Kotak Perhiasan

Ini memang aneh. Setiap melihat benda itu tergeletak di lantai, hatiku iba padanya. Tidak, aku tidak sedang bicara tentang sesuatu yang mahal. Ini hanya tentang sebuah kotak perhiasan.

Photo by Juan Pablo Arenas on Pexels.com

Nabiel sedang masa-masanya menjadikan semua yang ia lihat sebagai mainan. Dompet, kacamata, panci, bumbu dapur, buku-buku, dan tentu saja kotak perhiasan itu. Setelah puas bermain, sekaligus sebagai ritual untuk menutup kebosanannya, ia akan melemparkan begitu saja benda-benda itu.

Beberapa kali saat terbangun tengah malam aku mendapati kotak itu tergeletak di ruang depan. Sendiri dan kesepian. Aku membayangkan seandainya kotak itu seekor kucing, jangankan kau, aku saja mungkin jatuh kasihan. Siapa yang tak iba melihat makhluk selucu itu dibiarkan tak terurus?

Pernah suatu malam setelah memungut dan meletakkannya di atas meja, aku agak lama memandangi benda tersebut. Pikiranku melayang kepada pengrajin yang membuatnya. Ada sebuah ukiran yang sangat detail dan rapi di sisi atas benda itu. Pertanda dibuat dengan cermat dan sepenuh hati.

Pengrajin itu pasti sangat mahir membuat karya seni. Saat membuat kotak perhiasan itu, mungkin ia membayangkan anak semata wayang yang akan dilahirkannya. Ia merasa tak boleh sembarangan, agar siapa pun yang memilikinya punya kekaguman terhadapnya dan tak sampai hati menyia-nyiakannya.

Ia mungkin berasal dari Jepara, kota kecil di pesisir pantai utara Jawa. Hingga kini kota itu dikenal sebagai penghasil karya ukir yang berkualitas. Mungkin juga dari daerah lain. Entahlah.

Selama beberapa menit aku membiarkan pikiranku berkelana tanpa arah, sampai aku menyadari satu hal: tidakkah seharusnya benda itu diisi sesuatu yang lazimnya diletakkan di dalamnya? Emas, mungkin, atau permata, atau minimal benda-benda yang menyimpan kenangan?

Aku bingung lama-lama. Kalau kita tidak memiliki benda-benda itu, kenapa sampai sekarang masih menyimpannya?

***

Aku ingat, kau mendapatkan kotak itu dari nenekmu di hari lebaran empat tahun lalu. Melihat warnanya yang kusam dan aroma kayunya yang tak tersisa, aku perkirakan umurnya sudah puluhan tahun. Mungkin nenekmu membelinya saat masih gadis, mungkin juga ia mendapatkannya dari kakekmu, sebagai bingkisan di hari pernikahan mereka.

Pikiranku terus berputar-putar di sekitar kotak itu, sampai aku kembali ke kamar dan mencoba memejamkan mata. Awalnya aku mengabaikan, tapi beberapa menit kemudian aku sadar kotak itu terlalu jauh mencampuri pikiranku. Membuatku kesulitan, pada tengah malam yang gerimis itu, untuk melanjutkan tidur.

Pikiranku pun terbang semakin liar. Aku tak lagi memikirkan kotak perhiasan itu sebagai kotak perhiasan, maksudku sebagai tempat untuk menyimpan perhiasan, tapi membayangkannya sebagai … mesin waktu. Ya, mesin waktu. Mirip kotak Jumanji, tapi tidak akan membawamu ke hutan yang penuh hewan liar.

Entah dari mana pikiran konyol itu datang. Angin malam mungkin bisa kusalahkan. Kau akan tersenyum geli mendengarnya. Tak apa. Aku sendiri malu kalau mengingatnya.

