Namamu


Aku tak pernah mengira, bahwa nama yang pertama kudengar berabad lalu hingga kini masih terngiang di telingaku yang mulai tuli ini.

Aneh, sebab tiap ingatanku menghadirkannya, bahkan caramu memperkenalkan diri dengan menyebutkan nama itu juga tergambar jelas.

Photo by Matheus Bertelli on Pexels.com

Aku tak tahu, ini anugerah atau musibah …

Yang pasti, nama itulah yang menemaniku pada hari-hari bahagiaku, juga pada saat-saat sedihku. Meski hanya sepenggal nama –sebab kau tak pernah menyebutkan nama panjangmu, kenangan membuatnya seakan abadi.

Seumpama orang, ia bisa berbisik, tertawa, menghibur, atau setidaknya membersamaiku. Ia yang selama ini menjelmakanmu di alam khayalku, menghadirkan sosokmu di antara kerinduanku padamu.

Kadang, aku bertanya-tanya di mana kau sekarang. Apa yang sedang kaulakukan. Apa yang tengah kauperjuangkan. Lalu, detik demi detik menyeretku pada kata seumpama.

Seumpama kita berjumpa, seumpama kita bersama.

Sayangnya, sering terjadi, cerita kita berhenti di situ. Tak pernah lebih jauh. Seperti tak terima aku melipir sejenak, duniaku selalu membuyarkan lamunan dan menggelandangku untuk kembali bergumul dengan kenyataan. Seperti yang sudah-sudah.

Dan aku pun melihatmu, untuk kesekian ribu kali, melambaikan tangan padaku.

Masalah


Saya yakin ada penjelasan yang masuk akal mengapa saat-saat sulit itu datang. Ini bukan hanya kesulitan yang disebabkan oleh keteledoran kita tapi juga kesulitan yang datang murni akibat kesialan.

Source: pixabay.com

Bisa karena kondisi psikologis kita, turunnya stamina berpikir, beban kerja yang memecah konsentrasi, dan lain-lain.

Tapi, memahami alasan mengapa masalah-masalah itu datang tentu menyita perhatian. Merespon masalah itu dan berusaha menyelesaikannya saja sudah jadi beban tersendiri, apalagi harus memikirkan alasan kedatangannya.

Kalau bukan gabut, apa namanya?

Yang pasti, begitu quote yang pernah saya baca, masalah itu seperti angin kencang. Gak semua datang untuk mengacaukan hidup, ada juga yang datang untuk membersihkan jalan kita.

Untuk Anakku (1)


Assalamualaikum, Nak. Bagaimana kabarmu? Semoga sehat-sehat selalu.

Akhir-akhir ini cuaca sering tak menentu. Dua minggu lalu aku terserang flu, dan seminggu berikutnya giliran ibumu yang menggantikan sakitku.

Kamu jaga kesehatan, ya!

Aku tak sedang menulis sesuatu yang mendesak. Jadi, kau tak perlu buru-buru membaca surat ini.

Aku hanya ingin sedikit bercerita tentang anugerah Allah yang Dia titipkan padaku, dan ibumu. Sesuatu yang berada di luar angan-angan kami. Sesuatu yang mengubah warna kehidupan kami.

Sesuatu itu adalah kamu.

***

Photo by Johannes Plenio on Pexels.com

Aku masih ingat. Malam itu, aku hanya bisa berserah.

Ibumu sudah merasakan nyeri yang menyiksa beberapa hari sebelum aku pulang. Sendirian menahan sakit menjelang hari kelahiranmu. Sementara aku, paling-paling hanya susah tidur. Tak sebanding, aku akui.

Begitu sampai di rumah dan menjumpainya, malam itu aku tak bisa memejamkan mata. Kami pun melewati sepi hanya dengan berpandangan, bertukar senyum, dan sesekali saling menyuruh tidur.

Malam terpanjang dalam hidupku.

Kau lahir dari rahim yang mulia, Anakku, dari seorang ibu yang luapan kasih sayangnya tak terkira. Seumur hidup, mungkin baru kali itu ia mempertaruhkan nyawanya; untuk sebuah harapan yang kami genggam sejak mengucap janji setia.

Kau akan menemukan banyak kekurangan dalam diri kami berdua, tak lama setelah melewati beberapa kali ulang tahunmu. Watak kami yang sedikit kaku akan kau keluhkan. Juga kemampuan kami yang tak selalu bisa membuatmu bahagia.

Namun, kau harus tahu, kami membesarkanmu dengan segala yang kami bisa.

Itu tak mengharuskanmu memaafkan banyaknya kekurangan kami. Tapi, orang hebat mana pun, Anakku, tak hanya dibentuk dengan belaian tapi juga tempaan.

Ini mungkin agak terburu-buru kusampaikan. Tapi, kelak setelah membaca surat ini, aku harap kau mengerti apa yang saat ini kubicarakan.

