7 Lagu Lawas yang Paling Menyentuh

Saya punya teman yang malu-malu mendengarkan dangdut. Ada juga yang malu-malu mendengarkan lagu mellow. “Cengeng,” katanya. Mungkin demi menjaga gengsi kelelakiannya, ia gak mau terlihat sedang menikmati lagu mellow di depan teman yang lain.

Photo by Burst on Pexels.com

Saya sih sabodo teuing mau dengar lagu apa pun, asal nyetelnya gak kenceng-kenceng. Hehe.

Dulu saat SMP, saya sering dengar kakak saya menyanyikan lagu-lagu mellow. Beberapa kali juga saya melihat klip lagu-lagu itu di layar kaca. Mungkin karena sering gak sengaja mendengar, lama-lama saya ikutan suka. Padahal, anak SMP zaman itu umumnya suka lagu-lagu Dewa 19, Slank, atau lagu Malaysia.

Menurut saya, lagu-lagu mellow itu bukan hanya enak didengar tapi juga perlu direnungkan maknanya. Biasanya, mungkin supaya pendengar gak mudah bosan, lagu-lagu mellow punya kekuatan dalam kata-katanya. Diksinya unik, jarang digunakan, dan seringkali memberikan tekanan makna pada sebuah kalimat.

Baca juga: Mengapa Lagu Zaman Dulu Masih Enak Didengar?

Nah, Teman-teman, berikut lagu-lagu mellow dan menyentuh yang menurut saya perlu kalian dengar sebelum ajal menjemput (!). Sebagian saya kenal saat anak-anak, sebagian lagi baru beberapa tahun yang lalu. Enjoy!

1. Tika Bisono, Melati Suci

Saya mendengar lagu ini, untuk pertama kalinya, sekitar 2 atau 3 tahun yang lalu. Seperti sering terjadi, saya menemukannya saat mencari lagu lain di Youtube, alias gak sengaja.

Kesan pertama saat mendengar lagu ini luar biasa. Iramanya sangat syahdu. Bukan saja romantic tapi juga nostalgic (seriyes ini, tolong, ya!). Entah kenapa, saya sendiri gak bisa memastikan. Mungkin karena suara penyanyinya, orkestra yang mengiringinya, atau nada-nada rendahnya. Yang pasti, lirik lagu ini membuatnya terkesan mewah.

Gak perlu kaget, penciptanya Guruh Soekarno Putra.

Berikut refrain lagu ini.

Tajuk bak permata
Siratan bintang kejora
‘Kan kupersembahkan
Bagimu pahlawan bangsa
Putiknya pesona
Rama-rama ‘neka warna
‘Kan kupersembahkan
Bagi pandu Indonesia

Ada kosakata yang membingungkan? Haha, begitulah lirik lagu-lagu Guruh Soekarno Putra, penuh diksi yang gak biasa. Tajuk, kejora, putik (serbuk sari dan putik?), rama-rama, pandu. Saya persilakan buka KBBI, deh 🙂

Sampai sekarang saya belum menemukan klip asli lagu ini. Pengunggah di Youtube menjadikan pemandangan alam sebagai latar videonya. Jadi, gak usah fokus sama videonya, cukup audionya saja, ya. Ini link-nya.

2. Chrisye, Untukku

Saya pertama kali mendengarkan lagu ini saat SD. Kakak saya memperkenalkannya saat televisi di rumah kami masih hitam-putih. Sama dengan lagu sebelumnya, lagu ini sangat indah dari segi aransemen dan liriknya.

Walau ke ujung dunia, pasti akan kunanti
Meski ke tujuh samudera, pasti ku ‘kan menunggu
Karena kuyakin, kau hanya untukku

Begitu refrain lagu ini. Jangankan orang dewasa yang waktu itu sudah pernah jatuh cinta, anak SD seusia saya yang masih gak ngerti apa-apa soal cinta rasanya sudah suka dengan lagu ini.

Menurut saya, lagu ini menciptakan sebuah kesan tentang ketulusan. Boleh jadi itu disebabkan liriknya, yang menurut saya sangat kuat. Apalagi pada kalimat, “Karena kuyakin, kau hanya untukku”. Boleh jadi juga karena dibawakan oleh Chrisye, yang membuat semua lagu yang dinyanyikannya bernuansa magis (ya gak, sih?).

Berikut link lagu ini.