Seandainya kotak itu benar-benar bisa membawaku menjelajah waktu, itu tentu sangat menyenangkan. Aku bisa berjam-jam mendengarkan teman-temanku menyombongkan perjalanan mereka ke tempat-tempat yang jauh (Istanbul, New York, atau Madinah), sembari pura-pura terkesima.

Ya, buat apa heran, jika aku sendiri sudah berkali-kali berada di tempat yang membayangkannya saja mereka kehabisan akal.

***

Akan kusediakan satu jam setiap malam, atau dua hingga tiga jam di akhir pekan, untuk berkunjung ke masa lalu dan masa depan. Aku akan menengok kakekku saat ia baru membangun rumah tangga, untuk memastikan bahwa hidup pas-pasan di awal pernikahan itu biasa.

Aku juga ingin melihat masa-masa ibuku masih seorang gadis, apa kesibukannya, bagaimana parasnya, dan siapa saja laki-laki yang mendekatinya. Juga ayahku, terutama sekali saat ia masih SMA. Dia anak laki-laki pertama di keluarganya, jadi aku ingin tahu seberapa dewasa dia saat itu.

Aku mungkin juga akan mengunjungimu, sepuluh atau lima belas tahun yang lalu. Aku rasa itu ide yang bagus. Kau mungkin tak percaya, atau bahkan jijik, jika aku menyapamu dan mengatakan bahwa aku adalah suamimu di masa depan. Jadi, mungkin aku akan bercerita tentang hal-hal yang tak seorang pun tahu kecuali dirimu. Jika itu kurang sopan, aku akan membawa barang-barang favoritmu yang kaubeli di masa-masa itu. Dengan begitu, kuharap kau bisa percaya padaku.

***

Yang pasti, Istriku, aku juga akan meluangkan waktu untuk mengunjungi nenekmu. Saat ia masih gadis tentunya. Aku ingin tahu bagaimana kotak perhiasan itu memulai perjalanannya di keluargamu.

Segala sesuatu mempunyai permulaan, dan setiap permulaan sangat menentukan suatu perjalanan. Mengetahui permulaan sesuatu akan membuat kita bijaksana dalam memperlakukannya.

Alam semesta ini mungkin terlalu kompleks untuk kita bahas. Jadi, mari ambil sesuatu yang lebih sederhana. Kotak perhiasan itu. Ya, kotak itu adalah contoh yang tepat. Selama ini kita hanya menebak-nebak tentangnya. Seandainya bisa, aku ingin sekali tahu awal perjalanan kotak itu.

Bagaimana sang pengrajin mencari kayu yang tepat, mengeringkannya, menggergajinya, menghaluskan teksturnya, membentuknya menjadi sebuah kotak perhiasan, mengecatnya, hingga menjualnya kepada seorang pembeli. Aku juga ingin tahu saat pembeli itu mulai menggunakannya atau memberikannya kepada seseorang yang mungkin berarti baginya.

Mengunjungimu saat kau masih belia mungkin juga bisa menambah sedikit pemahamanku tentangmu. Aku katakan sedikit, karena sebanyak apa pun pengetahuan tentangmu yang kuperoleh, akan terasa penuh keterbatasan jika kau sudah berada di hadapanku. Bagaimanapun kau terlalu membingungkan untuk kumengerti. Mungkin semua perempuan memang begitu.

Tapi, paling tidak dengan sedikit pengetahuanku itu aku bisa lebih mengenalmu. Aku jadi mengerti mengapa kau lebih suka sayur bening daripada kuah bersantan, mengapa lebih senang pergi ke pasar malam dibandingkan nongkrong dan berbelanja di mall, dan mengapa lebih suka warna-warna alam ketimbang warna yang terang. Aku rasa itu bisa membantuku memilih kata-kata atau mengambil sikap yang tepat saat kita membahas suatu hal.

Aku ingin bisa bersikap lebih bijaksana saat bersamamu. Sebab seperti kotak perhiasan itu, seharusnya aku mengisi hatimu dengan sesuatu yang bernilai, sesuatu yang istimewa. Sesuatu yang menjadi alasan kita harus bersama dan saling memiliki.

