Kita Tidak Sendiri


Kita semua punya kekhawatiran.

Saya ingat sekali, waktu masih SD dulu hampir tiap hari selama bertahun-tahun saya “dihantui” yang namanya matematika, atau lebih tepatnya guru matematika. Belakangan saat SMP dan SMA, “hantu” itu bertambah: fisika dan kimia, dan otomatis guru fisika dan guru kimia juga.

Sampai sekarang, mimik guru masa kecil saya saat sedang marah, karena saya dan teman-teman tak paham dengan penjelasannya, masih lekat di ingatan. Sorot matanya, kerut-kerut di dahinya, kumisnya yang bergerak-gerak saat bicara, bahkan bau badannya (maksud saya, parfumnya).

Baca juga: Ketidakpastian Tak Semenakutkan Itu

Ingatan seperti itu kadang hadir dalam detail-detail yang menyiksa. Pak Wito, guru matematika saat saya SD, menghuni ingatan saya dalam wujud suara pantovelnya yang membentur lantai sekolah. Kletok, kletok…

Pak Maksum, guru matematika juga saat saya SMP, meninggalkan teriakan jarak jauh di telinga saya, yang sampai sekarang masih bisa saya ingat: “Masuuuk!”

Sementara Pak Bambang, guru kimia saya saat SMA, kadang melintas di benak dalam wujud suara vespanya yang bising dan perintahnya yang sering tiba-tiba. Baru masuk kelas langsung menyuruh murid-murid mengerjakan halaman sekian, atau baru selesai bercerita lucu langsung menyuruh salah satu murid mengerjakan soal di papan.

Kalau salah ya fatal akibatnya: tarik jambang.

Berubah Bentuk

Setelah dewasa, kekhawatiran-kekhawatiran itu mengambil bentuk yang sama sekali berbeda. Kadang tentang usia yang semakin berkurang, sementara bekal akhirat masih segitu-segitu saja.

Kadang tentang tugas-tugas kantor yang tak sesuai harapan (baca: omzet naik-turun kayak rollercoaster). Kadang tentang keluarga yang belum aman jaminan kesehatan dan pendidikannya.

Beberapa teman ada yang kepikiran masalah yang tak kalah berat. Bukan, bukan tentang “menyelamatkan dunia” atau “melakukan sesuatu yang berbeda”, tapi bagaimana memberikan manfaat kepada sesama. Meskipun itu bukan hal besar, seperti mengajari alif-ba’-ta’ anak-anak tetangga.

Baca juga: Tanda-tanda

Mungkin benar, mungkin juga salah, tapi namanya orang hidup pasti punya kekhawatiran. Tentang sesuatu yang bisa terjadi di luar kemampuannya untuk mengantisipasi. Menurut saya, itu sunnatullah, alias kewajaran belaka. Bahkan kematian.

Kita boleh ketakutan setengah mati sampai bersembunyi di balik benteng yang kokoh. Jika saatnya tiba, malaikat maut tetap akan menemukan kita.

Syahdan, seorang pria menemui Nabi Sulaiman dan memintanya agar memerintahkan angin untuk membawanya terbang ke negeri yang jauh. Tujuannya satu: agar ia selamat dari incaran malaikat maut. Pada saat yang sama, Nabi Sulaiman menyadari kedatangan sang malaikat. Matanya tajam menatap pria itu.

Tanpa banyak bicara, Nabi Sulaiman mengabulkan permintaannya, dan dalam sekejap angin membawanya terbang ke negeri yang jauh. Namun, tak lama setelah kakinya menginjak tanah, pria itu jatuh tersungkur. Ia mengerang menahan rasa sakit, sebelum kemudian badannya tak bergerak.

Di tempat itu, malaikat maut justru mencabut nyawa pria itu.

Setelah menunaikan tugasnya, sang malaikat menemui Nabi Sulaiman. Mungkin karena penasaran, beliau bertanya, “Apa yang membuatmu menatap tajam ke arah orang itu?” Malaikat menjawab, “Allah memerintahkanku mencabut nyawanya, tapi harusnya ia mati di negeri yang jauh, bukan di sini.”

Jangan Berjalan Sendiri

Penyakit, kehilangan, dan musibah itu ketetapan Allah Taala, begitu pula badan yang fit, harapan yang tercapai, dan keberuntungan. Kematian juga sama. Lebih-lebih yang terakhir itu, hanya soal giliran.

Kalau sudah giliran kita, ya akan “diangkut” juga. Kita meninggal ‘kan memang bukan karena sebab-sebab yang kasatmata tapi karena jatah hidup kita sudah habis, dengan kata lain giliran kita sudah tiba.

