Gak Bisa Salah

Kalau kita selalu (merasa) benar maka gak ada satu pun pelajaran dalam hidup yang bisa kita ambil. Itu sebabnya, gak apa kok sesekali berbuat salah, atau merasa dan mengaku berbuat salah, asal kita punya hati yang lapang … untuk dikritik.

Source: pexel.com

Kritik hanya akan datang jika kita berbuat salah. Kalau kita selalu benar, kita gak akan pernah dikritik. Itu mungkin keren, tapi akibatnya proses belajar kita sebagai manusia berjalan lambat. Sebab, seringkali kritik memaksa kita untuk banyak belajar.

Kita tentu tahu, belajar gak hanya tentang membaca, mengamati, atau aktivitas individualistik lainnya tapi juga berinteraksi, menjalin hubungan dengan ‘dunia luar’, yaitu orang lain. Dan, kritik memungkinkan kita untuk belajar melalui proses ini.

Nabi Muhammad juga pernah ditegur (ini semacam kritik juga, kan?) oleh Allah. Ada banyak contohnya di dalam Al-Quran, surah Abasa, misalnya. Bayangkan, seorang rasul saja ditegur, karena melakukan (let’s say) ketidakpatutan laiknya seorang rasul.

Benar nih Nabi Muhammad pernah berbuat salah? Beliau ‘kan terjaga dari kesalahan? Kalau kita ragu sama fakta ini, coba deh pikirkan: mana mungkin beliau ditegur kalau gak melakukan sesuatu yang membuat Allah menegurnya?

Tul?

Tapi, itu wajar belaka, sebab Nabi Muhammad juga manusia. Manusia ‘kan memang tempatnya salah dan lupa. “Innamaa anaa basyar, sesungguhnya aku adalah manusia,” kata beliau. Justru kalau beliau malaikat, itu yang gak wajar.

Ya bagaimana, masak kita diwajibkan meneladani makhluk yang gak bisa salah? Gak fair, dong?

Kritik, saran, masukan, atau apa pun namanya bukan dimaksudkan untuk menjatuhkan kita, asal niatnya memang baik dan disampaikan dengan cara yang juga baik. Itu adalah bukti perhatian orang lain pada kita. Dan pastinya, kritik beda sama cemoohan.

Kalau kritik dimaksudkan agar kita sadar dengan kekurangan, sehingga kita tahu apa yang perlu diperbaiki, cemoohan ditujukan semata-mata untuk merendahkan kita. Kritik menjadikan kita lebih baik, cemoohan membuat kita terhina.

Mengakui bahwa diri kita bisa salah juga merupakan konsekuensi kita sebagai makhluk –yang memang diciptakan dengan kelebihan dan kekurangan. Kalau kita merasa perfect sebenarnya saat itulah akidah dan akhlak kita dipertanyakan.

Benarkah kita muslim yang baik, yang seharusnya percaya bahwa yang sempurna itu hanya Allah Taala, dan kita sebagai makhluk penuh kekurangan?

Benarkah kita muslim yang baik, yang seharusnya mampu menjaga kerendahan hati, sebab banyak orang lain yang kualitas personalnya lebih baik dibandingkan kita?

Singkat kata, kalau selama ini kita selalu (merasa) benar, cobalah berlapang dada untuk menerima kemungkinan kita melakukan kesalahan. Mengakui bahwa kita infallible itu gak cuma baik buat mental kita tapi juga demi menghindari murka Tuhan.

Ingat, Fir’aun dimurkai Tuhan gara-gara merasa gak pernah sakit, gak akan mati, dan gak bisa berbuat salah lho!

5 Lagu Klasik yang Enak Didengar

Saya sempat beberapa waktu belajar biola, tapi karena gak disiplin latihan, sampai bertahun-tahun biola saya gak lebih sekadar pajangan di kamar. Ada sih beberapa lagu yang sempat bisa saya mainkan, Twinkle-twinkle Little Star misalnya, tapi gara-gara jarang berlatih jadi lupa notnya.

Source: pexel.com

Hehe, gak ding. Jelek-jelek saya juga pernah bisa main Ode to Joy dan Canon yang terkenal itu. Tapi ya itu tadi, pernah …

Baca juga:
5 Lagu Jadul Paling Romantis
Mengapa Lagu Zaman Dulu Masih Enak Didengar?

