Teleporter


Kau pernah bermimpi menjadi teleporter?

Aku baru saja selesai menonton About Time, sebuah film tentang para penjelajah waktu yang meski jalan ceritanya flat seperti kisah cintaku tapi lumayan berguna untuk mengisi waktu luangku. Ya, ya … malam minggu yang sama dan hiburan yang itu-itu saja.

Photo by Sindre Stru00f8m on Pexels.com

Seandainya aku seorang teleporter, aku mungkin tak pernah melewatkan satu hari pun di dalam hidup tanpa berkunjung ke masa-masa yang berbeda. Bisa masa lalu, atau masa depan. Sesuai keinginanku. Aku juga akan pergi ke tempat-tempat impianku. Mekah, Kordoba, Kasablanka, atau London.

Setiap Sabtu sore (ini waktu favoritku), aku akan menghilang dan muncul di salah satu sudut kota London. Aku akan mencari sebuah kafe tua yang sepi dan mengambil tempat di dekat jendela. Dua sampai tiga jam berikutnya akan kuhabiskan untuk membaca cerpen-cerpen Guy de Maupassant atau Eka Kurniawan.

Aku belum pernah ke London. Tapi, aku harap tempat yang kupilih itu tak keliru. Membaca cerpen di sebuah kafe tua ditemani secangkir kopi dan alunan In A Manner of Speaking-nya Nouvelle Vogue pasti menyenangkan. Apalagi jika sinar matahari sore menabrak kaca jendela dan menimpa wajahku.

Ketika senja datang, aku harap cerpen-cerpen yang kubawa sudah selesai kubaca. Minimal separuhnya. Sehingga, menit-menit berikutnya bisa kuhabiskan untuk memerhatikan keramaian yang tengah berlangsung di sekitarku. Kau tahu, kadang aku merasa berdiam diri di tengah keriuhan yang sedang terjadi itu magical.

***

Masa lalu menyimpan penjelasan yang masuk akal tentang masalah yang sedang kau hadapi saat ini, sementara masa depan punya segudang jawaban bagi teka-teki yang sekarang ingin kau pecahkan. Kau bisa saja berkunjung ke masa-masa itu untuk menyelesaikan urusanmu. Tapi, mungkin lebih baik kau biarkan dirimu memahami semua itu seiring berjalannya waktu.

Buat apa terburu-buru?

Sekarang bagaimana, kau mau ikut? Tak perlu khawatir. Selesai dengan urusanmu, kau bisa kembali ke tempatmu saat ini. Kalau kau memutuskan ikut, pegang erat tanganku dan pejamkan matamu. Jangan bergerak sampai hitunganku mencapai angka sepuluh!

Kau siap? Satu, dua, tiga …

6 Juli 2014, 9.50

Untuk Anakku (1)


Assalamualaikum, Nak. Bagaimana kabarmu? Semoga sehat-sehat selalu.

Akhir-akhir ini cuaca sering tak menentu. Dua minggu lalu aku terserang flu, dan seminggu berikutnya giliran ibumu yang menggantikan sakitku.

Kamu jaga kesehatan, ya!

Aku tak sedang menulis sesuatu yang mendesak. Jadi, kau tak perlu buru-buru membaca surat ini.

Aku hanya ingin sedikit bercerita tentang anugerah Allah yang Dia titipkan padaku, dan ibumu. Sesuatu yang berada di luar angan-angan kami. Sesuatu yang mengubah warna kehidupan kami.

Sesuatu itu adalah kamu.

***

Photo by Johannes Plenio on Pexels.com

Aku masih ingat. Malam itu, aku hanya bisa berserah.

Ibumu sudah merasakan nyeri yang menyiksa beberapa hari sebelum aku pulang. Sendirian menahan sakit menjelang hari kelahiranmu. Sementara aku, paling-paling hanya susah tidur. Tak sebanding, aku akui.

Begitu sampai di rumah dan menjumpainya, malam itu aku tak bisa memejamkan mata. Kami pun melewati sepi hanya dengan berpandangan, bertukar senyum, dan sesekali saling menyuruh tidur.

Malam terpanjang dalam hidupku.

Kau lahir dari rahim yang mulia, Anakku, dari seorang ibu yang luapan kasih sayangnya tak terkira. Seumur hidup, mungkin baru kali itu ia mempertaruhkan nyawanya; untuk sebuah harapan yang kami genggam sejak mengucap janji setia.

Kau akan menemukan banyak kekurangan dalam diri kami berdua, tak lama setelah melewati beberapa kali ulang tahunmu. Watak kami yang sedikit kaku akan kau keluhkan. Juga kemampuan kami yang tak selalu bisa membuatmu bahagia.

Namun, kau harus tahu, kami membesarkanmu dengan segala yang kami bisa.

Itu tak mengharuskanmu memaafkan banyaknya kekurangan kami. Tapi, orang hebat mana pun, Anakku, tak hanya dibentuk dengan belaian tapi juga tempaan.

