5 Lagu Klasik yang Enak Didengar

Saya sempat beberapa waktu belajar biola, tapi karena gak disiplin latihan, sampai bertahun-tahun biola saya gak lebih sekadar pajangan di kamar. Ada sih beberapa lagu yang sempat bisa saya mainkan, Twinkle-twinkle Little Star misalnya, tapi gara-gara jarang berlatih jadi lupa notnya.

Source: pexel.com

Hehe, gak ding. Jelek-jelek saya juga pernah bisa main Ode to Joy dan Canon yang terkenal itu. Tapi ya itu tadi, pernah …

Baca juga:
5 Lagu Jadul Paling Romantis
Mengapa Lagu Zaman Dulu Masih Enak Didengar?

Saya suka suara biola, karena menurut saya unik dan sangat menyentuh (meh!). Kesannya lebih merdu ketimbang suara alat musik yang lain, termasuk piano dan saksofon. Tapi kalau disuruh menyebutkan nama-nama pemain biola atau judul partitur lagu yang dimainkan menggunakan biola, saya gak hafal banyak.

Meski begitu, saya punya judul-judul favorit, yang betapapun sudah ratusan kali saya dengar tapi gak pernah bikin saya bosan. Beberapa lagu itu ada yang diciptakan satu atau dua abad yang lalu, ada juga yang diciptakan tahun-tahun belakangan. Ada sih perbedaannya, tapi buat pendengar awam seperti saya, semuanya sama-sama enak didengar.

Kali ini saya ingin mengenalkan lima lagu klasik favorit saya. Bukan sok classy, tapi teman-teman yang juga pernah mendengar sepakat kok kalau lima lagu ini memang bagus. Buat yang lagi jatuh cinta, digantungin, diduain, baru putus, atau suka tiba-tiba ingat mantan, minimal satu dari lima lagu ini pasti cocok didengarkan saat kamu sedang sendirian. Wkwk …

1. Canon in D Major, karya Johan Pachelbel

Sebenarnya sejak dulu lagu ini gak asing bagi saya, karena sering saya dengar sebagai soundtrack film. Tapi, waktu itu saya gak tahu judul dan penciptanya dan gak pernah berusaha mencari tahunya. Saya mulai ngeh dengannya ketika di kantor gabut lalu sok sibuk dengan mencari lagu klasik di Youtube. Kalau Teman-teman belum pernah mendengar lagu ini, coba klik link berikut.

2. Ode to Joy, karya Ludwig van Beethoven

Saya pertama kali tahu lagu ini dari sebuah iklan yang di-share di media sosial. Kalau gak salah itu adalah iklan sebuah bank di Swiss. Lagu ciptaan Beethoven ini dimainkan oleh sekelompok orang yang tiba-tiba berkumpul di sebuah pusat keramaian dengan maksud membuat kejutan pada orang-orang yang ada di sana (flashmob). Ini link-nya.

3. Air on G String, karya Johan Sebastian Bach

Ini lagu klasik yang paling juara menurut saya, setelah Canon, hihi. Kalau gak salah ingat, ini adalah lagu klasik paling awal yang saya tahu dan saya hafal. Gak cuma merdu, lagu ini juga seakan mengajak kita berkunjung ke Eropa pada zaman dulu, cocoklah sebagai musik latarnya drama-drama yang dipentaskan di gedung opera (sok tahu). Berikut link-nya.

4. Suite for Solo Cello no. 1 in G Major – Prelude, karya Johan Sebastian Bach

Lagu ini gak dimainkan menggunakan biola tapi cello. Meski begitu, minimal buat telinga saya, itu gak jadi soal. Tetap merdu. Berbeda dengan lagu-lagu sebelumnya, lagu ini terdengar lebih “semangat” dan “dinamis” (alah!). Tempo lagunya lebih cepat dan suara yang dihasilkan lebih “dalam”, mungkin karena kebanyakan yang dimainkan nada-nada rendah. Ini link-nya.

