Ada Malam-malam


Ada malam-malam aku ingin pulang ke masa itu.

Foto saya pinjam dari: Pexel.com

Masa-masa jiwa kita tak ubahnya hutan rimba yang lebat. Yang tiap pohonnya menjulang, membuahkan cita-cita dan harapan.

Kita belum diracuni uang dan kemewahan, atau dipusingkan sewa rumah dan cicilan. Kita bahkan tak pernah sempat memikirkan hidup dan masa depan.

Ada malam-malam aku ingin berdua saja denganmu. Menghabiskan waktu di kantin penuh kenangan itu, menikmati secangkir sepi dan meredakan hiruk-pikuk di hati.

Hari-hari yang damai. Detik-detik yang berjalan lambat. Kita saling mendengar dan berkeluh kesah. Seakan hati kita selembar surat yang bisa dibaca dan dibolak-balik halamannya.

Tak terasa, hampir seabad sejak masa-masa itu. Tapi, aku masih bisa membayangkan rambut-rambut halus di keningmu, titik indah di dagumu, dan binar cahaya yang berloncatan di antara kerling matamu.

Masih segar dalam ingatanku bagaimana caramu bicara, menatap, membuat jantungku berderap-derap.

Tak cukup. Tak cukup kata-kata untuk menggambarkan betapa jauh kaumenyelam di dasar hatiku. Mengacak-acak diamku. Meluluhlantakkan sumpahku.

Tak sabar kuhitung hari yang memisahkan pertemuan kita. Habis sudah angka-angka untuk menghitung musim entah yang ke berapa. Abad-abad berlalu tanpa sempat aku membuka mata.

Ada malam-malam aku ingin kautahu. Bahwa hari-hari yang kita jalani bersama telah berlalu dengan penuh makna, berkat hadirmu. Tapi ruas-ruas masa yang kini kujalani tanpamu adalah kesia-siaan yang kusengaja, sebab terkenang dirimu.

Mengingatmu membuatku ingin bunuh diri. Berkali-kali.

Namamu


Aku tak pernah mengira, bahwa nama yang pertama kudengar berabad lalu hingga kini masih terngiang di telingaku yang mulai tuli ini.

Aneh, sebab tiap ingatanku menghadirkannya, bahkan caramu memperkenalkan diri dengan menyebutkan nama itu juga tergambar jelas.

Photo by Matheus Bertelli on Pexels.com

Aku tak tahu, ini anugerah atau musibah …

Yang pasti, nama itulah yang menemaniku pada hari-hari bahagiaku, juga pada saat-saat sedihku. Meski hanya sepenggal nama –sebab kau tak pernah menyebutkan nama panjangmu, kenangan membuatnya seakan abadi.

Seumpama orang, ia bisa berbisik, tertawa, menghibur, atau setidaknya membersamaiku. Ia yang selama ini menjelmakanmu di alam khayalku, menghadirkan sosokmu di antara kerinduanku padamu.

Kadang, aku bertanya-tanya di mana kau sekarang. Apa yang sedang kaulakukan. Apa yang tengah kauperjuangkan. Lalu, detik demi detik menyeretku pada kata seumpama.

Seumpama kita berjumpa, seumpama kita bersama.

Sayangnya, sering terjadi, cerita kita berhenti di situ. Tak pernah lebih jauh. Seperti tak terima aku melipir sejenak, duniaku selalu membuyarkan lamunan dan menggelandangku untuk kembali bergumul dengan kenyataan. Seperti yang sudah-sudah.

Dan aku pun melihatmu, untuk kesekian ribu kali, melambaikan tangan padaku.

Ke Mana Saja?


Sudah hampir tengah tahun. Ada banyak tugas yang harus segera saya selesaikan, di samping cerita-cerita yang rasanya perlu saya bagi. Tapi, karena lama banget gak nulis di blog ini, saya bingung mau membahas apa. Saking banyaknya cerita.

Source: pexel.com

Mm … soal tugas, biar itu jadi urusan saya saja, ya. Hehe …

Saya ingin kembali aktif menulis di sini, dan penginnya sih punya waktu luang biar secara berkala bisa menuliskan apa saja yang saya pikirkan. Mulai yang baru saja terlintas, lalu gagasan, unek-unek, rencana, hingga pengalaman di waktu-waktu sebelumnya.

Seperti cerita di bawah ini salah satunya.

