Khawatir Ini, Khawatir Itu


Ada banyak ketidakpastian di masa depan. Dengannya, kita sebenarnya dididik untuk lebih percaya. Pada diri sendiri, pada kehidupan, dan tentu saja pada Yang Mahakuasa.

Wajar kok mengkhawatirkan berbagai hal yang akan kita temui. Mungkin terlintas di benak kita bagaimana perkembangan penyakit yang sekarang kita derita, persoalan utang yang menggunung, atau perpisahan dengan orang yang kita cintai. Tapi, kita gak sendiri.

Orang lain juga punya kekhawatiran. Kita mungkin melihat mereka baik-baik saja, tapi seperti kita tahu, apa yang tampak kadang berbeda dengan yang tersembunyi. Yang perlu kita ingat, hanya karena kita gak tahu masalah mereka, bukan berarti mereka gak punya masalah.

Baca juga:
Belum Berakhir
Tak Pernah Mudah

Kekhawatiran terhadap masa depan gak selalu buruk. Kalau kita bilang kesuksesan dalam hidup bermula dari keberhasilan mengatasi kekhawatiran, saya rasa itu kurang tepat. Seringkali justru dari kekhawatiran kita tergugah untuk mempersiapkan diri menghadapi yang terburuk.

Karena khawatir kehabisan waktu shalat, kita mencari masjid untuk singgah. Karena khawatir dengan uang tunai yang tinggal sedikit, kita menyempatkan diri mampir ke ATM. Dan karena khawatir terjadi apa-apa dengan kesehatan anak kita, kita segera melarikannya ke rumah sakit.

Kekhawatiran yang kita bicarakan bukan kekhawatiran yang membuat plonga-plongo dan terduduk di sudut ruangan sambil pasrah pada keadaan. Kita punya ide, keberanian, atau minimal naluri untuk menyelamatkan diri, yang kadang muncul saat kita khawatir.

Kekhawatiran seperti inilah yang bisa memberikan kontribusi positif bagi mental dan tindakan kita, asal kita bisa mengelolanya. Sebab, apa pun itu kalau kita gak bisa mengelolanya, kekayaan yang gak habis dimakan tujuh turunan pun akan gagal memberikan manfaat.

Lantas, bagaimana kalau kekhawatiran itu, yang menumbuhkan kesiapan dalam diri kita untuk menghadapinya, menjadi kenyataan dan ternyata membuat kita kewalahan? Dalam batas-batas tertentu, boleh kok kita kecewa dan menyesalinya. Tapi yakin deh, semua akan baik-baik saja.

Kekhawatiran kita terhadap sesuatu kadang gak proporsional. Apa yang akan kita hadapi di masa depan kadang gak semengerikan yang kita bayangkan. Bisa jadi memang gak semengerikan itu, bisa jadi juga seiring bertambahnya umur, kita lebih siap menghadapinya.

Di tengah menulis omong kosong ini, sebuah poster melintas di timeline Facebook saya. Bunyinya, “Not all storms come to disrupt your life. Some come to clear your path”. Memang, bangunan cita-cita kita kadang perlu diruntuhkan agar kita tahu pondasinya perlu diperkuat.

Sekali lagi, ini hanya omong kosong. Gak usah diresavi, ya 🙂

Gak Bisa Salah


Kalau kita selalu (merasa) benar maka gak ada satu pun pelajaran dalam hidup yang bisa kita ambil. Itu sebabnya, gak apa kok sesekali berbuat salah, atau merasa dan mengaku berbuat salah, asal kita punya hati yang lapang … untuk dikritik.

Source: pexel.com

Kritik hanya akan datang jika kita berbuat salah. Kalau kita selalu benar, kita gak akan pernah dikritik. Itu mungkin keren, tapi akibatnya proses belajar kita sebagai manusia berjalan lambat. Sebab, seringkali kritik memaksa kita untuk banyak belajar.

Kita tentu tahu, belajar gak hanya tentang membaca, mengamati, atau aktivitas individualistik lainnya tapi juga berinteraksi, menjalin hubungan dengan ‘dunia luar’, yaitu orang lain. Dan, kritik memungkinkan kita untuk belajar melalui proses ini.

Nabi Muhammad juga pernah ditegur (ini semacam kritik juga, kan?) oleh Allah. Ada banyak contohnya di dalam Al-Quran, surah Abasa, misalnya. Bayangkan, seorang rasul saja ditegur, karena melakukan (let’s say) ketidakpatutan laiknya seorang rasul.

Benar nih Nabi Muhammad pernah berbuat salah? Beliau ‘kan terjaga dari kesalahan? Kalau kita ragu sama fakta ini, coba deh pikirkan: mana mungkin beliau ditegur kalau gak melakukan sesuatu yang membuat Allah menegurnya?

Tul?

Tapi, itu wajar belaka, sebab Nabi Muhammad juga manusia. Manusia ‘kan memang tempatnya salah dan lupa. “Innamaa anaa basyar, sesungguhnya aku adalah manusia,” kata beliau. Justru kalau beliau malaikat, itu yang gak wajar.

Ya bagaimana, masak kita diwajibkan meneladani makhluk yang gak bisa salah? Gak fair, dong?

Kritik, saran, masukan, atau apa pun namanya bukan dimaksudkan untuk menjatuhkan kita, asal niatnya memang baik dan disampaikan dengan cara yang juga baik. Itu adalah bukti perhatian orang lain pada kita. Dan pastinya, kritik beda sama cemoohan.

Kalau kritik dimaksudkan agar kita sadar dengan kekurangan, sehingga kita tahu apa yang perlu diperbaiki, cemoohan ditujukan semata-mata untuk merendahkan kita. Kritik menjadikan kita lebih baik, cemoohan membuat kita terhina.

Mengakui bahwa diri kita bisa salah juga merupakan konsekuensi kita sebagai makhluk –yang memang diciptakan dengan kelebihan dan kekurangan. Kalau kita merasa perfect sebenarnya saat itulah akidah dan akhlak kita dipertanyakan.

Benarkah kita muslim yang baik, yang seharusnya percaya bahwa yang sempurna itu hanya Allah Taala, dan kita sebagai makhluk penuh kekurangan?

Benarkah kita muslim yang baik, yang seharusnya mampu menjaga kerendahan hati, sebab banyak orang lain yang kualitas personalnya lebih baik dibandingkan kita?