Saya suka suara biola, karena menurut saya unik dan sangat menyentuh (meh!). Kesannya lebih merdu ketimbang suara alat musik yang lain, termasuk piano dan saksofon. Tapi kalau disuruh menyebutkan nama-nama pemain biola atau judul partitur lagu yang dimainkan menggunakan biola, saya gak hafal banyak.

Meski begitu, saya punya judul-judul favorit, yang betapapun sudah ratusan kali saya dengar tapi gak pernah bikin saya bosan. Beberapa lagu itu ada yang diciptakan satu atau dua abad yang lalu, ada juga yang diciptakan tahun-tahun belakangan. Ada sih perbedaannya, tapi buat pendengar awam seperti saya, semuanya sama-sama enak didengar.

Kali ini saya ingin mengenalkan lima lagu klasik favorit saya. Bukan sok classy, tapi teman-teman yang juga pernah mendengar sepakat kok kalau lima lagu ini memang bagus. Buat yang lagi jatuh cinta, digantungin, diduain, baru putus, atau suka tiba-tiba ingat mantan, minimal satu dari lima lagu ini pasti cocok didengarkan saat kamu sedang sendirian. Wkwk …

1. Canon in D Major, karya Johan Pachelbel

Sebenarnya sejak dulu lagu ini gak asing bagi saya, karena sering saya dengar sebagai soundtrack film. Tapi, waktu itu saya gak tahu judul dan penciptanya dan gak pernah berusaha mencari tahunya. Saya mulai ngeh dengannya ketika di kantor gabut lalu sok sibuk dengan mencari lagu klasik di Youtube. Kalau Teman-teman belum pernah mendengar lagu ini, coba klik link berikut.

2. Ode to Joy, karya Ludwig van Beethoven

Saya pertama kali tahu lagu ini dari sebuah iklan yang di-share di media sosial. Kalau gak salah itu adalah iklan sebuah bank di Swiss. Lagu ciptaan Beethoven ini dimainkan oleh sekelompok orang yang tiba-tiba berkumpul di sebuah pusat keramaian dengan maksud membuat kejutan pada orang-orang yang ada di sana (flashmob). Ini link-nya.

3. Air on G String, karya Johan Sebastian Bach

Ini lagu klasik yang paling juara menurut saya, setelah Canon, hihi. Kalau gak salah ingat, ini adalah lagu klasik paling awal yang saya tahu dan saya hafal. Gak cuma merdu, lagu ini juga seakan mengajak kita berkunjung ke Eropa pada zaman dulu, cocoklah sebagai musik latarnya drama-drama yang dipentaskan di gedung opera (sok tahu). Berikut link-nya.

4. Suite for Solo Cello no. 1 in G Major – Prelude, karya Johan Sebastian Bach

Lagu ini gak dimainkan menggunakan biola tapi cello. Meski begitu, minimal buat telinga saya, itu gak jadi soal. Tetap merdu. Berbeda dengan lagu-lagu sebelumnya, lagu ini terdengar lebih “semangat” dan “dinamis” (alah!). Tempo lagunya lebih cepat dan suara yang dihasilkan lebih “dalam”, mungkin karena kebanyakan yang dimainkan nada-nada rendah. Ini link-nya.

5. Cinema Paradiso, karya Ennio Morricone

Lagu ini di-compose oleh Ennio Morricone sebagai soundtrack film dengan judul yang sama. Film tersebut digarap oleh Giuseppe Tornatore, seorang sutradara film asal Italia yang juga menggarap Malena, film favorit saya. Hehe … Dibanding lagu-lagu sebelumnya, lagu ini adalah yang paling baru. Ingin mendengar lagu keren ini? Klik link berikut.

Itu lima lagu klasik favorit saya, meski gak tahu ya yang terakhir itu bisa disebut klasik apa gak, karena dibuat pada akhir tahun 80-an. Berbeda sama lagu-lagu lainnya, menurut saya lagu klasik itu sangat bisa memainkan emosi pendengarnya. Sulit bagi kita untuk gak “terseret” ke dalam suasana batin pencipta atau pemainnya (wkwk, gak tahu ini saya ngemeng apa).

Emosi kita akan semakin menyatu dengan “dunia” yang tercipta dari lagu itu jika kita menonton permainannya secara live. Saya pernah mendapat kesempatan menonton konser musik klasik seperti itu di Goethe Huis (tiketnya Rp75000) dan Salihara (gratis, rezeki anak saleh). Kesan saya saat mendengarkan lagu-lagu klasik itu dimainkan: emejing!