***

Siang kemarin tanpa sengaja saya melihat story Watsapp seorang teman. Sahabat lama di kampung. Jarang sebenarnya saya mengomentari status atau story teman-teman saya. Kemarin, karena dia mengunggah foto tangannya yang sedang tertusuk jarum infus, saya jadi tergoda bertanya.

Teman saya usianya masih 34 tahun, sudah berkeluarga dan mempunyai anak berumur 3 tahun. Dia sendiri anak bungsu dari 2 bersaudara. Saat SMA dulu saya dekat dengannya. Kami sering ngobrol hingga berjam-jam dan pulang nyaris pagi gara-gara menonton film atau kelayapan.

Lulus SMA, dia langsung bekerja. Sementara saya, karena belum bisa mandiri, dipaksa kuliah oleh keluarga. Saya akui, dia lebih dulu hidup mandiri. Sementara saya masih tidur nyenyak di kasur, pukul 2 pagi dia sudah berangkat kerja di pasar. Maka, wajar jika saat dia sudah bisa hidup dengan jerih payahnya sendiri, saya masih nodong orangtua dan saudara-saudara.

Setelah melihat foto di story Watsapp teman saya, sambil menahan diri biar gak kelihatan terkejut, saya bertanya di kolom komentarnya, “Sakit apa?” Jawabannya membuat saya ragu, “Kanker.”

Kami biasa guyon, termasuk guyonan yang sangat kere, jorok, parah. Maka membaca jawabannya, saya mengira dia sedang bercanda.

Namun, setelah saya tanya lagi dan jawabannya gak berubah, saya langsung menghubunginya melalui video call. Teman saya yang dulu riang, suka berkelakar, dan betah melakukan pekerjaan berat itu sedang menjalani pengobatan untuk kanker yang dideritanya.

Sekitar 30 menit kami bercengkerama. Meski mengaku sudah mendingan, tampak sekali dia sedang berusaha menguatkan diri. Wajahnya pucat seperti kelelahan, rambutnya rontok akibat kemoterapi yang sudah 13 kali dia jalani.

Saya gak melihat banyak hal di layar gawai, selain wajahnya, selang infus, dan ruangan rumah sakit yang diisi oleh beberapa pasien lain.

Itu membuat saya sedih dan mengutuk diri sendiri. Saya sahabat dekatnya, tapi karena tinggal di kota yang berbeda, saya jadi terlambat tahu tentang kabarnya.

Tiga atau empat tahun ini saya memang gak pernah berkunjung ke kediaman teman-teman lama saya. Selain karena jarang pulang kampung (Ibu dan Bapak saya sudah meninggal), jatah cuti yang saya ambil memang gak pernah banyak. Jadi, saat berada di Malang, kampung halaman saya, saya gak pernah sempat menengoknya.

Di grup Watsapp, saya dan teman-teman lain sering bertukar kabar. Tapi, teman saya itu memang jarang sekali ikut nimbrung. Saya gak pernah curiga, sebab ada juga teman-teman lain yang gak aktif.

Saya menahan diri untuk gak banyak bertanya tentang sakitnya. Saya gak ingin dia larut dalam masalahnya. Kalau saya menghubunginya, pikir saya, saya harus menghibur atau menyemangatinya. Alhamdulillah, usaha saya membawa hasil.

Saya ajak teman saya mengenang masa-masa kami masih SMA. Saat kami kabur dari sekolah, saat dihukum guru ngaji, saat hidup seadanya di pesantren. Cerita-cerita sederhana, tapi berkesan.

Saya senang, karena dari seberang saya mendengar tawanya kembali.

Lebaran tahun ini saya gak berencana pulang ke Malang. Cukup ke Jogja, ke kampung istri saya. Tapi, setelah tahu keadaan teman saya itu, ingin rasanya mencari tiket kereta ke Malang. Untuk sekadar menengoknya, meski sebentar.

Dikontrol Ya, Dikontrol!


Kita semua punya pengalaman memalukan, dan sebagian di antaranya disebabkan oleh kecerobohan.