3. Chrisye, Merepih Alam

Dari semua lagu-lagu Chrisye, ini adalah yang paling saya suka. Sangat teduh, sangat syahdu. Dibandingkan Untukku, lagu ini rasanya lebih menenteramkan.

Lagu ini pertama kali diputar sebagai soundtrack film Badai Pasti Berlalu (1977). Gak lama setelah kesuksesan film tersebut, pihak Irama Mas sebagai major label mengajak Eros Djarot (sebagai music director dalam film itu) dan Chrisye untuk merilis soundtrack film ini menjadi sebuah album.

Sekitar awal tahun 2000-an versi remake lagu Merepih Alam dirilis. Klipnya sangat cocok dengan lirik lagunya: teduh, damai, dan seperti menyeret pemirsa untuk merasakan suasana di dalam video. Model dalam klip tersebut adalah Catherine Wilson (cantik, euy!).

Kalau kita cermati diksinya, lagu ini lebih sederhana dibandingkan Untukku atau lagu-lagu ciptaan Guruh Soekarno Putra yang lain yang dinyanyikan oleh Chrisye. Berikut refrainnya.

Kunanti fajar
berkawan angin malam
merindukan belaianmu
Oh asmara, oh asmara
Insanmu menanggung rindu

Untuk melihat video klipnya, klik link berikut.

4. Once, Simfoni yang Indah

Lagu ini diperkenalkan oleh seorang teman yang kebetulan usianya sudah kepala empat. Katanya, ini versi terbaru dari lagu lama yang pernah ia sukai. Dan menurutnya, entah kenapa versi terbaru ini lebih bagus.

Saya pribadi suka dengan lagu ini, tapi kesulitan kalau harus menirukan. Maklum, Once menggunakan nada-nada tinggi, bahkan pada kalimat-kalimat awal liriknya. Batal deh karaoke …

Meski begitu, lagu ini tetap menjadi favorit saya. Nada-nadanya memang tinggi, tapi tetap enak didengar. Liriknya pun sederhana, seperti sedang berbicara. Maksud saya, gak membuat dahi berkerut. Jauh beda, misalnya, dengan lagu-lagu Guruh Soekarno Putra.

Berikut refrain lagu ini.

Burung-burung pun bernyanyi
Bunga-bunga pun tersenyum
Melihat kau hibur hatiku
Hatiku mekar kembali
Terhibur simfoni
Pasti hidupku kan bahagia

Berikut link video klipnya.

5. Ruth Sahanaya, Ingin Kumiliki

Saya suka suara Ruth Sahanaya karena lembut dan jernih, meski sedikit berat. Terlebih ketika ia menyanyikan lagu-lagu bernada rendah. Ingin Kumiliki ini salah satunya. Berikut refrainnya.

Ingin kumiliki dengan sepenuh hati
Walau ku harus setengah terluka mengharap cintamu
Ingin kusayangi tanpa terbagi lagi
Apakah mungkin menjalin kasih bila aku tak tahu
Bagaimana kau mencintai diriku

Ruth Sahanaya merupakan satu dari tiga diva pop Indonesia, selain Krisdayanti dan Titi DJ. Di samping suaranya yang merdu saya rasa pembawaan penyanyinya juga menarik. Sedikit berbeda dengan dua temannya itu, Ruth terlihat lebih humble dan, dalam kehidupan sehari-hari, jauh dari gosip.

Ingin melihat video klip lagu ini? Ini dia link-nya.

6. Titi DJ, Sang Dewi

Ini adalah lagu yang liriknya superromantis, kelas dewa deh pokoknya. Coba baca komentar netizen di video klipnya di Youtube. Meski dirilis 18 tahun lalu, anak-anak muda milenial banyak yang suka lagu ini.

Suara Titi DJ yang berat, liriknya yang romantis, dan tentu saja irama musiknya yang berkelas menjadi kekuatan utama lagu ini.

Sang Dewi dibuka dengan irama yang menggetarkan, dengan nada rendah penyanyinya dan tempo yang gak terlalu pelan. Selanjutnya, suara orkestra mendominasi, beriringan dengan nada-nada tinggi, menciptakan kesan megah, eksklusif, dan sangat artistik.

Menurut saya, lirik dalam refrain lagu ini adalah yang paling indah dibandingkan lagu-lagu sebelumnya.