Mimpi Pun Perlu Realistis

Saya yakin teman-teman yang sampai sekarang masih suka melajang (atau jomblo atau single atau sendiri) suatu saat akan resmi melepasnya.

Menikah adalah sesuatu yang baik, dan sesuatu yang baik akan semakin baik kalau disegerakan. Asal niat mereka untuk menikah juga baik, pasti akan ada jalan untuk menemukan jodohnya.

Baca juga:
Kamu Kapan?
Doain Aja!

Entah dengan cara yang standar seperti dikenalin teman (bukan gue banget yang ini *boong ding), atau dramatis seperti serempetan di jalanan sempit, atau klasik seperti dijodohin orangtua padahal sama-sama nggak kenal, atau almost desperate and the only thing they can do is surfing seperti iseng-iseng ikut biro jodoh, atau yang lainnya.

Yang mana pun jalan mereka untuk menemukan jodohnya, itu bukan sesuatu yang memalukan atau membuat mereka ternista. Malah harus disyukuri. Justru kita-kita yang yang masih sendiri, stop membayangkan bertemu jodoh di kereta, perpustakaan, café, masjid, pengajian, atau di tempat yang indah-indah tapi kuecccil kemungkinan terjadi.

Yang masuk akal aja, biarpun nggak romantis babar blas

Source: pexel.com

Boleh kita mengira kehidupan rumah tangga itu penuh hal-hal romantis ala film Korea, dan itu memang nggak mustahil terwujud. Bisalah diusahakan. Hanya, apa yang kita sebut romantis, yang sering kita impi-impikan itu, kadang nyerempet-nyerempet non-sense, sehingga kenyataan yang kemudian kita temui berbeda jauh dari harapan.

Betah-betahin melajang (sengaja saya perhalus, sebab “jomblo” terdengar seperti ledekan) itu nggak enteng. Tuntutan dari diri sendiri ada, tuntutan dari orang lain (emak, bapak, adik, tetangga yang cerewet dan suka nanya-nanya, sampai tukang bikin meme) juga ada. Nggak kalah besar, malah. Apalagi buat para cewek.

Jadi, nggak usah membayangkan yang aneh-aneh. Menyandang status lajang itu udah berat. Masak setelah berhasil melepasnya kita harus menanggung beban lain yang muncul karena rasa kecewa akibat kenyataan yang nggak cocok sama imajinasi kita? Itu seperti lolos dari terkaman singa tapi kemudian ketemu sekawanan serigala.

Teman saya pernah cerita bahwa ia kecewa dengan pasangannya. Banyak hal yang ia persoalkan. Tapi akar masalahnya, menurut saya, bukan terletak pada kekurangan sang pasangan, yang boleh jadi memang prinsipil dan mengganggu kenyamanan teman tersebut, melainkan ekspektasi teman saya itu yang terlalu tinggi.

Kenapa ia punya ekspektasi yang menjulang seperti itu?

Sebab, ia mengira pernikahan adalah klimaks dari harapannya, yang bertabur keindahan tapi sayangnya nggak realistis, alias hanya ada di negeri dongeng. Harapan seperti itu sebenarnya wajar, dan sewajar itu pula kalau ada orang yang kecewa ketika mendapati kehidupan rumah tangganya nggak sesuai harapannya saat masih lajang.

Sebelum menikah kita mudah mencita-citakan sebuah dunia yang sempurna tapi celakanya nggak pernah ada, dengan seorang pasangan sebagai salah satu “makhluk” ciptaan kita. Sebuah dunia di mana kita bebas mengatur apa yang perlu terjadi dan apa yang nggak. Dunia ciptaan kita itu lantas mempengaruhi cara kita melihat dunia nyata.

Kita boleh prihatin, sebab nggak sedikit orang yang punya imajinasi seperti itu. Mereka membangun dunia dengan dinding-dinding yang tebal dan tinggi, yang lama-lama membuat mereka enggan melompatinya dan malah menghapus ingatan tentang kenyataan yang sejak baheula memang nggak sempurna.

Jadi, daripada setelah menikah jantung kita nggak sehat karena terlalu sering mendapat kejutan dari pasangan, mulai porsi makannya yang jumbo sampai posisi tidurnya yang aneh, mending kita cuci muka dan melek sekarang juga. Nggak ada yang selalu bisa membahagiakan kita, apalagi membuat kita merasa paling beruntung di dunia.

Gombalan laki-laki bahwa dia akan selalu membuat kita senang itu ngayal belaka. Waspadalah!