Untuk Anakku (1)


Assalamualaikum, Nak. Bagaimana kabarmu? Semoga sehat-sehat selalu.

Akhir-akhir ini cuaca sering tak menentu. Dua minggu lalu aku terserang flu, dan seminggu berikutnya giliran ibumu yang menggantikan sakitku.

Kamu jaga kesehatan, ya!

Aku tak sedang menulis sesuatu yang mendesak. Jadi, kau tak perlu buru-buru membaca surat ini.

Aku hanya ingin sedikit bercerita tentang anugerah Allah yang Dia titipkan padaku, dan ibumu. Sesuatu yang berada di luar angan-angan kami. Sesuatu yang mengubah warna kehidupan kami.

Sesuatu itu adalah kamu.

***

Photo by Johannes Plenio on Pexels.com

Aku masih ingat. Malam itu, aku hanya bisa berserah.

Ibumu sudah merasakan nyeri yang menyiksa beberapa hari sebelum aku pulang. Sendirian menahan sakit menjelang hari kelahiranmu. Sementara aku, paling-paling hanya susah tidur. Tak sebanding, aku akui.

Begitu sampai di rumah dan menjumpainya, malam itu aku tak bisa memejamkan mata. Kami pun melewati sepi hanya dengan berpandangan, bertukar senyum, dan sesekali saling menyuruh tidur.

Malam terpanjang dalam hidupku.

Kau lahir dari rahim yang mulia, Anakku, dari seorang ibu yang luapan kasih sayangnya tak terkira. Seumur hidup, mungkin baru kali itu ia mempertaruhkan nyawanya; untuk sebuah harapan yang kami genggam sejak mengucap janji setia.

Kau akan menemukan banyak kekurangan dalam diri kami berdua, tak lama setelah melewati beberapa kali ulang tahunmu. Watak kami yang sedikit kaku akan kau keluhkan. Juga kemampuan kami yang tak selalu bisa membuatmu bahagia.

Namun, kau harus tahu, kami membesarkanmu dengan segala yang kami bisa.

Itu tak mengharuskanmu memaafkan banyaknya kekurangan kami. Tapi, orang hebat mana pun, Anakku, tak hanya dibentuk dengan belaian tapi juga tempaan.

Ini mungkin agak terburu-buru kusampaikan. Tapi, kelak setelah membaca surat ini, aku harap kau mengerti apa yang saat ini kubicarakan.

Kami ingin kau menjadi seorang anak yang kuat. Tak layu hanya karena sanjungan, atau meranggas hanya gara-gara sebuah kritikan.

Kau adalah harapan kami. Kau terbit di tengah kebahagiaan yang tercipta dalam sebuah perjalanan yang kami mulai.

Ada cinta di hati kami, yang seiring berjalannya waktu menjelma gugusan awan dan pohon-pohon rindang yang meneduhkan jalanmu.

Kami tak mencita-citakan seorang anak yang luar biasa. Kau tak perlu khawatir tentang itu.

Kau hanya perlu tumbuh.

Tumbuhlah sesuai inginmu. Tanpa takut kami marahi karena nilai Matematikamu yang buruk atau hasil ujianmu yang sekadar cukup untuk lulus.

Orangtua lain mungkin tertawa jika tahu kami tak menuntutmu begini dan begitu. Tapi, akhir-akhir ini aku menyaksikan sendiri anak-anak yang kehilangan tahun-tahun terbaik mereka hanya karena gengsi orangtuanya.

Kau punya hidup sendiri, Nak. Kau punya masa depan yang berbeda dengan kami. Jadi, jalani hidupmu dengan penuh kebahagiaan. Dengan senyuman dan hati yang lapang.

Kalau kau camkan betul kata-kataku ini, aku yakin, selamanya kau tak akan menyesal.

Masalah mungkin silih berganti menghampirimu, tapi seperti semua yang datang dalam hidup, saatnya nanti semua itu akan berlalu.

Sudah, ya. Kapan-kapan Ayah akan mengirim lagi sepucuk surat untukmu.

Salam.

Untuk Felda


Semalam, aku bermimpi tentang kita, tentang Mama, Papa, Uti, dan Mas Ariq.

Source: pexel.com

Kau tahu, apa yang kulihat dalam tidurku? Aku tak bisa menceritakan semuanya padamu, bibirku bisa tumbuh daun untuk itu. Tapi yang paling kuingat, aku melihatmu sudah tumbuh dewasa.

Kau tak lagi bermain lilin, menonton SpongeBob, atau membaca novel anak-anak yang kubelikan. Kau juga sudah berhenti merengek-rengek pada Mama saat kemauanmu tak dituruti, atau mengejar-ngejar kakakmu yang mengganti chanel TV sesukanya.

Kau sudah berubah.

Aku tak tahu persis berapa usiamu saat itu. Tapi, melihat tumpukan buku-buku tebal di kamarmu, aku rasa kau sedang berusaha menyelesaikan kuliah. Yang ada di benakmu adalah belajar dan belajar.

Aku melihat masa depan yang cerah di matamu, secerah hari-harimu saat ini. Kau tak perlu khawatir kesulitan mencari pekerjaan. Semua mahasiswa, apalagi mereka yang duduk di tingkat akhir, akan mengangkat bahu saat ditanya tentang itu.

Kau hanya perlu yakin bahwa kau akan berhasil meraih cita-citamu, setinggi apa pun itu.

Saat kanak-kanak, kita berani menentukan cita-cita. Kau pun begitu, kan? Namun saat dewasa, keberanian itu luntur. Aku tak tahu pasti sebabnya. Itu misteri buatku. Mungkin, kepolosan anak-anak adalah sumber keberanian mereka.

Saat dewasa, saat kepolosan diri itu tak lagi tersisa, sedikit demi sedikit keberanian itu hilang.

Masalah dalam hidup adalah sesuatu yang niscaya. Orang yang tak berani menentukan cita-cita mungkin karena tak memiliki kepolosan dalam dirinya. Dan, tahukah kau apa yang membuat kepolosan itu hilang? Menyerah kepada masalah.

***

Sekarang, aku akan mengatakan sesuatu yang penting. Aku ingin kau bisa mengingat kata-kataku ini: jangan pernah takut dengan masa depan! Seburuk apa pun masalah membelitmu, sedalam apa pun kesedihan menguasai hatimu, jangan pernah menyerah!

Kejar terus cita-citamu!

Lihatlah dirimu sekarang, apa pernah kau meributkan masa depan? Tidak. Kau tak cemas dengannya. Jaga baik-baik keberanian itu. Jangan biarkan masalah demi masalah yang kelak menghampirimu memporakporandakannya.

Masa depan? Anggap saja sebagai teka-teki yang menantang.

Ciganjur, 14 November 2012