Khawatir Ini, Khawatir Itu


Ada banyak ketidakpastian di masa depan. Dengannya, kita sebenarnya dididik untuk lebih percaya. Pada diri sendiri, pada kehidupan, dan tentu saja pada Yang Mahakuasa.

Wajar kok mengkhawatirkan berbagai hal yang akan kita temui. Mungkin terlintas di benak kita bagaimana perkembangan penyakit yang sekarang kita derita, persoalan utang yang menggunung, atau perpisahan dengan orang yang kita cintai. Tapi, kita gak sendiri.

Orang lain juga punya kekhawatiran. Kita mungkin melihat mereka baik-baik saja, tapi seperti kita tahu, apa yang tampak kadang berbeda dengan yang tersembunyi. Yang perlu kita ingat, hanya karena kita gak tahu masalah mereka, bukan berarti mereka gak punya masalah.

Baca juga:
Belum Berakhir
Tak Pernah Mudah

Kekhawatiran terhadap masa depan gak selalu buruk. Kalau kita bilang kesuksesan dalam hidup bermula dari keberhasilan mengatasi kekhawatiran, saya rasa itu kurang tepat. Seringkali justru dari kekhawatiran kita tergugah untuk mempersiapkan diri menghadapi yang terburuk.

Karena khawatir kehabisan waktu shalat, kita mencari masjid untuk singgah. Karena khawatir dengan uang tunai yang tinggal sedikit, kita menyempatkan diri mampir ke ATM. Dan karena khawatir terjadi apa-apa dengan kesehatan anak kita, kita segera melarikannya ke rumah sakit.

Kekhawatiran yang kita bicarakan bukan kekhawatiran yang membuat plonga-plongo dan terduduk di sudut ruangan sambil pasrah pada keadaan. Kita punya ide, keberanian, atau minimal naluri untuk menyelamatkan diri, yang kadang muncul saat kita khawatir.

Kekhawatiran seperti inilah yang bisa memberikan kontribusi positif bagi mental dan tindakan kita, asal kita bisa mengelolanya. Sebab, apa pun itu kalau kita gak bisa mengelolanya, kekayaan yang gak habis dimakan tujuh turunan pun akan gagal memberikan manfaat.

Lantas, bagaimana kalau kekhawatiran itu, yang menumbuhkan kesiapan dalam diri kita untuk menghadapinya, menjadi kenyataan dan ternyata membuat kita kewalahan? Dalam batas-batas tertentu, boleh kok kita kecewa dan menyesalinya. Tapi yakin deh, semua akan baik-baik saja.

Kekhawatiran kita terhadap sesuatu kadang gak proporsional. Apa yang akan kita hadapi di masa depan kadang gak semengerikan yang kita bayangkan. Bisa jadi memang gak semengerikan itu, bisa jadi juga seiring bertambahnya umur, kita lebih siap menghadapinya.

Di tengah menulis omong kosong ini, sebuah poster melintas di timeline Facebook saya. Bunyinya, “Not all storms come to disrupt your life. Some come to clear your path”. Memang, bangunan cita-cita kita kadang perlu diruntuhkan agar kita tahu pondasinya perlu diperkuat.

Sekali lagi, ini hanya omong kosong. Gak usah diresavi, ya 🙂

Tuhan Yang Mahaasyik


Kita gak pernah tahu apa yang akan terjadi di masa depan.

Source: pexel.com

Saya kadang menebak-nebak bagaimana rupa saya 20 atau 30 tahun lagi, seandainya masih diberi umur panjang sama Tuhan. Rutinitas apa yang saya gemari di usia itu, masakan apa yang sering istri saya siapkan untuk keluarga, dan cerita apa yang sering diulang-ulang oleh anak saya setiap kali kami berbincang di meja makan.