Ini mungkin agak terburu-buru kusampaikan. Tapi, kelak setelah membaca surat ini, aku harap kau mengerti apa yang saat ini kubicarakan.

Kami ingin kau menjadi seorang anak yang kuat. Tak layu hanya karena sanjungan, atau meranggas hanya gara-gara sebuah kritikan.

Kau adalah harapan kami. Kau terbit di tengah kebahagiaan yang tercipta dalam sebuah perjalanan yang kami mulai.

Ada cinta di hati kami, yang seiring berjalannya waktu menjelma gugusan awan dan pohon-pohon rindang yang meneduhkan jalanmu.

Kami tak mencita-citakan seorang anak yang luar biasa. Kau tak perlu khawatir tentang itu.

Kau hanya perlu tumbuh.

Tumbuhlah sesuai inginmu. Tanpa takut kami marahi karena nilai Matematikamu yang buruk atau hasil ujianmu yang sekadar cukup untuk lulus.

Orangtua lain mungkin tertawa jika tahu kami tak menuntutmu begini dan begitu. Tapi, akhir-akhir ini aku menyaksikan sendiri anak-anak yang kehilangan tahun-tahun terbaik mereka hanya karena gengsi orangtuanya.

Kau punya hidup sendiri, Nak. Kau punya masa depan yang berbeda dengan kami. Jadi, jalani hidupmu dengan penuh kebahagiaan. Dengan senyuman dan hati yang lapang.

Kalau kau camkan betul kata-kataku ini, aku yakin, selamanya kau tak akan menyesal.

Masalah mungkin silih berganti menghampirimu, tapi seperti semua yang datang dalam hidup, saatnya nanti semua itu akan berlalu.

Sudah, ya. Kapan-kapan Ayah akan mengirim lagi sepucuk surat untukmu.

Salam.

Hanya Bisa Berharap


Ini adalah kali kedua istri saya memberitahu kalau isi perutnya seperti ada yang menendang-nendang.

“Dug … dug … dug,” katanya, melalui pesan Watsapp. Mungkin si adek mengajak main, mungkin juga mengajak shalawatan.

Saya pernah merindukan seseorang yang tak pernah saya temui sebelumnya. Pertama, kakek saya, dan kedua, istri saya. Buah hati saya ini sepertinya menjadi yang ketiga.

Baca juga: Untuk Anakku (1)

Kakek saya meninggal sekitar lima belas tahun sebelum saya lahir. Kata Bapak, kakek saya galaknya bukan main, tidak kalah dengan komandan koramil yang kumisnya seperti sikat sepatu itu. Tapi, beliau juga baik. Puluhan anak pernah ditampung di rumahnya yang mungil, diberi makan, dan diajari mengaji.

Istri saya, sebelum saya kenal dan kami sepakat hidup bersama, adalah orang yang saya rindukan di dalam doa-doa. Saya tidak pernah bermimpi memiliki teman hidup secantik Raisa atau Dian Sastro. Saya tahu diri, bahkan saat bermimpi pun saya tahu diri. Dan ketika doa saya terkabul, istri saya memang bukan Raisa atau Dian Sastro.*

Nah, anak dalam kandungan istri saya adalah orang ketiga yang, meski belum pernah saya jumpai juga, sudah saya rindukan kehadirannya. Minggu-minggu ini saya sering membayangkan bermain-main dengannya, membacakan buku cerita, atau mengajarinya mengaji dan shalawatan.

***

Saya bersyukur, sejauh ini si kecil baik-baik saja. Ibunya juga sama, tidak mual-mual lagi atau, seperti umumnya ibu hamil, ngidam sesuatu yang sulit dicari. Emosinya juga lebih stabil, malah sudah tidak sabar ingin melakukan ini dan itu. Mungkin boring kalau tiap hari berdiam diri terus.

Eh, ada ding keinginan istri saya yang susah dicari. Tapi, karena saking susahnya didapatkan, dia mafhum. Atau lebih tepatnya, pasrah.

Beberapa waktu lalu dia bilang ingin tojin. Katanya, itu semacam makaroni dengan bumbu khas Mesir. Sebabnya, setelah seharian buka-buka Instagram, dia melihat temannya mem-posting foto makanan yang seumur-umur belum pernah saya lihat itu. Seperti baru dapat wangsit, istri saya langsung terinspirasi.

Baca juga: Untuk Anakku (2)

Saya sih belum mencari di restoran Mesir atau Timur Tengah di sekitar Depok dan Jakarta. Tapi katanya, tojin ini jajanan kaki lima di negeri asalnya sana. Kalau di sini mungkin cilok atau gorengan. Tapi, karena istri saya maunya tojin dan bukan cilok atau gorengan, ya saya tidak mungkin membelikannya cilok atau gorengan.