Kami ingin kau menjadi seorang anak yang kuat. Tak layu hanya karena sanjungan, atau meranggas hanya gara-gara sebuah kritikan.

Kau adalah harapan kami. Kau terbit di tengah kebahagiaan yang tercipta dalam sebuah perjalanan yang kami mulai.

Ada cinta di hati kami, yang seiring berjalannya waktu menjelma gugusan awan dan pohon-pohon rindang yang meneduhkan jalanmu.

Kami tak mencita-citakan seorang anak yang luar biasa. Kau tak perlu khawatir tentang itu.

Kau hanya perlu tumbuh.

Tumbuhlah sesuai inginmu. Tanpa takut kami marahi karena nilai Matematikamu yang buruk atau hasil ujianmu yang sekadar cukup untuk lulus.

Orangtua lain mungkin tertawa jika tahu kami tak menuntutmu begini dan begitu. Tapi, akhir-akhir ini aku menyaksikan sendiri anak-anak yang kehilangan tahun-tahun terbaik mereka hanya karena gengsi orangtuanya.

Kau punya hidup sendiri, Nak. Kau punya masa depan yang berbeda dengan kami. Jadi, jalani hidupmu dengan penuh kebahagiaan. Dengan senyuman dan hati yang lapang.

Kalau kau camkan betul kata-kataku ini, aku yakin, selamanya kau tak akan menyesal.

Masalah mungkin silih berganti menghampirimu, tapi seperti semua yang datang dalam hidup, saatnya nanti semua itu akan berlalu.

Sudah, ya. Kapan-kapan Ayah akan mengirim lagi sepucuk surat untukmu.

Salam.

Merdeka untuk Bahagia


Hanya dengan bermain, anak-anak bisa menemukan kebahagiaan.

Source: pexel.com

Cuma ketika masuk usia dewasa, ada dua jalan yang membuat mereka harus memilih salah satunya: pertama, jalan yang mudah, atau kedua, jalan yang sulit. Siapa pun diri mereka sekarang, mereka adalah bagian dari salah satu dari kedua jalan itu.

Baca juga:
Terancam Bahagia
Menyederhanakan Kebahagiaan

Sejak itu, mereka yang saat anak-anak bisa bahagia dengan cara yang sama, menjadi berbeda. Ada yang bisa bahagia hanya dengan sesuatu yang kecil, seperti menikmati pisang rebus, ada juga yang terobsesi dengan sesuatu yang besar, seperti menjadi presiden.

Hihi, gak, saya gak akan bahas pulitik …

Orang bijak berkata bahwa kebahagiaan gak memberi kualifikasi terhadap apa pun yang datang dari luar diri kita. Mau dagangan sepi, mau hidup kebanjiran hoax, bahkan mau Indonesia bubar bulan depan, kebahagiaan tetap bisa kita dapatkan.

Caranya gak rumit, tapi gak gampang dikerjakan: qana’ah sama apa pun yang Allah berikan. Merasa cukup, dan gak mempermasalahkan apa dan berapa rezeki yang kita terima. Qana’ah adalah hulu dari sikap sabar, syukur, dan beragam sikap mulia lainnya.

Orang yang qana’ah punya hidup yang tenang, karena gak pengin ini dan itu: ada iklan Tupperware pengin beli, ada promo IPhone terbaru pengin order. Dia mungkin gak punya uang banyak, tapi dia memang gak merasa ingin membeli barang banyak.

Orang-orang dengan sikap qana’ah juga gak gampang ‘kerasukan’ syaithon. Syaithon di sini bukan makhluk turunannya iblis yang durjana itu, tapi bisikan-bisikan lembut yang biasanya mengajak kita melakukan perbuatan-perbuatan rendah.

Seperti iri, hasud (girang kalau temannya ada masalah, bete kalau temannya lagi hepi), namimah (manas-manasin orang lain biar melakukan sesuatu yang menguntungkan dirinya). Contohnya seperti di bawah ini, bayangin sendiri situasinya ya 🙂

“Alah, motor kredit aja dibangga-banggain!”
“Mentang-mentang cantik Ig-nya muka dia mulu!”
“Tas baru, ya? Gue tahu itu harganya …”

***

Sikap qana’ah membuat kita elegan, baik di hadapan Allah, lebih-lebih di hadapan manusia. Kita boleh pakai baju seadanya, tapi kalau pembawaan kita memang elegan, orang lain akan segan, hormat, memuliakan, di samping juga senang bergaul sama kita.

Untuk terlihat elegan kita bisa mengenakan baju yang mahal, tapi sebagaimana baju pada umumnya yang bisa koyak dan pudar warnanya, pada saatnya baju itu, semahal apa pun, akan kita tanggalkan. Kesan elegan yang dibuat-buat (fabricated) suatu saat akan pudar.*

Ini beda sama elegan yang lahir dari sikap qana’ah, atau merasa cukup dengan jatah Yang Mahakuasa. Kalau jerih payah kita mendatangkan rezeki yang melimpah, kita gak takabur, dan kalau sebaliknya, kita gak tamak apalagi meminta-minta.

