Cinta Ayah


Sudah 2 tahun ini saya asyik bermain Twitter. Banyak hal baik saya dapatkan darinya, mulai informasi hingga pertemanan. Saya mengenal orang dari berbagai latar belakang sosial dan pendidikan. Beberapa di antara mereka tak henti mengetuk-ngetuk hati saya dengan perjuangan hidupnya.

Ada seorang pengemudi Gojek (atau Grabbike, saya lupa) yang menghabiskan berjam-jam waktunya mencari nafkah di jalanan. Menembus terik siang dan derasnya hujan demi keluarga tercintanya, terutama untuk anak laki-lakinya yang mengidap lupus.

Teman yang lain tak ketinggalan mencuit perjuangan para ayah yang tak mengenal lelah mencari uang untuk keluarganya. Ada yang menjadi sopir truk, ada juga yang berjualan nasi goreng, kue kering, katering kecil-kecilan, hingga bumbu dapur. Di tengah kondisi sulit seperti sekarang, apa saja mereka lakoni demi menghidupi istri dan anak-anak mereka.

Baca juga: Untuk Anakku (1)

Sepintas lalu apa yang mereka lakukan tampak biasa saja. Semacam naluri bertahan hidup untuk diri dan anggota keluarganya. Tapi dalam agama kita, pengorbanan yang bersifat naluriah ini sangat diapresiasi.

Suatu ketika seseorang menghadap Rasulullah saw. Orang itu berkata bahwa dirinya telah melakukan dosa kepada Allah dan ingin disucikan oleh Rasulullah, maksudnya dimohonkan ampunan kepada Allah. Mendengar permintaan itu, Rasulullah bertanya dosa apa yang telah dilakukannya.

“Saya malu mengatakannya,” jawab orang itu.

Rasulullah kecewa mendengarnya, lalu berkata kalau dia malu kepada beliau, mengapa dia tidak malu kepada Allah, padahal Allah selalu melihatnya.

“Pergi kamu, jangan sampai neraka diturunkan kepada kami akibat dosamu itu!” sabda Nabi.

Remuk hati orang tersebut mendengar perintah Rasulullah itu. Dia pun beringsut dengan perasaan kecewa, putus asa, dan bercucuran airmata.

Saat itulah malaikat Jibril menghadap Rasulullah dan bertanya, mengapa beliau membuat putus asa orang yang memiliki penghapus dosa-dosa.

“Apa penghapus dosa-dosanya?” tanya Nabi.

Malaikat Jibril menjawab, “Anak kecil.”

Baca juga: Untuk Anakku (2)

Ketika orang itu pulang ke rumahnya, seorang anak kecil menyambutnya. Orang itu lantas memberikan makanan atau benda lain yang sekiranya bisa membahagiakan hatinya.

“Ketika anak kecil itu bahagia, saat itulah dosa-dosa orang tersebut dihapuskan,” lanjut malaikat Jibril.

Cerita itu saya baca dalam buku Al-Mawa’izh Al-‘Ushfuriyyah karya Syekh Muhammad bin Abu Bakr, sebuah kumpulan hadis dengan penjelasan berupa cerita-cerita inspiratif dari Rasulullah, sahabat, dan orang saleh.

Membaca hikayat itu, saya merasa terlibat dengan perasaan orang yang diceritakan –saya juga seorang ayah. Betapa indah perjuangan seorang kepala rumah tangga dan betapa besar cintanya pada sang buah hati. Sekeras apa pun hidup menempanya, dengan berbagai dosa atau kesalahan yang mungkin dilakukannya, ia tak lupa membuat gembira anak-anaknya sewaktu pulang dan bertemu mereka.

Dan siapa sangka, perbuatan kecil yang menutup harinya itu menjadi pelebur dosa-dosanya.

Kamu


Aku masih terus mencarimu,
di gelapnya lorong-lorong masa lalu,
di tengah sepinya malam-malamku.

Dan kau masih seperti dulu,
tak bosan bersembunyi
di balik kabut masa depan
dan selimut takdir yang begitu tebal.

Teka-Teki Mahadahsyat


Hampir satu jam kita berkeliling kota, menelusuri ruas-ruas jalan yang memanjang dari depan rumah kosmu sampai entah ke mana. Menghabiskan sisa waktu kebersamaan kita yang tinggal setarikan nafas.