Singkat kata, kalau selama ini kita selalu (merasa) benar, cobalah berlapang dada untuk menerima kemungkinan kita melakukan kesalahan. Mengakui bahwa kita infallible itu gak cuma baik buat mental kita tapi juga demi menghindari murka Tuhan.

Ingat, Fir’aun dimurkai Tuhan gara-gara merasa gak pernah sakit, gak akan mati, dan gak bisa berbuat salah lho!

5 Lagu Klasik yang Enak Didengar


Saya sempat beberapa waktu belajar biola, tapi karena gak disiplin latihan, sampai bertahun-tahun biola saya gak lebih sekadar pajangan di kamar.

Ada sih beberapa lagu yang sempat bisa saya mainkan, Twinkle-twinkle Little Star (!) misalnya, tapi gara-gara jarang berlatih jadi lupa notnya.

Source: pexel.com

Hehe, gak ding. Jelek-jelek saya juga pernah bisa main Ode to Joy dan Canon yang terkenal itu. Tapi ya itu tadi, pernah …

Baca juga:
5 Lagu Jadul Paling Romantis
Mengapa Lagu Zaman Dulu Masih Enak Didengar?

Saya suka suara biola, karena menurut saya unik dan sangat menyentuh (meh!). Kesannya lebih merdu ketimbang suara alat musik yang lain, termasuk piano dan saksofon. Tapi kalau disuruh menyebutkan nama-nama pemain biola atau judul partitur lagu yang dimainkan menggunakan biola, saya gak hafal banyak.

Meski begitu, saya punya judul-judul favorit, yang betapapun sudah ratusan kali saya dengar tapi gak pernah bikin saya bosan. Beberapa lagu itu ada yang diciptakan satu atau dua abad yang lalu, ada juga yang diciptakan tahun-tahun belakangan. Ada sih perbedaannya, tapi buat pendengar awam seperti saya, semuanya sama-sama enak didengar.

Kali ini saya ingin mengenalkan lima lagu klasik favorit saya. Bukan sok classy, tapi teman-teman yang juga pernah mendengar sepakat kok kalau lima lagu ini memang bagus. Buat yang lagi jatuh cinta, digantungin, diduain, baru putus, atau suka tiba-tiba ingat mantan, minimal satu dari lima lagu ini pasti cocok didengarkan saat kamu sedang sendirian. Wkwk …

1. Canon in D Major, karya Johan Pachelbel

Sebenarnya sejak dulu lagu ini gak asing bagi saya, karena sering saya dengar sebagai soundtrack film. Tapi, waktu itu saya gak tahu judul dan penciptanya dan gak pernah berusaha mencari tahunya. Saya mulai ngeh dengannya ketika di kantor gabut lalu sok sibuk dengan mencari lagu klasik di Youtube. Kalau Teman-teman belum pernah mendengar lagu ini, coba klik link berikut.

2. Ode to Joy, karya Ludwig van Beethoven

Saya pertama kali tahu lagu ini dari sebuah iklan yang di-share di media sosial. Kalau gak salah itu adalah iklan sebuah bank di Swiss. Lagu ciptaan Beethoven ini dimainkan oleh sekelompok orang yang tiba-tiba berkumpul di sebuah pusat keramaian dengan maksud membuat kejutan pada orang-orang yang ada di sana (flashmob). Ini link-nya.

3. Air on G String, karya Johan Sebastian Bach

Ini lagu klasik yang paling juara menurut saya, setelah Canon, hihi. Kalau gak salah ingat, ini adalah lagu klasik paling awal yang saya tahu dan saya hafal. Gak cuma merdu, lagu ini juga seakan mengajak kita berkunjung ke Eropa pada zaman dulu, cocoklah sebagai musik latarnya drama-drama yang dipentaskan di gedung opera (sok tahu). Berikut link-nya.

4. Suite for Solo Cello no. 1 in G Major – Prelude, karya Johan Sebastian Bach

Lagu ini gak dimainkan menggunakan biola tapi cello. Meski begitu, minimal buat telinga saya, itu gak jadi soal. Tetap merdu. Berbeda dengan lagu-lagu sebelumnya, lagu ini terdengar lebih “semangat” dan “dinamis” (alah!). Tempo lagunya lebih cepat dan suara yang dihasilkan lebih “dalam”, mungkin karena kebanyakan yang dimainkan nada-nada rendah. Ini link-nya.

5. Cinema Paradiso, karya Ennio Morricone

Lagu ini di-compose oleh Ennio Morricone sebagai soundtrack film dengan judul yang sama. Film tersebut digarap oleh Giuseppe Tornatore, seorang sutradara film asal Italia yang juga menggarap Malena, film favorit saya. Hehe … Dibanding lagu-lagu sebelumnya, lagu ini adalah yang paling baru. Ingin mendengar lagu keren ini? Klik link berikut.

Itu lima lagu klasik favorit saya, meski gak tahu ya yang terakhir itu bisa disebut klasik apa gak, karena dibuat pada akhir tahun 80-an. Berbeda sama lagu-lagu lainnya, menurut saya lagu klasik itu sangat bisa memainkan emosi pendengarnya. Sulit bagi kita untuk gak “terseret” ke dalam suasana batin pencipta atau pemainnya (wkwk, gak tahu ini saya ngemeng apa).

Emosi kita akan semakin menyatu dengan “dunia” yang tercipta dari lagu itu jika kita menonton permainannya secara live. Saya pernah mendapat kesempatan menonton konser musik klasik seperti itu di Goethe Huis (tiketnya Rp75000) dan Salihara (gratis, rezeki anak saleh). Kesan saya saat mendengarkan lagu-lagu klasik itu dimainkan: emejing!

Tuhan Yang Mahaasyik


Kita gak pernah tahu apa yang akan terjadi di masa depan.

Source: pexel.com

Saya kadang menebak-nebak bagaimana rupa saya 20 atau 30 tahun lagi, seandainya masih diberi umur panjang sama Tuhan. Rutinitas apa yang saya gemari di usia itu, masakan apa yang sering istri saya siapkan untuk keluarga, dan cerita apa yang sering diulang-ulang oleh anak saya setiap kali kami berbincang di meja makan.