Baca juga:
Bermimpi Pun Perlu Realistis
Mari Berkenalan Kembali

Membayangkan masa depan bisa sangat menyenangkan, selama optimisme kita terhadapnya gak dirusak oleh keraguan dan prasangka buruk terhadap Tuhan. Buang jauh-jauh pertanyaan seperti ini, “Kok kayaknya sulit ya saya dan istri bisa saling percaya?” atau “Jangan-jangan pas sudah pensiun nanti gak ada yang mau merawat saya?”

Keraguan dan prasangka lebih dari cukup untuk mengacaukan hari kita saat ini dan membuat hari esok seakan-akan pantas untuk kita takuti, dan kalau bisa kita hindari. Alhasil, kita gak bisa menikmati apa yang kita miliki sekarang dan gak bisa get into sama kegiatan kita sekarang, sebab waktu kita sudah habis untuk mencemaskan apa yang akan datang.

Ragu-ragu dengan masa depan itu tanda bahwa kita belum sepenuhnya beriman pada Tuhan. Kita boleh mengaku bertuhan dan mungkin dikenal tetangga rajin menjalankan kewajiban agama, tapi selama sikap mental dan aktivitas fisik kita menunjukkan sebaliknya maka baik pengakuan maupun perilaku kita itu gak lebih dari omong kosong yang gak ada gunanya.

Bukankah berkali-kali Tuhan menyatakan bahwa Dia yang menghidupkan kita, menuliskan takdir baik dan buruk kita, serta menjamin semua kebutuhan hidup kita, baik hari ini maupun di masa depan? Ulat daun pisang saja bisa gemuk ginuk-ginuk lho gara-gara kelimpahan banyak makanan, kok kita sampai segitunya ketakutan gak bisa cari penghidupan?

Kemudian prasangka buruk. Selain merupakan perbuatan yang rendah, prasangka buruk juga bukti bahwa orang yang menyimpannya gak cukup pandai dalam merayakan hidupnya. Yang seharusnya dibikin hepi, eh malah diisi benci. Orang yang pandai akan selalu berbaik sangka pada Tuhan, sebab sejak lahir sampai detik ini, Dialah yang memenuhi kebutuhannya

Kita perlu ingat, bukan usaha kita yang membuat kita survive sampai di titik ini. Bukan kerja keras kita yang menjadikan kita sehebat sekarang. Buang jauh-jauh kegeeran yang lebay itu. Semua ini gak lain karena kasih sayang Tuhan. Kita ini, persis seperti dibilang Megatron (random ya, Mas?), hanyalah makhluk lemah dan menjijikkan, yang bisanya paling hanya meminta belas kasihan-Nya.

Kita bisa pup sebelum berangkat kerja, bisa telepon istri yang lagi ada di kampung, bisa menyantap bekal untuk makan siang (meski cuma sisa nasi goreng tadi pagi), dan bisa menerima gaji di tanggal yang seharusnya, itu semua karena kasih sayang Tuhan. Bahkan kalau nanti masuk surga (amin!), itu bukan karena amal baik kita di dunia tapi kasih sayang yang Allah curahkan pada kita.

Dalam sebuah hadis sahih yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari, Nabi Muhammad saw bersabda, “Amal baik tak akan bisa menyelamatkan siapa pun di antara kalian.” Seorang sahabat lantas bertanya, “Apa termasuk dirimu, ya Rasulallah?” “Ya,” jawab beliau, “hanya saja Allah akan mencurahkan kasih sayang-Nya padaku.”

Sekhusyuk apa sih shalat kita sampai merasa layak dibangunkan istana di surga? Sebanyak apa sedekah kita kok berani-beraninya merasa pantas menjadi penghuni surga bahkan setengah “mewajibkan” Tuhan agar memasukkan kita ke dalamnya? Shalat masih suka telat, sedekah masih kecampuran riya’, sedikit-sedikit masih membicarakan kekurangan orang lain, sudah belagu!

Kok jadi marah-marah, ya?