Aku tak sampai hati mendapatimu kosong dan terabaikan, sebagaimana kotak perhiasan itu saat kutemukan tengah malam. Kau harus kuisi dengan sesuatu yang bernilai, kuletakkan di tempat yang terhormat, dan tak kubiarkan sendiri dan kesepian, apalagi sampai tergeletak seolah tak ada yang memiliki.

Teleporter

Kau pernah bermimpi menjadi teleporter?

Aku baru saja selesai menonton About Time, sebuah film tentang para penjelajah waktu yang meski jalan ceritanya flat seperti kisah cintaku tapi lumayan berguna untuk mengisi waktu luangku. Ya, ya … malam minggu yang sama dan hiburan yang itu-itu saja.

Photo by Sindre Stru00f8m on Pexels.com

Seandainya aku seorang teleporter, aku mungkin tak pernah melewatkan satu hari pun di dalam hidup tanpa berkunjung ke masa-masa yang berbeda. Bisa masa lalu, atau masa depan. Sesuai keinginanku. Aku juga akan pergi ke tempat-tempat impianku. Mekah, Kordoba, Kasablanka, atau London.

Setiap Sabtu sore (ini waktu favoritku), aku akan menghilang dan muncul di salah satu sudut kota London. Aku akan mencari sebuah kafe tua yang sepi dan mengambil tempat di dekat jendela. Dua sampai tiga jam berikutnya akan kuhabiskan untuk membaca cerpen-cerpen Guy de Maupassant atau Eka Kurniawan.

Aku belum pernah ke London. Tapi, aku harap tempat yang kupilih itu tak keliru. Membaca cerpen di sebuah kafe tua ditemani secangkir kopi dan alunan In A Manner of Speaking-nya Nouvelle Vogue pasti menyenangkan. Apalagi jika sinar matahari sore menabrak kaca jendela dan menimpa wajahku.

Ketika senja datang, aku harap cerpen-cerpen yang kubawa sudah selesai kubaca. Minimal separuhnya. Sehingga, menit-menit berikutnya bisa kuhabiskan untuk memerhatikan keramaian yang tengah berlangsung di sekitarku. Kau tahu, kadang aku merasa berdiam diri di tengah keriuhan yang sedang terjadi itu magical.

***

Masa lalu menyimpan penjelasan yang masuk akal tentang masalah yang sedang kau hadapi saat ini, sementara masa depan punya segudang jawaban bagi teka-teki yang sekarang ingin kau pecahkan. Kau bisa saja berkunjung ke masa-masa itu untuk menyelesaikan urusanmu. Tapi, mungkin lebih baik kau biarkan dirimu memahami semua itu seiring berjalannya waktu.

Buat apa terburu-buru?

Sekarang bagaimana, kau mau ikut? Tak perlu khawatir. Selesai dengan urusanmu, kau bisa kembali ke tempatmu saat ini. Kalau kau memutuskan ikut, pegang erat tanganku dan pejamkan matamu. Jangan bergerak sampai hitunganku mencapai angka sepuluh!

Kau siap? Satu, dua, tiga …

6 Juli 2014, 9.50

Hai, Ramadan!

Terima kasih mau menemuiku lagi.

Aku punya banyak cerita untukmu. Seperti tahun kemarin, aku harap kau ada waktu untuk duduk-duduk bersamaku; berbagi cerita tentang cinta, mimpi-mimpi, dan kenangan.

Source: pixabay.com

Aku sebenarnya ingin menulis cerita-ceritaku beberapa minggu yang lalu, saat momen-momen yang tepat menyapaku. Tapi, pekerjaan benar-benar tak menyisakan waktu untukku. Jangankan menulis cerita, mengganti celana dalam saja aku sering lupa.