Angin malam yang berembus selepas hujan tak kita pedulikan. Gemuruh yang masih terdengar dari langit kita anggap nyanyi sunyi yang tak bermakna apa-apa. Lampu-lampu jalan yang kesepian tampak meremang karena kabut yang turun dengan tergesa.

Entah berapa kali kautanya kapan aku akan pulang. Yang pasti, sebanyak itu pula kujawab bahwa kepergianku hanya sementara.

Aku bisa melihat wajahmu dari kaca spion di motorku, menahan tanya sekaligus rasa takut. Bagaimanapun aku menyadari, dari sekian banyak pertanyaan yang saat itu kausampaikan, ada yang tak mampu kujawab. Selain bingung mengungkapkannya, sebagian aku sendiri tak tahu jawabannya.

Sebuah teka-teki, seperti dirimu.

Baca juga: Kerinduan Itu

Kadang aku marah pada diriku saat melihatmu kecewa. Kaubilang aku kurang peka, tak mengerti isi hati wanita. Jangan kaupikir aku tak terbebani dengan kata-katamu itu. Sangat menjengkelkan rasanya ketika tahu apa yang kaumaksud (termasuk diammu) tak mampu kupahami. Sebab, bagaimana mungkin aku mencintaimu kalau memahamimu saja aku tak mampu?

Setelah sekian lama, aku mencoba berdamai dengan kegagalanku itu, dan mengalihkan perhatian pada sesuatu yang lebih penting: teka-teki itu sendiri. Jangan-jangan teka-teki itulah, bukan jawabannya, yang sebenarnya kubutuhkan. Sesuatu yang membuatku terus bertanya, terus mencari jawabannya. Dan dalam kaitan dengan cinta-cinta kita, teka-teki itulah yang memaksaku terus berbenah.

Mungkin kalimatku sedikit mengecewakanmu. Tapi, kalau kau setuju dengan premis ini, maka selama aku mencintaimu, selama itu pula aku tak akan bisa memahamimu. Paradoks yang baik (tentu, tentu, kita bisa berdebat tentang ini), sebab dengan begitu aku akan terus bertanya, mencari, berproses, berbenah menjadi lebih baik. Dan dengan begitu, sejatinya aku sedang membuktikan sesuatu yang dituntut oleh setiap kekasih pada pencintanya: bukti.

Namun, aku ingin kau lebih percaya padaku. Bahwa kesediaanku untuk terus mencari jawaban bagi teka-teki mahadahsyat itu (maksudku, kamu) adalah bukti kesungguhan cintaku padamu. Sebab dalam pencarianku, tak ragu kukorbankan waktuku, sesuatu yang tak mungkin bisa kaubeli, untuk hal lain yang selamanya tak bisa kupahami. Sesuatu yang kalau terus kuselami arusnya akan membawaku pada sebuah muara di kehidupanku: kamu.

Baca juga: Tentang Kita

***

Mei 2021. Tak terasa, sebelas tahun sudah sejak malam penuh kenangan itu. Waktu yang lebih dari cukup untuk membuktikan segala yang dulu pernah kita yakini. Dan kalau kini semua tak seperti angan-angan kita malam itu, Malang yang dingin tetap akan hidup dalam ingatan kita. Dengan ruas-ruas jalannya yang basah, kerlip lampunya yang meremang, dan titik-titik air yang jatuh di dedaunan pohonnya.

Malang yang indah. Kota yang setiap ruas jalannya menyimpan lembar-lembar kenangan tentang kita.

And so I’m sailing through the sea
To an island where we’ll meet
You’ll hear the music fill the air
I’ll put a flower in your hair

Though the breezes through the trees
Move so pretty you’re all I see
As the world keeps spinning round
You hold me right here right now

–Jason Mraz, Lucky

Sebuah Fantasi yang Nyata


Sejak menonton About Time, film-film bertema travel in time adalah favorit saya.

Saya sempat berburu film bertema sama, tapi ternyata gak banyak. Film lokal bertema travel in time sebenarnya ada, cuman sampai sekarang belum ada yang digarap secara apik dan bernas. Dan satu-satunya yang masih saya ingat: Lorong Waktu.