Disetrap saya nanti …

***

Sampai hari ini, kami belum sepakat dengan nama anak pertama kami. Istri saya sudah dapat sebetulnya, dan saya setuju, sebelum kemudian dia mengganti satu huruf yang paling akhir. Dari Sofie menjadi Sofia. Satu huruf sih, dan maknanya tidak berubah gara-gara huruf itu. Tapi, itu sukses membuat saya berpikir ulang.

By the way, itu nama cewek. Kalau nama cowok, kami belum nemu. Saya sendiri masih galau. Kadang suka nama Abdurrahman, besoknya ingin Muhammad, lain waktu ingat Ibrahim. Saya tidak mempertimbangkan nama Jawa, seperti Soesilo, Soewito, apalagi Bambang dan Joko. Terlalu “biasa” rasanya, di samping terkesan kuno.

Kalau kami jadi memberi nama Sofie (bukan Sofia), yang berarti anak kami perempuan, mungkin buku kedua yang akan dia baca setelah Al-Quran adalah Sofies Verden, atau Dunia Sofie, karya Jostein Gaarder. Sebuah novel filsafat yang tebalnya mungkin sama dengan bantal saya yang penuh gambar pulau itu. ‘Kan namanya sama.

Baca juga: Life, So Far

Berharap masih boleh, ‘kan? Belum ada tagar untuk memboikotnya, ‘kan? Hehe, ya kalau ternyata dia lebih suka cergam tidak apa-apa, masak mau dipaksa? Lagipula, anak-anak zaman now mana ada yang suka buku filsafat? Saya sendiri sebenarnya juga malas membaca. Dunia Sofie saja sampai sekarang masih jadi pajangan di rak buku.

***

Saya kira, sembilan bulan itu akan lama, ternyata saya keliru. Rasanya baru kemarin istri saya antarkan ke klinik untuk cek kehamilan, sekarang sudah lima bulan saja usia kandungannya. Ada waktu empat bulan bagi kami untuk mempersiapkan segalanya. Bukan waktu yang lama, tapi semoga saja cukup.

Mungkin kalau anak kami sudah lahir nanti, waktu juga berjalan cepat, ya? Selama ini, saya melihat ketakjuban itu di wajah kakak-kakak saya saat mereka memperhatikan anak-anaknya. Tahu-tahu sudah lulus SD, tahu-tahu sudah pakai abu-abu-putih, tahu-tahu sudah jadi PNS. Hihi, time flies …

Apa pun itu, semoga semua yang terjadi dalam hidup kita adalah yang terbaik yang Allah berikan untuk kita. Dan, semoga kita senantiasa ingat hal itu. Mau bagaimana lagi, Dia yang punya hidup. Kalau tidak terima, kita bisa apa? Wong makan pakai nasi dan Boncabe saja sudah alhamdulillah.

Eh, kapan-kapan kita sambung lagi ya ceritanya. Mau menikmati hujan dulu. Sayang kalau tidak sambil makan Indomie goreng.

* Tuhan mungkin memang cepat mengabulkan impian yang nggak muluk-muluk seperti ini.

Konspirasi Alam Semesta


Sampai sekarang keyakinan saya gak berubah, kalau kita sungguh-sungguh mengharapkan sesuatu dan tujuan kita benar-benar mulia, pasti ada saja jalan untuk mewujudkannya.

Saya gak mengatakan jalan tersebut akan mudah, tapi ada. Mau itu setapak dan menanjak, atau berbatu dan becek, yang jelas ada.

Saya punya kerabat yang sejak kecil hidupnya serba prihatin. Belum genap berusia lima tahun orangtuanya divorce, dan sebagai single parent mamanya terpaksa kerja di luar kota, dan belakangan di luar negeri, sebagai asisten rumah tangga.

Saat masih anak-anak, hampir tiap hari kami bermain bersama. Karena usia saya lebih muda, dia sering mengalah untuk saya…

Baca juga:
Yang Tahu & Yang Tidak Tahu
Untuk Seseorang yang Saya Nantikan

Masih segar dalam ingatan saya, karena mamanya gak selalu bisa mengirim uang, sekolahnya berantakan. Jangankan uang SPP, untuk makan saja kadang-kadang gak ada.

Neneknya, satu-satunya teman di tengah kesepiannya, sering sakit-sakitan. Di samping, menurutnya, sangat cerewet. Tapi saya tahu, neneknya orang yang baik.

Pernah saya berkunjung ke rumahnya, di sebuah desa di Malang selatan. Di usia yang masih kecil, saya sudah merasa iba dengan keadaannya.

Bukan hanya rumah itu tampak gak terawat, tapi seingat saya gak satu pun isinya yang bernilai, kecuali sekaleng Astor pemberian tetangganya. Maklum, waktu itu masih dalam suasana lebaran.

Roda kehidupan berputar, dan nasib mulai berpihak padanya. Berkat kebaikan seorang saudara, ia bisa melanjutkan sekolah, dan mungkin karena merasa dibantu, ia gak ingin mengecewakan.