Walaupun dirimu tak bersayap
Ku akan percaya
Kau mampu terbang bawa diriku
Tanpa takut dan ragu
Walaupun kau bukan titisan dewa
Ku takkan kecewa
Karna kau jadikanku sang dewi
Dalam taman surgawi

Berikut link video klip lagu ini.

7. Rossa, Nada-nada Cinta

Dulu, hampir tiap malam, saya menunggu lagu ini diputar di radio-radio swasta di Malang. Saya sebenarnya gak banyak tahu tentangnya. Kalau saya ingat, gak ada yang istimewa pada liriknya. Saya hanya suka iramanya.

Waktu itu mungkin akhir tahun 90-an atau awal 2000-an. Rossa belum seterkenal sekarang. Kalau gak salah, saat itu justru lagu inilah yang melambungkan namanya.

Nada-nadanya gak terlalu tinggi, temponya pelan, di telinga terasa ringan. Berikut refrainnya.

Nada cinta
Semakin indah dunia
Membuka mata hati
Getar-getar cinta
Semakin dalam kurasa
Bagai sebuah simfoni dalam jiwa

Berikut link untuk video klipnya.

5 Lagu Klasik yang Enak Didengar

Saya sempat beberapa waktu belajar biola, tapi karena gak disiplin latihan, sampai bertahun-tahun biola saya gak lebih sekadar pajangan di kamar. Ada sih beberapa lagu yang sempat bisa saya mainkan, Twinkle-twinkle Little Star misalnya, tapi gara-gara jarang berlatih jadi lupa notnya.

Source: pexel.com

Hehe, gak ding. Jelek-jelek saya juga pernah bisa main Ode to Joy dan Canon yang terkenal itu. Tapi ya itu tadi, pernah …

Baca juga:
5 Lagu Jadul Paling Romantis
Mengapa Lagu Zaman Dulu Masih Enak Didengar?

Saya suka suara biola, karena menurut saya unik dan sangat menyentuh (meh!). Kesannya lebih merdu ketimbang suara alat musik yang lain, termasuk piano dan saksofon. Tapi kalau disuruh menyebutkan nama-nama pemain biola atau judul partitur lagu yang dimainkan menggunakan biola, saya gak hafal banyak.

Meski begitu, saya punya judul-judul favorit, yang betapapun sudah ratusan kali saya dengar tapi gak pernah bikin saya bosan. Beberapa lagu itu ada yang diciptakan satu atau dua abad yang lalu, ada juga yang diciptakan tahun-tahun belakangan. Ada sih perbedaannya, tapi buat pendengar awam seperti saya, semuanya sama-sama enak didengar.

Kali ini saya ingin mengenalkan lima lagu klasik favorit saya. Bukan sok classy, tapi teman-teman yang juga pernah mendengar sepakat kok kalau lima lagu ini memang bagus. Buat yang lagi jatuh cinta, digantungin, diduain, baru putus, atau suka tiba-tiba ingat mantan, minimal satu dari lima lagu ini pasti cocok didengarkan saat kamu sedang sendirian. Wkwk …

1. Canon in D Major, karya Johan Pachelbel

Sebenarnya sejak dulu lagu ini gak asing bagi saya, karena sering saya dengar sebagai soundtrack film. Tapi, waktu itu saya gak tahu judul dan penciptanya dan gak pernah berusaha mencari tahunya. Saya mulai ngeh dengannya ketika di kantor gabut lalu sok sibuk dengan mencari lagu klasik di Youtube. Kalau Teman-teman belum pernah mendengar lagu ini, coba klik link berikut.

2. Ode to Joy, karya Ludwig van Beethoven

Saya pertama kali tahu lagu ini dari sebuah iklan yang di-share di media sosial. Kalau gak salah itu adalah iklan sebuah bank di Swiss. Lagu ciptaan Beethoven ini dimainkan oleh sekelompok orang yang tiba-tiba berkumpul di sebuah pusat keramaian dengan maksud membuat kejutan pada orang-orang yang ada di sana (flashmob). Ini link-nya.

3. Air on G String, karya Johan Sebastian Bach

Ini lagu klasik yang paling juara menurut saya, setelah Canon, hihi. Kalau gak salah ingat, ini adalah lagu klasik paling awal yang saya tahu dan saya hafal. Gak cuma merdu, lagu ini juga seakan mengajak kita berkunjung ke Eropa pada zaman dulu, cocoklah sebagai musik latarnya drama-drama yang dipentaskan di gedung opera (sok tahu). Berikut link-nya.