Baca juga:
Bermimpi Pun Perlu Realistis
Mari Berkenalan Kembali

Membayangkan masa depan bisa sangat menyenangkan, selama optimisme kita terhadapnya gak dirusak oleh keraguan dan prasangka buruk terhadap Tuhan. Buang jauh-jauh pertanyaan seperti ini, “Kok kayaknya sulit ya saya dan istri bisa saling percaya?” atau “Jangan-jangan pas sudah pensiun nanti gak ada yang mau merawat saya?”

Keraguan dan prasangka lebih dari cukup untuk mengacaukan hari kita saat ini dan membuat hari esok seakan-akan pantas untuk kita takuti, dan kalau bisa kita hindari. Alhasil, kita gak bisa menikmati apa yang kita miliki sekarang dan gak bisa get into sama kegiatan kita sekarang, sebab waktu kita sudah habis untuk mencemaskan apa yang akan datang.

Ragu-ragu dengan masa depan itu tanda bahwa kita belum sepenuhnya beriman pada Tuhan. Kita boleh mengaku bertuhan dan mungkin dikenal tetangga rajin menjalankan kewajiban agama, tapi selama sikap mental dan aktivitas fisik kita menunjukkan sebaliknya maka baik pengakuan maupun perilaku kita itu gak lebih dari omong kosong yang gak ada gunanya.

Bukankah berkali-kali Tuhan menyatakan bahwa Dia yang menghidupkan kita, menuliskan takdir baik dan buruk kita, serta menjamin semua kebutuhan hidup kita, baik hari ini maupun di masa depan? Ulat daun pisang saja bisa gemuk ginuk-ginuk lho gara-gara kelimpahan banyak makanan, kok kita sampai segitunya ketakutan gak bisa cari penghidupan?

Kemudian prasangka buruk. Selain merupakan perbuatan yang rendah, prasangka buruk juga bukti bahwa orang yang menyimpannya gak cukup pandai dalam merayakan hidupnya. Yang seharusnya dibikin hepi, eh malah diisi benci. Orang yang pandai akan selalu berbaik sangka pada Tuhan, sebab sejak lahir sampai detik ini, Dialah yang memenuhi kebutuhannya

Kita perlu ingat, bukan usaha kita yang membuat kita survive sampai di titik ini. Bukan kerja keras kita yang menjadikan kita sehebat sekarang. Buang jauh-jauh kegeeran yang lebay itu. Semua ini gak lain karena kasih sayang Tuhan. Kita ini, persis seperti dibilang Megatron (random ya, Mas?), hanyalah makhluk lemah dan menjijikkan, yang bisanya paling hanya meminta belas kasihan-Nya.

Kita bisa pup sebelum berangkat kerja, bisa telepon istri yang lagi ada di kampung, bisa menyantap bekal untuk makan siang (meski cuma sisa nasi goreng tadi pagi), dan bisa menerima gaji di tanggal yang seharusnya, itu semua karena kasih sayang Tuhan. Bahkan kalau nanti masuk surga (amin!), itu bukan karena amal baik kita di dunia tapi kasih sayang yang Allah curahkan pada kita.

Dalam sebuah hadis sahih yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari, Nabi Muhammad saw bersabda, “Amal baik tak akan bisa menyelamatkan siapa pun di antara kalian.” Seorang sahabat lantas bertanya, “Apa termasuk dirimu, ya Rasulallah?” “Ya,” jawab beliau, “hanya saja Allah akan mencurahkan kasih sayang-Nya padaku.”

Sekhusyuk apa sih shalat kita sampai merasa layak dibangunkan istana di surga? Sebanyak apa sedekah kita kok berani-beraninya merasa pantas menjadi penghuni surga bahkan setengah “mewajibkan” Tuhan agar memasukkan kita ke dalamnya? Shalat masih suka telat, sedekah masih kecampuran riya’, sedikit-sedikit masih membicarakan kekurangan orang lain, sudah belagu!

Kok jadi marah-marah, ya?

Begini, begini. Masa depan memang sebuah tanda tanya besar. Dan benar, kita gak perlu cemas dengan apa pun yang akan kita temui (ada Tuhan ini!), cukup pikirkan bagaimana mempersiapkan diri untuk menghadapinya. Jangan lupa, Tuhan sudah mengatur semuanya, termasuk sesuatu yang menurut kita berat dan sulit. Yakin deh, wong Dia sendiri yang janji sama kita.

Laa yukallifulloohu nafsan illaa wus’ahaa, Allah tak akan membebankan suatu hal (ujian, kewajiban) kecuali orang yang mengembannya pasti sanggup mengatasinya.”

Di sini lho asyiknya Tuhan itu. Dia gak mau kita jadi makhluk cemen yang gampang remuk dan sedikit-sedikit mengiba pada orang, jadi Dia melatih kita agar kuat dan bisa berdiri di atas kaki sendiri. Tapi, Dia juga gak mentang-mentang Tuhan lalu bertindak semena-mena dengan menimpakan ujian yang gak sanggup kita pikul. Dia memberi kita jatah ujian yang pas.

Gak terlalu gampang, agar kita gak petentang-petenteng karena merasa bisa mengatasi ujian-Nya dengan mudah, tapi gak sampai bikin semaput apalagi dirawat inap gara-gara menanggung beban hidup yang terlalu berat. Ya kalau cuma ngos-ngosan, sport jantung, mewek, dan nabrak-nabrak sih mungkin menurut Tuhan itu masih wajar.

So, Guys, stop worrying what will happen in the future. Let’s start enjoying what we have now while preparing for the next. God is always with us. I love you! *eh

Kamu Kapan?


Dua di antara momen yang sering membuat KZL kaum marjinal (baca: jomblo) adalah kondangan dan lebaran. Kalau saat SD dulu momen-momen itu selalu kita tunggu, sebab kue dan masakan enak berlimpah-ruah (dan gratis), maka ketika dewasa dua momen tersebut adalah saat yang menguji nyali dan, mungkin, sangat menyebalkan.

Baca juga:
Menyederhanakan Kebahagiaan
Doain Aja!

Alasannya sepele, tapi mudah dipahami: Dua momen itu selalu menjadi saat yang tepat bagi keluarga dan teman untuk bertanya, “Kamu kapan?” Sebuah pertanyaan yang terdengar belum selesai tapi menyimpan isyarat yang mudah dimengerti. Dan jombloers mana pun, dengan hatinya yang sudah lelah, akan menjawab sambil malu-malu, “Doain aja.”