Kecerobohan dalam mengumpulkan informasi, menganalisis fakta, membandingkan pilihan-pilihan, dan…mengontrol salah satu lubang dalam tubuh kita. Lubang belakang. Maaf kalau saya jorok, tapi kali ini mari kita sedikit acak dengan membicarakan kegagalan dalam memenej kapan dan di mana sebaiknya kita kentut. Sesuatu yang remeh, tapi minimal sekali seumur hidup kita pernah kecolongan.*

Baca juga:
Masruhin & Teman-teman Kambingnya
Kasur di Rumah Saya

Saya menulis sesuatu yang nggak penting di sini, mungkin juga menjijikkan dan unfaedah. Gunakan saja istilah yang paling buruk. Tapi saya yakin, pengalaman paling remeh sekalipun, jika meninggalkan kenangan buruk dalam hidup kita, karena membuat kita malu misalnya, bisa menjadi sumber masalah. Kecuali kita bisa melupakannya, alias move on darinya.

not-hear-1760750_960_720
Sumber foto: pixabay.com

Saya pernah membaca pengalaman seorang pria yang menunggu jadwal keberangkatan pesawat di sebuah boarding room yang penuh dengan penumpang lainnya. Pria itu duduk dengan rileks sambil mendengarkan musik melalui headset yang tersambung ke handphone-nya. Nggak ada yang memedulikannya, termasuk gadis-gadis kuliahan dan rombongan biarawati yang duduk di dekatnya.

Mungkin karena capai bercanda atau kehabisan bahan obrolan, orang-orang seisi ruangan itu mulai diam. Untuk pertama kalinya setelah lebih dari setengah jam, nggak terdengar sedikit pun suara di sana. Kesunyian menguasai tempat itu. Lalu, di tengah kebosanan para penumpang menunggu jam keberangkatan dan situasi boarding room yang hening, sebuah suara terdengar dari pria tersebut, “Pruuut … prut!”

Mungkin karena lupa memakai headset, pria itu enteng menghempaskan kentutnya. Di waktu yang benar-benar tepat. “Ramai ini, nggak bakal ada yang denger kalau Gue kentut.” Mungkin begitu batinnya.

Tawa gadis-gadis meledak saat tahu asal suara itu, yang sama sekali nggak menunjukkan wajah berdosa. Sebagian dari mereka lalu menutup hidungnya dengan tangan, sementara sebagian yang lain masih melanjutkan tawanya. Para biarawati tersenyum malu-malu. Salah seorang yang duduk paling dekat dengan pria tersebut bangkit dan menjauh, sambil setengah mati menahan tawa.

Saya nggak tahu cerita itu fakta atau fiksi belaka. Tapi pertama kali membacanya, saya geli sendiri. Dan kebetulan, saya juga punya cerita yang mirip. Masih seputar kentut. Bedanya, cerita tersebut terjadi di dunia nyata, persis di depan mata saya.

Sekitar sepuluh tahun lalu, dalam perjalanan ke kampus di dalam angkot, saya melihat dua ibu-ibu penjual sayur duduk berdampingan. Badan mereka gemuk, bawaan mereka banyak. Saat itu, kursi di dalam angkot sudah penuh. Sedikit ruang tersisa di antara dua penjual sayur itu, yang kemudian diisi seorang mahasiswa perempuan yang kebetulan juga bertubuh kekar. Maksud saya … lebar.

Ibu-ibu penjual sayur itu terus berbincang, tanpa jeda, bahkan setelah ada penumpang duduk di antara keduanya. Tentang daging ayam yang semakin mahal dan kebiasaan buruk suami masing-masing. Kadang dalam bahasa Jawa, sesekali Madura. Ketika angkot sampai di depan sebuah kampus, mahasiswi tadi berniat turun. Tapi, karena ada di antara ibu-ibu berbadan gemuk dan ia sendiri juga gemuk, ia kesulitan berdiri.

Segera setelah bersantun-santun permisi dan ibu-ibu penjual sayur itu mengangkat dagangannya, mahasiswi tersebut berhasil bangkit. Dan saat berdiri dengan punggung merunduk itulah, persis ketika pantat lebarnya ada di depan wajah dua penjual sayur tadi, sebuah suara sumbang terdengar, “Pret!” Dua penjual sayur itu berpandangan, seakan nggak percaya apa yang baru saja mereka dengar.

Sang mahasiswi berjas almamater itu buru-buru melempar uang ribuan ke arah sopir, dan tanpa sempat meminta maaf langsung kabur sambil berpura-pura menerima telepon.