Kau tahu, setahun ini aku mendapat banyak sekali pelajaran. Kalau aku bandingkan dengan sembilan tahun sebelumnya, setahun belakangan jauh lebih mendewasakan. Aku bersyukur. Itu artinya, aku menghemat sembilan tahun usia hidupku untuk mendapatkan pelajaran yang baru.

Satu tahun ini juga membawa banyak perubahan dalam diri orang-orang terdekatku. Teman akrabku di pesantren dulu, Rosydan, akhirnya menimang bidadari cantik setelah tujuh tahun menikah. Aku yang dulu ikut merasa kesepian setiap kali berkunjung ke rumahnya ikut bahagia.

Temanku yang lain, tandem bolos terbaik di kelas bahasa Arab dulu, Enjang, menikah bulan Agustus lalu. Saat datang di resepsi pernikahannya yang baru diadakan minggu lalu, aku lihat istrinya sedang hamil enam bulan. Anehnya, bukan hanya sang istri yang terlihat berbadan dua, tapi juga temanku itu! 😀

Kabar baik yang lain datang dari seorang teman kantor. Deffi, yang selama ini selalu menghasilkan desain keren untuk cover buku-buku yang aku dan teman-teman lain edit, memilih untuk lebih berkonsentrasi dengan usahanya. Ini sebenarnya menyedihkan. Saat kami sedang butuh-butuhnya desainer andal, kami justru kehilangan.

Tapi, kami mencoba melihat dari kacamata teman kami itu. Kesempatan untuk berkembang tak pernah datang dua kali. Karenanya, kapan pun itu, jika kesempatan tersebut menghampiri, kita harus mengambilnya. Akan ada risiko, tentu. Tapi, bukankah di situ menariknya hidup? 

Anyway, jangan mengira Deffi gadis cantik yang gemar bersolek; dia laki-laki tulen, brewok, dan sudah beranak dua!

Oh ya, hampir aku lupa. Keponakanku yang dulu biasa bermanja-manja kepada mama-papanya, kini sudah lebih bisa mandiri. Ia sekarang tinggal bersama om dan neneknya di Malang. Setelah beberapa bulan mogok sekolah, orangtuanya sepakat memboyong anak sulung mereka itu ke kotaku yang penuh kenangan.

Bagaimana dengan diriku? Selain motor bututku yang terus menua –ini yang beberapa minggu terakhir paling kurasakan dampaknya, tak ada yang banyak berubah.

Aku masih tinggal di kos yang sama, bekerja di kantor yang sama, dan mengetik di laptop yang sama. Tapi, ini yang aku sadari. Yang tak kusadari, aku tak tahu. Untuk beberapa hal dalam hidup, aku memang tak mau tahu.

Ramadan, seperti aku bilang, aku akan bercerita banyak kepadamu. Selama tiga puluh hari nanti, aku harap kau tak terburu-buru pergi.

Jika bukan sekarang, kapan lagi kita menghabiskan waktu bersama?

Kukusan-Ciganjur, 29 Sya’ban 1434 H

Gak Cuma Soal Uang

Saya gak berencana mudik ke Malang lebaran tahun ini.

Selain soal budget, belum tega rasanya membawa anak saya yang baru satu tahun naik kereta berjam-jam ke sana. Jadi, saya akan merayakan lebaran di kampung istri saya di Jogja. Lagipula di Jogja apa-apa, kan, relatif murah. Jadi, meski sedang libur, insya Allah dompet gak sampai jebol. Semoga saja.

Source: pixabay.com

Cuman, mungkin saya gak akan menghabiskan liburan di rumah orangtua istri. Saya ingin banyak-banyak ziarah dan silaturahmi. Ke rumah-rumah saudara, teman, juga yang gak boleh dilewatkan ke kediaman para kyai.

Bismillah, saya ingin anak saya nanti jadi orang saleh. Syukur nanti dia mau tinggal di pesantren dan mendalami agama.