5. Cinema Paradiso, karya Ennio Morricone

Lagu ini di-compose oleh Ennio Morricone sebagai soundtrack film dengan judul yang sama. Film tersebut digarap oleh Giuseppe Tornatore, seorang sutradara film asal Italia yang juga menggarap Malena, film favorit saya. Hehe … Dibanding lagu-lagu sebelumnya, lagu ini adalah yang paling baru. Ingin mendengar lagu keren ini? Klik link berikut.

Itu lima lagu klasik favorit saya, meski gak tahu ya yang terakhir itu bisa disebut klasik apa gak, karena dibuat pada akhir tahun 80-an. Berbeda sama lagu-lagu lainnya, menurut saya lagu klasik itu sangat bisa memainkan emosi pendengarnya. Sulit bagi kita untuk gak “terseret” ke dalam suasana batin pencipta atau pemainnya (wkwk, gak tahu ini saya ngemeng apa).

Emosi kita akan semakin menyatu dengan “dunia” yang tercipta dari lagu itu jika kita menonton permainannya secara live. Saya pernah mendapat kesempatan menonton konser musik klasik seperti itu di Goethe Huis (tiketnya Rp75000) dan Salihara (gratis, rezeki anak saleh). Kesan saya saat mendengarkan lagu-lagu klasik itu dimainkan: emejing!

5 Lagu Jadul Paling Romantis

Saya suka mendengarkan lagu-lagu romantis yang kurang populer. Lebih tepatnya lagu romantis zaman dulu yang kurang populer.

Source: Freepik.com

Beberapa lagu yang sedang saya bicarakan itu kebetulan berbahasa asing. Kalau kita pernah mendengarkan lagu-lagu Barat dekade 30 sampai 60-an, kita mungkin akan familiar dengan karakter lagu-lagu tersebut.

Baca juga:
5 Lagu Klasik yang Enak Didengar
Mengapa Lagu Zaman Dulu Masih Enak Didengar?

Seringkali saya mengetahui lagu-lagu itu, untuk pertama kalinya, tanpa sengaja. Kadang saat berada di sebuah kafe, kadang saat menonton film, kadang saat melihat iklan di tivi.

Lagu-lagu itu mungkin sama tuanya dengan Genjer-genjer yang dinyanyikan oleh Bing Slamet (bapaknya Adi Bing Slamet, kakek dari anaknya Adi Bing Slamet *heleh) dan Malam Jumat Kliwon yang dipopulerkan oleh PMR (Pengantar Minum Racun, digawangi oleh Jhonny Iskandar).

Bedanya, lagu-lagu yang saya ceritakan di bawah ini bertema cinta atau romantismesedangkan Genjer-genjer bertema kehidupan kaum tani dan Malam Jumat Kliwon bertema horor ngehe.

Genjer-genjer pernah dijadikan alat propaganda PKI (di film, lagu itu diputar saat Gerwani sedang membantai para jenderal), sementara Malam Jumat Kliwon adalah lagu wajib Mang Asep, yang dia putar kapan saja seingatnya. Oh ya, Mang Asep itu tetangga saya, kerja di depot air isi ulang.

Saya bikin perbandingan yang kacau banget, ya? Hehe, tak apa, yang penting ‘kan orisinal.

Oke deh, berikut lagu-lagu yang saya maksud.

1. Let It Be Me, Phil Everly

Lagu ini awalnya berbahasa Prancis, berjudul Je t’appartiens. Ditulis oleh Gilber Becaud pada tahun 1955. Versi bahasa Inggris-nya ditulis oleh Manny Curtis dan dibawakan untuk pertama kalinya oleh Jill Corey pada tahun 1957.

Everly Brothers (EB) membuat lagu ini semakin populer setelah merekam versinya sendiri. Akan tetapi, dibanding versi EB, saya lebih suka versi solonya, yang dinyanyikan oleh Phil, salah satu personel EB.

Suara Phil sangat ’empuk’ saat menyanyikannya, sedikit berbeda dengan versi EB. Melodi yang dihasilkan dari suara pianonya juga lembut dan ‘menghanyutkan’. Paduan dari keduanya adalah sebuah lagu yang romantis habis.

Bisa ditebak dong apa tema lagu ini? Yup, horor, eh, maksud saya cinta.