4. Suite for Solo Cello no. 1 in G Major – Prelude, karya Johan Sebastian Bach

Lagu ini gak dimainkan menggunakan biola tapi cello. Meski begitu, minimal buat telinga saya, itu gak jadi soal. Tetap merdu. Berbeda dengan lagu-lagu sebelumnya, lagu ini terdengar lebih “semangat” dan “dinamis” (alah!). Tempo lagunya lebih cepat dan suara yang dihasilkan lebih “dalam”, mungkin karena kebanyakan yang dimainkan nada-nada rendah. Ini link-nya.

5. Cinema Paradiso, karya Ennio Morricone

Lagu ini di-compose oleh Ennio Morricone sebagai soundtrack film dengan judul yang sama. Film tersebut digarap oleh Giuseppe Tornatore, seorang sutradara film asal Italia yang juga menggarap Malena, film favorit saya. Hehe … Dibanding lagu-lagu sebelumnya, lagu ini adalah yang paling baru. Ingin mendengar lagu keren ini? Klik link berikut.

Itu lima lagu klasik favorit saya, meski gak tahu ya yang terakhir itu bisa disebut klasik apa gak, karena dibuat pada akhir tahun 80-an. Berbeda sama lagu-lagu lainnya, menurut saya lagu klasik itu sangat bisa memainkan emosi pendengarnya. Sulit bagi kita untuk gak “terseret” ke dalam suasana batin pencipta atau pemainnya (wkwk, gak tahu ini saya ngemeng apa).

Emosi kita akan semakin menyatu dengan “dunia” yang tercipta dari lagu itu jika kita menonton permainannya secara live. Saya pernah mendapat kesempatan menonton konser musik klasik seperti itu di Goethe Huis (tiketnya Rp75000) dan Salihara (gratis, rezeki anak saleh). Kesan saya saat mendengarkan lagu-lagu klasik itu dimainkan: emejing!

5 Lagu Jadul Paling Romantis

Saya suka mendengarkan lagu-lagu romantis yang kurang populer. Lebih tepatnya lagu romantis zaman dulu yang kurang populer.

Source: Freepik.com

Beberapa lagu yang sedang saya bicarakan itu kebetulan berbahasa asing. Kalau kita pernah mendengarkan lagu-lagu Barat dekade 30 sampai 60-an, kita mungkin akan familiar dengan karakter lagu-lagu tersebut.

Baca juga:
5 Lagu Klasik yang Enak Didengar
Mengapa Lagu Zaman Dulu Masih Enak Didengar?

Seringkali saya mengetahui lagu-lagu itu, untuk pertama kalinya, tanpa sengaja. Kadang saat berada di sebuah kafe, kadang saat menonton film, kadang saat melihat iklan di tivi.

Lagu-lagu itu mungkin sama tuanya dengan Genjer-genjer yang dinyanyikan oleh Bing Slamet (bapaknya Adi Bing Slamet, kakek dari anaknya Adi Bing Slamet *heleh) dan Malam Jumat Kliwon yang dipopulerkan oleh PMR (Pengantar Minum Racun, digawangi oleh Jhonny Iskandar).

Bedanya, lagu-lagu yang saya ceritakan di bawah ini bertema cinta atau romantismesedangkan Genjer-genjer bertema kehidupan kaum tani dan Malam Jumat Kliwon bertema horor ngehe.

Genjer-genjer pernah dijadikan alat propaganda PKI (di film, lagu itu diputar saat Gerwani sedang membantai para jenderal), sementara Malam Jumat Kliwon adalah lagu wajib Mang Asep, yang dia putar kapan saja seingatnya. Oh ya, Mang Asep itu tetangga saya, kerja di depot air isi ulang.

Saya bikin perbandingan yang kacau banget, ya? Hehe, tak apa, yang penting ‘kan orisinal.

Oke deh, berikut lagu-lagu yang saya maksud.

1. Let It Be Me, Phil Everly

Lagu ini awalnya berbahasa Prancis, berjudul Je t’appartiens. Ditulis oleh Gilber Becaud pada tahun 1955. Versi bahasa Inggris-nya ditulis oleh Manny Curtis dan dibawakan untuk pertama kalinya oleh Jill Corey pada tahun 1957.