Nah, qana’ah juga membantu kita untuk memusatkan harapan pada Allah Ta’ala, sehingga kita gak ngarep-ngarep sama makhluk. Orang yang sudah ‘putus asa’ mengharapkan uluran tangan makhluk sejatinya adalah orang yang merdeka.

“Barangsiapa yang menghamba pada Allah Ta’ala,” kata Syaikh Ibnu ‘Ajibah, “maka dia merdeka dari sesamanya.” ‘Sesamanya’ di sini bukan hanya sesama manusia tapi juga makhluk lainnya, ya termasuk apa yang dia harap-harapkan itu.

Mengharap-harapkan sesuatu meniscayakan cinta dan ketundukan, yang karena keduanya kita akan bersedia melakukan apa saja, demi mendapatkannya. Dan bukan barang baru kalau yang namanya cinta itu membuat kita buta dan tuli.

“Al-‘abdu hurrun maa qana’, wal hurru ‘abdun maa thama’ (Seorang hamba itu merdeka selama ia qana’ah, dan seorang yang merdeka itu hamba selama ia tamak).” (Iyqazhul Himam, h. 140)

***

Kita semua mungkin masih belajar untuk qana’ah, dan sampai sekarang masih belum bisa melakukannya dengan baik. Paham artinya mungkin sudah, tapi siap dengan segala konsekuensinya nanti dulu. Jangankan siap, insentif berkurang saja kepikiran terus.

Hihihi …

Semua memang mending disyukuri. Saya sendiri alhamdulillah bisa beraktivitas seperti biasanya, meski belakangan mondar-mandir Jakarta-Jogja. Istri makin sehat setelah melahirkan dan anak saya sudah pup buaaanyak setelah empat hari gak pup sama sekali 😀

Ya Allah, maafkan saya masih sering kurang ajar. Merengek-rengek minta ini dan itu, giliran dikasih lupa berterima kasih. Ingat hanya ketika ada perlu, mencari cuma kalau sedang butuh. Maaf sekali lagi, sebab memperlakukan Sampeyan seperti gunting kuku.

Ya wis lah, moga-moga kita dibantu oleh Allah agar bisa qana’ah. Apalah kita ini, sok mau mengandalkan ikhtiar sendiri, kayak bisa jamin saja semua bakal sesuai harapan.


*Ada sebuah syair di buku Iyqazhul Himam (h. 141) karya Syaikh Ibnu ‘Ajibah, tapi saya kesulitan menerjemahkannya dengan baik. Jadi, saya terjemahkan apa adanya saja ya.

Aku mengartikan qana’ah pangkal kekayaan
Jadi, aku tak merasa butuh dengan selebihnya
Kemuliaannya memberiku pakaian yang indah
Yang tak akan koyak seiring berlalunya masa
Aku kaya meski tak punya sepeser pun harta
Bangga di depan manusia laksana seorang raja

Terancam Bahagia


Kita terlahir untuk bahagia. Hal-hal kecil yang ada di sekeliling kita, yang untuk mendapatkannya gak perlu keluar banyak duit atau tenaga, bisa membuat kita bahagia. Ya, ya, mungkin itu ada benarnya.

Source: pexel.com

Saya katakan mungkin, sebab seperti segambreng urusan lain dalam hidup, apa yang sederhana menurut orang lain terkadang gak sesederhana yang mereka bilang. Orang berkata apa biasanya memang punya maksud tertentu. Ya entah apa …

Baca juga:
Harapan Itu Sebuah Kata Kerja
Khawatir Ini, Khawatir Itu

Bukan saya tidak setuju dengan pendapat tersebut. Hanya menurut saya, membincangkan dari mana kebahagiaan berasal rasa-rasanya lebih mudah dipahami ketimbang menerangkan sudut pandang yang tepat untuk melihatnya.

Kita tahu, kebahagiaan bersumber dari hati, bukan dari pekerjaan, popularitas, istri yang cantik, pengakuan orang lain, atau properti yang kita miliki. Itu semua memang bisa memantik kebahagiaan. Tapi memantik ya, bukan menciptakan.

Artinya, potensi kebahagiaan sebenarnya sudah ada di dalam hati sejak kita lahir ke dunia ini. Pada beberapa orang ia muncul setelah terpantik oleh sesuatu yang datang dari luar, pada beberapa orang yang lain ia bisa muncul kapan saja.

Orang yang bahagia hanya setelah berhasil mendapatkan sesuatu, karier yang bagus misalnya, menggantungkan kebahagiaannya pada sesuatu yang ada di luar dirinya. Sesuatu yang gak selalu ada dalam jangkauannya.

Sementara orang jenis kedua, yang kebahagiaannya bisa muncul kapan saja, menerima sepenuh hati apa yang ia dapatkan. Kebahagiaannya gak muncul dari tuntutan-tuntutan melainkan kerelaan pada apa pun yang ia dapatkan.