Saya sadar, saya tinggal di lingkungan perkotaan. Teman-teman saya sekarang, kecuali hanya segelintir saja, berpikir dengan pola pikir orang kota. Saya kurang lebih sama, kecuali soal pendidikan anak.

Biar deh dibilang kolot, saya tetap ingin anak saya nanti menghabiskan waktu remajanya di pesantren. Seperti saya, istri, bapak, mertua, dan kakek saya dulu.

Karena menyekolahkan anak di pesantren beda dengan mendidiknya di sekolah umum, maka saya perlu mempersiapkan segala sesuatunya dari sekarang. Ini bukan soal finansial atau persiapan materiil yang lain, tapi tentang mental-spiritual.

Satu di antara persiapan-persiapan itu, menurut saya, adalah meminta doa para kyai. Biar kelak anak saya berkenan mondok seperti beliau-beliau itu, diberi kesungguhan menaati pengasuh dan ustadznya, dan diberi kemudahan memahami pelajaran sekaligus mengamalkannya.

Saya boleh berharap apa saja pada anak saya. Menjadi seorang bintang kelas, berprestasi dalam kegiatan non-akademik, lalu mendapatkan pekerjaan yang bagus dan punya harta yang berlimpah. Tapi saya pikir, kita diciptakan Tuhan, kan, gak sebatas untuk hidup di sini.

Jalan kita panjang, gak sebatas hidup enak di dunia, apalagi hanya soal uang, uang, uang. Seperti kata Mr. Crab.

Rasa-rasanya, hari tua saya akan jauh lebih bermakna saat melihat anak saya menjadi orang yang luas ilmu agamanya dan hidupnya tertata dengannya, ketimbang sekadar kaya atau punya jabatan tinggi.

Semoga Allah mengabulkan. Amin.

Ke Mana Saja?

Sudah hampir tengah tahun. Ada banyak tugas yang harus segera saya selesaikan, di samping cerita-cerita yang rasanya perlu saya bagi. Tapi, karena lama banget gak nulis di blog ini, saya bingung mau membahas apa. Saking banyaknya cerita.

Source: pexel.com

Mm … soal tugas, biar itu jadi urusan saya saja, ya. Hehe …

Saya ingin kembali aktif menulis di sini, dan penginnya sih punya waktu luang biar secara berkala bisa menuliskan apa saja yang saya pikirkan. Mulai yang baru saja terlintas, lalu gagasan, unek-unek, rencana, hingga pengalaman di waktu-waktu sebelumnya.

Seperti cerita di bawah ini salah satunya.

***

Siang kemarin tanpa sengaja saya melihat story Watsapp seorang teman. Sahabat lama di kampung. Jarang sebenarnya saya mengomentari status atau story teman-teman saya. Kemarin, karena dia mengunggah foto tangannya yang sedang tertusuk jarum infus, saya jadi tergoda bertanya.

Teman saya usianya masih 34 tahun, sudah berkeluarga dan mempunyai anak berumur 3 tahun. Dia sendiri anak bungsu dari 2 bersaudara. Saat SMA dulu saya dekat dengannya. Kami sering ngobrol hingga berjam-jam dan pulang nyaris pagi gara-gara menonton film atau kelayapan.

Lulus SMA, dia langsung bekerja. Sementara saya, karena belum bisa mandiri, dipaksa kuliah oleh keluarga. Saya akui, dia lebih dulu hidup mandiri. Sementara saya masih tidur nyenyak di kasur, pukul 2 pagi dia sudah berangkat kerja di pasar. Maka, wajar jika saat dia sudah bisa hidup dengan jerih payahnya sendiri, saya masih nodong orangtua dan saudara-saudara.

Setelah melihat foto di story Watsapp teman saya, sambil menahan diri biar gak kelihatan terkejut, saya bertanya di kolom komentarnya, “Sakit apa?” Jawabannya membuat saya ragu, “Kanker.”