Tentu saja kentut sialan itu membuat wajah ibu-ibu penjual sayur merah padam, entah malu karena seumur-umur baru kali itu dikentuti anak muda kurang ajar atau kandungan amoniak dalam kentut mahasiswi tadi sudah kadung bereaksi. Yang pasti, seisi angkot pelan-pelan berani membebaskan tawanya, termasuk saya, meski sambil menutup hidung dan melempar pandang ke jalanan.

“Woo, mudun ninggal entut!”** kata salah seorang penjual sayur, marah.

Perut saya mulas ketika turun dari angkot itu, karena menahan tawa yang terlanjur meledak. Penumpang lain yang ternyata sekampus dengan saya, seorang gadis berjilbab lebar dan berwajah manis ala-ala aktivis KAMMI, sampai memegangi perutnya. Kalau bukan karena takut telat, pasti saya sudah mengajaknya ke kantin dan menemaninya tertawa, sebelum kemudian kenalan dan meminta nomor handphone-nya.

Nggak, nggak ada mutiara hikmah atau pesan moral dari dua cerita di atas. Saya hanya ingin kita membaca sebuah cerita betapa kentut, makhluk Tuhan yang sering dicaci dan dianggap hina itu, bisa sedemikian lantang menyuarakan kejujuran, atau kebenaran. tentang keadaan seseorang yang sesungguhnya. Sesuatu yang kadang nggak sanggup disuarakan oleh lubang kita yang lain: mulut.

Bayangkan kalau mulut juga mengenal situasi ketika ia nggak bisa mengeluarkan suara kecuali kejujuran atau kebenaran, saya yakin tugas KPK akan berlipat-lipat lebih ringan. Nggak perlu ada penyadapan dan pengintaian. Maling berdasi tinggal ditanya satu persatu. Hemat waktu, hemat biaya. “Papa minta saham” nggak akan bisa berkelit, mangkir dari panggilan KPK sambil memakai alat bantu pernafasan pun percuma.

* Saya sih lebih dari sekali, tapi nggak bakalan saya ceritakan di sini. Malu 🙂
** “Woo, turun ninggal kentut!”

Tulisan Bapak


“Aku dan kamu adalah satu. Satu adalah aku dan kamu.”

Source: pixabay.com

Kata-kata itu saya baca di sebuah papan tulis yang ada di ruang tamu, tempat Bapak biasa mengeja alif-ba`-ta` bersama para tetangga. Saat membaca tulisan tersebut, saya tak sepenuhnya paham dengan maksudnya.

Beberapa tahun kemudian, terutama setelah beliau mengembuskan nafas terakhirnya saat berbaring di pangkuan Ibu, saya sering teringat kata-kata itu. Dan, entah kenapa saya merasa Bapak tak pernah benar-benar meninggalkan saya.

Pak, selepas shalat tadi, kukirimkan doa untukmu. Semoga sampai.

Mengunjungi Kembali Masa Lalu?


Orang-orang selalu mengaitkan hujan dengan kenangan. Kenangan tentang kekasih, mantan, orangtua yang sudah berpulang, atau sahabat. Saya juga begitu. Tapi, yang paling sering saya kenang adalah diri saya sendiri, di masa lalu.

Baca juga:
Berkunjung ke Masa Lalu
Seandainya Kita Bisa Kembali Menjadi Anak-anak

Ada saat-saat saya merindukan diri saya yang dulu, saat masih ngaji di pesantren dan lebih-lebih saat berjibaku dengan masa-masa kuliah. Saat saya mengulang-ulang membaca kitab yang diajarkan bakda shalat atau sendirian menyelesaikan tugas makalah sampai larut malam.

Source: pixabay.com

Saya pernah membayangkan, betapa menyenangkan andai bisa berkunjung ke masa lalu, seperti dalam film About Time. Kita bisa memuaskan diri mengunjungi gedung-gedung, jalan, gunung, pantai, dan pasar. Menyapa ibu dan bapak yang telah tiada, sahabat yang setia mendengarkan keluh kesah, juga mereka yang pernah memiliki tempat di hati kita.

Kita bisa bepergian ke masa kapan pun kita mau. Kita bisa melompat ke zaman ketika kakek atau nenek kita baru mengenal yang namanya radio, atau ke masa ketika ibu dan bapak kita baru berkenalan. Kita menyaksikan dari dekat orang-orang kesayangan, dan secara sembunyi-sembunyi mengawasi gerak-gerik mereka.