Karena mengandalkan sesuatu yang ada di luar jangkauannya maka kebahagiaan orang tipe pertama lebih sulit didapatkan. Ia harus berurusan dengan rencana, target, deadline, dan segala tetek-bengek yang bisa-bisa membuatnya stres.

Sementara orang tipe kedua, meski bukan berarti gak perlu ngapa-ngapain karena toh kebahagiaan mudah ia miliki, minimal ia gak butuh apa pun untuk bahagia selain kesediaan hatinya untuk ikhlas.

Itu sebabnya, orang-orang yang telah mengenal Tuhannya (‘aarifiin) adalah manusia-manusia yang paling bahagia di dunia. Sebab, dalam berdoa saja gak ada yang mereka minta kecuali apa yang Tuhan kehendaki untuk mereka.

Entah kemasyhuran, keluasan ilmu, harta yang berlimpah, penyakit yang menahun, kemiskinan yang sangat, atau kesepian yang mendera. Mereka yang kebahagiaan sejati telah bersemayam di hatinya, mau dikasih ‘kemudahan’ atau ‘kesulitan’, sama saja.

Orang yang telah mengenal Tuhannya “tak menginginkan apa pun kecuali apa yang dikehendaki oleh Tuhannya, dan tak mengharapkan apa pun kecuali apa yang diputuskan oleh Tuhannya untuknya”. (Iyqadzul Himam, Ahmad bin Muhammad bin ‘Ajibah, h. 179)

Bagi mereka, warna-warna gak ada bedanya. Hijau atau merah, terang atau gelap, sama saja. Bukan karena mata mereka katarak, tapi justru karena mereka mampu melihat keindahan yang ada di balik warna-warna itu.

“Dan apabila aku menulis sajak,” kata Rendra dalam Hai, Ma!, “aku juga merasa bahwa kemarin dan esok adalah hari ini. Bencana dan keberuntungan sama saja. Langit di luar, langit di badan bersatu dalam jiwa.”

Udah waktunya laper, nih. Makan siang dulu, yuks! 🙂

Khawatir Ini, Khawatir Itu


Ada banyak ketidakpastian di masa depan. Dengannya, kita sebenarnya dididik untuk lebih percaya. Pada diri sendiri, pada kehidupan, dan tentu saja pada Yang Mahakuasa.

Wajar kok mengkhawatirkan berbagai hal yang akan kita temui. Mungkin terlintas di benak kita bagaimana perkembangan penyakit yang sekarang kita derita, persoalan utang yang menggunung, atau perpisahan dengan orang yang kita cintai. Tapi, kita gak sendiri.

Orang lain juga punya kekhawatiran. Kita mungkin melihat mereka baik-baik saja, tapi seperti kita tahu, apa yang tampak kadang berbeda dengan yang tersembunyi. Yang perlu kita ingat, hanya karena kita gak tahu masalah mereka, bukan berarti mereka gak punya masalah.

Baca juga:
Belum Berakhir
Tak Pernah Mudah

Kekhawatiran terhadap masa depan gak selalu buruk. Kalau kita bilang kesuksesan dalam hidup bermula dari keberhasilan mengatasi kekhawatiran, saya rasa itu kurang tepat. Seringkali justru dari kekhawatiran kita tergugah untuk mempersiapkan diri menghadapi yang terburuk.

Karena khawatir kehabisan waktu shalat, kita mencari masjid untuk singgah. Karena khawatir dengan uang tunai yang tinggal sedikit, kita menyempatkan diri mampir ke ATM. Dan karena khawatir terjadi apa-apa dengan kesehatan anak kita, kita segera melarikannya ke rumah sakit.

Kekhawatiran yang kita bicarakan bukan kekhawatiran yang membuat plonga-plongo dan terduduk di sudut ruangan sambil pasrah pada keadaan. Kita punya ide, keberanian, atau minimal naluri untuk menyelamatkan diri, yang kadang muncul saat kita khawatir.

Kekhawatiran seperti inilah yang bisa memberikan kontribusi positif bagi mental dan tindakan kita, asal kita bisa mengelolanya. Sebab, apa pun itu kalau kita gak bisa mengelolanya, kekayaan yang gak habis dimakan tujuh turunan pun akan gagal memberikan manfaat.

Lantas, bagaimana kalau kekhawatiran itu, yang menumbuhkan kesiapan dalam diri kita untuk menghadapinya, menjadi kenyataan dan ternyata membuat kita kewalahan? Dalam batas-batas tertentu, boleh kok kita kecewa dan menyesalinya. Tapi yakin deh, semua akan baik-baik saja.

Kekhawatiran kita terhadap sesuatu kadang gak proporsional. Apa yang akan kita hadapi di masa depan kadang gak semengerikan yang kita bayangkan. Bisa jadi memang gak semengerikan itu, bisa jadi juga seiring bertambahnya umur, kita lebih siap menghadapinya.