Kami biasa guyon, termasuk guyonan yang sangat kere, jorok, parah. Maka membaca jawabannya, saya mengira dia sedang bercanda.

Namun, setelah saya tanya lagi dan jawabannya gak berubah, saya langsung menghubunginya melalui video call. Teman saya yang dulu riang, suka berkelakar, dan betah melakukan pekerjaan berat itu sedang menjalani pengobatan untuk kanker yang dideritanya.

Sekitar 30 menit kami bercengkerama. Meski mengaku sudah mendingan, tampak sekali dia sedang berusaha menguatkan diri. Wajahnya pucat seperti kelelahan, rambutnya rontok akibat kemoterapi yang sudah 13 kali dia jalani.

Saya gak melihat banyak hal di layar gawai, selain wajahnya, selang infus, dan ruangan rumah sakit yang diisi oleh beberapa pasien lain.

Itu membuat saya sedih dan mengutuk diri sendiri. Saya sahabat dekatnya, tapi karena tinggal di kota yang berbeda, saya jadi terlambat tahu tentang kabarnya.

Tiga atau empat tahun ini saya memang gak pernah berkunjung ke kediaman teman-teman lama saya. Selain karena jarang pulang kampung (Ibu dan Bapak saya sudah meninggal), jatah cuti yang saya ambil memang gak pernah banyak. Jadi, saat berada di Malang, kampung halaman saya, saya gak pernah sempat menengoknya.

Di grup Watsapp, saya dan teman-teman lain sering bertukar kabar. Tapi, teman saya itu memang jarang sekali ikut nimbrung. Saya gak pernah curiga, sebab ada juga teman-teman lain yang gak aktif.

Saya menahan diri untuk gak banyak bertanya tentang sakitnya. Saya gak ingin dia larut dalam masalahnya. Kalau saya menghubunginya, pikir saya, saya harus menghibur atau menyemangatinya. Alhamdulillah, usaha saya membawa hasil.

Saya ajak teman saya mengenang masa-masa kami masih SMA. Saat kami kabur dari sekolah, saat dihukum guru ngaji, saat hidup seadanya di pesantren. Cerita-cerita sederhana, tapi berkesan.

Saya senang, karena dari seberang saya mendengar tawanya kembali.

Lebaran tahun ini saya gak berencana pulang ke Malang. Cukup ke Jogja, ke kampung istri saya. Tapi, setelah tahu keadaan teman saya itu, ingin rasanya mencari tiket kereta ke Malang. Untuk sekadar menengoknya, meski sebentar.

Teman yang Paling Beruntung

Setiap orang punya minat, bakat, dan keahlian yang berbeda, kecuali dalam urusan pulitik.

Beberapa tahun terakhir ini, banyak teman sepermainan saya yang tiba-tiba punya minat sama yang namanya pulitik. Mereka jadi sering nonton berita tentang segala gerak-gerik Jokowi atau program debat yang menghadirkan para anggota dewan, apalagi kalau yang hadir sejenis Fadli Zon dan Fahri Hamzah.

Photo by Tirachard Kumtanom on Pexels.com

Bakat juga gitu, banyak teman saya yang ternyata punya bakat yang sama. Saya baru tahu ini. Dulu mereka ngakunya cuma punya bakat main badminton, mendesain logo, benerin laptop, atau meramal. Tapi belakangan saya tahu, mungkin juga baru mereka sadari, bahwa dirinya punya bakat yang lain: ngemeng pulitik.

Yang terakhir gak kalah ajib: keahlian, khususnya keahlian berkomentar, lebih khusus lagi keahlian berkomentar soal pulitik. Baik yang pro Jokowi maupun yang hidup-mati ikut Prabowo, sama saja. Kesimpangsiuran apa pun, kalau mereka sampai turun tangan dan ikut menjelaskan, akan clear seketika. Selesai.