Kata seorang kyai yang saya lupa namanya, sakit, kecelakaan, atau kemalangan apa pun hakikatnya bukanlah sebab kematian kita. Itu hanya “pantes-pantesan” saja.

Baca juga: Saatnya Ingat Tuhan

Agama kita memberi saran yang sangat arif tentang hal itu. Ikhtiar semampunya, sambil menyerahkannya pada Yang Mahakuasa. Tawakal, atau berjalan bersama-Nya, akan membuat hidup kita lapang.

Sementara berjalan dan mengandalkan kemampuan sendiri akan membuat hidup seperti terhimpit dan lama-lama kecapaian. Rasanya sudah ngos-ngosan, ternyata masih di situ-situ saja.

Jangan pernah lupa, innallooha ma’anaa, Allah bersama kita. Jadi, kalau suatu saat Dia memanggil kita, ya kita tidak menghadap siapa-siapa. ‘Kan selama ini Dia selalu bersama kita.

Itu seperti bisikan akrab seorang teman atau kekasih yang selama ini tak berjarak dengan kita. Tinggal menyambut saja.

Kesempatan yang Sama


“Takdir seringkali memanggilmu di saat yang kurang tepat.” –Optimus Prime

Kesempatan selalu Allah berikan pada kita, untuk melakukan apa pun. Hanya saja, kita kadang tak menyadari datangnya kesempatan itu. Atau kalau menyadarinya, kita tak punya antusiasme dan semangat untuk mengambilnya. Alasannya bisa macam-macam.

Baca juga: Tahu Batasan Itu Penting

Photo by Kha Ruxury on Pexels.com

Menurut saya, kesempatan untuk mewujudkan harapan seturut dengan usia yang Allah berikan pada kita. Selama kita masih mengembuskan nafas, selama itu pula kita masih punya kesempatan. Untuk melakukan apa pun: kuliah di kampus favorit, bekerja di tempat idaman, atau sekadar jalan-jalan ke tempat-tempat yang Instagramable.

Beberapa hari ini saya berpikir, apa benar tiap orang punya kesempatan yang berbeda dalam mewujudkan harapannya? Jangan-jangan apa yang kita anggap berbeda itu bukan kesempatan, tapi tindakan atau usaha kita terhadap kenyataan yang kita terima.

Setiap orang punya kesempatan untuk melakukan apa pun. Kesempatan itu boleh jadi menyesuaikan kondisi kita, tapi ia tak pernah hilang sama sekali dari hidup kita. Maka, keberhasilan seseorang dalam hal apa saja sebenarnya lebih bergantung pada tindakan atau usahanya dalam menggunakan kesempatan itu.

Kita tentu ingat kisah seorang anak tukang becak yang dinobatkan sebagai lulusan terbaik di Universitas Diponegoro. Saya lupa namanya. Kondisinya berbeda jauh dengan teman-temannya, yang mampu-mampu, tapi toh dia berhasil juga mewujudkan impiannya menjadi sarjana.

Baca juga: Harapan Itu Kata Kerja

Kenapa bisa begitu? Karena ia melakukan tindakan atau usaha yang tepat dalam merespon kondisi dirinya (let’s say, sebagai anak dari keluarga kurang mampu) sekaligus dalam mewujudkan cita-citanya (menjadi sarjana). Belakangan saya dengar, sekarang ia bahkan tengah melanjutkan kuliah di Inggris. Luar biasa, bukan?

Apa yang kita baca dari berita itu bukan tentang seorang anak yang punya kesempatan sementara yang lainnya tidak. Baik anak tukang becak itu maupun anak-anak yang lainnya sama-sama punya kesempatan untuk kuliah, menjadi sarjana, dan memperbaiki kondisi hidupnya.

Yang membedakan adalah kondisi mereka masing-masing dan tindakan mereka dalam mengatasi kondisi tersebut, di samping usaha mereka dalam mewujudkan harapannya. Jadi, menurut saya, mengkambinghitamkan kesempatan (apalagi menyalahkan Allah) atas kegagalan kita dalam hidup itu tidak pas.

‘Kan semua sama-sama punya kesempatan untuk melakukan yang terbaik?

Tulisan Bapak


“Aku dan kamu adalah satu. Satu adalah aku dan kamu.”

Source: pixabay.com

Kata-kata itu saya baca di sebuah papan tulis yang ada di ruang tamu, tempat Bapak biasa mengeja alif-ba`-ta` bersama para tetangga. Saat membaca tulisan tersebut, saya tak sepenuhnya paham dengan maksudnya.