Everly Brothers (EB) membuat lagu ini semakin populer setelah merekam versinya sendiri. Akan tetapi, dibanding versi EB, saya lebih suka versi solonya, yang dinyanyikan oleh Phil, salah satu personel EB.

Suara Phil sangat ’empuk’ saat menyanyikannya, sedikit berbeda dengan versi EB. Melodi yang dihasilkan dari suara pianonya juga lembut dan ‘menghanyutkan’. Paduan dari keduanya adalah sebuah lagu yang romantis habis.

Bisa ditebak dong apa tema lagu ini? Yup, horor, eh, maksud saya cinta.

Saya pertama kali mendengar lagu ini saat menonton sebuah film arahan Rob Reiner, judulnya Flipped. Film ini diadaptasi dari sebuah novel berjudul sama karya Wendelin Van Draanen.

2. Love’s Been Good To Me, Frank Sinatra

Lagu ini dinyanyikan oleh penyanyi papan atas Amerika, salah satu best selling music artist of all time, pada akhir tahun 60-an, Frank Sinatra. Penyanyi yang sama juga dikenal karena mempopulerkan Fly Me To The Moon, L-O-V-E, dan lain-lain.

Tahu dong Frank Sinatra? Itu lho, suaminya Bu Sinatra. Hehe, receh!

Konon, Frank Sinatra ini tipikal penyanyi yang gampang bikin klepek-klepek kaum Hawa pada masanya. Sorot matanya, cara bertuturnya, juga gestur tubuhnya membuatnya sangat kharismatik. Mirip Him Damsyik saat masih muda.

Saya tidak tahu banyak sebenarnya tentang penyanyi ini. Tapi, kita bisa membaca biografinya di Wikipedia atau di situs yang lainnya. Sudah zamannya wifi gratis kok, masak semua harus saya tulis di sini?

3. When I Fall in Love, Nate King Cole

Dia adalah penyanyi kulit hitam Amerika pada dekade 40-50-an. Suara baritonnya lembut, lagu-lagu yang dibawakannya sangat merdu. Cole adalah satu di antara sedikit penyanyi kulit hitam Amerika yang melejit di tangga lagu Amerika saat itu, ketika sentimen terhadap orang kulit hitam masih kuat.

Cole tak hanya dikenal sebagai penyanyi papan atas, ia juga menjadi host dalam program televisi yang berjudul The Nat King Cole Show. Konon, ia menjadi host kulit hitam pertama di televisi Amerika, sesuatu yang memantik kontroversi publik.

Kalau ingin tahu seperti apa susahnya menjadi orang kulit hitam di Amerika saat itu, kita bisa menonton The Hope, Selma, atau Hidden Figure. Ketiga film itu memberi gambaran yang cukup detail tentang diskriminasi terhadap orang-orang kulit hitam.

4. L’appuntamento, Ornella Vanoni

Ini adalah lagu Italia tahun 70-an. Saya pertama tahu saat nonton Ocean’s Twelve, sebuah film tentang maling-maling perlente yang ingin menggasak perhiasan mahal berbentuk telur di Roma.

L’appuntamento artinya appointment, atau janji. Lagu ini bercerita tentang sebuah janji kencan antara seorang wanita dan pujaan hatinya. Wanita itu diliputi perasaan tak karuan saat harus menunggu teman kencannya datang.

“Jika kau tak jadi datang,” begitu kurang lebih hatinya bicara, “entah bagaimana aku menjalani sisa hidup ini.” Lirik lagu ini sangat puitis sekaligus filosofis. Berikut kutipan liriknya.

Lights, cars, shop-windows, streets
Everything gets mixed up in my mind
My shadow is tired to follow me

The day dies slowly
There is nothing else left than going back home
To my sad life, this life that I wanted to give to you

Selain bernyanyi, Vanoni juga kerap tampil di acara-acara televisi, bermain di beberapa film, dan berpose bugil untuk majalah Playboy terbitan Italia. Wew!

5. The First Time Ever I Saw Your Face, Roberta Flack

Lagu ini pernah dibawakan oleh Matt Cardle, seorang mantan tukang cat dari Inggris, dalam ajang Britain’s Got Talents. Sebenarnya sudah lama saya mendengar lagu ini. Kebetulan kakak saya pernah punya VCD evergreen lagu-lagu Barat. Dan, lagu ini adalah salah satunya.