Agaknya sulit mengharapkan insan perfilman Indonesia menggarap tema ini. Bukan karena minim talenta, tapi film bertema travel in time rasanya lebih bagus kalau diperankan oleh orang luar (?) dan lokasi pengambilan gambarnya di negara-negara Barat.

Baca juga: Teleporter

Ini mungkin subyektif. Menurut saya, film-film fantasi lebih sempurna kalau semua unsur dalam ceritanya juga fantasi, atau seenggaknya bukan sesuatu yang dekat dengan keseharian kita. Sehingga kita gak disibukkan dengan usaha untuk mengonfirmasi atau mengoreksi hal-hal yang kita anggap gak pas dengan kenyataan.

Sejauh ini, film tentang travel in time yang paling saya suka adalah About Time (2013). Yang lain adalah The Time Traveler’s Wife (2009), Interstellar (2014), dan tentu saja Back to the Future (1985). Age of Adeline (2015) bagus, tapi bisa gak ya disebut film travel in time? Kayaknya sih gak.

Director: Richard Curtis
Writer: Richard Curtis
Stars: Domhnall GleesonRachel McAdamsBill Nighy

Dalam film-film bertema travel in time, kita sepenuhnya diajak berfantasi. Melompat ke masa lalu atau masa depan tentu hanya bisa dilakukan dalam khayalan. Nah, film-film tersebut membantu menghidupkan alam khayal kita menjadi serupa kenyataan.

Tentu menarik melihat seseorang kembali ke masa lalunya, lalu memperbaiki sesuatu yang menurutnya salah atau menjadi sebab masa depannya berantakan. Tapi, menghayati peran tokoh-tokoh dalam film tersebut memunculkan kegelisahan di benak kita: Apa menariknya seandainya hidup bisa direkayasa seperti itu?

Bukankah hidup menjadi layak dijalani sebab apa yang akan terjadi tak selalu bisa ditebak dan apa yang telah terjadi tak bisa dianulir? Kenyataan memang tak selalu sesuai harapan dan kesalahan mungkin berakibat buruk, tapi justru di situ menariknya: kita bisa menjadi manusia yang lebih baik dengan belajar darinya.

Mungkin karena itu, dalam About Time, Tim sampai pada sebuah kesimpulan tentang hidup –setelah puas melompat-lompat ke masa lalunya:

“No one can ever prepare you for what happens when you have a child. When you see the baby in your arms and you know that it’s your job now.

No one can prepare you for the love and the fear. No one can prepare you for the love people you love can feel for them. And nothing can prepare you for the indifference of friends you don’t have babies.

And it’s a shock how quickly you have to move to a new place you completely can’t afford. Suddenly, time travel seems almost unnecessary, because every detail of life is so delightful.”

About Time menjadi film favorit saya karena isinya romance (semua orang suka, kan?) dan alurnya sederhana. Kesan pertama saat selesai menonton film itu: ringan, hangat, dan indah. Alurnya gak serumit The Time Traveler’s Wife dan jalinan ceritanya lebih mudah dimengerti.

Selain itu, saya memang suka dengan drama Inggris. Kadang ceritanya memang cetek, tapi ini adalah satu-satunya kekurangan yang bisa kita kritisi. Siapa pun yang pernah nonton Love Actually (2003), The Holiday (2006), atau Me Before You (2016, buset, ini film cewek semua ya, hehe) mungkin punya komentar sama tentang jalan ceritanya: ringan, atau dalam cibiran para kritikus film: dangkal.

Ada banyak klise, bahkan cringe, dalam dialog atau adegan tokoh-tokohnya. Coba ingat Love Actually, bagaimana Natalie (Martine McCutcheon) yang berkali-kali salah ngomong di hadapan David, sang Perdana Menteri yang baru dilantik, yang diperankan oleh Hugh Grant.

Baca juga: 5 OS Film Paling Keren

Kalau kita nonton The Holiday, kita juga menemukan adegan yang sama. Salah satunya saat Amanda (Cameron Diaz) bertemu Graham (Jude Law) untuk pertama kalinya. Percakapan keduanya terdengar artifisial, adegan mereka lebih-lebih, gak natural.