Pertanyaan itu (dan basa-basi lain yang sejenisnya) ternyata baru pembuka bagi momen yang lebih menjengkelkan dan lebih menguras kesabaran. Selesai kita jawab, kata-kata tersebut akan berlanjut menjadi sebuah godaan, yang gak lama kemudian terdengar lebih mirip sebuah ledekan, sebelum akhirnya fix menjadi “bully-an”.

Source: pexel.com

Nah, kalau sudah sampai pada level terakhir ini, siapa pun “korbannya” harus bisa mengontrol diri. Gak ada gunanya mengeluh, “Hayati lelah, Bang,” atau mengiba belas kasihan bahkan meronta-ronta. Dan meski pura-pura ikut tertawa tampak sekali kita paksakan, barangkali itu satu-satunya pilihan yang “beradab” dan masuk akal.

Kita boleh heran dengan membludaknya perbincangan seputar cinta dan jodoh di socmed, apalagi jika dikaitkan dengan ibadah. Padahal selain menikah, banyak ibadah lain yang bisa dikerjakan dan bisa juga dibincangkan, dikampanyekan, atau dibuatkan meme-meme positifnya. Poligami, misalnya. Eh, maksud saya…shalat jamaah *jauh.

Namun, melihat pengguna socmed yang kebanyakan anak-anak muda, dan tema abadi yang paling menarik perhatian mereka kapan pun dan di mana pun adalah soal cinta, maka perbincangan tentang kata ini sebenarnya hanyalah kewajaran belaka. Apalagi kalau tema tersebut secara personal juga mereka rasakan.

Apakah kondisi seperti ini hanya bisa kita ratapi? Gak adakah cara lain untuk mengubahnya menjadi sesuatu yang lebih menyenangkan atau minimal biasa-biasa saja? Dan kalau benar ada yang namanya “konspirasi alam semesta”, apa kira-kira dosa nenek moyang kita sampai alam semesta enggan berkonspirasi untuk kita?

***

Ada yang bilang kalau misteri di dunia ini ada tiga, yaitu jodoh, kematian, dan tukang parkir (yang entah nongkrong di mana tapi tahu-tahu terdengar peluitnya saat kita memarkir kendaraan). Kali ini, mari kita membahas tentang jodoh. Kematian akan kita bincangkan di lain kesempatan, sementara tukang parkir kita lupakan saja.

Allah menciptakan kita berpasang-pasangan. Artinya, saat terlahir ke dunia ini, kita gak sendiri, melainkan sudah ada jodohnya. Hanya saja, gak ada seorang pun yang tahu identitas, domisili, apalagi bentuk pasangannya itu: apakah tinggi, lebar, atau bulat telur. Semuanya misterius, dan hanya Allah yang mengetahuinya.

Namun demikian, gak adanya kepastian siapa, di mana, dan kapan kita akan bertemu dengan jodoh kita hakikatnya adalah kesempatan bagi kita untuk menyemai benih-benih ibadah. Kita, manusia, memang diciptakan untuk beribadah pada Sang Pencipta. Dan dengan berikhtiar mencari pasangan tersebut, sejatinya kita sedang menjalankan tugas mulia itu.

“Tapi, sampai kapan?!” Ini mungkin sesekali terlintas di benak kita, pertanyaan lumrah nan mudah terlontar dari bibir seorang jomblo yang merasa sudah berikhtiar maksimal tapi belum jua menemukan calon penggenap imannya. Sekali lagi, hanya Allah yang tahu. Hanya yang perlu kita ingat, Allah itu sesuai dengan prasangka hamba-Nya.

Artinya, di tengah rasa-hampir-putus-asa ini ada sebuah “asas pokok” sebagai pedoman kita untuk berperilaku, agar kita gak stres dengan kondisi yang sekarang kita alami. Apa itu? Memperbaiki prasangka pada Yang Mahakuasa. Tentu saja ini selain ikhtiar maksimal dan memohon pada-Nya, dua hal yang wajib dan niscaya, atau bahasa fikihnya ‘ulima minad diini bidh dhoruuri.

Allah memerintahkan kita untuk berbaik sangka pada siapa pun, termasuk diri-Nya. Entah prasangka baik itu kemudian terbukti benar atau tidak. Yang jelas, kita dilarang berburuk sangka, meski kemudian prasangka buruk itu terbukti benar. Sebab, yang namanya buruk sangka pasti dimulai dari sikap merendahkan orang lain.

Dan kalau kita berburuk sangka pada Allah, itu sama saja dengan merendahkan-Nya, bukan?

Berbaik sangka pada Allah mungkin gak secara instan menyelesaikan masalah, atau dalam konteks ini “menyeret” jodoh yang entah-siapa-dan-di-mana itu ke hadapan kita lalu sekonyong-konyong berkata, “Nikah, yuk!” Itu sulapan namanya. Tapi setidaknya, sikap tersebut akan membawa energi positif ke dalam hati dan urat sabar kita.

Kita jadi punya kesabaran yang cukup untuk menunggu saat-saat bahagia itu tiba, sehingga syaithon yang terkutuk, yang terus menggoda kita agar putus asa, capek dengan sendirinya. Selain itu, bukan gak mungkin energi positif itu mendekatkan kita dengan orang-orang yang juga punya kepribadian positif (baca: mau membantu).

Bagaimanapun law of attraction masih berlaku kok untuk urusan perjodohan meski dua tahun ke depan sepertinya bakal ada ribut-ribut lagi soal pulitik. Hihi, lupakan!

Daan, dengan bekal kesabaran itu pula, pertanyaan “Kamu kapan?”, godaan, ledekan, bahkan bully-an orang lain akan terdengar sebagai doa dan harapan, atau setidaknya perhatian dan simpati pada kita –meski diungkapkan dengan cara yang ah-sudahlah-ya. Kita hanya perlu meminta mereka bersabar, sebab good things take time.

Nah, ini poinnya. Ajak mereka, manusia-manusia yang seakan gak punya bahan untuk basa-basi selain pertanyaan “Kamu kapan?” itu, untuk bersabar, menahan diri, menguasai emosi, dan kalau perlu menampar atau menyumpal atau me-lakban mulut mereka sendiri agar gak kelepasan menyinggung kapan kita menikah. Bukankah orang yang sabar itu disayang Tuhan?