Saya pertama kali mendengar lagu ini saat menonton sebuah film arahan Rob Reiner, judulnya Flipped. Film ini diadaptasi dari sebuah novel berjudul sama karya Wendelin Van Draanen.

2. Love’s Been Good To Me, Frank Sinatra

Lagu ini dinyanyikan oleh penyanyi papan atas Amerika, salah satu best selling music artist of all time, pada akhir tahun 60-an, Frank Sinatra. Penyanyi yang sama juga dikenal karena mempopulerkan Fly Me To The Moon, L-O-V-E, dan lain-lain.

Tahu dong Frank Sinatra? Itu lho, suaminya Bu Sinatra. Hehe, receh!

Konon, Frank Sinatra ini tipikal penyanyi yang gampang bikin klepek-klepek kaum Hawa pada masanya. Sorot matanya, cara bertuturnya, juga gestur tubuhnya membuatnya sangat kharismatik. Mirip Him Damsyik saat masih muda.

Saya tidak tahu banyak sebenarnya tentang penyanyi ini. Tapi, kita bisa membaca biografinya di Wikipedia atau di situs yang lainnya. Sudah zamannya wifi gratis kok, masak semua harus saya tulis di sini?

3. When I Fall in Love, Nate King Cole

Dia adalah penyanyi kulit hitam Amerika pada dekade 40-50-an. Suara baritonnya lembut, lagu-lagu yang dibawakannya sangat merdu. Cole adalah satu di antara sedikit penyanyi kulit hitam Amerika yang melejit di tangga lagu Amerika saat itu, ketika sentimen terhadap orang kulit hitam masih kuat.

Cole tak hanya dikenal sebagai penyanyi papan atas, ia juga menjadi host dalam program televisi yang berjudul The Nat King Cole Show. Konon, ia menjadi host kulit hitam pertama di televisi Amerika, sesuatu yang memantik kontroversi publik.

Kalau ingin tahu seperti apa susahnya menjadi orang kulit hitam di Amerika saat itu, kita bisa menonton The Hope, Selma, atau Hidden Figure. Ketiga film itu memberi gambaran yang cukup detail tentang diskriminasi terhadap orang-orang kulit hitam.

4. L’appuntamento, Ornella Vanoni

Ini adalah lagu Italia tahun 70-an. Saya pertama tahu saat nonton Ocean’s Twelve, sebuah film tentang maling-maling perlente yang ingin menggasak perhiasan mahal berbentuk telur di Roma.

L’appuntamento artinya appointment, atau janji. Lagu ini bercerita tentang sebuah janji kencan antara seorang wanita dan pujaan hatinya. Wanita itu diliputi perasaan tak karuan saat harus menunggu teman kencannya datang.

“Jika kau tak jadi datang,” begitu kurang lebih hatinya bicara, “entah bagaimana aku menjalani sisa hidup ini.” Lirik lagu ini sangat puitis sekaligus filosofis. Berikut kutipan liriknya.

Lights, cars, shop-windows, streets
Everything gets mixed up in my mind
My shadow is tired to follow me

The day dies slowly
There is nothing else left than going back home
To my sad life, this life that I wanted to give to you

Selain bernyanyi, Vanoni juga kerap tampil di acara-acara televisi, bermain di beberapa film, dan berpose bugil untuk majalah Playboy terbitan Italia. Wew!

5. The First Time Ever I Saw Your Face, Roberta Flack

Lagu ini pernah dibawakan oleh Matt Cardle, seorang mantan tukang cat dari Inggris, dalam ajang Britain’s Got Talents. Sebenarnya sudah lama saya mendengar lagu ini. Kebetulan kakak saya pernah punya VCD evergreen lagu-lagu Barat. Dan, lagu ini adalah salah satunya.

Roberta Flack, yang pertama kali membawakan lagu ini, bisa dibilang salah satu penyanyi legendaris Amerika. Pada 1999, sekitar 30 tahun setelah ia mempopulerkan tembang di atas, namanya diabadikan dalam Hollywood Walk of Fame.

Nah, itu lima lagu jadul yang paling romantis versi saya, berikut nama penyanyinya. Kalau ada info tambahan tentang lagu-lagu di atas atau penyanyinya, silakan menambahkan di komentar ya 😆😆😆

Mengapa Lagu Zaman Dulu Masih Enak Didengar?