Alhasil, film-film yang mengangkat tema travel in time, terlebih yang diproduksi di Inggris, memiliki ciri khasnya sendiri. Terlepas dari berbagai kekurangannya. Dan meski film-film ini menghidupkan khayalan kita tentang travel in time, pesan utamanya identik: bahwa manusia harus mensyukuri apa yang mereka miliki hari ini.

Sebuah Ajakan


Aku tepekur saat kau menitipkannya padaku. Bukan tak percaya dengan keputusanmu yang tiba-tiba. Aku hanya bingung –mau kuapakan benda itu?

Sore berjalan lambat di tengah hujan deras hari itu, tapi kata-kata telah kehabisan makna mengungkapkan maksud pertemuan kita. Wajahmu kosong menatap daun-daun yang bergoyang oleh siraman air langit. Sedang aku hanya bisa memandang secangkir kopi yang telah membeku.

“Akan ada yang terluka,” ujarku.
“Usah dibahas, kita sama-sama tahu.” Kau menukas.

Ya, kita sama-sama dewasa. Dan mungkin karena itu kita jadi punya keberanian, atau kebodohan, yang sama.

Bermain-main dengan api. Memang ada riang saat merasakan hangatnya, tapi terlalu asyik memainkannya akan membuat kita lengah. Panasnya akan membakar kulit kita dan mendidihkan darahnya –orang yang sekarang kautitipi benda yang sama.

Aku sendiri sulit menyembunyikan ketidakpercayaanku. Dudukku tak bisa tenang, kata-kataku tak beraturan. Orang-orang terkejut dengan gemuruh guntur yang saling susul, tapi hanya aku seorang yang mendengar ledakan bom nuklir di suatu tempat.

Kau tak pernah berhenti mengejutkanku. Seperti sore itu, juga hari-hari yang telah lalu. Tapi, aku tak lagi seperti dulu. Yang bisa kautitipi benda-benda sesukamu, dan bisa kauambil kapan pun kaumau.

Apalagi jika yang kautitipkan itu hati, dengan cinta yang penuh pura-pura dan satu ruang yang berisi nama-nama.

Lagu Lawas: Mengapa Masih Banyak yang Menyukai?


Lagu lawas membuat penggemarnya sepakat dengan satu hal: mendengarkannya akan mengingatkan mereka tentang suatu masa.

Photo by Burst on Pexels.com

Sesuatu yang kini menjadi kenangan. Bisa peristiwa yang dialami oleh orang lain, bisa juga pengalaman sendiri.

Itu bukan isapan jempol. Siapa pun yang mendengarkan suara emas Pance Pondaag, Vina Panduwinata, Broery Marantika, Iis Sugianto, Chrisye, Ebiet G. Ade, dan sederet nama tenar lainnya akan terkenang entah peristiwa apa ketika mereka masih remaja, mungkin juga anak-anak.

Tak Sekadar Kenangan

Namun, lagu lawas sebenarnya bukan hanya tentang kenangan. Memutar kembali lagu-lagu tersebut dan mencermati lirik, musik, dan video klipnya akan membuka mata kita tentang roda zaman yang terus bergerak, yang setiap penggalnya menunggu untuk dikuak.

Baca juga:
5 Lagu Jadul Paling Romantis
Mengapa Lagu Zaman Dulu Masih Enak Didengar?

Ibarat pita film sebelum tersentuh digitalisasi, lagu-lagu itu merekam bagaimana mereka yang hidup di zaman itu memaknai berbagai hal di sekitar mereka, mungkin juga di dalam diri mereka. Tentang cinta, perpisahan, pengkhianatan, kekecewaan, dan lain sebagainya.

Zaman berubah. Apa yang penting bagi orang sekarang belum tentu disikapi sama oleh mereka yang hidup di zaman dahulu. Demikian pula sesuatu yang pantas atau tidak. Coba saja lihat video klip lagu-lagu itu, jika bukan keheranan, minimal rasa penasaran akan muncul di hati kita.

Cinta, tema abadi yang diangkat dalam berbagai lagu, memiliki nilai transenden tertentu kala itu. Dulu bukan era remaja-remaja memaknai cinta dengan jalinan yang hampir sama dengan hubungan suami-istri, seperti biasa kita temui sekarang.