Baca juga:
Mengamini Harapan
Cuma Ingin Didengar

Kenalan-kenalan saya di Facebook juga emejing. Ada yang ngamukan kalau Habib Rizieq dikritik, ada yang sukanya nyindir-nyindir ulama NU, ada yang selalu nyinyir sama anak-anaknya Jokowi, ada juga yang yakin bahwa solusi problematika Indonesia tercinta saat ini adalah dengan mengguremkan PKS.

Macem-macem. Tapi, di antara status dan komentar teman-teman saya yang sekarang sudah cerdas-cerdas ngemeng pulitik itu, sebuah oase dunia maya muncul tanpa saya duga. Oase itu adalah tulisan-tulisan polos, jujur, alay, dan kadang gak penting yang dibuat oleh seorang teman yang senang menceritakan pengalaman pribadinya.

Tentang dagangan es kelapanya yang ludes, anaknya yang punya hobi mengoleksi barang bekas, seorang teman yang “mainnya kurang jauh dan pulangnya kurang malam”, dan permintaan maafnya di grup alumni karena gak bisa lekas nimbrung obrolan teman-temannya, sebab dia baru bisa online … setelah suaminya pulang kerja.

Teman kuliah saya itu, yang sejak dulu memang terlihat sangat bersahaja, ternyata gak punya handphone. Saya kaget pas tahu itu. Hari gini?! Tapi entah karena apa, hal itu justru membuat saya menganggapnya sebagai orang yang paling beruntung di antara kami-kami yang gak bisa melewatkan bahkan satu jam pun tanpa gawai.

Di antara milyaran makhluk hidup yang sudah keranjingan Tiktok dan mobile legend, mungkin dia adalah salah satu yang paling stabil emosinya.

Saya lantas membayangkan kesehariannya yang tenang, gak berisik oleh berita-berita hoax seputar pulitik dan agama. Menyiapkan sarapan untuk sang suami, mengantar buah hatinya ke playgroup, melayani anak-anak yang menyerbu dagangannya, mungkin juga mendaras Al-Quran cukup untuk membantunya melewati hari-hari.

Gak ada waktu untuk ikut-ikutan perang opini antara pendukung Joko dan Wowo. Emak-emak milenial yang suka kongkow di kantin sekolah anaknya mungkin menganggapnya ketinggalan zaman, gak up to date, atau apalah yang sebenarnya menunjukkan betapa mereka sedang tertipu oleh bungkus-bungkus dan gaya hidup.

Namun, menurut saya, sangat mungkin teman saya itu woles saja dan justru menikmati keadaannya yang dinyinyirin oleh emak-emak yang hobi meni-pedi itu. “Gak ngurus!” mungkin begitu komentarnya, sambil melanjutkan kesibukannya menyikat cucian yang sudah ia rendam sejak semalam.

Puisi-puisi Obi

Beberapa orang berubah karena pergaulannya, yang lain karena pendidikannya, bacaannya, pekerjaannya, mungkin juga trauma yang pernah dialaminya, misalnya diduakan atau ditinggal kawin pacar. Manusia memang dinamis, berkat interaksi dengan lingkungannya, dia bisa berubah dan menjadi pribadi yang baru.

Photo by rawpixel.com on Pexels.com

Itu biasa saja, normal. Nggak ada orang yang benar-benar original, dalam pengertian bahwa dirinya steril atau terbebas dari pengaruh luar, seakan kepribadiannya saat anak-anak hingga dewasa nggak lain merupakan hasil pergumulan dirinya sendiri, entah dengan apa dan bagaimana caranya.

Jadi, mungkin karena terbatasnya pemahaman terhadap orang lain, kita sering heran dengan perubahan pada diri mereka. Seperti yang terjadi baru-baru ini di grup Watsapp teman kuliah saya, yang hampir semuanya heran dengan perubahan Obi, salah satu teman kami yang dulu terkenal jail.