Mereka harus tabah menunggu calon kita datang, sebab boleh jadi ybs sedang mati-matian merampungkan studinya di Amerika, atau OTW ke Indonesia dari kampung halamannya di Uganda, atau belum pulang kemping di dataran tinggi Tibet, atau masih asyik sunbathing di tengah gurun Sahara. Apa sih yang gak mungkin di dunia ini?

“Aku aja yang ngejalanin bisa sabar, masak situ gak, Sis?”

*Tulisan ini diolah dari versi aslinya yang saya tulis untuk Qultummedia.

Tentang Warna-warna


Saya pernah menyaksikan video seorang bayi yang terbelalak dan gak lama kemudian tertawa girang. Bayi itu konon menderita buta warna, dan alasan dari sikapnya yang menggemaskan itu adalah sebuah kacamata yang disematkan oleh sang ibunda padanya.

Kacamata itu, sebuah inovasi teknologi untuk mata yang mengalami kelainan tertentu, membuat mata sang buah hati bisa melihat seperti orang pada umumnya.

Baca juga:
Tak Sama
Onde-onde dan Buih Air

Video itu tentu mengharukan. Komentar netizen beragam, tapi yang paling banyak adalah ungkapan trenyuh sekaligus bahagia.

Saya suka mengulang-ulang video itu, gak cuma karena gerak-gerik bayi itu lucu tapi juga mimiknya saat menyadari kalau benda-benda di sekelilingnya memiliki warna yang beragam sangat menyentuh.

Jangan merasa punya hati malaikat kalau Sampeyan gak pengin nangis menontonnya.

Source: pexel.com

Eh, ngomong-ngomong soal warna, saya punya pengalaman menarik tentangnya. Saya katakan menarik, karena ternyata persepsi orang-orang tentang warna itu gak selalu sama. Saya baru tahu itu.

Di tempat kerja saya dulu, Ayu adalah anak yang paling tahu dan khatam macam-macam warna sekaligus istilahnya. Tosca, peach, bright yellow, broken white, dark blue, dan lain-lain. Entah kenapa bahasa bule semua.

Merah menurut saya bisa dibilang maroon olehnya, begitu pula biru tua, ungu pudar, dan hijau muda berturut-turut ia koreksi dengan blue cobalt, ungu pastel, dan hijau army. Meski kadang, mungkin keceplosan, ia menyebut putih tulang, merah cabe, sampai hijau karpet musola*.

Maklum, anak Rawalumbu. Tapi, jelas Ayu bukan satu-satunya anak yang punya perbendaharaan istilah warna-warni sekompleks itu.

Teman saya yang lain pernah menceritakan pengalamannya ditegur oleh seorang atasan di kantor lamanya. Ceritanya, cover yang sudah susah-susah dibuatnya dikomentari negatif oleh sang bos.

Menurutnya, font dalam cover itu terlalu jadul dan, entah kenapa ini lengket di kuping teman saya itu, warnanya jelek. “Hijau busuk,” kata si bos. Ya Allah, seumur-umur baru kali itu saya tahu ada warna dengan nama sejelek itu.

Saya juga pernah cekikikan sewaktu mendengar masukan dari seorang teman mengenai warna cover buku yang kami terbitkan. Sesudah memberi saran yang melangit tentang isi bukunya, ia beranjak ke cover-nya. Apa yang saya dengar kemudian adalah sebuah antiklimaks.

Ia tampak gak suka dengan cover buatan kami, celakanya komentar yang ia berikan terlalu abstrak. Menurutnya, warna cover buku tersebut “kurang greng”.

Saya bingung. Bagaimana menafsirkan kata-kata “kurang greng” itu secara tepat lalu menjelaskannya pada teman-teman desainer?

Ini pasti berbeda kalau saran yang disampaikan, misalnya, kurang cerah, terlalu gelap, kurang ramai, agak sepi, dan lain-lain. Ada ukuran yang bisa lebih mudah dipahami, karena kata-katanya mengandaikan kontras dan komposisi. Istilah-istilah teknis dalam desain grafis**.

Saat SD dulu, Bapak pernah mengajak saya ke Pasar Besar. Saat itu ramai sekali, karena masuk hari-hari terakhir bulan puasa. Orang berdesakan di gang-gang pasar dan saling berebut dilayani oleh penjual.

Ketika tiba di toko kain, setelah Bapak deal dengan harga kain yang mau dibelinya, saya gak sengaja nguping perbincangan seorang mbak-mbak (cantik, putih, gelang emasnya buanyak) dengan salah satu pelayan.

“Yang mana?” tanya pelayan, sambil menepuk gulungan kain yang ditumpuk.
“Itu, yang dekatnya kain abu-abu itu!” jawab calon pembeli.
“Yang merah itu?” si pelayan memastikan.
“Kanannyaaa, yang ijo tletong itu lhooo!”

Saya ngempet ketawa. Bapak saya yang juga mendengar langsung menoleh pada si mbak. Dari mana dia dapat istilah warna seperti itu jika bukan kesehariannya yang gak jauh-jauh dari benda tersebut?

Lucunya, warna itu bisa langsung dipahami oleh si pelayan. Yang artinya, keseharian pelayan itu mungkin gak jauh beda dengan keseharian si mbak. Saya jadi curiga mereka bertetangga.

***

Ada yang bilang kalau perempuan itu punya perbendaharaan warna yang kompleks, gak seperti laki-laki. Biru menurut laki-laki bisa dibedakan menjadi seam foam, spindrift, teal, sky, dan turquoise menurut perempuan.

Deuh, ini saya menuliskannya saja susah, apalagi melafalkannya. Tapi, saya rasa gak semua perempuan bisa membedakan warna-warni itu, apalagi lancar membacanya.

Istri saya misalnya.

Sampai sekarang, kalau mencari busana apa pun, ia hampir selalu mencari warna cokelat. Cokelat tua, cokelat muda, krem, atau apa pun yang menurutnya cokelat.

Saya gak tahu pasti alasannya, misteriyes. Mungkin karena warna itu terkesan mature, mungkin juga menurutnya itu warna yang gak mencolok.

Atau, boleh jadi alasannya sangat sederhana tapi jeniyes dan gak terduga: “Suka aja.”

Tentang Kita


Kita sama-sama tahu, bahwa keindahan yang kini saling kita kagumi itu pelan-pelan akan memudar. Mata yang bening akan mengeruh, dan kerlingnya yang menggoda akan tampak biasa saja.