Gambaran Situasi

Perubahan yang lebih konkret bisa kita lihat, misalnya, dalam cara berbusana model klip lagu-lagu zaman dulu. Dalam klip lagu Pance Pondaag yang berjudul “Kucoba Hidup Sendiri”, tampak seorang model melakukan serangkaian adegan.

Sesuai lirik lagunya, model wanita tersebut beradegan bak seorang yang sedang bimbang, atau istilah populer zaman sekarang “galau”. Ia berjalan di sebuah tempat wisata, mungkin Bali atau TMII, seorang diri. Di sekelilingnya sepi, tak ada seorang pun yang terlihat.

Gadis cantik itu hanya mengenakan minidress: lengan terbuka, belahan dada terlihat, dan rok di atas lutut. Untuk alas kaki ia mengenakan sepatu boot tinggi. Meski mode busana tersebut tak mencerminkan gaya berpakaian gadis-gadis saat itu, toh klip tersebut tak dipersoalkan.

Ketika video klip tersebut masih sering ditayangkan di layar kaca, masyarakat Indonesia mungkin tak terlalu memusingkannya. Boleh jadi karena saat itu standar moral yang berlaku tak mempermasalahkannya. Selama tak ada adegan erotis, no problem.

Baca juga:
7 Lagu Lawas yang Paling Menyentuh
5 Original Soundtrack Paling Keren

Namun, bagaimana jika sekarang ada stasiun televisi yang menayangkannya? Jika bukan KPI menyurati mereka, mungkin ormas-ormas keagamaan berdemo di depan kantor mereka. Masyarakat yang menonton mungkin juga gerah, dan menganggapnya tayangan maksiat.

Apa yang sebenarnya terjadi? Zaman berubah. Banyak hal yang memengaruhi. Dalam hal ini, orientasi keberagamaan masyarakat yang semakin ketat mungkin penyebabnya. Itu bisa terjadi karena banyak faktor, salah satunya: gerakan dakwah yang massif.

Diakui atau tidak, pengaruh tersebut telah membentuk cara pandang yang baru di masyarakat. Bahwa fenomena itu muncul sebagai konsekuensi logis dari suatu peristiwa yang lain, mungkin saja. Dalam konteks Indonesia, kolapsnya Orde Baru mungkin merupakan titik mula.

Jika kita ingat, ambrolnya benteng pertahanan Orde Baru akibat meletusnya reformasi telah membuka keran berbagai corak pemikiran keagamaan. Tampilnya ormas dan orpol bercorak keagamaan merupakan gejala yang menunjukkan apa yang sekarang kita lihat di masyarakat.

Jadi, selain menjadi bahan nostalgia, lagu-lagu lawas juga menarik karena merekam sesuatu yang berbeda. Dan adanya perbedaan yang terperangkap dalam lagu-lagu itu dengan kondisi sekarang telah menyadarkan kita tentang arti sebuah perubahan.

Kerinduan Itu


Adakah yang lebih menyiksa dari kerinduan?

Lelaki perkasa tersungkur karena menahan rindu kekasihnya. Raja-raja kehilangan malu karena menahan gejolaknya. Para bijak bestari kehabisan kata-kata lantaran tenggelam dalam perasaan yang sama.

Photo by Matheus Bertelli on Pexels.com

Sejak lama orang-orang mengagungkan cinta. Seakan cinta adalah kenyataan paling absolut yang tak terbantahkan.

Siapa pun yang merasakannya mungkin akan berpendapat sama, sampai mereka terpisah dengan sang kekasih dan terpaksa menahan diri untuk tak bertemu.

Saya sepakat cinta adalah jawaban untuk semua persoalan, tapi rindu boleh jadi akar dari segala permasalahan.

Apakah kemudian klop? Masalah apa pun yang muncul sebab kerinduan akan terjawab dan selesai begitu saja dengan hadirnya cinta?

Belum tentu.

Nyatanya, seorang perindu bisa jadi malah kehilangan cinta terhadap kekasihnya. Waktu membenamkannya dalam samudera kekaguman tak bertepi, dan ruang yang tanpa batas seakan membuatnya menggenggam erat hati sang kekasih.

Lantas, mana yang absolut?

Yang lebih menarik, justru dalam derita menahan rindu itu, seseorang menyatu dengan kekasihnya. Raga mungkin terpisah, tapi jiwa mereka bercumbu setiap saat, sepanjang waktu.

