Teka-Teki Mahadahsyat


Hampir satu jam kita berkeliling kota, menelusuri ruas-ruas jalan yang memanjang dari depan rumah kosmu sampai entah ke mana. Menghabiskan sisa waktu kebersamaan kita yang tinggal setarikan nafas.

Angin malam yang berembus selepas hujan tak kita pedulikan. Gemuruh yang masih terdengar dari langit kita anggap nyanyi sunyi yang tak bermakna apa-apa. Lampu-lampu jalan yang kesepian tampak meremang karena kabut yang turun dengan tergesa.

Entah berapa kali kautanya kapan aku akan pulang. Yang pasti, sebanyak itu pula kujawab bahwa kepergianku hanya sementara.

Aku bisa melihat wajahmu dari kaca spion di motorku, menahan tanya sekaligus rasa takut. Bagaimanapun aku menyadari, dari sekian banyak pertanyaan yang saat itu kausampaikan, ada yang tak mampu kujawab. Selain bingung mengungkapkannya, sebagian aku sendiri tak tahu jawabannya.

Sebuah teka-teki, seperti dirimu.

Baca juga: Kerinduan Itu

Kadang aku marah pada diriku saat melihatmu kecewa. Kaubilang aku kurang peka, tak mengerti isi hati wanita. Jangan kaupikir aku tak terbebani dengan kata-katamu itu. Sangat menjengkelkan rasanya ketika tahu apa yang kaumaksud (termasuk diammu) tak mampu kupahami. Sebab, bagaimana mungkin aku mencintaimu kalau memahamimu saja aku tak mampu?

Setelah sekian lama, aku mencoba berdamai dengan kegagalanku itu, dan mengalihkan perhatian pada sesuatu yang lebih penting: teka-teki itu sendiri. Jangan-jangan teka-teki itulah, bukan jawabannya, yang sebenarnya kubutuhkan. Sesuatu yang membuatku terus bertanya, terus mencari jawabannya. Dan dalam kaitan dengan cinta-cinta kita, teka-teki itulah yang memaksaku terus berbenah.

Mungkin kalimatku sedikit mengecewakanmu. Tapi, kalau kau setuju dengan premis ini, maka selama aku mencintaimu, selama itu pula aku tak akan bisa memahamimu. Paradoks yang baik (tentu, tentu, kita bisa berdebat tentang ini), sebab dengan begitu aku akan terus bertanya, mencari, berproses, berbenah menjadi lebih baik. Dan dengan begitu, sejatinya aku sedang membuktikan sesuatu yang dituntut oleh setiap kekasih pada pencintanya: bukti.

Namun, aku ingin kau lebih percaya padaku. Bahwa kesediaanku untuk terus mencari jawaban bagi teka-teki mahadahsyat itu (maksudku, kamu) adalah bukti kesungguhan cintaku padamu. Sebab dalam pencarianku, tak ragu kukorbankan waktuku, sesuatu yang tak mungkin bisa kaubeli, untuk hal lain yang selamanya tak bisa kupahami. Sesuatu yang kalau terus kuselami arusnya akan membawaku pada sebuah muara di kehidupanku: kamu.

Baca juga: Tentang Kita

***

Mei 2021. Tak terasa, sebelas tahun sudah sejak malam penuh kenangan itu. Waktu yang lebih dari cukup untuk membuktikan segala yang dulu pernah kita yakini. Dan kalau kini semua tak seperti angan-angan kita malam itu, Malang yang dingin tetap akan hidup dalam ingatan kita. Dengan ruas-ruas jalannya yang basah, kerlip lampunya yang meremang, dan titik-titik air yang jatuh di dedaunan pohonnya.

Malang yang indah. Kota yang setiap ruas jalannya menyimpan lembar-lembar kenangan tentang kita.

And so I’m sailing through the sea
To an island where we’ll meet
You’ll hear the music fill the air
I’ll put a flower in your hair

Though the breezes through the trees
Move so pretty you’re all I see
As the world keeps spinning round
You hold me right here right now

–Jason Mraz, Lucky

Sebuah Ajakan


Aku tepekur saat kau menitipkannya padaku. Bukan tak percaya dengan keputusanmu yang tiba-tiba. Aku hanya bingung –mau kuapakan benda itu?