Hari-hari berikutnya, sangat jarang saya melihatnya tanpa memegang buku. Bahkan saat mencuci, menyetrika, atau menjelang tidur.

Apa yang terjadi setahun, dua tahun, dan beberapa tahun kemudian adalah keajaiban.

Tentu saja perjalanan hidupnya gak semudah yang saya tuliskan di sini. Makan dengan lauk apa adanya, berpakaian dengan baju sangat sederhana, dan bertingkah sebagai remaja yang gak neko-neko.

Saya malu kalau ingat saat itu. Saya merasa punya nasib yang (sedikit) lebih baik tapi kurang bisa berbagi dengannya.

Bisanya hanya bangun malam-malam, lalu mengajaknya membuat nasi goreng untuk kami makan bersama. Lauknya pun seringkali saya yang lebih banyak.

Masuk Perguruan Tinggi adalah jalannya mengubah nasib, meski tantangan yang dihadapinya lebih berat. Pernah ia hampir gak bisa bayar uang semester, kalau bukan karena kebaikan teman-temannya yang mau menyisihkan uang jajan untuknya.

Saya yakin, saudara saya itu gak pernah melupakan kebaikan mereka.

Bahkan pada masa-masa ini, mamanya belum bisa lancar mengirim uang. Maka, seperti banyak anak kuliahan yang selalu kekurangan biaya, ia memberi les pada anak-anak SD atau tingkat sekolah yang lebih tinggi. Selebihnya, ia masih setia mencuci, menyetrika, dan membantu pekerjaan rumah lainnya.

Ibu saya, yang hanya bisa membantu ala kadarnya, berusaha adil membagi kasih sayangnya untuk saya dan saudara saya itu, yang acapkali gak berhasil.

Maklum, saat itu kondisi keluarga saya juga memprihatinkan. Bapak sudah gak bekerja, sementara ibu sering sakit-sakitan. Pemasukan keluarga jauh dari kata cukup.

Setelah lulus kuliah, kabar baik datang. Sebuah perusahaan Jepang yang membuka kantor di Indonesia menerimanya bekerja. Dan tahun berikutnya, karena tuntutan pekerjaan, ia berangkat ke Negeri Sakura itu. Gak tanggung-tanggung, tiga tahun.

Masa depannya bersinar, apalagi sepulang dari sana ia langsung menikah.

Saya kadang heran dengan jalan hidup seseorang. Ia mengawalinya dengan tahun-tahun yang sulit tapi kemudian sampai pada masa-masa yang membahagiakan, yang kalau orang lain melihat mungkin akan menyebutnya keajaiban. Tapi kesabaran, persistensi, dan tentu saja perkenan Allah memang jawaban bagi keheranan itu.

Kini, saudara saya itu dikaruniai dua anak lucu; satu perempuan, satu laki-laki. Suatu saat, meski mamanya gak pernah menceritakan masa-masa perjuangannya, mereka akan tahu betapa mereka memiliki seorang mama yang luar biasa.

Orang yang tetap mengangkat kepalanya meski cobaan demi cobaan membebani pundaknya.

Mungkin, di antara sahabat-sahabat masa kecil saya, ia adalah salah satu yang paling baik, meski kadang bisa sangat menyebalkan, seperti umumnya anak-anak perempuan.

Sekarang, walau kami tinggal berjauhan, saya yakin diam-diam kami saling memperhatikan dan mendoakan.

Kita Tidak Sendiri


Kita semua punya kekhawatiran.

Saya ingat sekali, waktu masih SD dulu hampir tiap hari selama bertahun-tahun saya “dihantui” yang namanya matematika, atau lebih tepatnya guru matematika. Belakangan saat SMP dan SMA, “hantu” itu bertambah: fisika dan kimia, dan otomatis guru fisika dan guru kimia juga.

Sampai sekarang, mimik guru masa kecil saya saat sedang marah, karena saya dan teman-teman tak paham dengan penjelasannya, masih lekat di ingatan. Sorot matanya, kerut-kerut di dahinya, kumisnya yang bergerak-gerak saat bicara, bahkan bau badannya (maksud saya, parfumnya).

Baca juga: Ketidakpastian Tak Semenakutkan Itu

Ingatan seperti itu kadang hadir dalam detail-detail yang menyiksa. Pak Wito, guru matematika saat saya SD, menghuni ingatan saya dalam wujud suara pantovelnya yang membentur lantai sekolah. Kletok, kletok…

Pak Maksum, guru matematika juga saat saya SMP, meninggalkan teriakan jarak jauh di telinga saya, yang sampai sekarang masih bisa saya ingat: “Masuuuk!”

Sementara Pak Bambang, guru kimia saya saat SMA, kadang melintas di benak dalam wujud suara vespanya yang bising dan perintahnya yang sering tiba-tiba. Baru masuk kelas langsung menyuruh murid-murid mengerjakan halaman sekian, atau baru selesai bercerita lucu langsung menyuruh salah satu murid mengerjakan soal di papan.