Roberta Flack, yang pertama kali membawakan lagu ini, bisa dibilang salah satu penyanyi legendaris Amerika. Pada 1999, sekitar 30 tahun setelah ia mempopulerkan tembang di atas, namanya diabadikan dalam Hollywood Walk of Fame.

Nah, itu lima lagu jadul yang paling romantis versi saya, berikut nama penyanyinya. Kalau ada info tambahan tentang lagu-lagu di atas atau penyanyinya, silakan menambahkan di komentar ya 😆😆😆

Mengapa Lagu Zaman Dulu Masih Enak Didengar?

Pernah tidak bertanya dalam hati, mengapa lagu-lagu zaman dulu tak pernah membosankan, malah semakin enak didengar?

Source: pixabay.com

Beberapa waktu yang lalu istri saya heran, kok playlist di laptop saya isinya lagu-lagu jadul semua. Ada lagu Barat tahun 60-70-an, tembang kenangan, lagu era 90-an, dan keroncong Jawa.

“Pantesan suka nembang,” katanya, setelah saya setengah jam jongkok di jamban sambil nembang ala kadarnya. “Lagunya jadul-jadul semua sih.”

Entah kenapa, ada keasyikan tersendiri setiap saya mendengar lagu-lagu lawas. Frank Sinatra, Everly Brothers, Broery Marantika, Chrisye, hingga Soendari Soekotjo adalah beberapa nama yang masih saya dengarkan lagu-lagunya, sampai sekarang.

Dibandingkan lagu-lagu baru, lagu-lagu zaman dulu rasanya tak mudah membosankan. Ada yang bilang karena liriknya, ada juga yang menyebut nada lagunya. Saya sendiri lebih percaya pada faktor X di dalamnya: sesuatu yang berasal dari masa lalu memang selalu asyik untuk dinikmati kembali.

Baca juga:
5 Lagu Klasik yang Enak Didengar
5 Lagu Jadul Paling Romantis, Versi Saya

Nostalgia, begitu kata orang-orang. Kalau mendengar lagu jadul, saya memang mudah membayangkan suasana yang digambarkan oleh lagu itu.

Mungkin, ini sama dengan membuka album foto yang dibuat bertahun-tahun yang lalu. Foto-foto itu mungkin sudah usang dan gambarnya mulai pudar, tapi kita tetap menyukainya. Mengapa? Karena kita tak hanya melihat kumpulan gambar diri kita atau mereka yang kita cintai, tapi juga merasakan kembali apa yang dulu pernah kita alami.

Ingatan membawa kita ke masa-masa ketika foto itu dibuat…

Ada ruang keluarga tempat kita bercengkerama dengan orangtua, teras tempat kita bermain sepulang dari sekolah, televisi dan mainan yang setia menemani kita, dan tentu saja orang-orang yang kita cintai.

Kalau foto orang terkasih yang sudah tiada kita temukan juga di album itu, kita akan semakin ‘terhisap’ ke dalam ingatan tentang masa lalu. Kita seperti hidup di masa-masa itu, saat masih bersamanya.

Mendengar lagu-lagu lawas tak berbeda. Kita bukan hanya mendengar atau menikmati suara indah penyanyinya, tapi juga mengenang. Mengenang sebuah nama, cerita, rasa, mungkin juga tawa dan air mata.

Apa yang dulu kita rasakan seolah hadir kembali. Apalagi jika lagu itu menggambarkan pengalaman pribadi kita, tentang kisah cinta kita misalnya.

Ini adalah topik yang selalu laris di dunia buku (novel, khususnya), film, dan tentu saja musik. Orang-orang menyukainya karena topik itu universal sekaligus bisa sangat personal.

Siapa yang tak pernah merasakan cinta? Atau, siapa yang masa mudanya tak berwarna-warni karena masalah cinta? Semua orang pernah merasakannya: naksir diam-diam, cinta buta pada pacar, cemburu tanpa sebab, ditolak, digantung, kangen mantan, atau tak direstui teman sekos-kosan.

Seiring waktu yang terus berganti, rasa itu menjadi penghuni tetap ingatan kita. Kita tak pernah berusaha melupakan atau setengah mati menjaganya. Mungkin sesekali saja menengoknya. Salah satunya saat kita mendengarkan lagu yang kebetulan bertutur tentangnya.

Tempat yang Jauh

Pertama kali nonton orkestra, saya seperti hidup di dunia yang jauh. Sebuah tempat yang tak pernah saya kunjungi tapi anehnya seakan sangat saya kenali.