Sore berjalan lambat di tengah hujan deras hari itu, tapi kata-kata telah kehabisan makna mengungkapkan maksud pertemuan kita. Wajahmu kosong menatap daun-daun yang bergoyang oleh siraman air langit. Sedang aku hanya bisa memandang secangkir kopi yang telah membeku.

“Akan ada yang terluka,” ujarku.
“Usah dibahas, kita sama-sama tahu.” Kau menukas.

Ya, kita sama-sama dewasa. Dan mungkin karena itu kita jadi punya keberanian, atau kebodohan, yang sama.

Bermain-main dengan api. Memang ada riang saat merasakan hangatnya, tapi terlalu asyik memainkannya akan membuat kita lengah. Panasnya akan membakar kulit kita dan mendidihkan darahnya –orang yang sekarang kautitipi benda yang sama.

Aku sendiri sulit menyembunyikan ketidakpercayaanku. Dudukku tak bisa tenang, kata-kataku tak beraturan. Orang-orang terkejut dengan gemuruh guntur yang saling susul, tapi hanya aku seorang yang mendengar ledakan bom nuklir di suatu tempat.

Kau tak pernah berhenti mengejutkanku. Seperti sore itu, juga hari-hari yang telah lalu. Tapi, aku tak lagi seperti dulu. Yang bisa kautitipi benda-benda sesukamu, dan bisa kauambil kapan pun kaumau.

Apalagi jika yang kautitipkan itu hati, dengan cinta yang penuh pura-pura dan satu ruang yang berisi nama-nama.

Kerinduan Itu


Adakah yang lebih menyiksa dari kerinduan?

Lelaki perkasa tersungkur karena menahan rindu kekasihnya. Raja-raja kehilangan malu karena menahan gejolaknya. Para bijak bestari kehabisan kata-kata lantaran tenggelam dalam perasaan yang sama.

Photo by Matheus Bertelli on Pexels.com

Sejak lama orang-orang mengagungkan cinta. Seakan cinta adalah kenyataan paling absolut yang tak terbantahkan.

Siapa pun yang merasakannya mungkin akan berpendapat sama, sampai mereka terpisah dengan sang kekasih dan terpaksa menahan diri untuk tak bertemu.

Saya sepakat cinta adalah jawaban untuk semua persoalan, tapi rindu boleh jadi akar dari segala permasalahan.

Apakah kemudian klop? Masalah apa pun yang muncul sebab kerinduan akan terjawab dan selesai begitu saja dengan hadirnya cinta?

Belum tentu.

Nyatanya, seorang perindu bisa jadi malah kehilangan cinta terhadap kekasihnya. Waktu membenamkannya dalam samudera kekaguman tak bertepi, dan ruang yang tanpa batas seakan membuatnya menggenggam erat hati sang kekasih.

Lantas, mana yang absolut?

Yang lebih menarik, justru dalam derita menahan rindu itu, seseorang menyatu dengan kekasihnya. Raga mungkin terpisah, tapi jiwa mereka bercumbu setiap saat, sepanjang waktu.

Cinta yang dulu kenyataan paling agung menjadi tanpa makna, sebab dalam penyatuan segala rasa tak lagi punya kuasa.

Tanda-tanda


Hai, Nak.

Apa kabar?

Bagaimana belajarmu? Semua baik-baik saja, bukan?

Sekarang adalah minggu terakhir bulan Agustus 2020, tepatnya hari Kamis tanggal 27. Aku datang lebih pagi dibanding teman-teman seruangan. Tadi aku berpamitan padamu saat kau dibujuk ibumu untuk segera memakai baju. Kami berbagi tugas, sebelumnya aku yang memandikanmu.

Sebentar lagi kita ada di pengujung tahun, Anakku. Tak terasa, seperti baru kemarin kita melewatkan malam pergantian tahun.

Aku tak pernah menduga tahun ini menjadi tahun yang berat. Sejak Maret kemarin aku bekerja dari rumah, teman-temanku juga sama, bahkan orang-orang di seluruh dunia. Saat-saat seperti ini tanggal merah seperti biasa saja, tak ada sensasinya.