Kalau salah ya fatal akibatnya: tarik jambang.

Berubah Bentuk

Setelah dewasa, kekhawatiran-kekhawatiran itu mengambil bentuk yang sama sekali berbeda. Kadang tentang usia yang semakin berkurang, sementara bekal akhirat masih segitu-segitu saja.

Kadang tentang tugas-tugas kantor yang tak sesuai harapan (baca: omzet naik-turun kayak rollercoaster). Kadang tentang keluarga yang belum aman jaminan kesehatan dan pendidikannya.

Beberapa teman ada yang kepikiran masalah yang tak kalah berat. Bukan, bukan tentang “menyelamatkan dunia” atau “melakukan sesuatu yang berbeda”, tapi bagaimana memberikan manfaat kepada sesama. Meskipun itu bukan hal besar, seperti mengajari alif-ba’-ta’ anak-anak tetangga.

Baca juga: Tanda-tanda

Mungkin benar, mungkin juga salah, tapi namanya orang hidup pasti punya kekhawatiran. Tentang sesuatu yang bisa terjadi di luar kemampuannya untuk mengantisipasi. Menurut saya, itu sunnatullah, alias kewajaran belaka. Bahkan kematian.

Kita boleh ketakutan setengah mati sampai bersembunyi di balik benteng yang kokoh. Jika saatnya tiba, malaikat maut tetap akan menemukan kita.

Syahdan, seorang pria menemui Nabi Sulaiman dan memintanya agar memerintahkan angin untuk membawanya terbang ke negeri yang jauh. Tujuannya satu: agar ia selamat dari incaran malaikat maut. Pada saat yang sama, Nabi Sulaiman menyadari kedatangan sang malaikat. Matanya tajam menatap pria itu.

Tanpa banyak bicara, Nabi Sulaiman mengabulkan permintaannya, dan dalam sekejap angin membawanya terbang ke negeri yang jauh. Namun, tak lama setelah kakinya menginjak tanah, pria itu jatuh tersungkur. Ia mengerang menahan rasa sakit, sebelum kemudian badannya tak bergerak.

Di tempat itu, malaikat maut justru mencabut nyawa pria itu.

Setelah menunaikan tugasnya, sang malaikat menemui Nabi Sulaiman. Mungkin karena penasaran, beliau bertanya, “Apa yang membuatmu menatap tajam ke arah orang itu?” Malaikat menjawab, “Allah memerintahkanku mencabut nyawanya, tapi harusnya ia mati di negeri yang jauh, bukan di sini.”

Jangan Berjalan Sendiri

Penyakit, kehilangan, dan musibah itu ketetapan Allah Taala, begitu pula badan yang fit, harapan yang tercapai, dan keberuntungan. Kematian juga sama. Lebih-lebih yang terakhir itu, hanya soal giliran.

Kalau sudah giliran kita, ya akan “diangkut” juga. Kita meninggal ‘kan memang bukan karena sebab-sebab yang kasatmata tapi karena jatah hidup kita sudah habis, dengan kata lain giliran kita sudah tiba.

Kata seorang kyai yang saya lupa namanya, sakit, kecelakaan, atau kemalangan apa pun hakikatnya bukanlah sebab kematian kita. Itu hanya “pantes-pantesan” saja.

Baca juga: Saatnya Ingat Tuhan

Agama kita memberi saran yang sangat arif tentang hal itu. Ikhtiar semampunya, sambil menyerahkannya pada Yang Mahakuasa. Tawakal, atau berjalan bersama-Nya, akan membuat hidup kita lapang.

Sementara berjalan dan mengandalkan kemampuan sendiri akan membuat hidup seperti terhimpit dan lama-lama kecapaian. Rasanya sudah ngos-ngosan, ternyata masih di situ-situ saja.

Jangan pernah lupa, innallooha ma’anaa, Allah bersama kita. Jadi, kalau suatu saat Dia memanggil kita, ya kita tidak menghadap siapa-siapa. ‘Kan selama ini Dia selalu bersama kita.

Itu seperti bisikan akrab seorang teman atau kekasih yang selama ini tak berjarak dengan kita. Tinggal menyambut saja.

Mengunjungi Kembali Masa Lalu?


Orang-orang selalu mengaitkan hujan dengan kenangan. Kenangan tentang kekasih, mantan, orangtua yang sudah berpulang, atau sahabat. Saya juga begitu. Tapi, yang paling sering saya kenang adalah diri saya sendiri, di masa lalu.

Baca juga:
Berkunjung ke Masa Lalu
Seandainya Kita Bisa Kembali Menjadi Anak-anak

Ada saat-saat saya merindukan diri saya yang dulu, saat masih ngaji di pesantren dan lebih-lebih saat berjibaku dengan masa-masa kuliah. Saat saya mengulang-ulang membaca kitab yang diajarkan bakda shalat atau sendirian menyelesaikan tugas makalah sampai larut malam.