Begini, begini. Masa depan memang sebuah tanda tanya besar. Dan benar, kita gak perlu cemas dengan apa pun yang akan kita temui (ada Tuhan ini!), cukup pikirkan bagaimana mempersiapkan diri untuk menghadapinya. Jangan lupa, Tuhan sudah mengatur semuanya, termasuk sesuatu yang menurut kita berat dan sulit. Yakin deh, wong Dia sendiri yang janji sama kita.

Laa yukallifulloohu nafsan illaa wus’ahaa, Allah tak akan membebankan suatu hal (ujian, kewajiban) kecuali orang yang mengembannya pasti sanggup mengatasinya.”

Di sini lho asyiknya Tuhan itu. Dia gak mau kita jadi makhluk cemen yang gampang remuk dan sedikit-sedikit mengiba pada orang, jadi Dia melatih kita agar kuat dan bisa berdiri di atas kaki sendiri. Tapi, Dia juga gak mentang-mentang Tuhan lalu bertindak semena-mena dengan menimpakan ujian yang gak sanggup kita pikul. Dia memberi kita jatah ujian yang pas.

Gak terlalu gampang, agar kita gak petentang-petenteng karena merasa bisa mengatasi ujian-Nya dengan mudah, tapi gak sampai bikin semaput apalagi dirawat inap gara-gara menanggung beban hidup yang terlalu berat. Ya kalau cuma ngos-ngosan, sport jantung, mewek, dan nabrak-nabrak sih mungkin menurut Tuhan itu masih wajar.

So, Guys, stop worrying what will happen in the future. Let’s start enjoying what we have now while preparing for the next. God is always with us. I love you! *eh

Mengabadikan Kenangan


Meski hidup semakin tak terpisahkan dari materi, bahkan ada yang bingung saat mau membedakan keduanya, masih ada lho barang-barang bernilai yang gak bisa dihargai dengan uang.

Source: pexel.com

Kita bisa menyebut kesehatan sebagai contoh, atau kemerdekaan dan umur yang panjang. Tapi menurut saya, itu telak. Saya ingin kita mengingat barang yang lebih remeh, tapi lebih konkret. Barang yang menyimpan kenangan, maksud saya.

Baca juga:
Kita, Kenangan, dan Impian
Seandainya …

Saya pernah punya hp murah tapi penuh kenangan. Saya lupa merknya. Saya katakan murah dan lupa merknya, karena saya mendapatkan hp itu cuma-cuma. Ani, saudara saya, menghibahkannya pada saya setelah ia membeli hp yang lebih bagus.

Yang saya ingat, warna hp itu abu-abu dan nomornya gak bisa diganti, istilahnya waktu itu “injekan”. Saat baru menggunakannya, kondisi hp itu sudah mengenaskan. Mikrofonnya gak berfungsi baik dan sinyal nomornya sangat buruk.

Apa boleh buat? Hp itulah teman saya selama kuliah: menghubungi teman yang kebetulan sekelas, bertanya pada bagian kemahasiswaan yang mengurusi pencairan beasiswa, dan tentu mengatur janji dengan seorang teman. Maksud saya … ya, teman.

Sampai sekarang, saya sudah berganti 6 hp. Saya pernah punya hp jadul dan suka rewel (maklum, hp bekas) sampai android yang meski bukan keluaran terbaru tapi bisalah dipakai untuk selfie. Hehe … Bercanda, maksud saya dipakai untuk live IG *lebihvarah.

Menariknya, justru hp jadul itulah yang sering membuat saya kangen. Mungkin karena itu hp pertama yang saya miliki, mungkin juga karena banyak kalimat modus gak mutu yang saya kirim via SMS menggunakannya.

Selain hp, saya pernah punya motor yang juga menyimpan kenangan. Dan lagi-lagi, motor itu butut. Ketika orang-orang sudah menggunakan matic, saya malah baru memilikinya. Ya maklum, mahasiswa baru lulus ‘kan yang penting punya kendaraan.