Aku tak lagi menunggu-nunggunya, dan tak pernah lagi membuat rencana untuk kita jalan-jalan bersama. Wah, aku baru ingat, kita sudah enam bulan tak pernah ke wahana permainan kesukaanmu: bermain pasir, naik mobil-mobilan, atau mandi bola.

Saat lebaran dan hari raya kurban pun kita tak pulang kampung. Bahkan ke rumah Bude di Bogor kita tak berani. Kita benar-benar dihantui oleh benda superkecil dan sialan itu, coronavirus. Kita jadi selalu curiga dengan gagang pintu, uang cash, tombol lift, bahkan udara yang kita hirup.

Bosan rasanya berdiam diri di rumah. Ibumu juga entah berapa kali mengatakannya. Tapi apa boleh buat, pandemi ini memaksa kita untuk menahan diri. Lagipula lama-lama dia terbiasa, kecuali belanja ke warung atau tukang sayur. Selebihnya paling minimarket dan danau kecil favoritmu.

Atasanku di kantor mendapat informasi dari koleganya bahwa pandemi ini mungkin baru berakhir dua sampai tiga tahun lagi. Artinya, baru pada tahun 2024 kita akan bebas sepenuhnya dari masker (yang pagi ini hampir saja kulupakan), hand sanitizer, dan social distancing.

Yang mengkhawatirkan, banyak perusahaan dalam dua atau tiga tahun ke depan yang mungkin bertumbangan. Termasuk perusahaan tempatku kini bekerja. Dengar-dengar jika tak ada perubahan drastis yang kami lakukan, kami hanya bisa bertahan sampai akhir tahun.

Aku sih pasrah saja. Tawakal. Ikhtiar tetap kita lakukan, dan insya Allah yang terbaik yang akan kita dapatkan. Masa-masa sulit mungkin akan kita hadapi, tapi jangan sampai kita hidup seakan-akan tak punya Tuhan. Ya, ya, mungkin sekoci memang sudah saatnya kita siapkan.

Bismillah saja. Kita orang-orang kuat, Nak. Kakek-kakek kita bukan orang sembarangan, nenek-nenek kita juga. Lain kali aku akan bercerita tentang kakek-nenekmu dan orangtua-orangtua mereka yang luar biasa. Kautahu, salah seorang buyutmu adalah pejuang.

Itu baru kutahu beberapa minggu lalu. Tak pernah kusangka, mereka yang dipuji-puji dalam lagu nasional karena pengorbanannya memerdekakan negara ini, salah satunya adalah kakek kita. Aku bangga sekali, meski aku tahu kakek meregang nyawa akibat dibedil tentara Belanda.

Kakek-nenek kita memang hidup di zaman yang berbeda dengan kita, dengan masalah-masalah yang tak sama. Tapi, semoga kita punya semangat dan daya juang yang sama untuk menghadapi semua itu. Laa yukallifulloohu nafsan illaa wus’aha. Bukankah begitu?

Hari ini aku ingin menyelesaikan sisa tugas yang belum sempat kuselesaikan: mencari alternatif judul. Kemarin lusa atasanku sampai ke ruangan dan menanyakannya. Kami berharap banyak pada buku ini. Semoga semuanya lancar sesuai harapan.

Aku berharap demikian sebab dua buku sebelumnya, yang sudah selesai dikerjakan oleh redaksi, gagal terbit gara-gara penulisnya bermasalah. Luar biasa memang, di tengah situasi yang tak menentu seperti sekarang, ada saja tambahan masalah yang datang.

Tapi bagaimanapun, Nak, kita harus berterima kasih. Aku yakin ada sesuatu di balik gagal terbitnya naskah-naskah itu. Dan apa pun yang ada di belakang semua itu, pasti sesuatu yang baik.

Sekarang aku hanya masih menebak-nebak: Apakah ini pertanda itu?

Namamu


Aku tak pernah mengira, bahwa nama yang pertama kudengar berabad lalu hingga kini masih terngiang di telingaku yang mulai tuli ini.

Aneh, sebab tiap ingatanku menghadirkannya, bahkan caramu memperkenalkan diri dengan menyebutkan nama itu juga tergambar jelas.

Photo by Matheus Bertelli on Pexels.com

Aku tak tahu, ini anugerah atau musibah …

Yang pasti, nama itulah yang menemaniku pada hari-hari bahagiaku, juga pada saat-saat sedihku. Meski hanya sepenggal nama –sebab kau tak pernah menyebutkan nama panjangmu, kenangan membuatnya seakan abadi.