Source: pixabay.com

Saya pernah membayangkan, betapa menyenangkan andai bisa berkunjung ke masa lalu, seperti dalam film About Time. Kita bisa memuaskan diri mengunjungi gedung-gedung, jalan, gunung, pantai, dan pasar. Menyapa ibu dan bapak yang telah tiada, sahabat yang setia mendengarkan keluh kesah, juga mereka yang pernah memiliki tempat di hati kita.

Kita bisa bepergian ke masa kapan pun kita mau. Kita bisa melompat ke zaman ketika kakek atau nenek kita baru mengenal yang namanya radio, atau ke masa ketika ibu dan bapak kita baru berkenalan. Kita menyaksikan dari dekat orang-orang kesayangan, dan secara sembunyi-sembunyi mengawasi gerak-gerik mereka.

Namun, saya berpikir ulang. Sesuatu yang menarik dan bernilai biasanya adalah sesuatu yang gak ada duanya, sulit atau malah mustahil didapatkan. Banyak cerita tentang raja-raja yang mau memberikan imbalan apa saja bagi siapa pun yang bisa menemukan air kehidupan, yang konon bisa membuat orang yang meminumnya hidup abadi.

Air kehidupan seperti itu tentu gak pernah ada. Tapi, dari cerita-cerita itu minimal kita tahu betapa berharganya sesuatu yang sulit atau mustahil untuk didapatkan. Seperti benda-benda yang menjadi legenda itu, yang lama-lama dilupakan, masa lalu mungkin sebaiknya dibiarkan berlalu dan gak usah diharapkan terulang.

Seandainya kita benar-benar bisa mengunjunginya, itu bisa-bisa justru membuatnya gak lagi berharga.

Untuk Felda


Semalam, aku bermimpi tentang kita, tentang Mama, Papa, Uti, dan Mas Ariq.

Source: pexel.com

Kau tahu, apa yang kulihat dalam tidurku? Aku tak bisa menceritakan semuanya padamu, bibirku bisa tumbuh daun untuk itu. Tapi yang paling kuingat, aku melihatmu sudah tumbuh dewasa.

Kau tak lagi bermain lilin, menonton SpongeBob, atau membaca novel anak-anak yang kubelikan. Kau juga sudah berhenti merengek-rengek pada Mama saat kemauanmu tak dituruti, atau mengejar-ngejar kakakmu yang mengganti chanel TV sesukanya.

Kau sudah berubah.

Aku tak tahu persis berapa usiamu saat itu. Tapi, melihat tumpukan buku-buku tebal di kamarmu, aku rasa kau sedang berusaha menyelesaikan kuliah. Yang ada di benakmu adalah belajar dan belajar.

Aku melihat masa depan yang cerah di matamu, secerah hari-harimu saat ini. Kau tak perlu khawatir kesulitan mencari pekerjaan. Semua mahasiswa, apalagi mereka yang duduk di tingkat akhir, akan mengangkat bahu saat ditanya tentang itu.

Kau hanya perlu yakin bahwa kau akan berhasil meraih cita-citamu, setinggi apa pun itu.

Saat kanak-kanak, kita berani menentukan cita-cita. Kau pun begitu, kan? Namun saat dewasa, keberanian itu luntur. Aku tak tahu pasti sebabnya. Itu misteri buatku. Mungkin, kepolosan anak-anak adalah sumber keberanian mereka.

Saat dewasa, saat kepolosan diri itu tak lagi tersisa, sedikit demi sedikit keberanian itu hilang.

Masalah dalam hidup adalah sesuatu yang niscaya. Orang yang tak berani menentukan cita-cita mungkin karena tak memiliki kepolosan dalam dirinya. Dan, tahukah kau apa yang membuat kepolosan itu hilang? Menyerah kepada masalah.

***

Sekarang, aku akan mengatakan sesuatu yang penting. Aku ingin kau bisa mengingat kata-kataku ini: jangan pernah takut dengan masa depan! Seburuk apa pun masalah membelitmu, sedalam apa pun kesedihan menguasai hatimu, jangan pernah menyerah!

Kejar terus cita-citamu!

Lihatlah dirimu sekarang, apa pernah kau meributkan masa depan? Tidak. Kau tak cemas dengannya. Jaga baik-baik keberanian itu. Jangan biarkan masalah demi masalah yang kelak menghampirimu memporakporandakannya.

Masa depan? Anggap saja sebagai teka-teki yang menantang.

Ciganjur, 14 November 2012

Seperti Baru Kemarin


Seperti baru kemarin kita menyusuri jalan setapak itu. Menjejak rerumputan di pagi hari, menyentuh embun di pucuk-pucuk daun padi.

Kita adalah anak-anak tanpa nama. Tanpa baju, bahkan celana. Tanpa kenangan yang kita banggakan atau impian yang kita puja-puja.

Baca juga:
Untuk Felda

Apa Kabar, Pak?