Di tengah menulis omong kosong ini, sebuah poster melintas di timeline Facebook saya. Bunyinya, “Not all storms come to disrupt your life. Some come to clear your path”. Memang, bangunan cita-cita kita kadang perlu diruntuhkan agar kita tahu pondasinya perlu diperkuat.

Sekali lagi, ini hanya omong kosong. Gak usah diresavi, ya 🙂

Tuhan Yang Mahaasyik


Kita gak pernah tahu apa yang akan terjadi di masa depan.

Source: pexel.com

Saya kadang menebak-nebak bagaimana rupa saya 20 atau 30 tahun lagi, seandainya masih diberi umur panjang sama Tuhan. Rutinitas apa yang saya gemari di usia itu, masakan apa yang sering istri saya siapkan untuk keluarga, dan cerita apa yang sering diulang-ulang oleh anak saya setiap kali kami berbincang di meja makan.

Baca juga:
Bermimpi Pun Perlu Realistis
Mari Berkenalan Kembali

Membayangkan masa depan bisa sangat menyenangkan, selama optimisme kita terhadapnya gak dirusak oleh keraguan dan prasangka buruk terhadap Tuhan. Buang jauh-jauh pertanyaan seperti ini, “Kok kayaknya sulit ya saya dan istri bisa saling percaya?” atau “Jangan-jangan pas sudah pensiun nanti gak ada yang mau merawat saya?”

Keraguan dan prasangka lebih dari cukup untuk mengacaukan hari kita saat ini dan membuat hari esok seakan-akan pantas untuk kita takuti, dan kalau bisa kita hindari. Alhasil, kita gak bisa menikmati apa yang kita miliki sekarang dan gak bisa get into sama kegiatan kita sekarang, sebab waktu kita sudah habis untuk mencemaskan apa yang akan datang.

Ragu-ragu dengan masa depan itu tanda bahwa kita belum sepenuhnya beriman pada Tuhan. Kita boleh mengaku bertuhan dan mungkin dikenal tetangga rajin menjalankan kewajiban agama, tapi selama sikap mental dan aktivitas fisik kita menunjukkan sebaliknya maka baik pengakuan maupun perilaku kita itu gak lebih dari omong kosong yang gak ada gunanya.

Bukankah berkali-kali Tuhan menyatakan bahwa Dia yang menghidupkan kita, menuliskan takdir baik dan buruk kita, serta menjamin semua kebutuhan hidup kita, baik hari ini maupun di masa depan? Ulat daun pisang saja bisa gemuk ginuk-ginuk lho gara-gara kelimpahan banyak makanan, kok kita sampai segitunya ketakutan gak bisa cari penghidupan?

Kemudian prasangka buruk. Selain merupakan perbuatan yang rendah, prasangka buruk juga bukti bahwa orang yang menyimpannya gak cukup pandai dalam merayakan hidupnya. Yang seharusnya dibikin hepi, eh malah diisi benci. Orang yang pandai akan selalu berbaik sangka pada Tuhan, sebab sejak lahir sampai detik ini, Dialah yang memenuhi kebutuhannya

Kita perlu ingat, bukan usaha kita yang membuat kita survive sampai di titik ini. Bukan kerja keras kita yang menjadikan kita sehebat sekarang. Buang jauh-jauh kegeeran yang lebay itu. Semua ini gak lain karena kasih sayang Tuhan. Kita ini, persis seperti dibilang Megatron (random ya, Mas?), hanyalah makhluk lemah dan menjijikkan, yang bisanya paling hanya meminta belas kasihan-Nya.

Kita bisa pup sebelum berangkat kerja, bisa telepon istri yang lagi ada di kampung, bisa menyantap bekal untuk makan siang (meski cuma sisa nasi goreng tadi pagi), dan bisa menerima gaji di tanggal yang seharusnya, itu semua karena kasih sayang Tuhan. Bahkan kalau nanti masuk surga (amin!), itu bukan karena amal baik kita di dunia tapi kasih sayang yang Allah curahkan pada kita.

Dalam sebuah hadis sahih yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari, Nabi Muhammad saw bersabda, “Amal baik tak akan bisa menyelamatkan siapa pun di antara kalian.” Seorang sahabat lantas bertanya, “Apa termasuk dirimu, ya Rasulallah?” “Ya,” jawab beliau, “hanya saja Allah akan mencurahkan kasih sayang-Nya padaku.”

Sekhusyuk apa sih shalat kita sampai merasa layak dibangunkan istana di surga? Sebanyak apa sedekah kita kok berani-beraninya merasa pantas menjadi penghuni surga bahkan setengah “mewajibkan” Tuhan agar memasukkan kita ke dalamnya? Shalat masih suka telat, sedekah masih kecampuran riya’, sedikit-sedikit masih membicarakan kekurangan orang lain, sudah belagu!