Namun, saya berpikir ulang. Sesuatu yang menarik dan bernilai biasanya adalah sesuatu yang gak ada duanya, sulit atau malah mustahil didapatkan. Banyak cerita tentang raja-raja yang mau memberikan imbalan apa saja bagi siapa pun yang bisa menemukan air kehidupan, yang konon bisa membuat orang yang meminumnya hidup abadi.

Air kehidupan seperti itu tentu gak pernah ada. Tapi, dari cerita-cerita itu minimal kita tahu betapa berharganya sesuatu yang sulit atau mustahil untuk didapatkan. Seperti benda-benda yang menjadi legenda itu, yang lama-lama dilupakan, masa lalu mungkin sebaiknya dibiarkan berlalu dan gak usah diharapkan terulang.

Seandainya kita benar-benar bisa mengunjunginya, itu bisa-bisa justru membuatnya gak lagi berharga.

Mengabadikan Kenangan


Meski hidup semakin tak terpisahkan dari materi, bahkan ada yang bingung saat mau membedakan keduanya, masih ada lho barang-barang bernilai yang gak bisa dihargai dengan uang.

Source: pexel.com

Kita bisa menyebut kesehatan sebagai contoh, atau kemerdekaan dan umur yang panjang. Tapi menurut saya, itu telak. Saya ingin kita mengingat barang yang lebih remeh, tapi lebih konkret. Barang yang menyimpan kenangan, maksud saya.

Baca juga:
Kita, Kenangan, dan Impian
Seandainya …

Saya pernah punya hp murah tapi penuh kenangan. Saya lupa merknya. Saya katakan murah dan lupa merknya, karena saya mendapatkan hp itu cuma-cuma. Ani, saudara saya, menghibahkannya pada saya setelah ia membeli hp yang lebih bagus.

Yang saya ingat, warna hp itu abu-abu dan nomornya gak bisa diganti, istilahnya waktu itu “injekan”. Saat baru menggunakannya, kondisi hp itu sudah mengenaskan. Mikrofonnya gak berfungsi baik dan sinyal nomornya sangat buruk.

Apa boleh buat? Hp itulah teman saya selama kuliah: menghubungi teman yang kebetulan sekelas, bertanya pada bagian kemahasiswaan yang mengurusi pencairan beasiswa, dan tentu mengatur janji dengan seorang teman. Maksud saya … ya, teman.

Sampai sekarang, saya sudah berganti 6 hp. Saya pernah punya hp jadul dan suka rewel (maklum, hp bekas) sampai android yang meski bukan keluaran terbaru tapi bisalah dipakai untuk selfie. Hehe … Bercanda, maksud saya dipakai untuk live IG *lebihvarah.

Menariknya, justru hp jadul itulah yang sering membuat saya kangen. Mungkin karena itu hp pertama yang saya miliki, mungkin juga karena banyak kalimat modus gak mutu yang saya kirim via SMS menggunakannya.

Selain hp, saya pernah punya motor yang juga menyimpan kenangan. Dan lagi-lagi, motor itu butut. Ketika orang-orang sudah menggunakan matic, saya malah baru memilikinya. Ya maklum, mahasiswa baru lulus ‘kan yang penting punya kendaraan.

Meski nyicil …

Motor itu setia menemani saya saat baru mendapat kerja di Jakarta. Awalnya milik kakak, tapi karena kepepet, saya memberanikan diri membelinya, meski gaji saya masih pas-pasan. Untungnya, saya diperbolehkan mencicil, berapa pun besarnya.

Mirip hp jadul yang saya ceritakan di atas, kondisi motor itu ketika baru saya beli juga sudah menunjukkan “tanda-tanda penuaan”. Speedometer-nya gak jalan, starter-nya gak berfungsi, knalpotnya keropos, dan beberapa kali mogok.

Setelah satu tahun memilikinya, motor itu semakin sakit-sakitan. Semakin lama semakin parah.

Saya ingat, karena suatu hal, saya harus pindah kos-kosan. Dan saat mencari kos-kosan baru, saya harus memastikan terlebih dulu bahwa di dekatnya ada bengkel. Biar kalau motor saya lagi kumat, saya gak jauh-jauh menuntunnya.

Seiring berjalannya waktu, barang-barang berharga itu harus saya relakan, pada kondisinya yang semakin menyedihkan, pada perangkatnya yang sudah ketinggalan zaman, juga pada hasrat saya untuk mencari penggantinya.