Kita gembira dengan kebodohan yang kita punya, bahagia dengan kebebalan yang seakan tiada habisnya.

Kita hanya tahu bagaimana tertawa dan mudah lupa bagaimana mengalirkan air mata.

Source: pixabay.com

Masihkah kau ingat rumah kenangan itu? Tempat kita belajar membuka mata dan bersama-sama mengeja a-ba-ta. Bagaimana kabar kakek yang menjaganya? Siapa yang kini menabuh bedug dan mengumandangkan panggilan-Nya?

Sungai kecil yang dulu airnya jernih, seperti apa warnanya kini? Kau tentu ingat saat kita memancing ikan di sana, atau berbagi tebu hasil mencuri entah di ladang siapa.

Kau tahu, Kawan, ada saat-saat aku ingin kembali ke masa itu. Menjadi anak-anak. Yang hanya tahu bagaimana menikmati permainan dan membuat kesalahan.

Aku menyesal menjadi seperti sekarang. Yang harus tahu bagaimana mengalahkan lawan dan membela kepentingan.

Aku juga menyesal, di tengah jalan kita harus berpisah dan melambaikan tangan.

Aku masih ingat hari-hari itu, saat sinar matahari menghangatkan badan kita dan air sungai memantulkan keperak-perakan cahayanya.

Lalu, terdengar kakek yang menjaga rumah kenangan itu sayup-sayup memanggil kita.

“Hayya ‘alal falah, hayya ‘alal falah …”

Seandainya


Kadang ingin rasanya saya kembali menjadi anak-anak. Hari demi hari saya habiskan untuk bermain, tertawa, bertengkar, menangis, lalu tertawa lagi. Indah jika hidup tak memikirkan deadline pekerjaan atau cicilan kendaraan.

Source: pexel.com

Saya masih ingat. Dulu, setiap kali Bapak, Ibu, dan kakak-kakak saya berbicang tentang sesuatu yang serius, saya pasti disuruh pergi. Bermain ke rumah tetangga, jalan-jalan ke sawah, atau ke mana saja agar saya tak mendengar “perbincangan orang-orang dewasa”.

Baca juga:
Guru Masa Kecil
Kita, Kenangan, dan Impian

Maka, yang saya rasakan saat itu adalah masa kanak-kanak yang menyenangkan. Saya tahu, keluarga saya tak selalu bahagia. Tapi, Bapak dan Ibu saya berani menjanjikan saya masa depan yang baik-baik saja.

Dua puluh tahun sejak masa-masa itu, saya semakin mudah membayangkan beratnya beban keluarga saya kala itu. Bukan perkara mudah bagi siapa pun yang tinggal serumah dengan kami untuk terlihat baik-baik saja. Tapi Bapak, Ibu, dan kakak-kakak saya berhasil melewatinya.

Kalau sadar masa-masa paling membahagiakan dalam hidup saya bersamaan dengan masa-masa paling sulit dalam keluarga, saya jadi merasa bersalah berkhayal menjadi anak-anak. Sebab, itu berarti saya merayakan saat-saat keluarga saya berada di titik terendah dalam hidup mereka.

Saya jadi ingin menganulir. Daripada kembali menjadi anak-anak, mungkin lebih baik kalau saat itu saya sudah dewasa. Menjadi anak pertama, mungkin? Agar sedikit-sedikit saya bisa meringankan beban Bapak. Menjadi tempatnya bertukar pikiran atau mencurahkan perasaan.

Di samping saya bisa bertanya tentang impian-impian dan petualangannya saat masih bujangan.

Tak Sama


Kita semua berubah…

Dua puluh tahun yang lalu, Amin dan Yayan hanya dua orang anak ingusan. Maksud saya, benar-benar ingusan. Saya mengenal mereka tak lama setelah pindah rumah dari pelosok sebuah desa di Kabupaten Pasuruan ke daerah pinggiran kota itu, Warungdowo.

Photo by Nitin Dhumal on Pexels.com

Pertemanan saya dengan Amin dan Yayan semakin akrab saat memasuki usia sekolah dasar. Kalau sebelumnya kami hanya teman bermain dan mengaji, sejak saat itu kami juga menjadi teman satu sekolah. Tak sulit membayangkan kedekatan kami bertiga, karena di rumah, masjid, dan sekolah bermain bersama.

Amin yang dulu saya kenal adalah seorang penurut. Dia sering diminta membantu ibunya membersihkan rumah atau menjaga warung. Sedang Yayan adalah tipe anak mama. Saya sering kecewa saat asyik bermain dengannya lalu tiba-tiba mamanya memanggilnya agar tidur siang, “Yayaaan.., pulaaang!!!

Kalau saya ingat, tak satu pun di antara kami yang kelewat nakal. Amin penurut, Yayan anak mama, saya…cengeng. Ingatan itulah yang mengendap di kepala saya. Hingga dewasa, Amin dan Yayan yang saya kenal adalah dua anak yang polos dan lugu.