Kok jadi marah-marah, ya?

Begini, begini. Masa depan memang sebuah tanda tanya besar. Dan benar, kita gak perlu cemas dengan apa pun yang akan kita temui (ada Tuhan ini!), cukup pikirkan bagaimana mempersiapkan diri untuk menghadapinya. Jangan lupa, Tuhan sudah mengatur semuanya, termasuk sesuatu yang menurut kita berat dan sulit. Yakin deh, wong Dia sendiri yang janji sama kita.

Laa yukallifulloohu nafsan illaa wus’ahaa, Allah tak akan membebankan suatu hal (ujian, kewajiban) kecuali orang yang mengembannya pasti sanggup mengatasinya.”

Di sini lho asyiknya Tuhan itu. Dia gak mau kita jadi makhluk cemen yang gampang remuk dan sedikit-sedikit mengiba pada orang, jadi Dia melatih kita agar kuat dan bisa berdiri di atas kaki sendiri. Tapi, Dia juga gak mentang-mentang Tuhan lalu bertindak semena-mena dengan menimpakan ujian yang gak sanggup kita pikul. Dia memberi kita jatah ujian yang pas.

Gak terlalu gampang, agar kita gak petentang-petenteng karena merasa bisa mengatasi ujian-Nya dengan mudah, tapi gak sampai bikin semaput apalagi dirawat inap gara-gara menanggung beban hidup yang terlalu berat. Ya kalau cuma ngos-ngosan, sport jantung, mewek, dan nabrak-nabrak sih mungkin menurut Tuhan itu masih wajar.

So, Guys, stop worrying what will happen in the future. Let’s start enjoying what we have now while preparing for the next. God is always with us. I love you! *eh

Malam yang Paling Gelap


Ada saatnya usaha yang kita lakukan gak membuahkan hasil apa-apa, dan di tengah situasi yang gak menentu itu kita seperti dipaksa untuk pasrah dan menyerah pada keadaan.

Baca juga:
Kita dan Tuhan Yang Mahaasyik
Sama-sama Punya Kesempatan

Tuhan memang gak bawel dalam menerangkan mau-Nya. Dia diam, atau paling gak irit bicara, tapi maksa. Dan maksa-Nya itu gak bisa ditawar. Kita, yang ingin segala sesuatu sesuai dengan harapan, jadi kecewa, dan gak lama kemudian marah-marah.

“Ini disuruh gimana, sih? Begini salah, begitu salah!”
“Katanya Maha Penolong, ini kok kayak dibiarin gini?!”

Source: pexel.com

Berderet-deret umpatan muncul dari kekurangsabaran kita, yang sering diperparah oleh kemalasan kita untuk kembali mengingat siapa sebenarnya kita dan Dia. Kelakuan kita pun kayak anak-anak playgroup saking absurdnya: ngambek sama Tuhan, mutung. Kayak-kayak kita udah gak butuh lagi sama Dia.

Namanya makhluk, dalam keadaan seperti ini, yang bisa kita lakukan ya hanya menunggu. Mau gak mau, suka gak suka. Kalau belum waktunya, apa pun masalah kita, gak akan selesai, dan apa pun keinginan kita, gak akan kesampaian. Sejak zaman Adam dan Hawa, ‘tulisannya’ udah seperti itu.

Bertahun-tahun kita menunggu, kadang bahkan sampai lupa apa yang selama itu kita tunggu.

Kecewa udah gak terasa, harapan entah ada di mana.

Lalu, ketika penantian kita mulai terlihat tepinya dan apa yang menjadi keinginan kita terpenuhi, kebahagiaan yang kita rasakan gak bisa dijelaskan dengan kata-kata. Sensasinya luar biasa, melampaui segala ungkapan syukur. Capek gak kita rasakan, omongan orang gak kita pedulikan. Yang keluar dari mulut kita hanya alhamdulillah ….

Menurut saya, ada satu anugerah yang Tuhan berikan pada kita tapi dalam selubung yang sangat menjengkelkan, yang dengannya anugerah itu jadi tersamarkan, sehingga membuat kita kurang bisa bersabar. Kita menyebut anugerah itu: penantian.

Tuhan menurunkan anugerah itu pada orang-orang yang istimewa. Pada Zakaria yang sampai renta menanti seorang anak. Pada Yakub yang sampai buta menanti bertemu Yusuf. Dan pada Muhammad yang sampai dijauhi oleh keluarganya sendiri karena menanti Islam diterima oleh masyarakatnya.

“Jangan biarkan kesulitan membuatmu gelisah, karena bagaimanapun hanya di malam yang paling gelap bintang-bintang bersinar semakin terang,” kata Ali bin Abi Thalib, sepupu Nabi Muhammad yang kemudian ia nikahkan dengan putri kesayangannya, Fatimah.

Tentang Kita


Kita sama-sama tahu, bahwa keindahan yang kini saling kita kagumi itu pelan-pelan akan memudar. Mata yang bening akan mengeruh, dan kerlingnya yang menggoda akan tampak biasa saja.

