau yang memang orang Blitar.

Saya nggak lama dididik langsung oleh Ustadz Amir dan Ustadz Asyiq, karena kebetulan beliau-beliau mengajar di kelas yang berbeda. Tapi dengan Ustadz Nurkholis, sejak pertama mondok saya sudah tinggal di kamar yang sama. Beliau yang mendampingi saya mengaji, mengawasi kebandelan saya, dan menghukum kalau-kalau saya kelewat nggak bisa diatur.

Waktu itu saya belum tahu kalau kami adalah kerabat jauh, sehingga bandel-bandel sedikit insya Allah di-ma’fu. Saya baru tahu kami bersaudara sekitar tiga tahun setelah saling mengenal, itu pun gara-gara diberitahu Ustadz Amir. Sayangnya, waktu itu Bapak sudah berpulang, sehingga saya nggak bisa bertanya banyak hal tentang kerabat kami yang ada di Blitar.

***

Akhir pekan kemarin, giliran saya hadir dalam pertemuan keluarga istri. Orang-orang yang dulu sama sekali nggak saya kenal dan nggak saya sangka akan saya kenal. Beberapa bulan sebelumnya, saya juga bersilaturahmi dengan keluarga almarhum bapak mertua saya. Biar saya lebih kenal mereka dan tentu saja untuk menjaga silaturahmi dengan mereka.

Waktu itu, saya juga mengajak istri melihat makam bapak dan kakeknya. Nggak istimewa (ke kuburan apa istimewanya?), tapi rasa-rasanya nggak boleh dilupakan. Toh, saat itu kami sedang berada di kediaman nenek istri. Saya ingin bisa ‘dekat’ dengan orang-orang yang mewariskan darah pada istri saya, yang kelak juga mengalir dalam darah anak-anak saya.

Saya pikir, orang yang sudah meninggal itu nggak pernah benar-benar menghilang, kok. Mereka tetap hadir di sekitar kita. Kadang ikut menciptakan bahagia, kadang juga turut menghadirkan air mata (kok rada horor ya?). Saya pikir, mengenali diri kita juga bermakna mengenali leluhur kita. Bagaimanapun darah mereka mengalir di nadi kita. Bukankah demikian?

Obrolan Siang Hari


Saya berkeras akan mengantar anak pertama saya ke pesantren, begitu usianya mulai masuk remaja.

Source: pixabay.com

Nggak ada tawar-menawar. Dan pesantren yang saya maksud adalah pesantren tradisional, atau salaf. Biar nanti sepulang ke rumah, ia mahir membaca literatur keislaman. Baik klasik maupun modern. Mulai fikih, sampai filsafat.

Baca juga:
Mari Berkenalan Kembali
Cinta yang Tak Muluk

Nggak cuma buat bekal hidup, tapi melanjutkan tradisi keluarga. Saya mondok, bapak saya mondok, kakek saya apalagi, tamat mondok malah mendirikan pesantren di perantauannya.

Kebetulan dulu istri juga mondok, bapaknya juga. Sementara kakek dari pihak ibu dan bapaknya saya nggak tahu.

Istri saya tersenyum, lalu berkata agar saya nggak memaksakan harapan itu. Biar anaknya yang memilih mau sekolah di mana. Hari gini, jadi orangtua konservatif banget.

Mau mondok atau nggak silakan, mondok di pesantren salaf atau modern monggo. Kita tinggal mengarahkan, soal keputusannya terserah si anak. ‘Kan dia yang menjalani.

***

Gara-gara keseringan dengar berita pernikahannya Kahiyang, saya nyeletuk saat sedang leyeh-leyeh di dekat istri. Bahwa nanti pernikahan anak-anak kami sederhana saja.

Yang penting syarat-syarat dalam agama dan ketentuan negara terpenuhi, beres. Nggak perlu pesta-pestaan, apalagi sampai dangdutan dan nyewa layar tancep semalam suntuk.

Atau nanggap reog, barongsai, dan wayang orang. Nambah-nambahi biaya.

“Tasyakuran aja,” kata istri. “Tapi, kalau nyetel lagu-lagu sih boleh,” lanjutnya.

“Masak ngundang orang nggak ada apa-apanya, sepi dong kayak kuburan. Minimal ‘kan ceramah agama. Terus, karena ada tamu, ya mesti ada hidangan. Kue-kue apalah, dan tentu saja makan besar.”

Begitu mungkin batinnya. Hmm, berarti mesti nyewa tenda dong, tukang masak, tukang rias, sound system, dan MC?

Itu sih rasa-rasanya pesta juga ya namanya.

***

By the way, itu dua topik obrolan saya dan istri siang kemarin, yang akhirnya membuat kami eyel-eyelan. Padahal, yang kami bincangkan itu bukan sesuatu yang mendesak. Wong iseng-iseng saja kok.

Lha bagaimana, anak kami masih dalam kandungan lho! Hihi … Jadi, itu sebenarnya celetukan saya saja, yang ditanggapi serius oleh istri.

Yang saya jawab apa adanya, lalu dibantah dengan sengit oleh istri. Saya tawar, dia bergeming. Saya bantah, dia bilang, “Terserah”.

Perasaan saya langsung nggak enak, dan benar, obrolan ganjil siang itu pun berakhir antiklimaks. Untungnya doi nggak sampai nunjuk-nunjuk karpet sebagai isyarat saya akan tidur di sana malam harinya.