Pipi yang merona akan berganti kerut-kerut yang menandakan betapa kita, suatu hari nanti, akan tunduk pada usia. Pada senja yang temaram dan bunyi panggilan yang sayup-sayup terdengar.

Baca juga: Sebuah Ajakan

Akan ada hari kita menghabiskan waktu dengan duduk di teras rumah dan menatap kosong ke jalan raya. Kita mengenang saat pertama bertemu dan menertawakan kebodohan yang pernah kita lakukan.

Seperti siksaan, angin sore mengusap lembut rambutmu yang sudah memutih dan memaksa tanganmu bersedekap untuk menahan dinginnya. Secangkir teh hangat yang kaubuat tak sanggup lagi menghangatkan tubuhmu.

Pernah aku menebak siapa, mengira apakah dia ataukah dia, untuk kemudian kecewa dan putus asa. Tak pernah kusangka, kaulah orangnya. Yang seakan bersembunyi saat aku mencari tapi tiba-tiba berdiri di hadapan saat aku ingin melanjutkan perjalanan.

Allah punya banyak cara untuk membuatku terkesima dengan skenario-Nya yang penuh lubang tapi seakan disengaja.

Image by Pexels from Pixabay

***

Sore itu, kau kembali bercerita tentang janji-janji yang telah kita tepati dan impian yang masih terus menanti. Sementara aku masih mondar-mandir ke masa lalu, demi menyampaikan pesan dari orang-orang yang turut menciptakan duniaku.

Surat-surat cinta masih kauterima dan tumpukan buku masih kueja maknanya. Kita saling menunjukkan sebaris kata, terkesima, bertanya-tanya, dan menertawakannya.

Baca juga: Hari Itu

Kita tak banyak berubah, meski sesekali aku mengeluhkan nyeri punggung yang semakin sering terasa dan kau tak berhenti memijit-mijit kakimu yang ngilu setelah berdiri terlalu lama. Orang lain memang melihat banyak perubahan dalam diri kita, tapi kita sama sekali tak mendapatinya.

Kau tetap cinta yang dulu kutemukan dan aku masih rindu yang mengepungmu di tengah malam.

Kita telah sepakat memulai semua ini, keputusan besar yang belum pernah kita buat sebelumnya. Satu waktu kau bercerita tentang keraguan yang terdengar dari lamunan hatimu, yang entah ke mana perginya saat kausebut namaku.

Aku lega mendengarnya, dan sangat bisa memahaminya. Bagaimanapun aku bukan siapa-siapa di kehidupanmu yang dulu. Kita bertemu semata-mata karena turut campurnya waktu.

***

Aku tak mau berjalan terlalu cepat dan meninggalkanmu, atau terlalu lambat sehingga merepotkanmu. Di jalan yang panjang dan berliku, aku ingin kita terus bersama, beriringan. Agar jika salah satu dari kita lelah, kita bisa saling menghibur dan menopang.

Kau tak perlu khawatir saat hari mulai gelap, atau cemas saat tiba-tiba langit tak kuasa menahan hujan. Aku ingin setia, seperti udara yang mengarak awan menjelajah benua.

Akan ada saat aku mengajakmu terbang ke masa-masa yang telah berlalu. Memperlihatkan padamu malam-malam ketika aku harus berjalan sendiri dan menunjukkan impian-impian masa silam yang, entah kenapa, menjadi nyata setelah aku bertemu denganmu.

Aku ingin selalu membuatmu kagum padaku, dan karena mahkota tak ada harta pun tak punya, semoga sedikit yang kulakukan bisa menyenangkanmu.

Mencintaimu tak perlu berkata-kata, menua bersamamu adalah kesibukanku selanjutnya.

Cinta yang Tak Muluk


Saya yakin yang menyatukan dua orang yang berjodoh itu gak semata hal-hal fisik tapi sesuatu yang lebih prinsipil. Bisa pola pikir, bisa juga nilai-nilai tertentu.

Baca juga:
Saat Hanya Bisa Berharap
Sok Tahu Bicara Cinta

Ketertarikan fisik rasa-rasanya terlalu receh untuk menyatukan dua orang yang saling mencintai, meski wajar sebagai sebuah permulaan.

Mungkin, lebih banyak orang saling tertarik karena faktor itu dibandingkan faktor yang lain, lalu berlanjut pada ketertarikan aspek lain yang lebih kuat tapi abstrak, seperti latar belakang keluarga, cara berpikir, karakter personal, pola perilaku, atau cita-cita.

Source: pexel.com

Saya gak punya pengalaman banyak tentang ini, tapi saya yakin aspek-aspek prinsipil itu lebih kuat dalam merekatkan hubungan antara dua orang yang saling mencintai. Entah sudah berapa banyak novel dan film yang dibuat untuk menceritakan kalau keindahan fisik itu akan pudar.

Saatnya nanti wajah kita akan keriput, rambut memutih, badan membungkuk, dan dorongan seksual entah ke mana perginya.

Meski begitu, ada orang-orang yang menjalani hidup bersama cinta sejati mereka tanpa memulainya dengan ketertarikan-ketertarikan tersebut.

Ketika berangkat ke tanah suci, Kyai Wahab (KH. Abdul Wahab Hasbullah) mengajak serta adik perempuannya yang sudah tumbuh menjadi seorang gadis cantik. Di pelabuhan, tempat beliau janjian dengan sahabat lamanya, Kyai Bisri (KH. Bisri Syansuri), ketiganya bertemu.

Setelah berbincang lama, entah karena sebab apa, Kyai Wahab tiba-tiba mengutarakan maksudnya untuk membatalkan pergi haji.

“Saya titip adik saya saja,” ujarnya pada sang teman, seolah bercanda.
Kyai Bisri bingung. “Eh, lho?! Maksudnya apa kok mendadak urung pergi?!
“Ya pokoknya saya gak jadi ke tanah suci, jadi saya titip adik perempuan saya ini.”
“Lhah, ’kan ajnabiyah*?!”
“Ya sudah, biar halal, kalian saya kawinkan dulu,” jawab Kyai Wahab, singkat.

Kyai Bisri gak menolak, sementara sang adik pasrah saja. Akhirnya, dengan disaksikan beberapa calon jamaah haji, keduanya menikah dan berangkat bersama ke tanah suci.