Memang, ya … Kita mudah melupakan barang lama ketika sudah bisa mencari penggantinya yang baru.

5 Lagu Jadul Paling Romantis


Saya suka mendengarkan lagu-lagu romantis yang kurang populer. Lebih tepatnya lagu romantis zaman dulu yang kurang populer.

Source: Freepik.com

Beberapa lagu yang sedang saya bicarakan itu kebetulan berbahasa asing. Kalau kita pernah mendengarkan lagu-lagu Barat dekade 30 sampai 60-an, kita mungkin akan familiar dengan karakter lagu-lagu tersebut.

Baca juga:
5 Lagu Klasik yang Enak Didengar
Mengapa Lagu Zaman Dulu Masih Enak Didengar?

Seringkali saya mengetahui lagu-lagu itu, untuk pertama kalinya, tanpa sengaja. Kadang saat berada di sebuah kafe, kadang saat menonton film, kadang saat melihat iklan di tivi.

Lagu-lagu itu mungkin sama tuanya dengan Genjer-genjer yang dinyanyikan oleh Bing Slamet (bapaknya Adi Bing Slamet, kakek dari anaknya Adi Bing Slamet *heleh) dan Malam Jumat Kliwon yang dipopulerkan oleh PMR (Pengantar Minum Racun, digawangi oleh Jhonny Iskandar).

Bedanya, lagu-lagu yang saya ceritakan di bawah ini bertema cinta atau romantismesedangkan Genjer-genjer bertema kehidupan kaum tani dan Malam Jumat Kliwon bertema horor ngehe.

Genjer-genjer pernah dijadikan alat propaganda PKI (di film, lagu itu diputar saat Gerwani sedang membantai para jenderal), sementara Malam Jumat Kliwon adalah lagu wajib Mang Asep, yang dia putar kapan saja seingatnya. Oh ya, Mang Asep itu tetangga saya, kerja di depot air isi ulang.

Saya bikin perbandingan yang kacau banget, ya? Hehe, tak apa, yang penting ‘kan orisinal.

Oke deh, berikut lagu-lagu yang saya maksud.

1. Let It Be Me, Phil Everly

Lagu ini awalnya berbahasa Prancis, berjudul Je t’appartiens. Ditulis oleh Gilber Becaud pada tahun 1955. Versi bahasa Inggris-nya ditulis oleh Manny Curtis dan dibawakan untuk pertama kalinya oleh Jill Corey pada tahun 1957.

Everly Brothers (EB) membuat lagu ini semakin populer setelah merekam versinya sendiri. Akan tetapi, dibanding versi EB, saya lebih suka versi solonya, yang dinyanyikan oleh Phil, salah satu personel EB.

Suara Phil sangat ’empuk’ saat menyanyikannya, sedikit berbeda dengan versi EB. Melodi yang dihasilkan dari suara pianonya juga lembut dan ‘menghanyutkan’. Paduan dari keduanya adalah sebuah lagu yang romantis habis.

Bisa ditebak dong apa tema lagu ini? Yup, horor, eh, maksud saya cinta.

Saya pertama kali mendengar lagu ini saat menonton sebuah film arahan Rob Reiner, judulnya Flipped. Film ini diadaptasi dari sebuah novel berjudul sama karya Wendelin Van Draanen.

2. Love’s Been Good To Me, Frank Sinatra

Lagu ini dinyanyikan oleh penyanyi papan atas Amerika, salah satu best selling music artist of all time, pada akhir tahun 60-an, Frank Sinatra. Penyanyi yang sama juga dikenal karena mempopulerkan Fly Me To The Moon, L-O-V-E, dan lain-lain.

Tahu dong Frank Sinatra? Itu lho, suaminya Bu Sinatra. Hehe, receh!

Konon, Frank Sinatra ini tipikal penyanyi yang gampang bikin klepek-klepek kaum Hawa pada masanya. Sorot matanya, cara bertuturnya, juga gestur tubuhnya membuatnya sangat kharismatik. Mirip Him Damsyik saat masih muda.

Saya tidak tahu banyak sebenarnya tentang penyanyi ini. Tapi, kita bisa membaca biografinya di Wikipedia atau di situs yang lainnya. Sudah zamannya wifi gratis kok, masak semua harus saya tulis di sini?