Seumpama orang, ia bisa berbisik, tertawa, menghibur, atau setidaknya membersamaiku. Ia yang selama ini menjelmakanmu di alam khayalku, menghadirkan sosokmu di antara kerinduanku padamu.

Kadang, aku bertanya-tanya di mana kau sekarang. Apa yang sedang kaulakukan. Apa yang tengah kauperjuangkan. Lalu, detik demi detik menyeretku pada kata seumpama.

Seumpama kita berjumpa, seumpama kita bersama.

Sayangnya, sering terjadi, cerita kita berhenti di situ. Tak pernah lebih jauh. Seperti tak terima aku melipir sejenak, duniaku selalu membuyarkan lamunan dan menggelandangku untuk kembali bergumul dengan kenyataan. Seperti yang sudah-sudah.

Dan aku pun melihatmu, untuk kesekian ribu kali, melambaikan tangan padaku.

Masih Ada Waktu


Setelah menikah, saya belajar satu hal. Di antaranya, mencintai itu gak melulu tentang ucapan “I love you”. Kadang, melakukan perbuatan-perbuatan kecil untuk istri jauh lebih nyaring dibanding sekadar menyatakan bahwa saya mencintainya.

Source: pixabay.com

Kalau saya ingat-ingat, entah kapan terakhir kali saya mengatakan “I love you”. Lupa. Dulu, saya pikir itu semacam “declaration of truth”, belakangan saya malu kalau harus mengucapkannya. Gak tahu kalau istri saya.

Menurut saya, cinta lebih tulus jika diungkapkan dengan melakukan sesuatu. Entah menggantung bajunya yang belum sempat ia rapikan, memasangkan kaus kakinya saat mau keluar rumah, atau sekadar membantunya meraih bantal saat hendak tidur.

Saya bisa melakukan hal-hal kecil itu. Kapan pun dia mau. Sebab, saya tahu saya belum bisa melakukan hal besar. Semoga masih banyak waktu untuk belajar.

Mengenangmu


Aku melihat bayanganmu terpantul di permukaan kolam yang airnya tak pernah tenang. Bola matamu yang bening dan hitam rambutmu yang tertiup angin adalah keindahan yang selalu kunantikan; keindahan yang tak pernah bisa kumiliki.

Source: pexel.com

Jarak antara kita bagai selat lebar yang memisahkan dua dunia. Kau berdiri di dermaga seberang, dengan singgasana yang kau bawa serta dan hulubalang yang selalu setia. Sementara aku duduk sendiri di kursi tua ini, memandangmu dari pantaiku yang sepi.

Nelayan di negeriku telah lama merusak biduk mereka. “Hidup adalah masa depan, lebih baik kujadikan semua ini kayu bakar,” kata mereka. Sekarang aku mengerti, waktu tak hanya sanggup mengerdilkan jiwa kita tapi juga membunuhnya perlahan.

Lampu kamar yang menyorot di atas ubun-ubunku kini menjelma keparat yang mengaburkan pandangan. Sedang lampu kendaraan yang sinarnya menerobos ke dalam kamar meninggalkan kerlip cahaya di titik-titik tempias yang menempel di kaca jendela.

Malam semakin larut, dan aku masih ingin bersamamu …

Depok, suatu hari di 2013

Kamu Kapan?


Dua di antara momen yang sering membuat KZL kaum marjinal (baca: jomblo) adalah kondangan dan lebaran. Kalau saat SD dulu momen-momen itu selalu kita tunggu, sebab kue dan masakan enak berlimpah-ruah (dan gratis), maka ketika dewasa dua momen tersebut adalah saat yang menguji nyali dan, mungkin, sangat menyebalkan.

Baca juga:
Menyederhanakan Kebahagiaan
Doain Aja!

Alasannya sepele, tapi mudah dipahami: Dua momen itu selalu menjadi saat yang tepat bagi keluarga dan teman untuk bertanya, “Kamu kapan?” Sebuah pertanyaan yang terdengar belum selesai tapi menyimpan isyarat yang mudah dimengerti. Dan jombloers mana pun, dengan hatinya yang sudah lelah, akan menjawab sambil malu-malu, “Doain aja.”