Pipi yang merona akan berganti kerut-kerut yang menandakan betapa kita, suatu hari nanti, akan tunduk pada usia. Pada senja yang temaram dan bunyi panggilan yang sayup-sayup terdengar.

Baca juga: Sebuah Ajakan

Akan ada hari kita menghabiskan waktu dengan duduk di teras rumah dan menatap kosong ke jalan raya. Kita mengenang saat pertama bertemu dan menertawakan kebodohan yang pernah kita lakukan.

Seperti siksaan, angin sore mengusap lembut rambutmu yang sudah memutih dan memaksa tanganmu bersedekap untuk menahan dinginnya. Secangkir teh hangat yang kaubuat tak sanggup lagi menghangatkan tubuhmu.

Pernah aku menebak siapa, mengira apakah dia ataukah dia, untuk kemudian kecewa dan putus asa. Tak pernah kusangka, kaulah orangnya. Yang seakan bersembunyi saat aku mencari tapi tiba-tiba berdiri di hadapan saat aku ingin melanjutkan perjalanan.

Allah punya banyak cara untuk membuatku terkesima dengan skenario-Nya yang penuh lubang tapi seakan disengaja.

Image by Pexels from Pixabay

***

Sore itu, kau kembali bercerita tentang janji-janji yang telah kita tepati dan impian yang masih terus menanti. Sementara aku masih mondar-mandir ke masa lalu, demi menyampaikan pesan dari orang-orang yang turut menciptakan duniaku.

Surat-surat cinta masih kauterima dan tumpukan buku masih kueja maknanya. Kita saling menunjukkan sebaris kata, terkesima, bertanya-tanya, dan menertawakannya.

Baca juga: Hari Itu

Kita tak banyak berubah, meski sesekali aku mengeluhkan nyeri punggung yang semakin sering terasa dan kau tak berhenti memijit-mijit kakimu yang ngilu setelah berdiri terlalu lama. Orang lain memang melihat banyak perubahan dalam diri kita, tapi kita sama sekali tak mendapatinya.

Kau tetap cinta yang dulu kutemukan dan aku masih rindu yang mengepungmu di tengah malam.

Kita telah sepakat memulai semua ini, keputusan besar yang belum pernah kita buat sebelumnya. Satu waktu kau bercerita tentang keraguan yang terdengar dari lamunan hatimu, yang entah ke mana perginya saat kausebut namaku.

Aku lega mendengarnya, dan sangat bisa memahaminya. Bagaimanapun aku bukan siapa-siapa di kehidupanmu yang dulu. Kita bertemu semata-mata karena turut campurnya waktu.

***

Aku tak mau berjalan terlalu cepat dan meninggalkanmu, atau terlalu lambat sehingga merepotkanmu. Di jalan yang panjang dan berliku, aku ingin kita terus bersama, beriringan. Agar jika salah satu dari kita lelah, kita bisa saling menghibur dan menopang.

Kau tak perlu khawatir saat hari mulai gelap, atau cemas saat tiba-tiba langit tak kuasa menahan hujan. Aku ingin setia, seperti udara yang mengarak awan menjelajah benua.

Akan ada saat aku mengajakmu terbang ke masa-masa yang telah berlalu. Memperlihatkan padamu malam-malam ketika aku harus berjalan sendiri dan menunjukkan impian-impian masa silam yang, entah kenapa, menjadi nyata setelah aku bertemu denganmu.

Aku ingin selalu membuatmu kagum padaku, dan karena mahkota tak ada harta pun tak punya, semoga sedikit yang kulakukan bisa menyenangkanmu.

Mencintaimu tak perlu berkata-kata, menua bersamamu adalah kesibukanku selanjutnya.

Hanya Bisa Berharap


Ini adalah kali kedua istri saya memberitahu kalau isi perutnya seperti ada yang menendang-nendang.

“Dug … dug … dug,” katanya, melalui pesan Watsapp. Mungkin si adek mengajak main, mungkin juga mengajak shalawatan.

Saya pernah merindukan seseorang yang tak pernah saya temui sebelumnya. Pertama, kakek saya, dan kedua, istri saya. Buah hati saya ini sepertinya menjadi yang ketiga.

Baca juga: Untuk Anakku (1)

Kakek saya meninggal sekitar lima belas tahun sebelum saya lahir. Kata Bapak, kakek saya galaknya bukan main, tidak kalah dengan komandan koramil yang kumisnya seperti sikat sepatu itu. Tapi, beliau juga baik. Puluhan anak pernah ditampung di rumahnya yang mungil, diberi makan, dan diajari mengaji.