Meski nyicil …

Motor itu setia menemani saya saat baru mendapat kerja di Jakarta. Awalnya milik kakak, tapi karena kepepet, saya memberanikan diri membelinya, meski gaji saya masih pas-pasan. Untungnya, saya diperbolehkan mencicil, berapa pun besarnya.

Mirip hp jadul yang saya ceritakan di atas, kondisi motor itu ketika baru saya beli juga sudah menunjukkan “tanda-tanda penuaan”. Speedometer-nya gak jalan, starter-nya gak berfungsi, knalpotnya keropos, dan beberapa kali mogok.

Setelah satu tahun memilikinya, motor itu semakin sakit-sakitan. Semakin lama semakin parah.

Saya ingat, karena suatu hal, saya harus pindah kos-kosan. Dan saat mencari kos-kosan baru, saya harus memastikan terlebih dulu bahwa di dekatnya ada bengkel. Biar kalau motor saya lagi kumat, saya gak jauh-jauh menuntunnya.

Seiring berjalannya waktu, barang-barang berharga itu harus saya relakan, pada kondisinya yang semakin menyedihkan, pada perangkatnya yang sudah ketinggalan zaman, juga pada hasrat saya untuk mencari penggantinya.

Memang, ya … Kita mudah melupakan barang lama ketika sudah bisa mencari penggantinya yang baru.

Untuk Felda


Semalam, aku bermimpi tentang kita, tentang Mama, Papa, Uti, dan Mas Ariq.

Source: pexel.com

Kau tahu, apa yang kulihat dalam tidurku? Aku tak bisa menceritakan semuanya padamu, bibirku bisa tumbuh daun untuk itu. Tapi yang paling kuingat, aku melihatmu sudah tumbuh dewasa.

Kau tak lagi bermain lilin, menonton SpongeBob, atau membaca novel anak-anak yang kubelikan. Kau juga sudah berhenti merengek-rengek pada Mama saat kemauanmu tak dituruti, atau mengejar-ngejar kakakmu yang mengganti chanel TV sesukanya.

Kau sudah berubah.

Aku tak tahu persis berapa usiamu saat itu. Tapi, melihat tumpukan buku-buku tebal di kamarmu, aku rasa kau sedang berusaha menyelesaikan kuliah. Yang ada di benakmu adalah belajar dan belajar.

Aku melihat masa depan yang cerah di matamu, secerah hari-harimu saat ini. Kau tak perlu khawatir kesulitan mencari pekerjaan. Semua mahasiswa, apalagi mereka yang duduk di tingkat akhir, akan mengangkat bahu saat ditanya tentang itu.

Kau hanya perlu yakin bahwa kau akan berhasil meraih cita-citamu, setinggi apa pun itu.

Saat kanak-kanak, kita berani menentukan cita-cita. Kau pun begitu, kan? Namun saat dewasa, keberanian itu luntur. Aku tak tahu pasti sebabnya. Itu misteri buatku. Mungkin, kepolosan anak-anak adalah sumber keberanian mereka.

Saat dewasa, saat kepolosan diri itu tak lagi tersisa, sedikit demi sedikit keberanian itu hilang.

Masalah dalam hidup adalah sesuatu yang niscaya. Orang yang tak berani menentukan cita-cita mungkin karena tak memiliki kepolosan dalam dirinya. Dan, tahukah kau apa yang membuat kepolosan itu hilang? Menyerah kepada masalah.

***

Sekarang, aku akan mengatakan sesuatu yang penting. Aku ingin kau bisa mengingat kata-kataku ini: jangan pernah takut dengan masa depan! Seburuk apa pun masalah membelitmu, sedalam apa pun kesedihan menguasai hatimu, jangan pernah menyerah!

Kejar terus cita-citamu!

Lihatlah dirimu sekarang, apa pernah kau meributkan masa depan? Tidak. Kau tak cemas dengannya. Jaga baik-baik keberanian itu. Jangan biarkan masalah demi masalah yang kelak menghampirimu memporakporandakannya.