Pernah tidak bertanya dalam hati, mengapa lagu-lagu zaman dulu tak pernah membosankan, malah semakin enak didengar?

Source: pixabay.com

Beberapa waktu yang lalu istri saya heran, kok playlist di laptop saya isinya lagu-lagu jadul semua. Ada lagu Barat tahun 60-70-an, tembang kenangan, lagu era 90-an, dan keroncong Jawa.

“Pantesan suka nembang,” katanya, setelah saya setengah jam jongkok di jamban sambil nembang ala kadarnya. “Lagunya jadul-jadul semua sih.”

Entah kenapa, ada keasyikan tersendiri setiap saya mendengar lagu-lagu lawas. Frank Sinatra, Everly Brothers, Broery Marantika, Chrisye, hingga Soendari Soekotjo adalah beberapa nama yang masih saya dengarkan lagu-lagunya, sampai sekarang.

Dibandingkan lagu-lagu baru, lagu-lagu zaman dulu rasanya tak mudah membosankan. Ada yang bilang karena liriknya, ada juga yang menyebut nada lagunya. Saya sendiri lebih percaya pada faktor X di dalamnya: sesuatu yang berasal dari masa lalu memang selalu asyik untuk dinikmati kembali.

Baca juga:
5 Lagu Klasik yang Enak Didengar
5 Lagu Jadul Paling Romantis, Versi Saya

Nostalgia, begitu kata orang-orang. Kalau mendengar lagu jadul, saya memang mudah membayangkan suasana yang digambarkan oleh lagu itu.

Mungkin, ini sama dengan membuka album foto yang dibuat bertahun-tahun yang lalu. Foto-foto itu mungkin sudah usang dan gambarnya mulai pudar, tapi kita tetap menyukainya. Mengapa? Karena kita tak hanya melihat kumpulan gambar diri kita atau mereka yang kita cintai, tapi juga merasakan kembali apa yang dulu pernah kita alami.

Ingatan membawa kita ke masa-masa ketika foto itu dibuat…

Ada ruang keluarga tempat kita bercengkerama dengan orangtua, teras tempat kita bermain sepulang dari sekolah, televisi dan mainan yang setia menemani kita, dan tentu saja orang-orang yang kita cintai.

Kalau foto orang terkasih yang sudah tiada kita temukan juga di album itu, kita akan semakin ‘terhisap’ ke dalam ingatan tentang masa lalu. Kita seperti hidup di masa-masa itu, saat masih bersamanya.

Mendengar lagu-lagu lawas tak berbeda. Kita bukan hanya mendengar atau menikmati suara indah penyanyinya, tapi juga mengenang. Mengenang sebuah nama, cerita, rasa, mungkin juga tawa dan air mata.

Apa yang dulu kita rasakan seolah hadir kembali. Apalagi jika lagu itu menggambarkan pengalaman pribadi kita, tentang kisah cinta kita misalnya.

Ini adalah topik yang selalu laris di dunia buku (novel, khususnya), film, dan tentu saja musik. Orang-orang menyukainya karena topik itu universal sekaligus bisa sangat personal.

Siapa yang tak pernah merasakan cinta? Atau, siapa yang masa mudanya tak berwarna-warni karena masalah cinta? Semua orang pernah merasakannya: naksir diam-diam, cinta buta pada pacar, cemburu tanpa sebab, ditolak, digantung, kangen mantan, atau tak direstui teman sekos-kosan.

Seiring waktu yang terus berganti, rasa itu menjadi penghuni tetap ingatan kita. Kita tak pernah berusaha melupakan atau setengah mati menjaganya. Mungkin sesekali saja menengoknya. Salah satunya saat kita mendengarkan lagu yang kebetulan bertutur tentangnya.

Tempat yang Jauh

Pertama kali nonton orkestra, saya seperti hidup di dunia yang jauh. Sebuah tempat yang tak pernah saya kunjungi tapi anehnya seakan sangat saya kenali.