Source: pixabay.com

Seumur hidup, saya hanya bisa menonton orkestra di layar kaca. Itu pun tak pernah selesai. Maka malam itu, di antara penonton lain yang terlihat sangat menikmati pertunjukan musik klasik itu, saya berulang kali meyakinkan diri: tidak, saya tak sedang bermimpi.

Orkestra adalah pertunjukan mewah bagi anak kampung seperti saya. Ketika satu persatu artis memainkan alat musiknya, tubuh saya seakan ringan dan melayang. Alunan musik yang tercipta dari piano, biola, cello, dan flute membuka pintu-pintu imajiner dalam diri saya yang terkunci lama.

Saya tak pernah menikmati musik seperti malam itu. Ego dan pikiran-pikiran kacau yang mengendap di alam batin saya seakan larut bersama simfoni yang keindahannya nyaris tak terkatakan. Deadline pekerjaan dan utang ke teman-teman semakin pudar dari ingatan (!).

Baca juga:
Yang Tersisa di Menteng Raya
Mengapa Lagu Zaman Dulu Masih Enak Didengar?

Jarang-jarang saya lebay seperti sekarang. Saya rasa ini karena kebingungan saya mengungkapkan keindahan yang baru malam itu saya temukan. Di kampung saya, jangankan orkestra, dangdut koplo ala Monata saja tak pernah ada.

Di tengah merdunya musik klasik malam itu, seakan ada ketenangan sekaligus kebahagiaan yang meresap ke dalam hati dan pikiran saya. Sesuatu yang tak pernah saya nikmati sebelumnya, atau setidaknya berbeda dari keasyikan membaca buku, menonton film, atau mengunjungi tempat-tempat yang bersejarah.

Kalau boleh mengenang, dua jam berada di ruangan bundar itu rasanya sangat singkat. Bagi telinga saya, lagu-lagu yang dibawakan memang kurang familiar, tak seperti lagu-lagu ST 12. Tapi, mendengar begitu banyak alat musik dimainkan bersama-sama adalah pengalaman pertama sekaligus luar biasa.

Ketika nada-nada terakhir dimainkan dan tepuk tangan penonton memenuhi ruangan, saya teringat apa yang dipesankan orang-orang tua kepada saya. Hidup kadang membawa kita pada jalan menurun yang membuat langkah begitu ringan. Di lain waktu, ia memaksa kita memanjat bukit-bukit yang menjulang.

Bukan maksud saya sok bijaksana. Ini murni reaksi otak (ndeso) saya yang shock, karena siang hari masih berjibaku dengan rutinitas yang menyebalkan, lalu malamnya duduk seruangan dengan seniman terkenal, aktor dan aktris Ibukota, juga para ekspat (termasuk Dubes Inggris, kalau tak salah). Ya…meski saya ada di ujung paling jauh di ruangan itu.

Teknik legato yang mengalir tanpa jeda dan staccato yang putus-putus adalah tamsil perjalanan hidup. Ada saatnya rencana-rencana kita terwujud begitu saja. Lancar jaya, seperti bus malamAda saatnya pula usaha kita tersendat-sendat, seperti angkot yang berhenti setiap kali melintas di depan gang yang dilewatinya.

Seperti partitur lagu, hidup adalah sebuah proses. Kalau hanya satu atau dua nada yang kita dengarkan, tak ada keindahan yang kita dapatkan. Do, re, mi… Di mana indahnya? Nada-nada itu baru terdengar merdu kalau kita rangkai menjadi sebuah lagu dan kita mainkan sebagai sebuah kesatuan.

Sebagaimana partitur sebuah lagu, kita tak akan bisa merasakan indahnya hidup jika berhenti di satu titik. Lagi pula, ‘alat musik’ itu memang bukan untuk kita mainkan sesaat tapi selamanya. Hanya dengan terus memainkannya, keindahan yang selama ini kita damba akan kita temukan.

Nah sekarang, kalau kita ingin berhenti sementara lagu yang kita mainkan belum selesai, coba pikirkan sekali lagi. Keindahan apa yang kita peroleh dengan memainkan separuh lagu? Lagi pula, jangan pernah lupa: kita tak pernah sendiri. Ada Conductor yang selalu menunjukkan arah dan memberi kita tanda-tanda.

Kukusan, 27 April 2014 (22.29 WIB)