Beberapa tahun kemudian, terutama setelah beliau mengembuskan nafas terakhirnya saat berbaring di pangkuan Ibu, saya sering teringat kata-kata itu. Dan, entah kenapa saya merasa Bapak tak pernah benar-benar meninggalkan saya.

Pak, selepas shalat tadi, kukirimkan doa untukmu. Semoga sampai.

Natural


Kita harus mau latihan bagaimana berbicara yang baik. Apalagi sekarang, ketika imej seseorang bisa begitu mudah terbentuk dari cara bicaranya. Tanpa kemampuan bicara yang baik, orang gampang disalahpahami.

Source: pexel.com

Ya meskipun imej kadang-kadang nggak menunjukkan watak asli seseorang …

Pak Mario misalnya. Bukan maksud saya meledek ya. Tapi selama bertahun-tahun, orang Indonesia mengenal beliau sebagai bapak yang kalem dan bijaksana.

Aa Gym juga. Tutur katanya lembut dan pembawaannya tenang. Kalau sedang ceramah sambil didampingi Teh Ninih, gambaran keluarga surgawi ada di depan mata kita.

Sampai masalah menerpa hidup dan merusak imej mereka.

Tapi, bicara juga perlu natural, nggak dibuat-buat. Kalau cara bicara kita dibuat-buat, imej yang terlihat bisa liar: ganjil, maksa, nggak jujur, menutupi sesuatu, bahkan kekanak-kanakan.

Wah, runyam ya kalau belum apa-apa orang sudah salah persepsi sama kita. Maksud hati ingin mengakrabi, dia malah ngira kita punya niat jahat. Baru dideketin sudah teriak minta tolong.

Kalau boleh memilih, mending kita jadi diri sendiri. Apa adanya. Nggak jaim-jaiman. Capek lho menjadi orang lain itu. Nggak bebas dan mungkin bisa menambah beban mental.

Dan untuk itu, kita perlu latihan. Agar apa yang terbaik itu menyatu dengan diri kita. Kalau nggak gitu, seterusnya kita akan begini-begini saja. Atau kalau tiba-tiba berubah, kita seperti menjadi orang lain. Nggak natural.

Mengunjungi Kembali Masa Lalu?


Orang-orang selalu mengaitkan hujan dengan kenangan. Kenangan tentang kekasih, mantan, orangtua yang sudah berpulang, atau sahabat. Saya juga begitu. Tapi, yang paling sering saya kenang adalah diri saya sendiri, di masa lalu.

Baca juga:
Berkunjung ke Masa Lalu
Seandainya Kita Bisa Kembali Menjadi Anak-anak

Ada saat-saat saya merindukan diri saya yang dulu, saat masih ngaji di pesantren dan lebih-lebih saat berjibaku dengan masa-masa kuliah. Saat saya mengulang-ulang membaca kitab yang diajarkan bakda shalat atau sendirian menyelesaikan tugas makalah sampai larut malam.

Source: pixabay.com

Saya pernah membayangkan, betapa menyenangkan andai bisa berkunjung ke masa lalu, seperti dalam film About Time. Kita bisa memuaskan diri mengunjungi gedung-gedung, jalan, gunung, pantai, dan pasar. Menyapa ibu dan bapak yang telah tiada, sahabat yang setia mendengarkan keluh kesah, juga mereka yang pernah memiliki tempat di hati kita.

Kita bisa bepergian ke masa kapan pun kita mau. Kita bisa melompat ke zaman ketika kakek atau nenek kita baru mengenal yang namanya radio, atau ke masa ketika ibu dan bapak kita baru berkenalan. Kita menyaksikan dari dekat orang-orang kesayangan, dan secara sembunyi-sembunyi mengawasi gerak-gerik mereka.

Namun, saya berpikir ulang. Sesuatu yang menarik dan bernilai biasanya adalah sesuatu yang gak ada duanya, sulit atau malah mustahil didapatkan. Banyak cerita tentang raja-raja yang mau memberikan imbalan apa saja bagi siapa pun yang bisa menemukan air kehidupan, yang konon bisa membuat orang yang meminumnya hidup abadi.

Air kehidupan seperti itu tentu gak pernah ada. Tapi, dari cerita-cerita itu minimal kita tahu betapa berharganya sesuatu yang sulit atau mustahil untuk didapatkan. Seperti benda-benda yang menjadi legenda itu, yang lama-lama dilupakan, masa lalu mungkin sebaiknya dibiarkan berlalu dan gak usah diharapkan terulang.