Pertanyaan itu (dan basa-basi lain yang sejenisnya) ternyata baru pembuka bagi momen yang lebih menjengkelkan dan lebih menguras kesabaran. Selesai kita jawab, kata-kata tersebut akan berlanjut menjadi sebuah godaan, yang gak lama kemudian terdengar lebih mirip sebuah ledekan, sebelum akhirnya fix menjadi “bully-an”.

Source: pexel.com

Nah, kalau sudah sampai pada level terakhir ini, siapa pun “korbannya” harus bisa mengontrol diri. Gak ada gunanya mengeluh, “Hayati lelah, Bang,” atau mengiba belas kasihan bahkan meronta-ronta. Dan meski pura-pura ikut tertawa tampak sekali kita paksakan, barangkali itu satu-satunya pilihan yang “beradab” dan masuk akal.

Kita boleh heran dengan membludaknya perbincangan seputar cinta dan jodoh di socmed, apalagi jika dikaitkan dengan ibadah. Padahal selain menikah, banyak ibadah lain yang bisa dikerjakan dan bisa juga dibincangkan, dikampanyekan, atau dibuatkan meme-meme positifnya. Poligami, misalnya. Eh, maksud saya…shalat jamaah *jauh.

Namun, melihat pengguna socmed yang kebanyakan anak-anak muda, dan tema abadi yang paling menarik perhatian mereka kapan pun dan di mana pun adalah soal cinta, maka perbincangan tentang kata ini sebenarnya hanyalah kewajaran belaka. Apalagi kalau tema tersebut secara personal juga mereka rasakan.

Apakah kondisi seperti ini hanya bisa kita ratapi? Gak adakah cara lain untuk mengubahnya menjadi sesuatu yang lebih menyenangkan atau minimal biasa-biasa saja? Dan kalau benar ada yang namanya “konspirasi alam semesta”, apa kira-kira dosa nenek moyang kita sampai alam semesta enggan berkonspirasi untuk kita?

***

Ada yang bilang kalau misteri di dunia ini ada tiga, yaitu jodoh, kematian, dan tukang parkir (yang entah nongkrong di mana tapi tahu-tahu terdengar peluitnya saat kita memarkir kendaraan). Kali ini, mari kita membahas tentang jodoh. Kematian akan kita bincangkan di lain kesempatan, sementara tukang parkir kita lupakan saja.

Allah menciptakan kita berpasang-pasangan. Artinya, saat terlahir ke dunia ini, kita gak sendiri, melainkan sudah ada jodohnya. Hanya saja, gak ada seorang pun yang tahu identitas, domisili, apalagi bentuk pasangannya itu: apakah tinggi, lebar, atau bulat telur. Semuanya misterius, dan hanya Allah yang mengetahuinya.

Namun demikian, gak adanya kepastian siapa, di mana, dan kapan kita akan bertemu dengan jodoh kita hakikatnya adalah kesempatan bagi kita untuk menyemai benih-benih ibadah. Kita, manusia, memang diciptakan untuk beribadah pada Sang Pencipta. Dan dengan berikhtiar mencari pasangan tersebut, sejatinya kita sedang menjalankan tugas mulia itu.

“Tapi, sampai kapan?!” Ini mungkin sesekali terlintas di benak kita, pertanyaan lumrah nan mudah terlontar dari bibir seorang jomblo yang merasa sudah berikhtiar maksimal tapi belum jua menemukan calon penggenap imannya. Sekali lagi, hanya Allah yang tahu. Hanya yang perlu kita ingat, Allah itu sesuai dengan prasangka hamba-Nya.

Artinya, di tengah rasa-hampir-putus-asa ini ada sebuah “asas pokok” sebagai pedoman kita untuk berperilaku, agar kita gak stres dengan kondisi yang sekarang kita alami. Apa itu? Memperbaiki prasangka pada Yang Mahakuasa. Tentu saja ini selain ikhtiar maksimal dan memohon pada-Nya, dua hal yang wajib dan niscaya, atau bahasa fikihnya ‘ulima minad diini bidh dhoruuri.