Istri saya, sebelum saya kenal dan kami sepakat hidup bersama, adalah orang yang saya rindukan di dalam doa-doa. Saya tidak pernah bermimpi memiliki teman hidup secantik Raisa atau Dian Sastro. Saya tahu diri, bahkan saat bermimpi pun saya tahu diri. Dan ketika doa saya terkabul, istri saya memang bukan Raisa atau Dian Sastro.*

Nah, anak dalam kandungan istri saya adalah orang ketiga yang, meski belum pernah saya jumpai juga, sudah saya rindukan kehadirannya. Minggu-minggu ini saya sering membayangkan bermain-main dengannya, membacakan buku cerita, atau mengajarinya mengaji dan shalawatan.

***

Saya bersyukur, sejauh ini si kecil baik-baik saja. Ibunya juga sama, tidak mual-mual lagi atau, seperti umumnya ibu hamil, ngidam sesuatu yang sulit dicari. Emosinya juga lebih stabil, malah sudah tidak sabar ingin melakukan ini dan itu. Mungkin boring kalau tiap hari berdiam diri terus.

Eh, ada ding keinginan istri saya yang susah dicari. Tapi, karena saking susahnya didapatkan, dia mafhum. Atau lebih tepatnya, pasrah.

Beberapa waktu lalu dia bilang ingin tojin. Katanya, itu semacam makaroni dengan bumbu khas Mesir. Sebabnya, setelah seharian buka-buka Instagram, dia melihat temannya mem-posting foto makanan yang seumur-umur belum pernah saya lihat itu. Seperti baru dapat wangsit, istri saya langsung terinspirasi.

Baca juga: Untuk Anakku (2)

Saya sih belum mencari di restoran Mesir atau Timur Tengah di sekitar Depok dan Jakarta. Tapi katanya, tojin ini jajanan kaki lima di negeri asalnya sana. Kalau di sini mungkin cilok atau gorengan. Tapi, karena istri saya maunya tojin dan bukan cilok atau gorengan, ya saya tidak mungkin membelikannya cilok atau gorengan.

Disetrap saya nanti …

***

Sampai hari ini, kami belum sepakat dengan nama anak pertama kami. Istri saya sudah dapat sebetulnya, dan saya setuju, sebelum kemudian dia mengganti satu huruf yang paling akhir. Dari Sofie menjadi Sofia. Satu huruf sih, dan maknanya tidak berubah gara-gara huruf itu. Tapi, itu sukses membuat saya berpikir ulang.

By the way, itu nama cewek. Kalau nama cowok, kami belum nemu. Saya sendiri masih galau. Kadang suka nama Abdurrahman, besoknya ingin Muhammad, lain waktu ingat Ibrahim. Saya tidak mempertimbangkan nama Jawa, seperti Soesilo, Soewito, apalagi Bambang dan Joko. Terlalu “biasa” rasanya, di samping terkesan kuno.

Kalau kami jadi memberi nama Sofie (bukan Sofia), yang berarti anak kami perempuan, mungkin buku kedua yang akan dia baca setelah Al-Quran adalah Sofies Verden, atau Dunia Sofie, karya Jostein Gaarder. Sebuah novel filsafat yang tebalnya mungkin sama dengan bantal saya yang penuh gambar pulau itu. ‘Kan namanya sama.

Baca juga: Life, So Far

Berharap masih boleh, ‘kan? Belum ada tagar untuk memboikotnya, ‘kan? Hehe, ya kalau ternyata dia lebih suka cergam tidak apa-apa, masak mau dipaksa? Lagipula, anak-anak zaman now mana ada yang suka buku filsafat? Saya sendiri sebenarnya juga malas membaca. Dunia Sofie saja sampai sekarang masih jadi pajangan di rak buku.

***

Saya kira, sembilan bulan itu akan lama, ternyata saya keliru. Rasanya baru kemarin istri saya antarkan ke klinik untuk cek kehamilan, sekarang sudah lima bulan saja usia kandungannya. Ada waktu empat bulan bagi kami untuk mempersiapkan segalanya. Bukan waktu yang lama, tapi semoga saja cukup.

Mungkin kalau anak kami sudah lahir nanti, waktu juga berjalan cepat, ya? Selama ini, saya melihat ketakjuban itu di wajah kakak-kakak saya saat mereka memperhatikan anak-anaknya. Tahu-tahu sudah lulus SD, tahu-tahu sudah pakai abu-abu-putih, tahu-tahu sudah jadi PNS. Hihi, time flies …

Apa pun itu, semoga semua yang terjadi dalam hidup kita adalah yang terbaik yang Allah berikan untuk kita. Dan, semoga kita senantiasa ingat hal itu. Mau bagaimana lagi, Dia yang punya hidup. Kalau tidak terima, kita bisa apa? Wong makan pakai nasi dan Boncabe saja sudah alhamdulillah.

Eh, kapan-kapan kita sambung lagi ya ceritanya. Mau menikmati hujan dulu. Sayang kalau tidak sambil makan Indomie goreng.

* Tuhan mungkin memang cepat mengabulkan impian yang nggak muluk-muluk seperti ini.