Baca juga:
Mengapa Lagu Zaman Dulu Masih Enak Didengar?
Masruhin & Teman-teman Kambingnya

Lebaran tahun lalu, saya mengunjungi mereka. Amin punya ingatan cukup baik saat melihat saya berdiri di depan rumahnya, begitu pula Yayan. Selama lima jam lebih, kami larut dalam cerita tentang kebersamaan bertahun-tahun lalu. Tentang sawah tempat kami dulu kejar-kejaran, sungai tempat kami mencari ikan, dan malam-malam yang menyenangkan saat Ramadhan.

Amin kini bekerja sebagai penata rias, sedang Yayan aparat keamanan. Amin semula tak berterus terang sewaktu saya tanya tentang sebuah manekin dan perlengkapan rias di ruang tamunya.

“Aku kerja di pabrik obat. Itu kerjaan Mbakku,” katanya, seperti kurang nyaman dengan pertanyaan saya.

Baru setelah Yayan buka mulut, saya baru ngeh kalau Amin hanya nyamar menjadi sales obat. Profesi utamanya banyak bersentuhan dengan model-model cantik. Agaknya diam-diam dia bangga dengan hal ini. Foto profilnya di Blackberry Message (BBM) selalu berpose bareng gadis-gadis bening.

Sumber gambar: pixabay.com (https://goo.gl/Ut7mwP)Percakapan kami terus bergulir hingga menyinggung soal perempuan. Meski sudah berkeluarga, Yayan masih bertanya-tanya tentang perempuan cantik yang mungkin bisa ditidurinya.

Saya tertawa mendengarnya, meski sebenarnya kurang nyaman. Dan seperti masa bodoh, ia malah bercerita tentang teman-temannya sesama aparat yang sering keluar-masuk panti pijat, tempat-tempat favoritnya untuk berkencan, dan teman-teman kuliah saya yang mungkin bisa ‘dipake’.

Amin tak terlalu banyak menanggapi, mungkin sudah hafal dengan kelakuan Yayan. Dan mengenai perempuan, ia hanya tertarik membicarakan model-model agensi itu dalam kaitan dengan pekerjaannya. Soal pacar, ia seperti menghalau kami agar tak coba-coba menanyakannya.

Setelah kembali ke Depok, saya kadang teringat pertemuan hari itu. Waktu mengubah segalanya. Rumah yang dulu saya tempati memang masih ada, tapi jadi terlihat lebih kecil, di samping sudah berubah menjadi bank. Jalan kampung yang dulu lebar, kini terlihat sempit. Parit tempat saya dan teman-teman dulu biasa buang air juga tampak menciut.

Namun, di antara sekian banyak perubahan yang saya temui, perubahan dalam diri dua sahabat saya itu yang paling sulit saya mengerti.

Mereka bukan hanya berbeda tapi juga kontradiktif. Bayangkan, yang satu aparat keamanan dan bertampang sangar, yang satu lagi penata rias dan suka ‘melambai’. Yang satu suka main perempuan, yang satu lagi seperti tak ada hasrat.

Setelah beberapa jam berbincang, saya juga merasakan kesenjangan di antara mereka. Keduanya seolah saling mengerti ‘batas-batas wilayah’ mereka. Selain mengenang masa kanak-kanak, ada beberapa hal yang Amin enggan menyinggungnya, begitu pula Yayan.

Saya bisa mengerti. Banyak hal yang mungkin terjadi di antara keduanya, dari masa-masa sekolah dasar hingga dewasa, ketika saya tak lagi bersama mereka. Tak berbeda, saya pun malas membahas hal-hal yang agak jauh dari dunia mereka. Itu hanya akan menambah jarak di antara kami bertiga.

Mungkin ada lebih banyak perubahan dan kontradiksi dalam diri teman-teman saya itu daripada yang bisa saya tuliskan. Meski begitu, sahabat tetap sahabat, sampai kapan pun. Kita semua manusia, dan setiap manusia pasti berubah. Itu bukan sesuatu yang aneh dan mengkhawatirkan. “Change is the only constant in life,” kata Heraklitus.

Lagipula, apa yang berbeda dan kontradiktif di antara mereka adalah apa yang kita lihat dalam perjalanan mereka sekarang. Sesuatu yang sifatnya sementara. Kita tak tahu, mungkin saja di depan sana ada persimpangan yang kelak mempertemukan keduanya. Mungkin juga perjalanan mereka saat ini tak lebih dari pilihan-pilihan yang mengarah pada ujung yang sama.

Perubahan adalah bukti bahwa masih ada kehidupan dalam diri kita. Seseorang berubah menjadi A, B, atau Z, saya pikir itu soal pilihan perjalanan. Dan, masing-masing kami sepertinya memilih jalan yang berbeda. Apa pun itu, semoga akhir dari perjalanan ini sama-sama baik. Husnul khatimah.

Depok, 13 April 2013, 7.04