Untung bagi Kyai Bisri, maksud hati ingin menunaikan kewajiban, pulang-pulang dapat istri. Meski gak diawali jatuh cinta dan kangen-kangenan, rumah tangga mereka awet puluhan tahun, sampai kakek-nenek dan akhirnya meninggal dunia.**

Sekitar tahun 60-an, setelah disuruh Kakek untuk menyelesaikan sengketa tanah dengan PKI (ingat ‘kan soal landreform kala itu?), bapak saya yang waktu itu usianya sudah 25 tahun urung kembali ke pondok.

Sebabnya, kakek saya menjodohkan beliau dengan putri seorang janda, yang sejak kecil sudah yatim. Apa mau dikata, meski dikenal berani, keberanian bapak saya gak ada apa-apanya di hadapan kakek.

Di hari yang ditentukan, Bapak digelandang ke KUA, masuk ruang administrasi, dan mengucapkan akad nikah. Di sebelahnya, duduk seorang gadis 16 tahun yang gak dikenalnya, mungkin baru hari itu dilihatnya.

Gadis itulah yang kemudian menemaninya berbincang-bincang di sore hari, menyiapkan kopi manis dan sarapannya, dan berbagi suka-duka hingga Bapak tutup usia, empat puluh tahun kemudian.

Cerita ketiga dialami oleh kakak saya. Beberapa kali Bapak mengutarakan kekhawatirannya, sebab kakak saya itu sempat berpacaran dengan gadis nonmuslim. Bapak gak ada masalah dengan nonmuslim, tapi kalau itu berhubungan dengan rumah tangga anaknya, beliau pasti pikir-pikir.

“Kok mesti, se?” tanya Ibu, yang menurutnya kakak saya itu gak sekali saja “jalan” dengan perempuan nonmuslim.

Setelah beberapa kali usaha dan gagal (saya gak tahu sebabnya, hanya yang bersangkutan dan Allah yang tahu), kakak saya dekat lagi dengan seorang gadis. Orang yang gak pernah terpikir di benak kami sekeluarga, sebab rumahnya hanya selemparan upil dari teras rumah, dan hanya dipisahkan oleh sebuah jalan kampung yang gak lebar-lebar amat.

Ibu sepertinya menaruh harap, dan Bapak pun tanggap.

Tanpa banyak tanya, beliau maju untuk menanyakan “peluang” itu pada orangtua sang gadis. Begitu ada lampu hijau (saya gak tahu apa selancar ini ceritanya, tapi anggap saja demikian, karena akan sangat ribet kalau saya mesti tanya-tanya dulu ke yang bersangkutan, di samping belum tentu mereka mau jawab), kesepakatan pun dibuat.

“Kalau anak-anak mau, kenapa gak?” mungkin begitu kata mereka.

Akhirnya, setelah berpacaran dengan gadis entah dari mana saja, kakak saya mantap menikah, dengan gadis tetangga yang cuma “lima langkah dari rumah”. Meski usia mereka terpaut lumayan jauh, sampai sekarang rumah tangga mereka baik-baik saja.

Ya kalau ada yang tiba-tiba diam atau tidur di sofa atau apalah yang menunjukkan bahwa mereka sedang sewot-sewotan, itu biasa.

Namanya juga rumah tangga. Hihi…

*Bukan mahram.
**Saya ceritakan ulang dari link Teronggosong.com ini http://teronggosong.com/2010/12/k-a-w-i-n-kepada-para-perjaka-perawan-dan-segala-jomblo/

Tentang Keluarga Saya


Saya senang saat berada di tengah-tengah keluarga besar, meski banyak di antara mereka yang mungkin kurang mengenal saya.

Maklum, saya anak terakhir di keluarga, yang jarak antara usia saya dan usia kakak saya yang paling muda mencapai belasan tahun. Ada yang bilang, jarak usia yang jauh dengan kakaknya akan membuat seseorang seperti anak sulung.

Saya nggak tahu itu benar apa nggak. Rasanya, nggak penting juga.

Source: pexel.com

Saat masih remaja, saya jarang punya kesempatan bertemu keluarga Bapak dan Ibu. Bukan karena rumah saya jauh dari kediaman mereka, tapi karena Bapak lebih sering mengajak kakak-kakak saya kalau ingin silaturahmi ketimbang diri saya. Mungkin karena waktu itu saya belum bisa membantu, mungkin juga karena saya masih suka merepotkan beliau.

Baca juga:
Obrolan Siang Hari
Kasur di Rumah Saya

Ketika masuk SMP dan tinggal jauh dari rumah, harapan saya untuk sering bertemu keluarga besar dan mengenal mereka semakin pupus. Maka, dalam setiap perbincangan tentang saudara (termasuk saudara kandung) Bapak atau Ibu, saya lebih banyak mendengar dan pura-pura paham. Ini disebabkan terlalu banyak nama yang nggak saya tahu orangnya.

Nah, ketika sudah dewasa dan hadir dalam pertemuan keluarga (haul kakek saya, biasanya setelah hari raya), saya sering mati gaya. Disapa seseorang, bingung mau manggil apa, karena saya nggak tahu namanya. Giliran saya tahu namanya, bingung lagi apakah saya harus menggunakan Bahasa Jawa halus atau bisa nyantai menggunakan Bahasa Jawa kasar.

Maklum, bapak saya adalah anak laki-laki pertama. Jadi, terhadap putra-putrinya Paklik atau Bulik, saya bisa memanggil namanya tanpa embel-embel mas atau mbak, alias njangkar, di samping juga bisa menggunakan Bahasa Jawa kasar. Yang membuat saya bingung, banyak di antara mereka yang usianya dua kali lipat usia saya, rambut kepalanya pun sudah ubanan.

Kebingungan ini diperparah dengan banyaknya saudara kandung bapak saya, yang mencapai belasan orang. Saya tulis ‘belasan’ karena saya nggak tahu berapa belas tepatnya. Itu belum termasuk saudara tirinya. Saking top markotop-nya, kakek saya memang sampai tiga kali menikah. Entah berapa banyak cucu, cicit, mungkin juga canggah dan wareng-nya sekarang.

Seandainya masih hidup, kakek saya pasti juga nggak hafal nama-nama mereka. Yakin, deh!

***

Saya bahkan pernah nggak mengenali kerabat sendiri, karena nggak pernah bertemu atau dikenalkan dengan mereka, atau Bahasa Belanda-nya ‘kepaten obor’. Saat kelas 1 SMA, ketika sedang enak-enakan pindah tidur di pesantren, saya mengenal seorang ustadz yang baik hati dan sangat perhatian pada santri-santri, namanya Ustadz Nurkholis.