Cinta yang dulu kenyataan paling agung menjadi tanpa makna, sebab dalam penyatuan segala rasa tak lagi punya kuasa.

Tanda-tanda


Hai, Nak.

Apa kabar?

Bagaimana belajarmu? Semua baik-baik saja, bukan?

Sekarang adalah minggu terakhir bulan Agustus 2020, tepatnya hari Kamis tanggal 27. Aku datang lebih pagi dibanding teman-teman seruangan. Tadi aku berpamitan padamu saat kau dibujuk ibumu untuk segera memakai baju. Kami berbagi tugas, sebelumnya aku yang memandikanmu.

Sebentar lagi kita ada di pengujung tahun, Anakku. Tak terasa, seperti baru kemarin kita melewatkan malam pergantian tahun.

Aku tak pernah menduga tahun ini menjadi tahun yang berat. Sejak Maret kemarin aku bekerja dari rumah, teman-temanku juga sama, bahkan orang-orang di seluruh dunia. Saat-saat seperti ini tanggal merah seperti biasa saja, tak ada sensasinya.

Aku tak lagi menunggu-nunggunya, dan tak pernah lagi membuat rencana untuk kita jalan-jalan bersama. Wah, aku baru ingat, kita sudah enam bulan tak pernah ke wahana permainan kesukaanmu: bermain pasir, naik mobil-mobilan, atau mandi bola.

Saat lebaran dan hari raya kurban pun kita tak pulang kampung. Bahkan ke rumah Bude di Bogor kita tak berani. Kita benar-benar dihantui oleh benda superkecil dan sialan itu, coronavirus. Kita jadi selalu curiga dengan gagang pintu, uang cash, tombol lift, bahkan udara yang kita hirup.

Bosan rasanya berdiam diri di rumah. Ibumu juga entah berapa kali mengatakannya. Tapi apa boleh buat, pandemi ini memaksa kita untuk menahan diri. Lagipula lama-lama dia terbiasa, kecuali belanja ke warung atau tukang sayur. Selebihnya paling minimarket dan danau kecil favoritmu.

Atasanku di kantor mendapat informasi dari koleganya bahwa pandemi ini mungkin baru berakhir dua sampai tiga tahun lagi. Artinya, baru pada tahun 2024 kita akan bebas sepenuhnya dari masker (yang pagi ini hampir saja kulupakan), hand sanitizer, dan social distancing.

Yang mengkhawatirkan, banyak perusahaan dalam dua atau tiga tahun ke depan yang mungkin bertumbangan. Termasuk perusahaan tempatku kini bekerja. Dengar-dengar jika tak ada perubahan drastis yang kami lakukan, kami hanya bisa bertahan sampai akhir tahun.

Aku sih pasrah saja. Tawakal. Ikhtiar tetap kita lakukan, dan insya Allah yang terbaik yang akan kita dapatkan. Masa-masa sulit mungkin akan kita hadapi, tapi jangan sampai kita hidup seakan-akan tak punya Tuhan. Ya, ya, mungkin sekoci memang sudah saatnya kita siapkan.

Bismillah saja. Kita orang-orang kuat, Nak. Kakek-kakek kita bukan orang sembarangan, nenek-nenek kita juga. Lain kali aku akan bercerita tentang kakek-nenekmu dan orangtua-orangtua mereka yang luar biasa. Kautahu, salah seorang buyutmu adalah pejuang.

Itu baru kutahu beberapa minggu lalu. Tak pernah kusangka, mereka yang dipuji-puji dalam lagu nasional karena pengorbanannya memerdekakan negara ini, salah satunya adalah kakek kita. Aku bangga sekali, meski aku tahu kakek meregang nyawa akibat dibedil tentara Belanda.

Kakek-nenek kita memang hidup di zaman yang berbeda dengan kita, dengan masalah-masalah yang tak sama. Tapi, semoga kita punya semangat dan daya juang yang sama untuk menghadapi semua itu. Laa yukallifulloohu nafsan illaa wus’aha. Bukankah begitu?

Hari ini aku ingin menyelesaikan sisa tugas yang belum sempat kuselesaikan: mencari alternatif judul. Kemarin lusa atasanku sampai ke ruangan dan menanyakannya. Kami berharap banyak pada buku ini. Semoga semuanya lancar sesuai harapan.