Obi yang kami kenal adalah seorang mahasiswa salah jurusan. Tul, dia salah kamar saat mendaftar kuliah. Entah bagaimana ceritanya. Jurusan kami saat itu Hukum Perdata Islam, tapi dia seperti nggak menunjukkan minat sedikit pun terhadapnya. Lucunya, dia jalani saja perkuliahan sampai selesai, bahkan sampai lulus.

Ketika sekelas dengannya, kami sering melihatnya kurang serius mengikuti pelajaran. Masuk sekadar mengisi absen dan kalau berpendapat sering absurd. Maka, tentu sebuah fenomena yang ganjil ketika saat ini dia (sangat) rajin (sekali) membuat puisi. Ya, puisi. Sesuatu yang susah payah kami bayangkan menjadi hobinya.

Saya hampir selalu melewatkan karya-karya maestro itu, tapi pernah karena penasaran, akhirnya saya baca juga (selanjutnya tentu saja menyesal). Ini saya copas-kan dari grup ya, selamat meresavi!

Aku ingin bersamamu sepanjang
kehidupan ini
Menunaikan rindu tiap waktu
Tanpa harus memikirkan sepi
Atau mimpi yang harus aku nikmati

Aku ingin tiap hari kau ada di sisi
Di sebelahku tanpa pergi
Membisikkan puisi-puisi
Dari embun dan mentari
Menghirup aroma kopi yang
selalu 
mengucapkan selamat pagi

Aku ingin selalu begini
Dalam bingkisan asmara
Hanya ada dua pasang kata
yang 
menyatu
Aku dan kamu, cinta dan rindu …

“Selesai baca,” komentar salah satu teman saya, “yang terbayang bukan Obi penciptanya tapi Bowo Tiktok.” Hmm … mungkin mereka orang yang sama di dunia yang paralel ini.

Saya sempat japri dengan teman lain yang juga satu grup, Malik, apa kira-kira yang membuat teman yang kami sayangi itu kini menjadi pujangga, yang puisi-puisinya seperti sederet curhatan seleb Tiktok? Kami tentu nggak habis pikir, lebih-lebih ia tampak sangat bergairah men-share-nya di grup Watsapp, tanpa tahu sikon.

Saat Zaenal dan Opik komen-komenan tentang bola, ia menengahi dengan puisinya yang bertabur keluh-kesah urusan cinta. Saat Umi dan Tutik mengenang tahun-tahun pertama kuliah, ia muncul dengan doa-doanya yang dipaksa puitis dan berrima. Grup Watsapp kami memang jadi hidup, karena masterpiece buatan Obi.

Saya lama-lama curiga, mungkin teman kami itu baru terguncang oleh kenyataan yang sulit ia terima, mungkin juga itu caranya mengungkapkan kebingungan dalam menjawab pertanyaan klise, laten, dan menjengkelkan: “Kamu kapan?”. Dalam satu atau dua percakapan dengan saya, masalah itu memang sempat ia singgung.

Bagaimanapun, bagi saya dan teman-teman segrup, ini tetap sebuah misteri.

Saya nggak pernah serius mencari tahu alasan Obi punya kebiasaan baru itu. Puisi-puisinya, sampai tulisan nggak penting ini saya buat, masih terus membanjiri grup kami. Sebagian teman sepertinya tetap mengabaikannya, sementara sebagian yang lain tergerak menanggapinya, sekadar untuk menunjukkan simpati …

… meski sangat mungkin itu hanya pura-pura.

Saya tahu kok kelakuan teman-teman 🙂

Namun, kalau perubahan dalam diri teman kami itu benar-benar karena trauma, sekecil apa pun perhatian akan berarti baginya. Tapi, semua kemungkinan yang kami duga akan buyar jika di balik penampilannya yang sangar (dulu dia gondrong dan suka ikut demo), dia sebenarnya pria yang melankolis, seperti Tukul, eh, Tulus.

Sesuatu yang luput dari perhatian kami selama ini.