Seandainya kita benar-benar bisa mengunjunginya, itu bisa-bisa justru membuatnya gak lagi berharga.

Memperalat Syariat


Satu di antara sedikit yang tak bisa kita lakukan adalah membungkam hati nurani. 

Source: google.com

Saya sengaja menyebutnya ‘sedikit’, sebab kita sering membanggakan diri, seakan kita bisa melakukan apa saja yang kita mau. Terbang ke luar angkasa, menyelam ke dasar laut, melihat dari jarak yang jauh, bahkan memahami kehendak Tuhan.

Semua orang kini mengatakan bahwa dirinya hebat, tak terkecuali kita. Kita bisa melakukan ini, kita bisa melakukan itu. Seakan tak tersisa satu pun hal mustahil di dunia ini yang tak bisa dikerjakan oleh makhluk yang disebut manusia.

Baca juga:
Berhala Itu Mungkin Ada di Dalam Diri Kita
Kita Bukan Hanya Sebuah Nama

Ketika modernitas ‘menggantikan’ hidup kita, kita mengira yang ia bawa hanya manfaat dan keuntungan. Berbagai kemudahan memang kita dapat, tapi sebenarnya tetap ada jarak yang tak terkatakan antara pengetahuan kita dan kehendak Tuhan.

Bersamaan dengan itu, entah kenapa, pelan-pelan kadar kemanusiaan kita berkurang. Kita lupa bahwa kita adalah makhluk dengan berbagai keterbatasan. Di depan orang-orang kita berteriak dan bertingkah seakan kita bukan keturunan Adam, tapi Jibril.

Kita mudah merasa benar dan sulit percaya bahwa kita bisa salah …

Kita mudah marah dengan kesalahan orang lain. Bahkan, kita mudah marah hanya karena orang lain berbeda dengan kita. Kita ingin mereka mengikuti pendapat, pemikiran, paham, aliran, agama, atau keyakinan yang sama dengan kita.

Seakan keseragaman pasti keindahan. Sulit menolak bahwa apa yang seragam itu rapi dan tertib. Tapi kadang, apa yang tunduk pada keseragaman adalah kurangnya gagasan, keberanian, dan kreativitas, sekaligus pengingkaran terhadap realitas kehidupan.

Berbeda adalah fitrah kita. Tak ada yang salah dengan itu. Tapi, kalaupun itu kita anggap sebagai kesalahan, apa susahnya memahami dan memaklumi kesalahan orang lain? Siapa sih yang tak pernah salah? Semua orang berbuat salah, bahkan orang suci.

Mata syariat kerap kita arahkan pada orang lain, tujuannya: untuk mengoreksi, mengutuk, dan merendahkan. Syariat kita peralat untuk menggebuk orang yang kita anggap berdosa dengan mencapnya kafir dan sesat, seraya mengatasnamakan Tuhan.

Pelan-pelan, kita mengambil alih tugas malaikat dan merebut wewenang Tuhan. Setiap hari, kita merasa seolah punya mandat, bahkan kuasa, untuk mengatur apa yang boleh dan tak boleh diperbuat oleh orang lain.

Namun demikian, di tengah kebebalan kita untuk memikirkan kembali hakikat diri kita, kita sebenarnya tak mampu mengabaikan nurani kita, yang berbisik lirih dan menggugat kesewenangan kita. Yang menciptakan rasa tak nyaman di hati kita.

Bisikan itu terus terdengar, kadang membuka mata kita tentang kemungkinan kita salah paham dengan orang lain, kadang menghadirkan kekhawatiran bahwa suatu saat kita bisa saja tergelincir di tempat yang sama; kita tak lagi sempurna, kita di masa depan adalah orang yang kini kita olok-olok.

Untuk Felda


Semalam, aku bermimpi tentang kita, tentang Mama, Papa, Uti, dan Mas Ariq.

Source: pexel.com

Kau tahu, apa yang kulihat dalam tidurku? Aku tak bisa menceritakan semuanya padamu, bibirku bisa tumbuh daun untuk itu. Tapi yang paling kuingat, aku melihatmu sudah tumbuh dewasa.

Kau tak lagi bermain lilin, menonton SpongeBob, atau membaca novel anak-anak yang kubelikan. Kau juga sudah berhenti merengek-rengek pada Mama saat kemauanmu tak dituruti, atau mengejar-ngejar kakakmu yang mengganti chanel TV sesukanya.

Kau sudah berubah.