Allah memerintahkan kita untuk berbaik sangka pada siapa pun, termasuk diri-Nya. Entah prasangka baik itu kemudian terbukti benar atau tidak. Yang jelas, kita dilarang berburuk sangka, meski kemudian prasangka buruk itu terbukti benar. Sebab, yang namanya buruk sangka pasti dimulai dari sikap merendahkan orang lain.

Dan kalau kita berburuk sangka pada Allah, itu sama saja dengan merendahkan-Nya, bukan?

Berbaik sangka pada Allah mungkin gak secara instan menyelesaikan masalah, atau dalam konteks ini “menyeret” jodoh yang entah-siapa-dan-di-mana itu ke hadapan kita lalu sekonyong-konyong berkata, “Nikah, yuk!” Itu sulapan namanya. Tapi setidaknya, sikap tersebut akan membawa energi positif ke dalam hati dan urat sabar kita.

Kita jadi punya kesabaran yang cukup untuk menunggu saat-saat bahagia itu tiba, sehingga syaithon yang terkutuk, yang terus menggoda kita agar putus asa, capek dengan sendirinya. Selain itu, bukan gak mungkin energi positif itu mendekatkan kita dengan orang-orang yang juga punya kepribadian positif (baca: mau membantu).

Bagaimanapun law of attraction masih berlaku kok untuk urusan perjodohan meski dua tahun ke depan sepertinya bakal ada ribut-ribut lagi soal pulitik. Hihi, lupakan!

Daan, dengan bekal kesabaran itu pula, pertanyaan “Kamu kapan?”, godaan, ledekan, bahkan bully-an orang lain akan terdengar sebagai doa dan harapan, atau setidaknya perhatian dan simpati pada kita –meski diungkapkan dengan cara yang ah-sudahlah-ya. Kita hanya perlu meminta mereka bersabar, sebab good things take time.

Nah, ini poinnya. Ajak mereka, manusia-manusia yang seakan gak punya bahan untuk basa-basi selain pertanyaan “Kamu kapan?” itu, untuk bersabar, menahan diri, menguasai emosi, dan kalau perlu menampar atau menyumpal atau me-lakban mulut mereka sendiri agar gak kelepasan menyinggung kapan kita menikah. Bukankah orang yang sabar itu disayang Tuhan?

Mereka harus tabah menunggu calon kita datang, sebab boleh jadi ybs sedang mati-matian merampungkan studinya di Amerika, atau OTW ke Indonesia dari kampung halamannya di Uganda, atau belum pulang kemping di dataran tinggi Tibet, atau masih asyik sunbathing di tengah gurun Sahara. Apa sih yang gak mungkin di dunia ini?

“Aku aja yang ngejalanin bisa sabar, masak situ gak, Sis?”

*Tulisan ini diolah dari versi aslinya yang saya tulis untuk Qultummedia.

Tentang Kita


Kita sama-sama tahu, bahwa keindahan yang kini saling kita kagumi itu pelan-pelan akan memudar. Mata yang bening akan mengeruh, dan kerlingnya yang menggoda akan tampak biasa saja.

Pipi yang merona akan berganti kerut-kerut yang menandakan betapa kita, suatu hari nanti, akan tunduk pada usia. Pada senja yang temaram dan bunyi panggilan yang sayup-sayup terdengar.

Baca juga: Sebuah Ajakan

Akan ada hari kita menghabiskan waktu dengan duduk di teras rumah dan menatap kosong ke jalan raya. Kita mengenang saat pertama bertemu dan menertawakan kebodohan yang pernah kita lakukan.

Seperti siksaan, angin sore mengusap lembut rambutmu yang sudah memutih dan memaksa tanganmu bersedekap untuk menahan dinginnya. Secangkir teh hangat yang kaubuat tak sanggup lagi menghangatkan tubuhmu.

Pernah aku menebak siapa, mengira apakah dia ataukah dia, untuk kemudian kecewa dan putus asa. Tak pernah kusangka, kaulah orangnya. Yang seakan bersembunyi saat aku mencari tapi tiba-tiba berdiri di hadapan saat aku ingin melanjutkan perjalanan.

Allah punya banyak cara untuk membuatku terkesima dengan skenario-Nya yang penuh lubang tapi seakan disengaja.