Masa depan? Anggap saja sebagai teka-teki yang menantang.

Ciganjur, 14 November 2012

Mengamini Harapan


Seminggu yang lalu saya dan teman-teman di kantor menuliskan harapan kami satu, sepuluh, dan dua puluh tahun dari sekarang. Kami saling mengamini harapan-harapan itu sambil sesekali tertawa saat ada satu atau dua komentar lucu yang terdengar.

Source: pexel.com

Itu sebenarnya ide spontan di antara kami. Kami tahu, kami tak mungkin bersama selamanya. Saatnya nanti kami akan mengucapkan selamat tinggal. Kami tak tahu apa yang akan terjadi esok, lusa, setahun, sepuluh tahun, apalagi dua puluh tahun lagi.

Apakah kami memiliki masa depan seperti yang sekarang kami harap-harapkan? Apakah saya, Mas Epeng, Mbak Tri, Ulul, dan Hirman masih tetap saling berhubungan? Apakah kami masih diberi umur panjang untuk melihat dunia di tahun 2037?

Baca juga:
Ikhlas dan Ungkapan Putus Asa
Saat Kita Merasa Hebat

Dalam perbincangan pagi itu, kami tampaknya tak hanya menuliskan harapan tapi juga membayangkannya. Ya, kami membayangkan harapan-harapan itu sudah ada dalam genggaman. Kami merasakan kebahagiaan atas apa yang kami impikan.

Saya membayangkan, di satu pagi nanti saya akan mengantarkan anak saya menuntut ilmu di pesantren. Saya akan membekali semua kebutuhannya saat berada jauh dari rumah, sambil terus meyakinkannya bahwa saya tak sedang membuangnya.

Saya hanya ingin ia melanjutkan tradisi dalam keluarga: bahwa saya, bapak saya, dan kakek saya juga pergi ke pesantren saat seusianya. Saya ingin ia melanjutkan tradisi keluarga, sesuatu yang mungkin membuat masa remajanya sedikit berbeda.

Ada banyak harapan yang kami bincangkan di ruangan kerja kami, pagi itu. Tentu kami sadar, ada jalan yang membentang sebelum sebuah harapan menjelma kenyataan. Tapi, ada rasa bangga saat kami menuliskan dan kemudian menyampaikannya.

Kita semua boleh berharap apa saja dalam hidup, sekonyol apa pun itu. Saya malah merasa iba kalau ada teman yang tak berani berharap, dengan alasan bahwa berharap adalah sumber kekecewaan, dan kekecewaan akan mendatangkan kesedihan.

Apakah tanpa berharap kita otomatis akan terhindar dari kekecewaan? Apakah kalau kita kecewa maka kita akan terpuruk dalam kesedihan?

Saya jadi ingat kata-kata seorang teman, bahwa jiwa yang masih hidup tak akan segan untuk berharap. Harapan adalah bara yang terus menyala dalam diri kita. Selama harapan itu ada, selama itu pula bara tersebut tetap menyala.

Kalau ingin bara itu membesar, kita cukup mencari kayu bakar. Apa kayu bakar itu? Keyakinan dan usaha. Keyakinan bahwa apa yang kita harapkan itu suatu saat nanti akan menjadi kenyataan, dan untuk itu kita harus mengerahkan segala usaha yang kita mampu untuk mewujudkannya.

Saya penasaran, dua puluh tahun dari sekarang, akankah saya, Mas Epeng, Mbak Tri, Ulul, dan Hirman masih bisa mengingat harapan-harapan yang kami bincangkan pagi itu? Bisa mengingat dengan baik harapan-harapan itu adalah anugerah, dan bisa mengingatnya di tengah kenyataan yang bermula dari harapan-harapan itu adalah anugerah yang lebih indah.

Berkunjung ke Masa Lalu


Semua orang pernah kelelahan menjalani hidup. Sebagian ada yang mengaku bahwa dirinya butuh hiburan, sebagian yang lain mencoba mengingkarinya dan berkeras melanjutkan perjalanan.