Source: pixabay.com

Seumur hidup, saya hanya bisa menonton orkestra di layar kaca. Itu pun tak pernah selesai. Maka malam itu, di antara penonton lain yang terlihat sangat menikmati pertunjukan musik klasik itu, saya berulang kali meyakinkan diri: tidak, saya tak sedang bermimpi.

Orkestra adalah pertunjukan mewah bagi anak kampung seperti saya. Ketika satu persatu artis memainkan alat musiknya, tubuh saya seakan ringan dan melayang. Alunan musik yang tercipta dari piano, biola, cello, dan flute membuka pintu-pintu imajiner dalam diri saya yang terkunci lama.

Saya tak pernah menikmati musik seperti malam itu. Ego dan pikiran-pikiran kacau yang mengendap di alam batin saya seakan larut bersama simfoni yang keindahannya nyaris tak terkatakan. Deadline pekerjaan dan utang ke teman-teman semakin pudar dari ingatan (!).

Baca juga:
Yang Tersisa di Menteng Raya
Mengapa Lagu Zaman Dulu Masih Enak Didengar?

Jarang-jarang saya lebay seperti sekarang. Saya rasa ini karena kebingungan saya mengungkapkan keindahan yang baru malam itu saya temukan. Di kampung saya, jangankan orkestra, dangdut koplo ala Monata saja tak pernah ada.

Di tengah merdunya musik klasik malam itu, seakan ada ketenangan sekaligus kebahagiaan yang meresap ke dalam hati dan pikiran saya. Sesuatu yang tak pernah saya nikmati sebelumnya, atau setidaknya berbeda dari keasyikan membaca buku, menonton film, atau mengunjungi tempat-tempat yang bersejarah.

Kalau boleh mengenang, dua jam berada di ruangan bundar itu rasanya sangat singkat. Bagi telinga saya, lagu-lagu yang dibawakan memang kurang familiar, tak seperti lagu-lagu ST 12. Tapi, mendengar begitu banyak alat musik dimainkan bersama-sama adalah pengalaman pertama sekaligus luar biasa.

Ketika nada-nada terakhir dimainkan dan tepuk tangan penonton memenuhi ruangan, saya teringat apa yang dipesankan orang-orang tua kepada saya. Hidup kadang membawa kita pada jalan menurun yang membuat langkah begitu ringan. Di lain waktu, ia memaksa kita memanjat bukit-bukit yang menjulang.

Bukan maksud saya sok bijaksana. Ini murni reaksi otak (ndeso) saya yang shock, karena siang hari masih berjibaku dengan rutinitas yang menyebalkan, lalu malamnya duduk seruangan dengan seniman terkenal, aktor dan aktris Ibukota, juga para ekspat (termasuk Dubes Inggris, kalau tak salah). Ya…meski saya ada di ujung paling jauh di ruangan itu.

Teknik legato yang mengalir tanpa jeda dan staccato yang putus-putus adalah tamsil perjalanan hidup. Ada saatnya rencana-rencana kita terwujud begitu saja. Lancar jaya, seperti bus malamAda saatnya pula usaha kita tersendat-sendat, seperti angkot yang berhenti setiap kali melintas di depan gang yang dilewatinya.

Seperti partitur lagu, hidup adalah sebuah proses. Kalau hanya satu atau dua nada yang kita dengarkan, tak ada keindahan yang kita dapatkan. Do, re, mi… Di mana indahnya? Nada-nada itu baru terdengar merdu kalau kita rangkai menjadi sebuah lagu dan kita mainkan sebagai sebuah kesatuan.

Sebagaimana partitur sebuah lagu, kita tak akan bisa merasakan indahnya hidup jika berhenti di satu titik. Lagi pula, ‘alat musik’ itu memang bukan untuk kita mainkan sesaat tapi selamanya. Hanya dengan terus memainkannya, keindahan yang selama ini kita damba akan kita temukan.

Nah sekarang, kalau kita ingin berhenti sementara lagu yang kita mainkan belum selesai, coba pikirkan sekali lagi. Keindahan apa yang kita peroleh dengan memainkan separuh lagu? Lagi pula, jangan pernah lupa: kita tak pernah sendiri. Ada Conductor yang selalu menunjukkan arah dan memberi kita tanda-tanda.

Kukusan, 27 April 2014 (22.29 WIB)