Image by Pexels from Pixabay

***

Sore itu, kau kembali bercerita tentang janji-janji yang telah kita tepati dan impian yang masih terus menanti. Sementara aku masih mondar-mandir ke masa lalu, demi menyampaikan pesan dari orang-orang yang turut menciptakan duniaku.

Surat-surat cinta masih kauterima dan tumpukan buku masih kueja maknanya. Kita saling menunjukkan sebaris kata, terkesima, bertanya-tanya, dan menertawakannya.

Baca juga: Hari Itu

Kita tak banyak berubah, meski sesekali aku mengeluhkan nyeri punggung yang semakin sering terasa dan kau tak berhenti memijit-mijit kakimu yang ngilu setelah berdiri terlalu lama. Orang lain memang melihat banyak perubahan dalam diri kita, tapi kita sama sekali tak mendapatinya.

Kau tetap cinta yang dulu kutemukan dan aku masih rindu yang mengepungmu di tengah malam.

Kita telah sepakat memulai semua ini, keputusan besar yang belum pernah kita buat sebelumnya. Satu waktu kau bercerita tentang keraguan yang terdengar dari lamunan hatimu, yang entah ke mana perginya saat kausebut namaku.

Aku lega mendengarnya, dan sangat bisa memahaminya. Bagaimanapun aku bukan siapa-siapa di kehidupanmu yang dulu. Kita bertemu semata-mata karena turut campurnya waktu.

***

Aku tak mau berjalan terlalu cepat dan meninggalkanmu, atau terlalu lambat sehingga merepotkanmu. Di jalan yang panjang dan berliku, aku ingin kita terus bersama, beriringan. Agar jika salah satu dari kita lelah, kita bisa saling menghibur dan menopang.

Kau tak perlu khawatir saat hari mulai gelap, atau cemas saat tiba-tiba langit tak kuasa menahan hujan. Aku ingin setia, seperti udara yang mengarak awan menjelajah benua.

Akan ada saat aku mengajakmu terbang ke masa-masa yang telah berlalu. Memperlihatkan padamu malam-malam ketika aku harus berjalan sendiri dan menunjukkan impian-impian masa silam yang, entah kenapa, menjadi nyata setelah aku bertemu denganmu.

Aku ingin selalu membuatmu kagum padaku, dan karena mahkota tak ada harta pun tak punya, semoga sedikit yang kulakukan bisa menyenangkanmu.

Mencintaimu tak perlu berkata-kata, menua bersamamu adalah kesibukanku selanjutnya.

Hanya Bisa Berharap


Ini adalah kali kedua istri saya memberitahu kalau isi perutnya seperti ada yang menendang-nendang.

“Dug … dug … dug,” katanya, melalui pesan Watsapp. Mungkin si adek mengajak main, mungkin juga mengajak shalawatan.

Saya pernah merindukan seseorang yang tak pernah saya temui sebelumnya. Pertama, kakek saya, dan kedua, istri saya. Buah hati saya ini sepertinya menjadi yang ketiga.

Baca juga: Untuk Anakku (1)

Kakek saya meninggal sekitar lima belas tahun sebelum saya lahir. Kata Bapak, kakek saya galaknya bukan main, tidak kalah dengan komandan koramil yang kumisnya seperti sikat sepatu itu. Tapi, beliau juga baik. Puluhan anak pernah ditampung di rumahnya yang mungil, diberi makan, dan diajari mengaji.

Istri saya, sebelum saya kenal dan kami sepakat hidup bersama, adalah orang yang saya rindukan di dalam doa-doa. Saya tidak pernah bermimpi memiliki teman hidup secantik Raisa atau Dian Sastro. Saya tahu diri, bahkan saat bermimpi pun saya tahu diri. Dan ketika doa saya terkabul, istri saya memang bukan Raisa atau Dian Sastro.*

Nah, anak dalam kandungan istri saya adalah orang ketiga yang, meski belum pernah saya jumpai juga, sudah saya rindukan kehadirannya. Minggu-minggu ini saya sering membayangkan bermain-main dengannya, membacakan buku cerita, atau mengajarinya mengaji dan shalawatan.