Lelah bukan hal yang buruk dan harus dihindari. Lelah itu manusiawi. Minuman suplemen yang katanya bisa menghilangkan lelah dan mengembalikan stamina, itu yang kurang manusiawi. Obatnya lelah ya istirahat. Seperti pedati, kalau sapinya kelelahan, ya harus diistirahatkan. Percuma dipaksa berjalan.

Source: pexel.com

Meski begitu, istirahat tak melulu harus diam, apalagi tidur. ‘Mengunjungi’ masa lalu adalah cara lain untuk mengisi waktu istirahat kita. Ada energi baru yang bisa kita dapat dengannya. Tidak, kita tak perlu mencari pengalaman yang luar biasa. Seiring berjalannya waktu, hal-hal biasa pun kadang berubah menjadi istimewa.

Baca juga:
Guru Masa Kecil
Seandainya

Keberhasilan-keberhasilan kecil di masa silam akan terlihat lebih indah jika dilihat dari tempat kita berdiri sekarang. Keberhasilan kita untuk menyelesaikan kuliah (bahkan seandainya itu karena ultimatum orangtua), melunasi cicilan kendaraan (setelah mati-matian mengurangi uang jajan), atau lepas dari kebiasaan merokok (meski sesekali masih kebobolan) adalah beberapa contohnya.

Mungkin semua itu bukan hal besar bagi mereka yang mendengarnya. Tapi bagi kita sendiri, orang yang paling merasakan manfaat dari usaha tersebut dan paling bersyukur telah bisa meraihnya, itu tak sekadar cerita. Itu adalah sejarah, meski tak perlu dipahat di batu pualam (yaelah!) atau ditulis di dinding Facebook.

Pengalaman pahit yang pernah kita telan juga akan berbeda jika kita melihatnya sekarang. Ada kekecewaan, penyesalan, mungkin sakit hati. Tapi, itu tak cukup kuat memporakporandakan hidup untuk kedua kalinya. Paling-paling mood kerja kita saja yang sedikit berantakan.

Dari tempat kita berpijak sekarang, keberhasilan dan kegagalan semakin mengecil perbedaannya. Ya sih, ada kebanggaan saat kita menceritakan keberhasilan yang pernah kita peroleh. Tapi, mari lihat lebih dekat. Bahkan di balik sebuah kegagalan pun kadang terselip kearifan Tuhan. Nah, bukankah itu juga sebuah keindahan?

Dengan keindahan dan kesuramannya, masa lalu juga kerap menyimpan jawaban bagi masalah yang sekarang sedang kita hadapi. Kita hanya perlu membuka file-file yang ada di dalamnya untuk kita baca ulang. Tak perlu heran jika jawaban-jawaban itu tampak sederhana tapi di luar perkiraan.

Masalah sehari-hari yang kita anggap menakutkan kadang hanya pengulangan dari masalah yang dulu pernah kita atasi. Kadang skalanya saja yang berbeda, kadang penyebabnya, kadang momentumnya. Cara mengatasinya boleh jadi sama. Kalaupun ada bedanya, paling-paling cuma sedikit.

Jadi, kekhawatiran bahwa kita akan gagal mengatasi masalah itu sebenarnya tak beralasan. Atau minimal, tak perlu dibesar-besarkan. Lha wong itu bukan pengalaman pertama kita, kok!

Berterus terang bahwa kita butuh hiburan atau meyakinkan diri bahwa kita tak kelelahan sebenarnya tak jauh berbeda, asal kita mau ‘berkunjung’ ke masa silam. Dengan mengenang, kita bisa menemukan hal-hal yang menghibur. Dengan mengenang pula, kita tak perlu menipu diri sendiri.

Bisa-bisa kita malah memperoleh semangat baru untuk terus melanjutkan hidup. Siapa tahu?

Ciganjur, 24 Maret 201