3. When I Fall in Love, Nate King Cole

Dia adalah penyanyi kulit hitam Amerika pada dekade 40-50-an. Suara baritonnya lembut, lagu-lagu yang dibawakannya sangat merdu. Cole adalah satu di antara sedikit penyanyi kulit hitam Amerika yang melejit di tangga lagu Amerika saat itu, ketika sentimen terhadap orang kulit hitam masih kuat.

Cole tak hanya dikenal sebagai penyanyi papan atas, ia juga menjadi host dalam program televisi yang berjudul The Nat King Cole Show. Konon, ia menjadi host kulit hitam pertama di televisi Amerika, sesuatu yang memantik kontroversi publik.

Kalau ingin tahu seperti apa susahnya menjadi orang kulit hitam di Amerika saat itu, kita bisa menonton The Hope, Selma, atau Hidden Figure. Ketiga film itu memberi gambaran yang cukup detail tentang diskriminasi terhadap orang-orang kulit hitam.

4. L’appuntamento, Ornella Vanoni

Ini adalah lagu Italia tahun 70-an. Saya pertama tahu saat nonton Ocean’s Twelve, sebuah film tentang maling-maling perlente yang ingin menggasak perhiasan mahal berbentuk telur di Roma.

L’appuntamento artinya appointment, atau janji. Lagu ini bercerita tentang sebuah janji kencan antara seorang wanita dan pujaan hatinya. Wanita itu diliputi perasaan tak karuan saat harus menunggu teman kencannya datang.

“Jika kau tak jadi datang,” begitu kurang lebih hatinya bicara, “entah bagaimana aku menjalani sisa hidup ini.” Lirik lagu ini sangat puitis sekaligus filosofis. Berikut kutipan liriknya.

Lights, cars, shop-windows, streets
Everything gets mixed up in my mind
My shadow is tired to follow me

The day dies slowly
There is nothing else left than going back home
To my sad life, this life that I wanted to give to you

Selain bernyanyi, Vanoni juga kerap tampil di acara-acara televisi, bermain di beberapa film, dan berpose bugil untuk majalah Playboy terbitan Italia. Wew!

5. The First Time Ever I Saw Your Face, Roberta Flack

Lagu ini pernah dibawakan oleh Matt Cardle, seorang mantan tukang cat dari Inggris, dalam ajang Britain’s Got Talents. Sebenarnya sudah lama saya mendengar lagu ini. Kebetulan kakak saya pernah punya VCD evergreen lagu-lagu Barat. Dan, lagu ini adalah salah satunya.

Roberta Flack, yang pertama kali membawakan lagu ini, bisa dibilang salah satu penyanyi legendaris Amerika. Pada 1999, sekitar 30 tahun setelah ia mempopulerkan tembang di atas, namanya diabadikan dalam Hollywood Walk of Fame.

Nah, itu lima lagu jadul yang paling romantis versi saya, berikut nama penyanyinya. Kalau ada info tambahan tentang lagu-lagu di atas atau penyanyinya, silakan menambahkan di komentar ya 😆😆😆

Apa Kabar, Pak?


Aku baik-baik saja di sini, Neng juga.

Akhir-akhir ini, banyak pekerjaan yang harus kuselesaikan. Bertemu penulis, membuat laporan pertanggungjawaban, juga menyunting naskah yang harus terbit bulan depan. Itu sebabnya, baru sekarang aku bisa menulis surat untukmu.

Source: pexel.com

Neng titip salam buat Bapak. Dia bilang, masalah Ariq sudah ketemu jalan keluarnya. Alhamdulillah, setelah dibawa ke psikolog, akhirnya dia mau sekolah juga. Sekarang, hampir tiap malam kami BBM-an.

Curhat tentang gebetannya yang baru. ABG labil, seperti kita dulu.

Hari ini, umurku bertambah lagi, Pak. Untung di Facebook dan Twitter aku tak menyantumkan tanggal lahir. Gawat kalau ketahuan orang-orang, bisa diseret aku nanti ke kamar mandi, atau kalau tidak disuruh bayar makan siang.

***

Pak, besok aku akan pulang. Sudah setengah tahun aku tak menjenguk Ibu. Kangen.