***

Saya bersyukur, sejauh ini si kecil baik-baik saja. Ibunya juga sama, tidak mual-mual lagi atau, seperti umumnya ibu hamil, ngidam sesuatu yang sulit dicari. Emosinya juga lebih stabil, malah sudah tidak sabar ingin melakukan ini dan itu. Mungkin boring kalau tiap hari berdiam diri terus.

Eh, ada ding keinginan istri saya yang susah dicari. Tapi, karena saking susahnya didapatkan, dia mafhum. Atau lebih tepatnya, pasrah.

Beberapa waktu lalu dia bilang ingin tojin. Katanya, itu semacam makaroni dengan bumbu khas Mesir. Sebabnya, setelah seharian buka-buka Instagram, dia melihat temannya mem-posting foto makanan yang seumur-umur belum pernah saya lihat itu. Seperti baru dapat wangsit, istri saya langsung terinspirasi.

Baca juga: Untuk Anakku (2)

Saya sih belum mencari di restoran Mesir atau Timur Tengah di sekitar Depok dan Jakarta. Tapi katanya, tojin ini jajanan kaki lima di negeri asalnya sana. Kalau di sini mungkin cilok atau gorengan. Tapi, karena istri saya maunya tojin dan bukan cilok atau gorengan, ya saya tidak mungkin membelikannya cilok atau gorengan.

Disetrap saya nanti …

***

Sampai hari ini, kami belum sepakat dengan nama anak pertama kami. Istri saya sudah dapat sebetulnya, dan saya setuju, sebelum kemudian dia mengganti satu huruf yang paling akhir. Dari Sofie menjadi Sofia. Satu huruf sih, dan maknanya tidak berubah gara-gara huruf itu. Tapi, itu sukses membuat saya berpikir ulang.

By the way, itu nama cewek. Kalau nama cowok, kami belum nemu. Saya sendiri masih galau. Kadang suka nama Abdurrahman, besoknya ingin Muhammad, lain waktu ingat Ibrahim. Saya tidak mempertimbangkan nama Jawa, seperti Soesilo, Soewito, apalagi Bambang dan Joko. Terlalu “biasa” rasanya, di samping terkesan kuno.

Kalau kami jadi memberi nama Sofie (bukan Sofia), yang berarti anak kami perempuan, mungkin buku kedua yang akan dia baca setelah Al-Quran adalah Sofies Verden, atau Dunia Sofie, karya Jostein Gaarder. Sebuah novel filsafat yang tebalnya mungkin sama dengan bantal saya yang penuh gambar pulau itu. ‘Kan namanya sama.

Baca juga: Life, So Far

Berharap masih boleh, ‘kan? Belum ada tagar untuk memboikotnya, ‘kan? Hehe, ya kalau ternyata dia lebih suka cergam tidak apa-apa, masak mau dipaksa? Lagipula, anak-anak zaman now mana ada yang suka buku filsafat? Saya sendiri sebenarnya juga malas membaca. Dunia Sofie saja sampai sekarang masih jadi pajangan di rak buku.

***

Saya kira, sembilan bulan itu akan lama, ternyata saya keliru. Rasanya baru kemarin istri saya antarkan ke klinik untuk cek kehamilan, sekarang sudah lima bulan saja usia kandungannya. Ada waktu empat bulan bagi kami untuk mempersiapkan segalanya. Bukan waktu yang lama, tapi semoga saja cukup.

Mungkin kalau anak kami sudah lahir nanti, waktu juga berjalan cepat, ya? Selama ini, saya melihat ketakjuban itu di wajah kakak-kakak saya saat mereka memperhatikan anak-anaknya. Tahu-tahu sudah lulus SD, tahu-tahu sudah pakai abu-abu-putih, tahu-tahu sudah jadi PNS. Hihi, time flies …

Apa pun itu, semoga semua yang terjadi dalam hidup kita adalah yang terbaik yang Allah berikan untuk kita. Dan, semoga kita senantiasa ingat hal itu. Mau bagaimana lagi, Dia yang punya hidup. Kalau tidak terima, kita bisa apa? Wong makan pakai nasi dan Boncabe saja sudah alhamdulillah.

Eh, kapan-kapan kita sambung lagi ya ceritanya. Mau menikmati hujan dulu. Sayang kalau tidak sambil makan Indomie goreng.

* Tuhan mungkin memang cepat mengabulkan impian yang nggak muluk-muluk seperti ini.