Selain Ustadz Nurkholis, ada juga Ustadz Amir dan Ustadz Asyiq. Tiga nama itu memiliki hubungan saudara. Ustadz Amir dan Ustadz Asyiq malah saudara kandung. Nama lain yang juga punya hubungan saudara dengan mereka adalah Farhan atau Ilul (nama lengkapnya Nazilul Farhan, nggak tahu itu tarkib apa *alahdibahas), teman sekamar dan seangkatan saya.

Keempat orang itu berasal dari Blitar, kota yang ternyata nggak asing bagi bapak saya. Saat masih muda, Bapak sering mondar-mandir ke Blitar, ke tempat yang ternyata adalah kediaman Ustadz Amir dan Ustadz Asyiq. Ndilalah, beliau ternyata masih punya hubungan saudara dengan orangtua ustadz-ustadz saya itu, dari jalur ibu beliau yang memang orang Blitar.

Saya nggak lama dididik langsung oleh Ustadz Amir dan Ustadz Asyiq, karena kebetulan beliau-beliau mengajar di kelas yang berbeda. Tapi dengan Ustadz Nurkholis, sejak pertama mondok saya sudah tinggal di kamar yang sama. Beliau yang mendampingi saya mengaji, mengawasi kebandelan saya, dan menghukum kalau-kalau saya kelewat nggak bisa diatur.

Waktu itu saya belum tahu kalau kami adalah kerabat jauh, sehingga bandel-bandel sedikit insya Allah di-ma’fu. Saya baru tahu kami bersaudara sekitar tiga tahun setelah saling mengenal, itu pun gara-gara diberitahu Ustadz Amir. Sayangnya, waktu itu Bapak sudah berpulang, sehingga saya nggak bisa bertanya banyak hal tentang kerabat kami yang ada di Blitar.

***

Akhir pekan kemarin, giliran saya hadir dalam pertemuan keluarga istri. Orang-orang yang dulu sama sekali nggak saya kenal dan nggak saya sangka akan saya kenal. Beberapa bulan sebelumnya, saya juga bersilaturahmi dengan keluarga almarhum bapak mertua saya. Biar saya lebih kenal mereka dan tentu saja untuk menjaga silaturahmi dengan mereka.

Waktu itu, saya juga mengajak istri melihat makam bapak dan kakeknya. Nggak istimewa (ke kuburan apa istimewanya?), tapi rasa-rasanya nggak boleh dilupakan. Toh, saat itu kami sedang berada di kediaman nenek istri. Saya ingin bisa ‘dekat’ dengan orang-orang yang mewariskan darah pada istri saya, yang kelak juga mengalir dalam darah anak-anak saya.

Saya pikir, orang yang sudah meninggal itu nggak pernah benar-benar menghilang, kok. Mereka tetap hadir di sekitar kita. Kadang ikut menciptakan bahagia, kadang juga turut menghadirkan air mata (kok rada horor ya?). Saya pikir, mengenali diri kita juga bermakna mengenali leluhur kita. Bagaimanapun darah mereka mengalir di nadi kita. Bukankah demikian?

Obrolan Siang Hari


Saya berkeras akan mengantar anak pertama saya ke pesantren, begitu usianya mulai masuk remaja.

Source: pixabay.com

Nggak ada tawar-menawar. Dan pesantren yang saya maksud adalah pesantren tradisional, atau salaf. Biar nanti sepulang ke rumah, ia mahir membaca literatur keislaman. Baik klasik maupun modern. Mulai fikih, sampai filsafat.

Baca juga:
Mari Berkenalan Kembali
Cinta yang Tak Muluk

Nggak cuma buat bekal hidup, tapi melanjutkan tradisi keluarga. Saya mondok, bapak saya mondok, kakek saya apalagi, tamat mondok malah mendirikan pesantren di perantauannya.

Kebetulan dulu istri juga mondok, bapaknya juga. Sementara kakek dari pihak ibu dan bapaknya saya nggak tahu.

Istri saya tersenyum, lalu berkata agar saya nggak memaksakan harapan itu. Biar anaknya yang memilih mau sekolah di mana. Hari gini, jadi orangtua konservatif banget.

Mau mondok atau nggak silakan, mondok di pesantren salaf atau modern monggo. Kita tinggal mengarahkan, soal keputusannya terserah si anak. ‘Kan dia yang menjalani.

***

Gara-gara keseringan dengar berita pernikahannya Kahiyang, saya nyeletuk saat sedang leyeh-leyeh di dekat istri. Bahwa nanti pernikahan anak-anak kami sederhana saja.

Yang penting syarat-syarat dalam agama dan ketentuan negara terpenuhi, beres. Nggak perlu pesta-pestaan, apalagi sampai dangdutan dan nyewa layar tancep semalam suntuk.

Atau nanggap reog, barongsai, dan wayang orang. Nambah-nambahi biaya.

“Tasyakuran aja,” kata istri. “Tapi, kalau nyetel lagu-lagu sih boleh,” lanjutnya.

“Masak ngundang orang nggak ada apa-apanya, sepi dong kayak kuburan. Minimal ‘kan ceramah agama. Terus, karena ada tamu, ya mesti ada hidangan. Kue-kue apalah, dan tentu saja makan besar.”

Begitu mungkin batinnya. Hmm, berarti mesti nyewa tenda dong, tukang masak, tukang rias, sound system, dan MC?

Itu sih rasa-rasanya pesta juga ya namanya.

***

By the way, itu dua topik obrolan saya dan istri siang kemarin, yang akhirnya membuat kami eyel-eyelan. Padahal, yang kami bincangkan itu bukan sesuatu yang mendesak. Wong iseng-iseng saja kok.

Lha bagaimana, anak kami masih dalam kandungan lho! Hihi … Jadi, itu sebenarnya celetukan saya saja, yang ditanggapi serius oleh istri.

Yang saya jawab apa adanya, lalu dibantah dengan sengit oleh istri. Saya tawar, dia bergeming. Saya bantah, dia bilang, “Terserah”.

Perasaan saya langsung nggak enak, dan benar, obrolan ganjil siang itu pun berakhir antiklimaks. Untungnya doi nggak sampai nunjuk-nunjuk karpet sebagai isyarat saya akan tidur di sana malam harinya.