Aku kadang berpikir, betapa durhakanya aku pada kalian. Setelah membesarkan, menjaga, dan mendidikku sepenuh hati, kalian malah kutinggalkan. Bagaimana perasaan kalian saat melepasku pergi dari rumah?

Neng bilang kalau Ibu sekarang sakit-sakitan. Gula darahnya semakin sulit dikontrol. Tubuhnya kurus, ubannya merata. Aku selalu ingat Ibu setiap melihat wanita seusianya di televisi atau di jalan.

Apa yang sedang ia pikirkan sekarang? Apa yang sedang ia harapkan?

Kalaupun aku tahu, Pak, aku tak yakin bisa banyak membantu.

Aku memang tak berguna. Hanya uang bulanan yang tak seberapa yang bisa kukirimkan. Padahal di usianya yang sekarang, Ibu tak hanya butuh uang.

Kasih sayang, itu yang sangat Ibu dambakan. Betapa durhakanya aku, yang membiarkan wanita paling berjasa dalam hidupku menjalani hari tuanya dengan kesepian.

Besok, aku akan bertemu Ibu kembali, insya Allah. Ada berita baik sekaligus berita buruk yang akan kusampaikan. Berita baiknya, aku sekarang sudah diangkat menjadi karyawan tetap. Aku harap, Ibu senang mendengar ini.

Berita buruknya, gajiku tak ada kenaikan. Hihi… Status karyawanku saja yang berubah, yang artinya, uang bulanan yang kukirimkan ke rumah mungkin belum bertambah. Semoga Ibu tak kecewa.

***

Sayangnya, aku tak bisa bertemu denganmu, Pak.

Andai ada kesempatan untuk bersua, kau mungkin akan bicara panjang-lebar tentang jadwal pengajianmu yang padat dan murid-muridmu yang terus bertambah. Atau kalau sedang ingin berkelakar, kau mungkin akan menceritakan masa mudamu yang penuh pengalaman menggelikan.

Kita juga bisa berbincang tentang koleksi bukumu yang berjilid-jilid itu. Kau mungkin akan membuka percakapan tentang hadits-hadits. Kau memang punya banyak kitab hadits. Tapi, jangan salahkan kalau aku hanya banyak mendengarkan. Aku tak banyak mengerti tentang itu.

Tak terasa, Pak, sebelas tahun sudah kau tak bersama kami. Aku rindu. Sesampai di Malang nanti, aku berjanji akan menjengukmu. Akan kutabur segenggam melati di pusaramu dan kukirimkan doa untukmu. Semoga Allah mengabulkan permohonanku.

Suatu hari di 2015

Aku Pikir Selesai


Tapi, kenangan tentangmu ternyata masih mengampiriku …

Mengendap-endap tanpa sepengetahuanku. Seperti angin malam yang berembus di tengah kesunyian: lembut membasuh wajahku dan pelan-pelan mengetuk pintu hatiku.

Photo by Matheus Bertelli on Pexels.com

Ingin rasanya aku mengabaikannya. Meneruskan langkah yang sudah kumulai dari kotaku. Tapi, kerlingan mata itu dan harum tubuh yang masih melekat dalam ingatanku …

Ah, siapa yang sanggup melupakannya? Siapa yang tak ingin berlama-lama dengannya?

Kau adalah satu-satunya orang yang bisa kusalahkan untuk semua ini …

Aku masih ingat jalan-jalan yang dulu kita lalui, beranda kos-kosanmu, ruang kelas, dan kantin perpustakaan. Apa kabar buku-buku kuliahmu? Bagaimana tugas-tugas makalahmu?

Sudah berabad lalu sejak pertama kita bertemu, puluhan tahun sejak aku berpamitan padamu. Tapi kau, ya … kau, masih saja mengampiriku: dengan kerlingan indah itu dan harum yang menguar dari tubuhmu.

Ada sebuah persimpangan yang memisahkan kita. Tempat kita berpandangan lama, sebelum kemudian saling melepaskan. Aku ingin kita selalu ingat persimpangan itu, agar kau terus melanjutkan langkahmu dan aku tak perlu berbalik arah lalu memanggil-manggil namamu.

Kadang, ingin rasanya aku kembali ke masa-masa itu. Pulang kepadamu. Mengetuk kembali pintu yang dulu menyambutku.

Tapi, aku takut: sekali kumasuki ruangan itu, tak kutemukan lagi cahaya dari matamu atau keharuman yang pernah kupuja-puja itu.