Aku berharap demikian sebab dua buku sebelumnya, yang sudah selesai dikerjakan oleh redaksi, gagal terbit gara-gara penulisnya bermasalah. Luar biasa memang, di tengah situasi yang tak menentu seperti sekarang, ada saja tambahan masalah yang datang.

Tapi bagaimanapun, Nak, kita harus berterima kasih. Aku yakin ada sesuatu di balik gagal terbitnya naskah-naskah itu. Dan apa pun yang ada di belakang semua itu, pasti sesuatu yang baik.

Sekarang aku hanya masih menebak-nebak: Apakah ini pertanda itu?

Ada Malam-malam


Ada malam-malam aku ingin pulang ke masa itu.

Foto saya pinjam dari: Pexel.com

Masa-masa jiwa kita tak ubahnya hutan rimba yang lebat. Yang tiap pohonnya menjulang, membuahkan cita-cita dan harapan.

Kita belum diracuni uang dan kemewahan, atau dipusingkan sewa rumah dan cicilan. Kita bahkan tak pernah sempat memikirkan hidup dan masa depan.

Ada malam-malam aku ingin berdua saja denganmu. Menghabiskan waktu di kantin penuh kenangan itu, menikmati secangkir sepi dan meredakan hiruk-pikuk di hati.

Hari-hari yang damai. Detik-detik yang berjalan lambat. Kita saling mendengar dan berkeluh kesah. Seakan hati kita selembar surat yang bisa dibaca dan dibolak-balik halamannya.

Tak terasa, hampir seabad sejak masa-masa itu. Tapi, aku masih bisa membayangkan rambut-rambut halus di keningmu, titik indah di dagumu, dan binar cahaya yang berloncatan di antara kerling matamu.

Masih segar dalam ingatanku bagaimana caramu bicara, menatap, membuat jantungku berderap-derap.

Tak cukup. Tak cukup kata-kata untuk menggambarkan betapa jauh kaumenyelam di dasar hatiku. Mengacak-acak diamku. Meluluhlantakkan sumpahku.

Tak sabar kuhitung hari yang memisahkan pertemuan kita. Habis sudah angka-angka untuk menghitung musim entah yang ke berapa. Abad-abad berlalu tanpa sempat aku membuka mata.

Ada malam-malam aku ingin kautahu. Bahwa hari-hari yang kita jalani bersama telah berlalu dengan penuh makna, berkat hadirmu. Tapi ruas-ruas masa yang kini kujalani tanpamu adalah kesia-siaan yang kusengaja, sebab terkenang dirimu.

Mengingatmu membuatku ingin bunuh diri. Berkali-kali.

Namamu


Aku tak pernah mengira, bahwa nama yang pertama kudengar berabad lalu hingga kini masih terngiang di telingaku yang mulai tuli ini.

Aneh, sebab tiap ingatanku menghadirkannya, bahkan caramu memperkenalkan diri dengan menyebutkan nama itu juga tergambar jelas.

Photo by Matheus Bertelli on Pexels.com

Aku tak tahu, ini anugerah atau musibah …

Yang pasti, nama itulah yang menemaniku pada hari-hari bahagiaku, juga pada saat-saat sedihku. Meski hanya sepenggal nama –sebab kau tak pernah menyebutkan nama panjangmu, kenangan membuatnya seakan abadi.

Seumpama orang, ia bisa berbisik, tertawa, menghibur, atau setidaknya membersamaiku. Ia yang selama ini menjelmakanmu di alam khayalku, menghadirkan sosokmu di antara kerinduanku padamu.

Kadang, aku bertanya-tanya di mana kau sekarang. Apa yang sedang kaulakukan. Apa yang tengah kauperjuangkan. Lalu, detik demi detik menyeretku pada kata seumpama.

Seumpama kita berjumpa, seumpama kita bersama.

Sayangnya, sering terjadi, cerita kita berhenti di situ. Tak pernah lebih jauh. Seperti tak terima aku melipir sejenak, duniaku selalu membuyarkan lamunan dan menggelandangku untuk kembali bergumul dengan kenyataan. Seperti yang sudah-sudah.

Dan aku pun melihatmu, untuk kesekian ribu kali, melambaikan tangan padaku.