Aku tak tahu persis berapa usiamu saat itu. Tapi, melihat tumpukan buku-buku tebal di kamarmu, aku rasa kau sedang berusaha menyelesaikan kuliah. Yang ada di benakmu adalah belajar dan belajar.

Aku melihat masa depan yang cerah di matamu, secerah hari-harimu saat ini. Kau tak perlu khawatir kesulitan mencari pekerjaan. Semua mahasiswa, apalagi mereka yang duduk di tingkat akhir, akan mengangkat bahu saat ditanya tentang itu.

Kau hanya perlu yakin bahwa kau akan berhasil meraih cita-citamu, setinggi apa pun itu.

Saat kanak-kanak, kita berani menentukan cita-cita. Kau pun begitu, kan? Namun saat dewasa, keberanian itu luntur. Aku tak tahu pasti sebabnya. Itu misteri buatku. Mungkin, kepolosan anak-anak adalah sumber keberanian mereka.

Saat dewasa, saat kepolosan diri itu tak lagi tersisa, sedikit demi sedikit keberanian itu hilang.

Masalah dalam hidup adalah sesuatu yang niscaya. Orang yang tak berani menentukan cita-cita mungkin karena tak memiliki kepolosan dalam dirinya. Dan, tahukah kau apa yang membuat kepolosan itu hilang? Menyerah kepada masalah.

***

Sekarang, aku akan mengatakan sesuatu yang penting. Aku ingin kau bisa mengingat kata-kataku ini: jangan pernah takut dengan masa depan! Seburuk apa pun masalah membelitmu, sedalam apa pun kesedihan menguasai hatimu, jangan pernah menyerah!

Kejar terus cita-citamu!

Lihatlah dirimu sekarang, apa pernah kau meributkan masa depan? Tidak. Kau tak cemas dengannya. Jaga baik-baik keberanian itu. Jangan biarkan masalah demi masalah yang kelak menghampirimu memporakporandakannya.

Masa depan? Anggap saja sebagai teka-teki yang menantang.

Ciganjur, 14 November 2012

Memaafkan Lebih Baik


Melupakan kesalahan orang lain kadang menenangkan.

Photo by Tirachard Kumtanom on Pexels.com

Tapi, seperti sama-sama kita pahami, lupa sebenarnya hanya masalah waktu. Suatu saat, jika kita ingat, rasa sakit akibat kesalahan itu akan kembali kita rasakan. Dan, mungkin terasa lebih menyakitkan.

Ada yang bilang, ingatan kita terhadap suatu kesedihan seringkali lebih menyedihkan ketimbang kesedihan itu sendiri. Jadi, memaafkan dengan tulus mungkin memang pilihan yang tepat.

Sok Tahu


Cinta kadang mewujud sederhana.

Source: pixabay.com

Dalam pertemuan yang tak disangka. Dalam cerita yang biasa-biasa saja. Dalam harapan yang tak muluk apalagi mengangkasa.

Tapi, sampai kapan pun cinta itu istimewa.

Benih yang hanya tumbuh di dalam hati itu tak bisa diingkari. Mustahil dihindari. Siapa pun yang merawatnya suatu saat akan melihatnya mekar berbunga.

Ikhlasin Aja?


Sejak masih kecil kita diajari untuk ikhlas.

“Sudah, ikhlaskan saja!” ujar seorang teman, saat tahu kalau saya baru kehilangan handphone lawas yang penuh dengan nomor kontak teman-teman.

“Sudah, Bu, diikhlaskan saja!” kata seorang ibu pada tetangganya, saat mendengar bahwa ipar si tetangga menjadi korban investasi bodong.

Source: pixabay.com

Ikhlas awalnya memiliki makna yang bagus, yakni kebersihan hati dan kemurnian niat. Sayangnya, makna yang bagus itu kini lebih terdengar sebagai ketidakberdayaan, keputusasaan, atau kebingungan mengambil tindakan yang tepat.

“Hidup memang begitu, terima saja,” begitu kurang lebih kalau kita ungkapkan.

Ketika kasus First Travel menyeruak dan netizen ramai-ramai membicarakan gaya hidup pemilik perusahaan itu, Andika Surachman dan Annisa Hasibuan, seseorang berkomentar di wall Facebook-nya, “Udah, sabar aja, namanya juga cobaan. Ikhlasin deh, toh mereka sesama muslim.”

Entah mulai kapan keikhlasan dipakai untuk mengunci akal sehat kita. Seolah tak ada cara lain, kini ia digunakan untuk membungkam kewarasan.